Sabtu, 23 Maret 2013

Maqâshidusy Syarî’ah: 5 (Lima) Penjagaan Islam Terhadap Ummat (Dharuriyyatul Khams)

Filled under:

5 (Lima) Penjagaan Islam Terhadap Ummat (Dharuriyyatul Khams)
Penjagaan Islam Terhadap Ummat

Lima Kebutuhan Penting Yang Harus Dijaga Oleh Kaum Muslimin (Dharuriyyatul Khams)

Keseluruhan kandungan agama Islam adalah kebaikan dan maslahat. Islam merupakan agama yang mudah, agama toleransi, agama keadilan dan persamaan, agama penuh kelembutan, cinta dan persaudaraan, agama yang mengajarkan ilmu dan amal serta menunjukkan kepada jalan yang lurus. Islam adalah agama yang sempurna dan universal, agama kejujuran dan amanah, agama kemuliaan dan kekuatan. Islam dibangun di atas dasar tauhid, sedangkan ruhnya adalah keikhlasan serta syi'arnya adalah toleransi dan persaudaraan.

Posted By Minang Sunnah8:14 PM

Kamis, 21 Maret 2013

Tabligh Akbar Bersama Ustadz Yazid Abdul Qodir Jawas di Padang, 6 dan 7 April 2013 Kerja Sama Dengan Radio Ray 95.1 FM

Filled under:

Sehubungan dengan banyaknya permintaan dari pendengar radio Ray 95.1 FM untuk mendatangkan Ustadz Yazid maka:

Hadirilah Tabligh Akbar:

Tabligh Akbar Ustadz Yazid Abdul Qodir Jawas di Padang


Posted By Minang Sunnah9:34 PM

Senin, 18 Maret 2013

Orang-orang Yang Tidak Akan Diajak Bicara Oleh Allah di Akhirat

Filled under:

Orang Yang Tidak akan Diajak Bicara Oleh Allah9 Orang Yang Tidak akan Diajak Bicara Oleh Allah

Allah akan mengajak bicara hamba-hambaNya kelak pada hari kiamat sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ

Tidak ada seorangpun dari kamu kecuali akan diajak bicara oleh Rabbnya ‘Azza wa Jalla tanpa ada penterjemah antara ia dan Allah.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Posted By Minang Sunnah8:49 AM

Sabtu, 16 Maret 2013

Doa Penawar Hati Yang Duka (Pelipur Lara) dan Ketenangan

Filled under:

Doa Penawar Hati Yang Duka (Pelipur Lara) dan KetenanganDo’a Pelipur Lara

Ada sebuah do’a yang sangat indah yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan bahkan beliau sangat menganjurkan agar umatnya mempelajari do’a ini. Do’a ini merupakan do’a “pelipur lara” yang sangat dibutuhkan oleh setiap diri kita.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu’aliahi wasallam bersabda: “apabila seorang hamba ditimpa kegelisahan atau kesedihan, lalu ia berdo’a:

Posted By Minang Sunnah9:44 AM

Jumat, 15 Maret 2013

Trik dan Tips Mengatur Jarak Kelahiran Dengan Alat KB (Keluarga Berencana) Yang Aman, Mudah, dan Sederhana

Filled under:

Trik dan Tips Mengatur Jarak Kelahiran Dengan Alat KB (Keluarga Berencana) Yang Aman, Mudah, dan Sederhana Cara “KB” Yang Mudah Dan Sederhana Yang Sesuai Syariat -Insya Allah-

KB yang kami maksud adalah Keluarga Berencana dengan merencanakan dan mengatur jarak kelahiran. Adapun KB dengan maksud membatasi kelahiran, apalagi mengharuskan hanya dua saja maka hal ini adalah bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Kemudian latar belakang kami menulis hal ini adalah ada beberapa ikhwan-akhwat, walaupun tidak banyak, menganggap KB atau menggunakan KB terlarang secara mutlak semuanya. Ada beberapa ikhwan-akhwat yang kurang paham tentang bagaimana mengatur jarak kelahiran. Atau beralasan kaku bahwa kita tidak boleh menolak anak yang akan dianugrahkan kepada kita. Ataupun juga menganggap kaku bahwa tindakan KB yang harus melakukan tindakan invasif pada kemaluan yang kurang sesuai dengan syariat dan alasan lainnya. Padahal mengenai KB ada rincian penjelasan dari para ulama mengenai hukumnya berdasarkan metodenya. Sehingga tidak jarang kita mendengar berita ada ikhwan yang istrinya mengalami rupture rahim/ rahimnya jebol, atau harus operasi caesar atau minimal bayinya kurang sehat dan harus dirawat intensif di NICU [Neonatal Intensif Care Unit] dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini bisa disebabkan jarak kehamilan yang sangat dekat kemudian ditambah lagi kondisi istri yang kurang begitu baik atau sedang mengidap penyakit tertentu.

Posted By Minang Sunnah1:43 PM

Minggu, 10 Maret 2013

Penguasa Cerminan Rakyatnya (Sebagaimana kalian, Demikian Pula Pemimpin Kalian)

Filled under:

Sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian
Sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Mengapa kita sering membicarakan kejelekan pemerintah, namun melupakan kejelekan pribadi? Mengapa kita selalu mencela penguasa, dan tak pernah mencela berbagai penyimpangan kita? Sebenarnya, pemerintah adalah cermin rakyatnya.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah ditanya oleh seseorang: “Mengapa saat Abu Bakar dan Umar menjabat sebagai khalifah kondisinya tertib, namun saat Utsman dan engkau yang menjadi khalifah kondisinya kacau? Jawab Ali: “Karena saat Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, mereka didukung oleh orang-orang seperti aku dan Utsman, namun saat Utsman dan aku yang menjadi khalifah, pendukungnya adalah kamu dan orang-orang sepertimu”[Syadzaraat Adz Dzhahab 1/51.].


Jadi, ketika penguasa seenaknya mengeruk kekayaan negara dan memenjarakan rakyat tak berdosa, penyebabnya adalah dosa rakyat yang melalaikan kewajiban dan tenggelam dalam maksiat. Demikian pula ketika rakyat memberontak dan menjatuhkan si penguasa, itupun akibat kesalahan penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, loyal kepada orang kafir, tenggelam dalam foya-foya dan menelantarkan urusan negara.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah mengatakan [Beliau mengatakannya dalam acara Liqa’ al-baabil maftuh. Yaitu acara pertemuan antara beliau dengan masyarakat umum untuk tanya-jawab, yang diadakan di rumah beliau. Penjelasan ini disampaikan dalam pertemuan ke-50 dari total 236 pertemuan]: waliyyul amr, baik dari kalangan ulama’ maupun umara’, pasti punya banyak kesalahan. Akan tetapi, dalam sebuah atsar disebutkan kamaa takuunuu, yuwalla ‘alaikum (sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian)[Ini adalah atsar Abu Ishaq As Sabi’iy, salah seorang ulama tabi’in asal Kufah yang terkenal sebagai ahli hadits dan ahli ibadah. Beliau lahir dua tahun menjelang berakhirnya kekhalifahan Utsman, dan wafat sekitar tahun 129 H. keluasan ilmu beliau di bidang hadits disejajarkan dengan Imam Ibnu Syihab Az Zuhri.].

Cobalah perhatikan kondisi masyarakat…

Para penguasa yang dzhalim merupakan hukuman yang ditimpakan Allah bagi kaum yang dzhalim pula, dikarenakan dosa-dosa yang mereka lakukan. Allah ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi penguasa bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al An’aam: 129).

Abul Walid Ath Thurthusyi rahimahullah berkata, “Jika engkau berkata bahwa para pemimpin di zaman ini tidak sama dengan para pemimpin di zaman dahulu, maka rakyat di zaman ini pun tidak sama dengan rakyat di zaman dahulu. Jika engkau mencela pemimpinmu bila dibandingkan dengan pemimpin dahulu maka pemimpinmu pun berhak mencelamu bila dibandingkan dengan rakyat dahulu. Maka apabila pemimpinmu menzalimimu hendaklah engkau bersabar dan dia yang akan menanggung dosanya…

Oleh karena itu, berkuasanya penguasa yang dzhalim bukanlah penyakit riil dari umat ini, bahkan penyakit yang riil berasal dari rakyat yang berada di bawah kekuasaan penguasa tersebut.

Shahabat Ibnu ’Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghadap ke arah kami dan bersabda:


" يا معشر المهاجرين خصال خمس إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ : لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا. َلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ .وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا .وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ .وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ".

Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya –dan aku berlindung kepada Allah supaya kalian tidak menjumpainya-
  1. Tidaklah nampak zina di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya, 
  2. Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, susahnya penghidupan dan kezaliman penguasa atas mereka.
  3. Tidaklah mereka menahan zakat (tidak membayarnya) kecuali hujan dari langit akan ditahan dari mereka (hujan tidak turun), dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.
  4. Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain mereka; orang kafir) berkuasa atas mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki
  5. Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak berhukum dengan Kitabullah (al-Qur’an) dan mengambil yang terbaik dari apa-apa yang diturunkan oleh Allah (syariat Islam), melainkan Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim dengan sanad shahih)."
Derajat Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (2/1332 no 4019), Abu Nu’aim (8/333), al-Hakim (no. 8623) dan Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash-Shahihah no. 106)

Jika ingin menyalahkan jeleknya kepemimpinan pemimpin, maka rakyatnyalah yang lebih dahulu mengintropeksi diri. Karena pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

وتأمل حكمته تعالى في ان جعل ملوك العباد وأمراءهم وولاتهم من جنس اعمالهم بل كأن أعمالهم ظهرت في صور ولاتهم وملوكهم فإن ساتقاموا استقامت ملوكهم وإن عدلوا عدلت عليهم وإن جاروا جارت ملوكهم وولاتهم وإن ظهر فيهم المكر والخديعة فولاتهم كذلك وإن منعوا حقوق الله لديهم وبخلوا بها منعت ملوكهم وولاتهم ما لهم عندهم من الحق ونحلوا بها عليهم وإن اخذوا ممن يستضعفونه مالا يستحقونه في معاملتهم اخذت منهم الملوك مالا يستحقونه وضربت عليهم المكوس والوظائف وكلما يستخرجونه من الضعيف يستخرجه الملوك منهم بالقوة فعمالهم ظهرت في صور اعمالهم وليس في الحكمة الالهية ان يولى على الاشرار الفجار الا من يكون من جنسهم

Ibnul Qayyim berkata, “Perhatikanlah hikmah-Nya tatkala Dia menjadikan para raja, penguasa dan pemegang tampuk pemerintahan sesuai dengan amalan yang dilakukan oleh para rakyat di dalam negeri tersebut. Bahkan, amalan dari para rakyat akan tercermin dari tingkah laku para penguasanya.
  • Apabila rakyat di dalam negeri tersebut komitmen dalam menjalankan syari’at, maka tentu penguasanya pun demikian.
  • Apabila mereka berlaku adil, maka para penguasa akan berlaku adil kepada mereka.
  • Apabila mereka suka berbuat kemaksiatan, maka para penguasa juga akan senantiasa berbuat maksiat.
  • Apabila rakyat senantiasa berbuat makar dan tipu daya, maka tentulah penguasa demikian pula keadaannya.
  • Apabila para rakyat tidak menunaikan hak-hak Allah serta mengabaikannya, maka penguasa mereka pun juga akan berbuat hal yang sama, mereka akan melanggar dan tidak menunaikan hak-hak para rakyatnya.
  • Apabila rakyat sering melanggar hak kaum yang lemah dalam berbagai interaksi mereka, maka para penguasa akan melanggar hak para rakyatnya secara paksa, menetapkan berbagai pajak dan pungutan liar kepada mereka. Dan setiap mereka (yakni rakyat) mengambil hak kaum yang lemah, maka hak mereka pun akan diambil secara paksa oleh para penguasa. Sehingga para penguasa merupakan cerminan amal dari para rakyatnya.”
Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala.[Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178]

Oleh karena itu, untuk mengubah keadaan kaum muslimin menjadi lebih baik, maka hendaklah setiap orang mengoreksi dan mengubah dirinya sendiri, bukan mengubah penguasa yang ada. Hendaklah setiap orang mengubah dirinya yaitu dengan mengubah aqidah, ibadah, akhlaq dan muamalahnya. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’du [13] : 11)

Saatnya introspeksi diri, tidak perlu rakyat selalu menyalahkan pemimpin atau presidennya. Semuanya itu bermula dari kesalahan rakyat itu sendiri. Jika mereka suka korupsi, begitulah keadaan pemimpin mereka. Jika mereka suka “suap”, maka demikian pula keadaan pemimpinnya. Jika mereka suka akan maksiat, demikianlah yang ada pada pemimpin mereka. Jika setiap rakyat memikirkan hal ini, maka tentu mereka tidak sibuk mengumbar aib penguasa di muka umum. Mereka malah akan sibuk memikirkan nasib mereka sendiri, merenungkan betapa banyak kesalahan dan dosa yang mereka perbuat.

Memohon kepada Allah, agar pemimpin kita diberi hidayah dan taufiq

Kebiasaan semacam ini telah menjadi ciri ahlus sunah sejak masa silam. Meskipun bisa jadi ada pemimpin mereka yang zalim, mereka berusaha untuk tetap mendoakan kebaikan bagi pemimpinnya.

Imam al-Barbahari mengatakan:

وإذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى وإذا سمعت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله

Jika Anda melihat ada orang yang mendoakan keburukan untuk pemimpin, ketahuilah bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu (aqidahnya menyimpang). Dan jika Anda melihat ada orang yang mendoakan kebaikan untuk pemimpin, ketahuilah bahwa dia Ahlus Sunah, insya Allah.” (Syarh as-Sunnah, Hal. 51).

Selanjutnya, al-Barbahari membawakan riwayat perkataan seorang ulama besar, Fudhail bin Iyadh rahimahullah, yang memberikan nasihat:

لو كان لي دعوة مستجابة ما جعلتها الا في السلطان

Andaikan saya memiliki satu doa yang pasti terkabulkan, tidak akan aku ucapkan kecuali untuk mendoakan kebaikan pemimpin.”

Kemudian ada orang yang bertanya, mengapa harus demikian? Beliau menjawab:

إذا جعلتها في نفسي لم تعدني وإذا جعلتها في السلطان صلح فصلح بصلاحه العباد والبلاد فأمرنا أن ندعو لهم بالصلاح ولم نؤمر أن ندعو عليهم وإن جاروا وظلموا لأن جورهم وظلمهم على أنفسهم وصلاحهم لأنفسهم وللمسلمين

Jika doa itu hanya untuk diriku, tidak akan kembali kepadaku. Namun jika aku panjatkan untuk kebaikan pemimpin, kemudian dia jadi baik, maka masyarakat dan negara akan menjadi baik. Kita diperintahkan untuk mendoakan kebaikan untuk mereka, dan kita tidak diperintahkan untuk mendoakan keburukan bagi mereka, meskipun mereka zalim. Karena kezaliman mereka akan ditanggung mereka sendiri, sementara kebaikan mereka akan kembali untuk mereka dan kaum muslimin.” (Syarh as-Sunnah, Hal. 51).

Wallahu Ta'ala a'lam

Dirangkum dari
  • http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/3189-pemimpin-cerminan-dari-rakyatnya.html
  • http://muslim.or.id/manhaj/diagnosis-terhadap-penyakit-umat.html
  • http://www.konsultasisyariah.com/kpk-dan-negeri-koruptor-sebuah-nasihat/#axzz28nRYFdz1
  • http://cintasunnah.com/berpegang-kepada-jamaah-kaum-muslimin-dan-pemimpinnya/
  • http://muslimafiyah.com/banjir-sebaiknya-jangan-cari-kambing-hitam-apalagi-pemimpingubernur.html
  • http://basweidan.com/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-1/

Posted By Minang Sunnah4:26 PM

Jumat, 08 Maret 2013

Murattal Quran 30 Juz By Fahd Alkandari (Fahad Alkanderi)

Filled under:

Murattal Quran By Fahd AlkandariAl-Quran Recitation by Fahad Al kandari | فهد الكندري

Sheikh Fahd Al Salim Kandari adalah qori dan Imam berkebangsaan Kuwait. Ia lahir pada tahun 1982.

Sheikh Fahd Al Kandari adalah mahasiswa di Fakultas Educaton dan Imam Al Kulayb.

Pada usia 16 tahun, Sheikh Al Kandari telah menyelesaikan pembelajaran Al-Qur'an. Dia kemudian ikut berpartisipasi dalam beberapa kompetisi Al-Quran Setelah ia memenangkan tempat pertama di Kompetisi Internasional Kuwait.

Pada tahun 1997, Sheikh Fahd Al Kandari pertama mencatat rekaman yang berisi bacaan nya sura "Al Isra", "Arrahman" dan "Al Haqqah" yang kemudian diikuti rekaman lainnya.
[terjemahan bebas mbah google dari di http://fr.assabile.com/Kuwait/fahd-al-kandari/fahd-al-kandari-56.htm]

Afwan, setelah ana searching di internet nggak ketemu semua file audio mp3 yg lengkap, jadi untuk memudahkan tetap ana buat nomor urutnya walaupun filenya tidak ada.

All audio files are compiled in Mp3 format so that you can easily download them directly to your Mp3 players.

Kalau ada link yang mati (tidak bisa di download), sudilah memberitahu kami melalui kolom komentar... insya Allah akan segera diperbaiki.


001 Al-Fatihah
002 Al-Baqarah
003
004
005
006 Al-An'am
007
008
009
010
011
012 Yusuf
013
014 Ibrahim
015
016
017 Al-Isra
018 Al-Kahfi
019 Maryam
020
021
022 Al-Hajj
023 Al-Mu'minun
024
025
026
027
028
029
030 Ar­Room
031 Luqman
032 As­Sajdah
033
034
035
036 Ya­Sin
037
038
039
040
041
042 Ash-Shura
043
044
045
046
047
048
049
050
051 Az-Zariyat
052 At-Tur
053 An-Najm
054 Al-Qamar
055 Ar-Rahman
056 Al-Waqi'ah
057 Al-Hadid
058 Al-Mujadilah
059 Al-Hashr
060 Al-Mumtahinah
061 As-Saff
062 Al-Jumu'ah
063 Al-Munafiqun
064 At-Taghabun
065
066 At-Tahrim
067 Al-Mulk
068 Al-Qalam
069 Al-Haqqah
070 Al-Ma'arij
071 Nooh
072 Al-Jinn
073 Al-Muzzammil
074 Al-Muddaththir
075 Al-Qiyamah
076 Al-Insan
077 Al-Mursalat
078 An-Naba'
079 An-Nazi'at
080 'Abasa
081 At-Takwir
082 Al-Infitar
083 Al-Mutaffifin
084 Al-Inshiqaq
085 Al-Buruj
086 At-Tariq
087 Al-A'la
088 Al-Ghashiyah
089 Al-Fajr
090 Al-Balad
091 Ash-Shams
092 Al-Lail
093 Ad-Duha
094 Ash-Sharh
095 At-Tin
096 Al-'Alaq
097 Al-Qadr
098 Al-Baiyinah
099 Az-Zalzalah
100 Al-'Adiyat
101 Al-Qari'ah
102 At-Takathur
103 Al-'Asr
104 Al-Humazah
105 Al-Fil
106 Quraish
107 Al-Ma'un
108 Al-Kauthar
109 Al Kaafirun
110 An Nashr
111 Al Masad
112 Al Ikhlas
113 Al Falaq
114 An Naas





Posted By Minang Sunnah7:47 PM

Rabu, 06 Maret 2013

Definisi, Nama, Tugas, Perbedaan Nabi dan Rasul Dilengkapi Tabel

Filled under:

Definisi, Nama, Tugas, Tabel Perbedaan Nabi dan RasulDefinisi Nabi dan Rasul

Nabi dalam bahasa Arab berasal dari kata naba. Dinamakan Nabi karena mereka adalah orang yang menceritakan suatu berita dan mereka adalah orang yang diberitahu beritanya (lewat wahyu). Sedangkan kata rasul secara bahasa berasal dari kata irsal yang bermakna membimbing atau memberi arahan. Definisi secara syar’i yang masyhur, nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu namun tidak diperintahkan untuk menyampaikan sedangkan Rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu dalam syari’at dan diperintahkan untuk menyampaikannnya [Syaikh Ibn Abdul Wahhab menggunakan definisi ini dalam Ushulutsalatsah dan Kasyfu Syubhat, begitu pula Syaikh Muhammad ibn Sholeh Al Utsaimin].



Sebagian ulama menyatakan bahwa definisi ini memiliki kelemahan, karena tidaklah wahyu disampaikan Allah ke bumi kecuali untuk disampaikan, dan jika Nabi tidak menyampaikan maka termasuk menyembunyikan wahyu Allah. Kelemahan lain dari definisi ini ditunjukkan dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ditampakkan kepadaku umat-umat, aku melihat seorang nabi dengan sekelompok orang banyak, dan nabi bersama satu dua orang dan nabi tidak bersama seorang pun.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi juga menyampaikan wahyu kepada umatnya. Ulama lain menyatakan bahwa ketika Nabi tidak diperintahkan untuk menyampaikan wahyu bukan berarti Nabi tidak boleh menyampaikan wahyu. Wallahu’alam.

Bagaimana Beriman Kepada Nabi dan Rasul ?

Syaikh Muhammad ibn Sholeh Al Utsaimin menyampaikan dalam kitabnya Syarh Tsalatsatul Ushul, keimanan pada Rasul terkandung empat unsur di dalamnya [Perlu diperhatikan bahwa penyebutan empat di sini bukan berarti pembatasan bahwa hanya ada empat unsur dalam keimanan kepada nabi dan rosul-Nya].
  1. Mengimani bahwa Allah benar-benar mengutus para Nabi dan Rasul. Orang yang mengingkari – walaupun satu Rasul – sama saja mengingkari seluruh Rasul. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (QS. Asy-Syu’araa 26:105). Walaupun kaum Nuh hanya mendustakan nabi Nuh, akan tetapi Allah menjadikan mereka kaum yang mendustai seluruh Rasul.
  2. Mengimani nama-nama Nabi dan Rasul yang kita ketahui dan mengimani secara global nama-nama Nabi dan Rasul yang tidak ketahui. – akan datang penjelasannya –
  3. Membenarkan berita-berita yang shahih dari para Nabi dan Rasul.
  4. Mengamalkan syari’at Nabi dimana Nabi diutus kepada kita. Dan penutup para nabi adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau diutus untuk seluruh umat manusia. Sehingga ketika telah datang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka wajib bagi ahlu kitab tunduk dan berserah diri pada Islam Sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-NisaA’ 4:65)

Berikut ini Nama Nabi dan Rasul didalam alQur'an:
  • Adam, Idris
  • Nuh, Hud, Saleh
  • Ibrahim, Ismail
  • Luth, Ishaq, Yaqub
  • Yusuf
  • Ayyub, Zulkifli, Syu’aib
  • Musa, Harun
  • Daud, Sulaiman
  • Ilyas, Ilyasa, Yunus
  • Zakaria, Yahya, Isa
  • Muhammad shalallahu’alaihiwasalam
Oleh karena itulah, walaupun dalam Al-Qur’an hanya disebut 25 nabi, maka kita tetap mengimani secara global adanya Nabi dan Rasul yang tidak dikisahkan dalam Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Al-Mu’min 40:78). Selain 25 nabi yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an, terdapat 2 nabi yang disebutkan Nabi shalallahu’alaihiwasalam, yaitu Syts dan Yuusya’.

Para sahabat ketika menaklukkan kota Tustur dan mendapatkan jasad Nabi Danial ‘alaihissalam, mereka menggali tiga belas liang kubur di berbagai tempat, lalu memakamkan Danial di salah satunya di malam hari. Setelah itu seluruh kuburan tersebut disamakan, agar orang-orang tidak tahu manakah makam beliau.[Kisah tersebut disebutkan oleh Ishaq dalam Sirahnya riwayat Yunus bin Bukair (hal. 49). Juga disebutkan Ibn Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah dan beliau menyatakan bahwa sanadnya hingga Abu al-‘Aliyah sahih. Lalu beliau menyebutkan jalur-jalur periwayatan lain yang mengindikasikan bahwa kejadian tersebut benar adanya. Periksa: Al-Bidâyah wa an-Nihâyah (II/376-379), Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm (II/199-200) dan Ighâtsah al-Lahfân (I/377).]

Berkenaan dengan tiga nama yang disebut dalam Al-Qur’an yaitu Zulkarnain, Tuba’ dan Khidir terdapat khilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama apakah mereka Nabi atau bukan. Akan tetapi, untuk Zulkarnain dan Tuba’ maka yang terbaik adalah mengikuti Rasulullah shalallahu’alaihiwasalam, Beliau shalallahu’alaihiwasalam bersabda, “Aku tidak mengetahui Tubba nabi atau bukan dan aku tidak tahu Zulkarnain nabi atau bukan.” (HR. Hakim dishohihkan Syaikh Albani dalam Shohih Jami As Soghir). Maka kita katakan wallahu’alam. Untuk Khidir, maka dari ayat-ayat yang ada dalam surat Al-Kahfi, maka seandainya ia bukan Nabi, maka tentu ia tidak ma’shum dari berbagai perbuatan yang dilakukan dan Nabi Musa ‘alaihissalam tidak akan mau mencari ilmu pada Khidir. Wallahu’alam.

Tugas Para Rasul ‘alaihissalam

Allah mengutus pada setiap umat seorang Rasul. Walaupun penerapan syari’at dari tiap Rasul berbeda-beda, namun Allah mengutus para Rasul dengan tugas yang sama. Beberapa diantara tugas tersebut adalah:
  1. Menyampaikan risalah Allah ta’ala dan wahyu-Nya.
  2. Dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
  3. Memberikan kabar gembira dan memperingatkan manusia dari segala kejelekan.
  4. Memperbaiki jiwa dan mensucikannya.
  5. Meluruskan pemikiran dan aqidah yang menyimpang.
  6. Menegakkan hujjah atas manusia.
  7. Mengatur umat manusia untuk berkumpul dalam satu aqidah.
Kesalahan-Kesalahan Dalam Keimanan Kepada Nabi dan Rosul

Terdapat berbagai pemahaman yang salah dalam hal keimanan pada Nabi dan Rasul-Nya ‘alaihisholatu wassalam. Beberapa di antara kesalahan itu adalah:
  1. Memberikan sifat rububiyah atau uluhiyah pada nabi. Ini adalah suatu kesalahan yang banyak dilakukan manusia. Mereka meminta pertolongan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah wafat, menyebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam cahaya di atas cahaya (sebagaimana kita dapat temui dalam sholawat nariyah) dan sebagainya yang itu merupakan hak milik Allah ta’ala semata. Nabi adalah manusia seperti kita. Mereka juga merupakan makhluk yang diciptakan Allah ta’ala. Walaupun mereka diberi berbagai kelebihan dari manusia biasa lainnya, namun mereka tidak berhak disembah ataupun diagungkan seperti pengagungan pada Allah ta’ala. Mereka dapat dimintai pertolongan dan berkah ketika masih hidup namun tidak ketika telah wafat.
  2. Menyatakan sifat wajib bagi Nabi ada 4, yaitu shidiq, amanah, fatonah dan tabligh. Jika maksud pensifatan ini untuk melebihkan Nabi di atas manusia lainnya, maka sebaliknya ini merendahkan Nabi karena memungkinkan Nabi memiliki sifat lain yang buruk. Yang benar adalah Nabi memiliki semua sifat yang mulia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam 68:4) Mustahil bagi orang yang akan memperbaiki akhlak manusia tapi memiliki akhlak-akhlak yang buruk dan yang lebih penting lagi, pensifatan ini tidak ada dasarnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  3. Mengatakan bahwa ada nabi perempuan.

Kekhususan Bagi Nabi
  • Mendapatkan wahyu.
  • Ma’shum (terbebas dari kesalahan).
  • Ada pilihan ketika akan meninggal.
  • Nabi dikubur ditempat mereka meninggal.
  • Jasadnya tidak dimakan bumi.
Kebutuhan manusia pada para Nabi dan Rasul-Nya adalah sangat primer. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengatakan, “Risalah kenabian adalah hal yang pasti dibutuhkan oleh hamba. Dan hajatnya mereka pada risalah ini di atas hajat mereka atas segala sesuatu. Risalah adalah ruhnya alam dunia ini, cahaya dan kehidupan. Lalu bagaimana mau baik alam semesta ini jika tidak ada ruhnya, tidak ada kehidupannya dan tidak ada cahayanya.”(1)

Tabel perbedaan Nabi dan Rasul

NO NABI RASUL
1 Tidak diperintahkan kepada siapapun untuk menyampaikan risalah dari Allah Diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan risalah
2 Menguatkan / melanjutkan syariat dari Rasul sebelumnya Diutus dengan membawa syariat baru
3 Diutus kepada kaum yang sudah tunduk dengan syariat dari rasul sebelumnya Diutus kepada kaum yang menentang
4 Setiap nabi belum tentu ia seorang rasul Setiap Rasul adalah Nabi
5 Nabi pertama adalah Adam ‘alaihissalam Rasul pertama adalah Nuh ‘alaihissalam
6 Jumlah Nabi adalah 124 ribu orang Jumlah Rasul adalah 315 orang
7 Nabi itu jauh lebih banyak Rasul jauh lebih sedikit ketimbang nabi
8 Adapun nabi, ada di antara mereka yang berhasil dibunuh oleh kaumnya Seluruh rasul yang diutus, Allah selamatkan dari percobaan pembunuhan yang dilancarkan oleh kaumnya

Dalil-dalil rujukannya

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah di dalam Majmuu’ Fataawa wa Rasaail jilid 7 , menuliskan beberapa faedah yang terkait dengan permasalahan aqidah. Salah satu faedah yang beliau sebutkan di halaman 250 dari Majmuu’ Fataawa wa Rasaail jilid 7 adalah :


Faedah
Syaikul Islam di dalam kitab An Nubuwwat hal 172-173, menyebutkan perbedaan antara Nabi dan Rasul : Sesungguhnya Nabi adalah orang yang mendapatkan berita dari Allah dan dia menyampaikan apa yang Allah beritakan kepadanya. Jika dia diutus oleh Allah untuk menyampaikan risalah kepada orang yang menyelisihi perintah Allah, maka dia seorang Rasul. Sedangkan jika dia mengamalkan syariat sebelumnya dan tidak diutus kepada siapapun untuk menyampaikan risalah dari Allah maka dia seorang Nabi, bukan Rasul.(2)



إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh Nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintah memelihara kitab – kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya….(Q.S alMaidah: 44).

Tentang berapa banyak nabi dan rasul

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara meraka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang Rasul membawah suatu mu’jizat melainkan dengan seizin Allah.” (Qs. Al-Ghafir: 787)

Bertolak dari ayat ini, maka dapat disimpulkan bahwa setiap Nabi yang disebutkan di dalam Al-Quran adalah juga sebagai Rasul. (Syaikh Utsaimin)

Hadits tentang jumlah Rasul tersebut adalah:

كان آدم نبيا مكلما ، كان بينه و بين نوح عشرة قرون ، و كانت الرسل ثلاثمائة و خمسة عشر

Adam adalah Nabi yang diajak bicara. Antara ia dengan Nuh terdapat 10 abad. Jumlah Rasul adalah 315 orang (H.R Abu Ja’far ar-Rozzaaz dan selainnya, dishahihkan Syaikh al-Albany dalam Silsilah al-Ahaadiits as-Shohiihah

Dalam riwayat Abu Umamah, bahwa Abu Dzar bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berapa jumlah persis para nabi.” Beliau menjawab:

مِائَةُ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُونَ أَلْفًا الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيرًا

Jumlah para nabi 124.000 orang, 315 diantara mereka adalah rasul. Banyak sekali.” (HR. Ahmad no. 22288 dan sanadnya dinilai shahih oleh al-Albani dalam al-Misykah).

Tentang siapa nabi dan rasul pertama

Allah ’Azza wa Jalla menyatakan:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ

Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang setelahnya”. (QS. An-Nisa` : 163)

Rasul pertama adalah Nuh ‘alaihissalam, sesuai dengan hadits tentang syafaat pada hari kiamat, setelah mendatangi Adam, orang-orang mendatangi Nuh untuk meminta syafaat dengan mengatakan:

يَا نُوحُ أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ

Wahai Nuh, engkau adalah Rasul pertama (yang diutus) untuk penduduk bumi (H.R al-Bukhari dari Abu Hurairah).

Dalam lafadz lain, disebutkan bahwa Nabi Adam sendiri yang menyatakan bahwa Nuh adalah Rasul pertama:

فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ يَا آدَمُ أَمَا تَرَى النَّاسَ خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلَائِكَتَهُ وَعَلَّمَكَ أَسْمَاءَ كُلِّ شَيْءٍ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّنَا حَتَّى يُرِيحَنَا مِنْ مَكَانِنَا هَذَا فَيَقُولُ لَسْتُ هُنَاكَ وَيَذْكُرُ لَهُمْ خَطِيئَتَهُ الَّتِي أَصَابَهَا وَلَكِنْ ائْتُوا نُوحًا فَإِنَّهُ أَوَّلُ رَسُولٍ بَعَثَهُ اللَّهُ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَيَأْتُونَ نُوحًا

Maka orang-orang mendatangi Adam dan berkata: Wahai Adam, tidakkah engkau tahu (bagaimana keadaan manusia). Allah telah menciptakanmu dengan TanganNya, dan Allah (memerintahkan) Malaikat bersujud kepadamu dan Allah mengajarkan kepadamu nama-nama segala sesuatu. Berilah syafaat kami kepada Rabb kami sehingga kami bisa mendapatkan keleluasaan dari tempat kami ini. Adam berkata: aku tidak berhak demikian, kemudian Adam menceritakan kesalahan yang menimpanya. (Adam berkata): akan tetapi datanglah kepada Nuh, karena ia adalah Rasul pertama yang Allah utus kepada penduduk bumi. Maka orang-orang kemudian mendatangi Nuh….(H.R alBukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).

Ini adalah riwayat yang shohih, karena disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim.

Sedangkan riwayat Ibnu Hibban yang menyatakan bahwa Adam adalah Rasul pertama adalah riwayat yang lemah, karena di dalamnya terdapat perawi yang bernama: Ibrahim bin Hisyam bin Yahya al-Ghossany yang dinyatakan oleh Abu Zur’ah sebagai pendusta, Abu Hatim tidak menganggapnya tsiqoh, sedangkan atThobarony menyatakan tsiqoh. (3)

Sumber:

(1) http://jacksite.wordpress.com/2008/09/12/nabi-dan-rasul/
(2) http://abukarimah.wordpress.com/2011/11/17/beda-nabi-dan-rasul/
(3) http://kaahil.wordpress.com/2011/02/04/definisi-serta-jumlah-nabi-dan-rosul-berapakah-jumlah-nabi-dan-rasul-apakah-ada-hadits-shohih-tentang-hal-itu-apakah-perbedaan-antara-nabi-dengan-rasul-siapakah-rosul-yang-pertama-diutus/
(4) Tambahan dari sumber lain (jazakumullahu khairan)

Posted By Minang Sunnah6:35 PM

Minggu, 03 Maret 2013

RAKYAT ISLAM JAMA'AH MADIGOLIYAH DIBOHONGI RAJANYA PULUHAN TAHUN

Filled under:

RAKYAT ISLAM JAMA'AH MADIGOLIYAH DIBOHONGI RAJANYA PULUHAN TAHUN
RAKYAT ISLAM JAMA'AH DIBOHONGI RAJANYA PULUHAN TAHUN !!!!

baca artikel sebelumnya Tulisan Mengenal Siapa Itu LDII : MADIGOLIYAH, ISLAM JAMA'AH, LEMKARI, ASAD, JOKAM, GALIPAT, MBAHMAN dan 354

(Pendustaan Terhadap Fatwa Syaikh Yahya bin 'Utsman hafizohullah, pengajar di Al-Masjid Al-Haram Mekah Mukarromah)

Sungguh… betapa pilu hati ini menghadapi kenyataan yang sangat menyedihkan… jutaan rakyat ISLAM JAMA'AH(LDII) ternyata telah dibohongi oleh sang raja (Nur Hasan 'Ubaidah) selama berpuluh-puluh tahun. Lebih memilukan lagi ternyata setelah wafatnya sang raja maka datanglah sang pahlawan dinasti Kerajaan ISLAM JAMA'AH yang bernama Kholil Bustomi yang meneruskan bahkan memperkuat pembohongan terhadap rakyat ISLAM JAMA'AH ini. Sementara selama berpuluh-puluh tahun para rakyat telah membayar pajak wajib sebagai tanda kesetiaan (nyambung) kepada sang raja…!!!!.



RAKYAT BODOH SAJA YANG MAU TERUS DIBOHONGI !!!

Alhamdulillah dengan rahmat Allah mulailah sebagian rakyat ISLAM JAMA'AH (yang masih berakal sehat) mulai meninggalkan kerajaan ISLAM JAMA'AH tersebut, karena kenyataan yang ada -yang tidak bisa dipungkiri- telah menguak kedustaan sang raja.

Sang raja (Nur Hasan Ubaidah) telah mengaku menimba ilmu di kota Mekah Al-Mukarromah, dan belajar dari para ulama Mekah seperti Syaikh Umar Hamdan rahimahullah dan Syaikh Abdud Dzohir Abu Samh rahimahullah dan sang raja telah mengambil metode "mangkul" dari guru-guru sang raja tersebut.

Rakyat yang jeli tentunya tahu bahwa jika memang sang raja jujur maka tentunya pemahaman "mangkul" yang diserukan oleh sang raja pasti banyak tersebar di Arab Saudi, paling tidak banyak tersebar di kota Mekah Al-Mukarromah. Akan tetapi kenyataannya tidak seorangpun syaikh –apalagi ulama- di kota Mekah yang berpemahaman seperti sang raja….??!!!

TIDAK SEORANGPUN !!!!!, dan saya mengajak rakyat ISLAM JAMA'AH untuk meminta pihak kerajaan ISLAM JAMA'AH untuk membuktikan satu saja dari para ulama Arab Saudi yang berpemahaman sebagaimana pemahaman sang raja Nur Hasan Ubaidah !!!!.

Kalau dulu rakyat sangat mudah dibohongi oleh raja dan pihak kerajaan… tentunya di zaman sekarang –dengan begitu mudahnya sarana komunikasi, tersebarnya hp dan internet- tentunya para rakyat bisa mengecek kedustaan sang raja selama ini.

Terlebih lagi menurut pengakuan pihak Kerajaan ISLAM JAMA'AH bahwasanya metode "mangkul" tersebar bukan hanya di Mekah dan Madinah, bahkan di Jazirah Arab. Kholil Bustomi berkata :

 Arsip islam jama'ah 1

Jika perkaranya sebagaimana yang dipropagandakan oleh Kholil Bustomi bahwasanya metode mangkul tersebar di Mekah dan Madinah maka tentunya Universitas Ummul Quro di Mekah dan Universitas Islam Madinah akan menyebarkan system mangkul, dan tentunya akan sangat banyak mahasiswa yang menjadi rakyat ISLAM JAMA'AH ???!!!

PINTARNYA SANG RAJA

Sang raja Nur Hasan Ubaidah memang pandai dalam proses membodohi rakyatnya. Sebuah taktik jitu yang selalu dipropagandakan oleh sang raja agar para rakyat senantiasa dibohongi :

Taktik jitu tersebut adalah Sang raja melarang rakyatnya untuk menimba ilmu dari siapapun juga dari luar kerajaan, betapapun tinggi ilmunya, karena orang di luar kerajaan tidak mengambil ilmu dengan metode "mangkul" ala sang raja Nur Hasan 'Ubaidah.

Dengan menanamkan doktrin ini kepada para rakyat maka sang raja benar-benar menjadikan para rakyat seperti katak dalam tempurung…, benar-benar tidak mengetahui dunia luar…!!!. Sehingga dengan demikian para rakyat akan terus terbius dengan kedustaan sang raja, dan mereka tidak akan pernah sadar-sadar.

METODE BUDI LUHUR (baca "NGAPUSI") !!!

Ada taktik lain yang tidak kalah jitu dalam menjerat para rakyat agar mereka terus terperangkap dalam "tempurung katak". Yaitu metode budi luhur. Yaitu agar cara ibadah dan pemikiran para rakyat Kerajaan ISLAM JAMA'AH tidak diketahui oleh orang-orang luar Kerajaan maka sang raja mengajarkan dan mendoktrin kepada rakyatnya agar pandai berdusta (yang kalau dalam bahasa jawa disebut NGAPUSI). Dan metode ngapusi ini diberi nama oleh sang raja dengan nama yang indah, yaitu "Budi Luhur". Penamaan indah ini tentunya punya tujuan, yaitu agar para rakyat tidak ragu-ragu untuk melancarkan aksi ngapusi ini, dan agar para rakyat meyakini bahwa taktik "ngapusi" ini adalah ibadah yang harus mereka lakukan !!!!.

Dengan bertopeng metode budi luhur ini (baca "Ngapusi") maka menutup para rakyat untuk berdialog dengan pihak luar Kerajaan. Karena setiap ada pihak luar yang ingin berdialog dengan para rakyat tentang pemikiran Kerajaan ISLAM JAMA'AH maka para rakyat dengan mudahnya menghindar, dan berdusta seakan-akan mereka tidak sebagaimana yang dituduhkan oleh masyarakat, dan para rakyat selalu berusaha menutup-nutupi pemikiran mereka.

Sungguh sang raja sungguh cerdas –sebagaimana yang dilontarkan oleh Kholil Bustomi-, yaitu cerdas dalam menjaga para rakyat agar terus terjerat dalam tempurung katak, sehingga terus terlena dalam biusan kedustaan yang dihembuskan oleh sang raja.

Metode "ngapusi" ini sangat mirip dengan metode "taqiyyah" yang dipropagandakan oleh sekte Syi'ah yang sesat.

Apakah para rakyat tidak sadar…. Dan apakah mereka tidak kritis dan berpikir… bukankah meskipun selama ini mereka melancarkan metode "ngapusi" ini kepada masyarakat pihak luar Kerajaan…, ternyata selama ini justru merekalah (rakyat ISLAM JAMA'AH) yang telah menjadi korban metode "ngapusi" yang dilancarkan oleh sang raja Nur Hasan 'Ubaidah.

TERNYATA PEMAHAMAN SANG RAJA SAMA SEKALI TIDAK TERDAPAT PADA SEORANG GURUPUN YANG ADA DI DARUL HADITS AL-MAKKY

Sang raja mengaku-ngaku telah berguru kepada Syaikh Abdud Dzohir Abu Samah. Berikut penuturan Kholil Bustomi:
 Arsip islam jama'ah 2

Ternyata syaikh Abu Samah Abdud Dohir tersebut adalah salah satu pendiri Daarul Hadiits Al-Khoairiyyah di kota Mekah Al-Mukarromah. Hal ini bisa dilihat di (http://dar-alhadith.com/index.php?action=pages&id=12).

Karenanya Kholil Bustomi memuji Syaikh Abud Dzohir Abu Samah rahimahullah setinggi langit. Kholil berkata :

 Arsip islam jama'ah 3

Penuturan Kholil ini tentunya merupakan kedustaan, jika seandainya suara Abdud Dohir Abu Samh bisa kedengaran hingga di Aziziah yang berjarak 1 km maka tentunya hal ini merupakan keajaiban yang tersebar santero dunia, mengingat beliau adalah Imam Masjidil Haraam. Akan tetapi ini hanya kedustaan belaka !!!

Dan diantara desas-desus yang tersebar di kalangan ISLAM JAMA'AH bahwasanya sang raja dulu belajar di Daarul Hadiits di Mekah Al-Mukarromah.

Ternyata tidak seorangpun dari para syaikh para pendiri Daarul Hadits yang berpehamahan seperti pemahaman sang raja Nur Hasan Ubaidah. Bahkan tidak seorangpun dari murid-murid mereka yang berpemahaman demikian. Bahkan tidak seorangpun syaikh di Mekah yang berpemahaman seperti sang raja.

Bahkan tidak seorang syaikh pun di Arab Saudi yang berpemahaman seperti sang raja !!!.

Pada tahun 1405 Hijriyah (sekitar tahun 1985 M), pembentukan kembali sturktual pengaturan Darul Hadits dibawah petunjuk dan bimbingan Syaikh Abdul Aziiz bin Baaz rahimahullah. Dan ternyata Syaikh Bin Baaz tidak berpemahaman seperti pemahaman sang raja, bahkan tidak seorangpun murid syaikh Bin Baaz yang berpemahaman seperti sang raja.

Bahkan mudir/pimpinan Daarul Hadits saat ini yaitu syaikh DR Sulaiman bin Wail At-Tuwaijiri hafidzahullah juga tidak berpemahaman seperti pemahan sang raja !!!

Lantas darimanakah pemahaman mangkul sang raja Nur Hasan dapatkan??!!

KHOLIL BUSTOMI MELANJUTKAN PROGRAM SANG RAJA

Ternyata beberapa tahun silam datanglah utusan kerajaan ISLAM JAMA'AH yang bernama Kholil Busthomi ke kota Mekah Al-Mukarromah untuk menimba ilmu dan menelusuri para guru yang diaku-akui oleh sang raja. Tentunya Kholil selama bertahun-tahun di Mekah sadar bahwasanya para syaikh dan guru apalagi ulama yang ada di kota Mekah (terutama di Al-Masjid Al-Haroom) rata-rata berpemahaman salaf. Dan tidak seorangpun yang berpemahaman seperti pemahaman ngapusi sang raja.

Jika Kholil mengungkapkan hal ini kepada pihak kerajaan maka akan timbul geger besar…, apalagi jika sampai tersebar di kalangan rakyat ISLAM JAMA'AH, tentunya bisa mengakibatkan pemberontakan dan runtuhnya Kerajaan Dinasti ISLAM JAMA'AH.

Karenanya Kholilpun nekat melakukan budi Luhur (baca dusta=ngapusi), Kholil pun NEKAT MEREKAYASA FATWA ULAMA !!!!

SYAIKH YAHYA BIN 'UTSMAN PENGAJAR DI MASJIDIL HARAM

Beliau adalah seorang syaikh yang sangat diagungkan oleh Kholil dan dinasti Kerajaan Islam Jamah. Berikut ini saya nukilkan penuturan Kholil yang dituturkan kembali oleh pihak Kerajaan yang mendengarkan ceramah Kholil tentang perjalanannya di kota mekah AL-Mukarromah:

 Arsip islam jama'ah 4

Bahkan Kholil menjelaskan kenapa mereka ISLAM JAMA'AH sangat menghormati Syaikh Yahya bin 'Utsman ini.

Arsip islam jama'ah 5

Adapun transkrip ceramah tersebut yang dibagi-bagikan secara resmi di pemerintah pusat kerajaan ISLAM JAMA'AH di kediri pada para dai ISLAM JAMA'AH bisa di download di link berikut:

1. https://www.box.com/files#/files/0/f/411559190/1/f_3357546884 atau

2. http://firanda.com/download/Cerita_dari_H._Kholil_tentang_Pemantapan_QHJ.pdf


Berdasarkan informasi salah seorang bekas dai Islam Jama'ah bahwasanya :

((hasil pertemuan antara kholil dan syaikh yahya di sampaikan oleh kholil tahun 2003 di gedung DMC lantai 4 pondok kediri jatim saat acara daerahan timur kejaan islam jamaah))

Untuk melancarkan program budi luhur (ngapusi) yang telah ditanamkan puluhan tahun oleh sang raja Nur Hasan Ubaidah maka Kholil nekat berdusta, dan mengesankan kepada rakyat ISLAM JAMA'AH bahwasanya Syaikh Yahya bin 'Utsman sejalan dan sepemahaman dengan pemahaman Nur Hasan Ubaidah Raja dinasti kerajaan ISLAM JAMA'AH.

Kholil pun menukil fatwa-fatwa dari Syaikh Utsman, lalu fatwa tersebut disebarkan dikalangan para dai ISLAM JAMA'AH … akan tetapi ternyata semuanya hanyalah REKAYASA dan… NGAPUSI belaka.

Ternyata Syaikh Yahya bin 'Utsman seorang SALAFY !!!!!

Berikut ini kami cantumkan pernyataan transkrip dari dialog yang kami lakukan dengan Syaikh Yahya bin Utsman yang menguak kedustaan Kholil Bustomi.

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركانه

الحمد لله والصلاة والسلام على من لا نبي بعده وآله وصحبه أجمعين، وبعد.

Kami para mahasiswa Indonesia program pasca sarjana di Universitas Islam Madinah (Islamic University of Madina / الجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة):
  1. Firanda Andirja bin 'Abidin (mahasiswa jurusan 'aqidah tingkat doktoral)
  2. Musyaffa' Haji Rodhi Nur Hadi ( mahasiswa jurusan ushul fikh tingkat magister )
  3. Sanusin Muhammad Yusuf ( mahasiswa jurusan tarbiyah tingkat magister )
  4. Muhammad Haikal Basyrohil (mahasiswa jurusan ilmu hadits tingkat magister )
  5. Ruslan Dzuardi ( mahasiswa jurusan ushul fikh tingkat magister )
  6. Nuruddin Muhammad Fattah ( mahasiswa jurusan aqidah tingkat magister universitas Ummal Quro Mekah)
Kami menyatakan bahwasanya :

Kami telah berkumpul bersama Fadhilah Syaikh Yahya bin 'Utsman pengajar di Masjidil Haram di kota Mekah Al-Mukaaromah (المدرس في المسجد الحرام بمكة المكرمة) pada hari sabtu sore menjelang magrib pada tanggal 1/5/1433 hijriyah bertepatan dengan tanggal 24/3/12012 masehi di Masjidil Haram di kota Mekah Al-Mukarramah. Kami telah meminta fatwa kepada beliau tentang beberapa permasalahan yang berkaitan dengan sebagian saudara kami yang bernisbah kepada sebuah jama'ah yang dinamakan dengan "Islam Jama'ah".

Alhamdulillah kami telah merekam tanya jawab kami dengan As-Syaikh Yahya bin 'Utsman hafidzohullah. Berikut ini transkrip tanya jawab tersebut disertai terjemahannya :

تقول السائلةُ : الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين, أما بعد

فإني المدعوة بـ: فُلاَنَة (Ar….i), منذ 18 سنة قد دخلتُ في حركة الدعوة الإسلامية الموسومة بـ "إسلام جماعة" بإندونيسيا التي أَسَّسَها الشيخ نور حسن عبيدة سنة 1941 م, وهو أمير الجماعة. وقد ادَّعى أنه درس بمكة لمدة 10 سنوات في معهد دار الحديث المكي, وتَتَلْمَذَ على الشيخ عمر حمدان رحمه الله, وقد أخذ الإجازةَ منه.

وبعد وفاة المؤسِّس, يأتي بعده ولدُه عبدُ العزيز سلطان أميرًا أو إمامًا لهذه الجماعة. وأرسل صِهْرَه المدعو بـ خَلِيْل بِسْطَامِي إلى مكة للدراسة على مشايخ الحرمين، منهم: فضيلتُكم الشيخ المكرم يحيى بن عثمان حفظكم الله. وبعد معايشتي لهذه الجماعة سنين طويلةً, قد لاحظتُ في هذه الجماعة أمورًا جَعَلَتْنِي أَتَسَاءَلُ دائِمًا عن حقيقتها, وهي:

penanya berkata:

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين, أما بعد

Saya bernama Er xxxx . Saya telah masuk ke dalam gerakan dakwah islamiyah yang dikenal dengan nama "Islam Jama'ah" di Indonesia sejak 18 tahun yang lalu, yang didirikan oleh Syaikh Nurhasan ubaidah pada tahun 1941 M. Dan dia adalah amir jama'ah ini, dia mengaku telah belajar di Mekah selama 10 tahun di Ma'had Darul Hadits Mekah, dan telah menjadi murid dari syaikh Umar Hamdan rahimahullah serta telah mendapatkan ijazah darinya.

Setelah meninggalnya sang pendiri, maka kemudian berikutnya anaknya Abdul Aziz Sulton menjabat sebagai amir atau imam jama'ah ini. Dan dia mengutus keluarganya yang bernama Kholil Busthomi ke kota Mekah untuk belajar kepada para masyayikh haramain, diantaranya adalah anda As-Syaikh Al-mukarram Yahya bin 'Utsman hafidhokumullah.

Dan setelah bertahun tahun lamanya aku hidup pada jama'ah ini, maka aku perhatikan bahwa di dalam jama'ah ada beberapa perkara yang membuatku selalu bertanya-tanya tentang kebenarannya, perkara-perkara tersebut yaitu:

أولاً: تَنْبَنِي هذه الجماعة على تنظيم سري بمبايعة سرية على إمام سري في دولة إندونيسيا, مع أن الحكومة الإندونيسية قائمة. هل هذا العمل صحيح موافق للكتاب والسنة؟.

Pertama: jama'ah ini dibangun diatas organisasi rahasia, dengan bai'at rahasia kepada imam rahasia di negara Indonesia, sementara pemerintah Indonesia berdiri tegak. Apakah perbuatan ini benar sesuai dengan al-kitab dan as-sunnah?

قال فضيلة الشيخ حفظ الله: هذا غير صحيح, هذا غير صحيح لأن الخروج على الإمام من الكبائر, الرسول عليه الصلاة والسلام حذَّر من الخروج على الإمام, يقول النبي ج أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي, فإنه سيكون أمور تنكرونها. فالخروج على الإمام, الإمام المسلم, هذا لا يجوز, لأنه فتنةٌ وفسادٌ

Fadhillatus syaikh Yahya bin 'Utsman hafidhahullah menjawab:

"Ini tidak benar, ini tidak benar karena keluar/membelot dari seorang imam/pemimpin termasuk dosa besar. Rosulullah shollallohu 'alaihi wasallam telah memperingatkan untuk tidak khuruj (keluar/membelot) terhadap seorang imam, beliau shollallohu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta ta'at meskipun yang menjadi pemimpinmu (yang menguasaimu-pen) adalah seorang budak habsy. maka bahwasanya akan ada berbagai perkara yang kalian akan mengingkarinya" , maka khuruj terhadap seorang imam, imam yang muslim, ini tidak boleh, karena khuruj tersebut adalah fitnah dan kerusakan."

ثانيًا: هل إذا خرجتُ أَنَا وفارقتُ هذه الجماعة وتركتُ البيعة ولم أُقِرَّ بإمامِها, هل أَصِيْرُ مُرْتَدَّةً خارجةً عن الإسلام وأكون من أهل النار؟

قال فضيلة الشيخ حفظ الله: هذا غير صحيح, هذا غير صحيح, لأن بيعة الإمام الأول هو صحيح.

الإمام الأول هو أمير إندونيسيا، رئيس إندونيسا؟

قال فضيلة الشيخ حفظ الله : نعم، لا يجوز الخروج على الإمام المسلِم

Kedua: apakah bila aku keluar memisahkan diri dari jama'ah ini dan aku juga meninggalkan bai'at ini serta aku tidak lagi mengakui keimamannya, apakah aku menjadi orang yang murtad keluar dari islam dan aku termasuk penghuni neraka?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Ini tidak benar ini tidak benar, karena baiat imam yang pertama itulah yang benar"

apakah imam yang pertama dia adalah amir indonesia, presiden indonesia?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "iya tidak boleh keluar dari serang imam yang muslim"

ثالثا: ومما أشكل عليَّ، أنه إذا أذنب أو أخطأ أحد المنتسبين إلى هذه الجماعة, حيث خالف نِظامًا من أنظمة الجماعة, يجب عليه أن يتوب إلى الله بتوبة نصوحة ويكتب توبته في ورقةٍ يُقَدِّمُها إلى الأمير, ثم أوجب الأمير عليه كفارةً مناسبةً يجب تنفيذها لقبول توبته. وهذه الكفارة مثل: الصدقة أو صلاة التسبيح أو صوم يوم الإثنين والخميس أو الاستغفار ألف مرة

ketiga: diantara yang menjadi problema bagiku, bahwa bila salah seorang anggota jama'ah ini, sekiranya dia melanggar peraturan dari beberapa peraturan jama'ah, maka wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha serta menulis taubatnya pada selembar kertas dan memberikannya kepada amir kemudian amir mewajibkan kafarah yang setimpal yang wajib untuk ditunaikan agar taubatnya diterima, misalnya: shodaqoh atau sholat tashbih atau puasa hari senin dan kamis atau membaca istighfar seribu kali.

قال فضيلة الشيخ حفظ الله: هذا ما ورد, وإنما باب التوبة مفتوح, يستغفر الله, فيغفر الله سبحانه وتعالى. هذا ما ورد وغير صحيح

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Ini tidak ada dasarnya, bahwasanya pintu taubat terbuka, dia meminta ampunan kepada Allah, maka Allah subhana wata'ala akan mengampuninya. Ini tidak ada dasarnya dan tidak benar"

رابعًا: قد ادعى مؤسس الجماعة (الشيخ نور حسن عبيدة) أنه أَخَذَ العلْمَ الشَّرْعِيَّ بطريقة "المنقول", ويقصد بذلك أنه أخذ العلوم الدينية بإسناد متصل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم على أيدي مشايخ مكة, وبالتالي ألزم علينا أن لا نأخذ العلم إلا من أساتذتنا في هذه الجماعة, حيث قد تَلَقَّوْا العلم من المؤسس بطريقة المنقول. ولذا حرَّم علينا قراءة الكتب الإسلامية والسماع عن أحدٍ –مهما بلغ علمُه- إذا كان من خارج الجماعة.

Keempat: pendiri jama'ah ini yaitu syaikh Nurhasan Ubaidah mengaku telah mendapatkan ilmu syar'i dengan metode manqul, maksudnya adalah bahwa dia telah mendapatkan ilmu agama dengan isnad yang bersambung sampai kepada Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam dari tangan-tangan masyayikh Mekah, oleh karenanya dia melazimkan kepada kami untuk tidak mengambil ilmu kecuali dari ustadz-ustadz kami di jama'ah ini, karena para ustadz kami telah bertalaqqi (mengambil ilmu) dari sang pendiri (Nur Hasan Ubaidah) dengan metode manqul, karenanya haram bagi kami membaca kitab-kitab islam serta mendengar dari seseorang –betapapun tinggi ilmunya - jika dia dari luar jama'ah ini

قال فضيلة الشيخ حفظ الله: هذا أيضا غير صحيح, فالعلم يؤخذ من كل من عنده علم من الكتاب والسنة والعلم الصحيح, هذا يؤخذ من كل مسلم, ليس لجماعة مخصوصة.

Fadhilatu as-Syaikh hafidhahullah berkata : "Ini juga tidak benar, ilmu itu diambil dari setiap orang yang memiliki ilmu dari al-qur'an dan as-sunnah serta ilmu yang benar, ilmu ini diambil dari setiap muslim, bukan oleh jama'ah tertentu saja"

إذا كان ليس له إسناد متصل إلى مؤلفي كتب الحديث؟

Bila dia tidak memiliki isnad yang bersambung kepada penulis kitab hadits?

قال فضيلة الشيخ حفظ الله: إذا كان علمُه موافقاً للكتاب والسنة نأخذه

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Bila ilmunya sesuai dengan al-qur'an dan as-sunnah maka kita ambil"

خامسا: نحن نعيش في دولة إندونيسيا, وحاكمها لا يحكم بما أنزل الله, وهذا الحاكم قد انتُخِب بطريقة الانتخابات الديمقراطية المعروفة. فهل يجب علينا كَرَعِيَّةٍ أن نطيعه فيما وافق حكم الله؟ وهل هذا الحاكم يعتبر وَلِيًّا لأمر المسلمين بإندونيسيا؟

Kelima: kami hidup di negara Indonesia, sementara penguasanya tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, dan penguasa ini telah dipilih dengan sistem pemilihan umum demokrasi yang telah dikenal, apakah wajib bagi kami sebagai rakyat untuk mentaatinya selama sesuai dengan hukum Allah?

dan apakah penguasa seperti ini dianggap sebagai waliyu al-amri muslim di indonesia?

قال فضيلة الشيخ حفظ الله: ما زال المسلمون بايعوه, فالسمع والطاعة, لأن الخروج عليه يُسَبِّبُ فتنة, والفتنة ممنوعة, فالواجب يُنصحون باللين والأدب, والله الهادي وهو أرحم الراحمين.

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Selama kaum muslimin membaiatnya maka hendaknya mendengar dan ta'at, karena khuruj (membelot) kepadanya akan menyebabkan timbulnya fitnah, dan fitnah itu terlarang. Maka yang wajib adalah mereka (para penguasa) dinasihati dengan cara lemah lembut dan beretika. Dan Allah-lah Yang memberi petunjuk dan Dialah Yang Maha Penyayang

Penanya,

Tertanda :

Penanya

----------------------------------


Berikut ini pertanyaan yang kami –para mahasiswa program pasca sarjana- sampaikan kepada Syaikh Yahya bin 'Utsman hafidzohullah. Adapun transkrip pertanyaan dan jawaban antara kami dan Syaikh adalah sebagai berikut:

فضيلتكم هناك فتاوى تنسب إليكم تؤيد مذهبهم !

قال فضيلة الشيخ حفظه الله : لا، لا !!

Syaikh yang mulia, ini ada fatwa yang dinisbatkan kepada anda yang mendukung madzhab mereka !!

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Tidak, tidak !!

نفيد فضيلتكم, بأنه قد وقعتْ في أيدينا أوراقٌ فيها أسئلة وُجِّهَتْ إليكم, من قِبَلِ المدعو بِـ خليل بسطامي مع أجوبتكم عنها. وقد تُرجِمَتْ هذه الأسئلة وأجوبتها إلى اللغة الإندونيسية.
وبعد قراءة هذه الأوراق بِتَمَعُّنٍ, لاحظنا نحن -طلاب الدراسات العليا بالجامعة الإسلامية- عدمَ الأمانة في ترجمة جوابكم, حيث حُمِّل إلى ما لا يحتمل وفق عقيدة السائل المدعو بـ خليل بسطامي. وإليكم تفاصيل ذلك:

Kami memberitahukan kepada Fadilatus Syaikh bahwasanya kami telah mendapatkan lembaran yang isinya terdapat pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh seorang yang bernama Kholil Busthomi kepada anda, dan juga terdapat jawaban anda tentangnya. Tanya jawab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Setelah membacanya dengan teliti maka kami (mahasiswa di jami'ah islam madinah) menemukan ketidak-amanahan di dalam menterjemahkan jawaban anda, yang mana jawaban anda dibawakan pada bukan tempatnya untuk menyesuaikan aqidah si penanya yang bernama Kholil Busthomi.

Berikut ini kami sampaikan kepada anda rinciannya:

أولا: ترجم جوابكم في معنى قوله عليه الصلاة والسلام: ((فمات ميتة جاهلية)) تَرْجَمَه بالترجمة التالية: "أي مات كموت أهل الجاهلية حيث دخل النار".
مع أن فضيلتكم قد قلتم في جوابكم فمات ميتة جاهلية يعني: أنه مثل أهل الجاهلية, لأنهم كانوا فوضى لا إمام لهم.
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : نعم, نعم, ترجمته خطأ,
حيث جزم بدخول النار؟.
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : نعم، نعم

Pertama: Ia menterjemahan jawaban anda tentang makna sabda Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam (maka dia mati seagaimana kematian jahiliyah) diterjemahkan: "yakni seperti matinya ahli jahiliyah yang mana dia masuk neraka" Padahal yang mulia syaikh anda telah berkata pada jawaban anda, "maka dia mati seperti mati jahiliyah, maksudnya bahwa dia seperti ahli jahiliyah karena mereka tercerai berai karena mereka tidak memiliki imam".

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Ya ya terjemahannya salah"

Kesalahan terjemahannya yaitu ditetapkan masuk kedalam neraka.

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Iya, iya"

ثانيا: استدل بقولكم في الجواب: "بلادكم إمامكم, وهؤلاء أهل مصر بلادهم إمامهم في بلادهم" على جواز تكوين الإمارة في بلادنا إندونيسيا مع أن الحكومة الإندونيسية قائمة. ونحن نشك أن هذا الجواب من قولكم لأن في الكلام ركاكة.
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : هذا غير صحيح, هذا غير صحيح.
أي : لا يجوز إقامة الإمارة ودولة إندونيسيا قائمة؟
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : نعم، نعم

Kedua : Ia berdalil dengan jawaban anda: "negaramu imammu, mereka itu penduduk negeri dengan Negara mereka imam mereka di Negara mereka" atas bolehnya membentuk keamiran/keimaman di Negara kita Indonesia padahal pemerintah Indonesia telah tegak. Sebenarnya kami meragukan bahwa jawaban ini dari ucapan anda, karena ungkapan bahasa Arabnya tidak teratur.

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Ini tidak benar, ini tidak benar"

Maksudnya, tidak diperbolehkan mendirikan keimaman sementara Negara Indonesia telah berdiri?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Iya, iya"

ثالثا: ادعى خليل أنه سألكم بالسؤال التالي: (لكن في بلادنا يا شيخ ننصب الإمام بالسر لأن أكثرهم أهل البدعة, كما قد فعل رسول الله عليه الصلاة والسلام في ليلة العقبة في بيعة الصحابة, يعني بالسر من أعين الكفار)

وادعى –خليل- أنكم أجبتم بالجواب التالي: (لابد إمام المسلمين, يعني المسلمون يبايعون إماما, الله يوفقنا وإياكم لما يحب ويرضى).

ثم تَرْجَمَ جوابكم هذا بالترجمة التالية: لا بأس بنصب الإمام سرا, لأن المسلمين لا بد أن يبايعوا إماما, وإن كان بطريقة سرية.

قال فضيلة الشيخ حفظه الله : هذا خطأ, ما قلتُ أنا هذا, الله المستعان.

Ketiga : Dan kholil mengaku bahwa dia telah bertanya kepada anda sebagai berikut: (akan tetapi di negara kami ya syaikh kami mendirikan imam dengan rahasia karena kebanyakan mereka adalah ahli bid'ah, sebagai mana yang telah dilakukan oleh rosulullah shollallohu 'alaihi wasallam di malam aqabah saat membaiat sahabat yakni dengan cara rahasia dari pengawasan orang-orang kafir)

Dan kholil juga mengaku bahwa anda menjawabnya dengan jawaban berikut : (yaitu teks arab jawaban syaikh sbb لابد إمام المسلمين, يعني المسلمون يبايعون إماما, الله يوفقنا وإياكم لما يحب ويرضى (yang terjemahannya sbb : "Harus ada imam muslimin yakni kaum muslimin berbaiat kepada seorang imam, semoga Allah menetapkan kami dan kalian pada apa-apa yang Dia cintai dan ridhoi")

Kemudian jawaban anda di atas diterjemahkan sebagai berikut: "Tidak mengapa mengangkat seorang imam dengan rahasia, karena kaum muslimin harus membaiat seorang imam meskipun dengan cara sembunyi-sembunyi".

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Ini salah, aku tidak pernah mengatakan ini, Allahu al-musta'an"

رابعًا: نقل الفتوى منكم, أنكم لم تُجِزْ تلقي العلم الشرعي, من شيخ ليس له إسناد متصل إلى مؤلف كتب الحديث.

قال فضيلة الشيخ حفظه الله : لا, لا, ما قلته, إذا كان يدعو إلى الكتاب والسنة يقبل منه أياًّ كان

وإن كان ليس له إسناد؟

قال فضيلة الشيخ حفظه الله : نعم، نعم

Keempat: Ia menukil/mengutip fatwa dari anda, bahwasanya anda tidak memperbolehkan mengambil ilmu syar'i dari seorang guru/syaikh yang tidak memiliki isnad yang bersambung kepada penulis hadits

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Tidak, tidak, aku tidak penah mengatakannya, jika dia mendakwahkan kepada al-kitab dan as-sunnah maka diterima siapapun dia"

Meskipun dia tidak memiliki isnad?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Iya, iya"

خامسًا: قال خليل في سؤاله: "ونحن في أرض الكفار, لا نستطيع أن نقطع يد السارق وجلد الزاني". فضيلتكم هل صحيح, أن أرض إندونيسيا أرض الكفار؟
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : لا ، لا, هذا غير صحيح, المسلمون يصلون ويصومون, الله يهدينا ويهديهم, لا حول ولا قوة إلا بالله, الله يهديهم, الله يهديهم.

Kelima: di dalam pertanyaannya, kholil bekata: " Dan kami berada di Negara kuffar, kami tidak mampu untuk memotong tangan pencuri dan menyebat penzina".

Yang mulia, apakah ini benar, bahwa Negara Indonesia adalah Negara kuffar?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Tidak, tidak, ini tidak benar, (mereka) adalah orang-orang muslim, mereka masih sholat dan berpuasa, semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita dan mereka, la haula walaa quwwata illa billah, semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka, semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka"

هذه الفتاوى يا فضيلة الشيخ, هل حصل بينه وبينكم سؤال وجواب؟ هذا تقريبا منذ سنوات ماضية؟
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : هذا غير صحيح, أنا ما عندي إلا درسنا في الحرم

Fatwa ini, Wahai syaikh yang mulia, apakah pernah terjadi soal jawab antara anda dengan Kholil? Ini terjadi kira-kita beberapa tahun yang lalu?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Ini tidak benar, tidak ada bagiku kecuali hanya mengajar di al-haram saja".

ما نصيحتكم لأصحاب هذه الجماعة، لأنهم يحبونكم ؟:
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : الواجب علينا اتباع القرآن الكريم, واتباع الرسول ج, واتباع السلف الصالح, الصحابة رضي الله عنهم, والتابعون رحمهم الله, وأتباع التابعين ومن سلك طريقهم, هذا هو الإسلام, وهذا هو الذي أمرنا الله به.

Apa nasehat anda untuk pengikut jama'ah ini, karena mereka mencintai anda?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Wajib bagi kita mengikuti al-qur'an al-karim dan mengikuti rosulullah shollallohu 'alaihi wasallam dan juga mengikuti as-salaf as-sholih, yaitu para sahabat rodhiallohu 'anhum, para tabi'in rohimahumullah, dan tabi'i at-tabi'in serta orang-orang yang meniti jalan mereka, inilah islam, dan inilah yang Allah perintahkan kepada kita"

فضيلة الشيخ، فهل تنصحون أتباعَ هذه الجماعة أن يخرجوا من هذه الجماعة؟
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : عليهم أن يرجعوا إلى الحق, إلى الكتاب والسنة, التفرُّق مذموم
ويتركون هذه الجماعة؟
قال فضيلة الشيخ حفظه الله : نعم، نعم، الله يهدينا ويهديهم
آمين آمين،

Fadhilatus Syaikh, apakah engkau menasehatkan kepada para pengikut jama'ah ini untuk meninggalkan jama'ahnya?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Wajib bagi mereka untuk kembali pada al-haq, kepada kitabillah dan sunnah, perpecahan itu tercela"

Yaitu hendaknya mereka meninggalkan jama'ah ini?

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Iya, iya semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita dan mereka"

Amin, amin

ونستأذن منكم أن ننشر هذا الجواب نصيحةً لهم وللمسلمين نظراً لأن أتباعهم ملايين ونرجو خيراً لهم

Dan kami mohon izin kepada anda untuk menyebarkan jawaban ini sebagai nasehat kepada mereka dan kepada kaum muslimin, mengingat pengikut mereka jutaan dan kami mengharapkan kebaikan kepada mereka.

قال فضيلة الشيخ حفظه الله : الواجب علينا اتباع القرآن الكريم, واتباع الرسول ج, واتباع الصحابة رضي الله عنهم, والتابعون رحمهم الله, وأتباع التابعين, ونجتنب الطرق المخالفة المنحرفة

Fadhilatu as-syaikh hafidhahullah berkata : "Wajib bagi kita mengikuti al-qur'an al-karim dan mengikuti rosulullah shollallohu 'alaihi wasallam dan juga mengikuti as-salaf as-sholih, yaitu para sahabat rodhiallohu 'anhum, para tabi'im rohimahumullah, dan tabi'i at-tabi'in. Dan wajib bagi kita untuk menjauhi jalan-jalan yang menyelisih dan menyimpang".

Demikian transkrip dari rekaman tanya jawab antara mahasiswa Universitas Islam Madinah dengan As-Syaikh Yahya bin 'Utsman hafidzohullah (silahkan download rekamannya)
Fatwa Syaikh Yahya Bin Utsman Kepada Islam Jamaah

atau tonton di youtube



KUMPULAN DUSTA KHOLIL BUSTOMI

Pepatah berkata : Guru kencing berdiri maka murid kencing berlari…

Jika sang raja Nur Hasan Ubaidah seorang pendusta tukang "ngapusi", maka sang murid Kholil Bustomi tidak kalah hebat dalam menerapkan metode ngapusi ini.

Sebagaimana telah lalu, ternyata Syaikh Yahya mengingkari pernah berfatwa sebagaimana yang telah dipropagandakan oleh Kholil, dan beliau telah menunjukkan pertentangan beliau terhadap fatwa-fatwa yang dinisbahkan kepada beliau.

Kalaupun pernah terjadi dialog antara Kholil dengan Syaikh Yahya maka tentunya beliau tidak berfatwa sebagaimana yang dipropagandakan oleh Kholil. Karenanya kami meminta bukti kepada Kholil berupa rekaman suara Syaikh tentang fatwa-fatwa yang dipropagandakan oleh Kholil. Kalaupun telah terjadi dialog sebagaimana yang diakui dan ditranskrip oleh Kholil maka transkrip tersebut pun menunjukkan kebohongan Kholil.

Berikut ini saya haturkan cuplikan kebohongan-kebohongan dan ketidak-amanahan Kholil Bustomi dalam merekayasa fatwa Syaikh Yahya bin 'Utsman hafidzohullah.

Pertama : Syaikh telah menjelaskan bahwa makna orang yang meninggal tidak dalam keadaan berbai'at adalah meninggal sebagaimana meninggalkanya ahli jahiliyah yang dalam keadaan kacau karena tidak memiliki pemimpin. Akan tetapi dalam transkrip diterjemahkan bahwa maksud dari meninggal sebagaimana meninggalnya ahli jahiliyah adalah MASUK NERAKA

 Arsip islam jama'ah 6
Arsip islam jama'ah 7

Kholil nekat berdusta dalam terjemahan di atas, karena memang diantara perkara yang menjadikan rakyat ISLAM JAMA'AH patuh membabi buta kepada rajanya adalah karena takut masuk neraka, takut menjadi seorang kafir kalau sampai meninggalkan bai'at kepada raja ISLAM JAMA'AH !!!!

Kedua : Fatwa Syaikh Yahya jelas menyatakan bahwa tidak semua orang harus berbai'at langsung kepada penguasa, yang langsung adalah para pembesar saja, adapun rakyat secara umum maka hukumnya mengikuti secara otomatis. Akan tetapi diterjemahkan oleh Kholil bahwasanya rakyat secara umumpun harus berbaiat secara langsung.

Arsip islam jama'ah 8

Padahal terjemahan yang benar dari perkataan Syaikh Yahya "وَصِغَارُ النَّاسُ تَبعٌ" adalah "Dan rakyat selain para pembesar maka hukumnya mengikuti".

Yang jadi masalah kebanyakan rakyat ISLAM JAMA'AH (bahkan para dainya) tidak tahu bahasa Arab, sehingga sangat mudah dibohongi oleh Kholil

Ketiga : Kholil berbohong kepada Syaikh dengan menyatakan bahwa rakyat Indonesia adalah orang-orang kafir
 Arsip islam jama'ah 9

Yaaa begitulah aqidah ISLAM JAMA'AH yang mengkafirkan orang-orang pihak luar Kerajaan dinasti ISLAM JAMA'AH. Meskipun mereka selalu berusaha berbudi luhur "ngapusi" masyarakat seakan-akan mereka tidak mengkafirkan akan tetapi banyak praktek-praktek dari kalangan rakyat bawah ISLAM JAMA'AH menunjukkan akan hal itu, seperti :
  • Tidak mau bermakmum kepada pihak luar kerajaan
  • Menghukum murtad bagi orang yang keluar dari kerajaan ISLAM JAMA'AH

Keempat : Kholil dalam transkrip terjemahan menyatakan bahwa pemerintah Indonesia orang-orang musyrik
Arsip islam jama'ah 10

Kelima : Pengakuan Kholil bahwa Syaikh Yahya membolehkan berbaiat secara sembunyi sembunyi
 Arsip islam jama'ah 11

Hal ini jelas merupakan kedustaan atas nama syaikh yahya, bahkan bagi orang yang mengerti bahasa arab akan faham bahwasanya dalam jawaban syaikh di sinipun tidak menunjukan akan bolehnya membaiat seorang imam secara sembunyi-sembunyi.

Akan tetapi yang menjadi masalah, Kholil telah mengesankan kepada Syaikh bahwasanya rakyat Indonesia adalah rakyat kafir, dan pemerintahnya adalah pemerintahan orang-orang musyrik.

Dan telah jelas dalam fatwa Syaikh Yahya yang sebenarnya bahwa beliau melarang membuat bai'at secara sembunyi-sembunyi padahal pemerintah Indonesia tegak. Bahkan Syaikh Yahya menganggap perbuatan membaia't secara sembunyi-sembunyi merupakan bentuk DOSA BESAR.

Keenam : Kholil mengaku bahwa Syaikh Yahya mendukung metode mengkul ala ISLAM JAMA'AH

Arsip islam jama'ah 12


Padahal telah jelas dalam fatwa Syaikh Yahya yang sesungguhnya bahwasanya beliau membolehkan untuk menimba ilmu dari siapa saja selama dibangun di atas Al-Qur'an dan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdasarkan pemahaman para salafus sholeh.


Ketujuh : Dusta Kholil terhadap sejarah !!!

Kholil bertutur :
 Arsip islam jama'ah 13

Dalam penuturan ini Kholil menyatakan dua pernyataan ngawur dan dusta,

(pertama) : Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab adalah seorang Guru Besar di Masjidil Harom

(kedua) : Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab diajak oleh Raja Malik Abdul Aziz untuk bersama-sama memberantas bid'ah khurofat syirik.

Jelas dalam sejarah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah menjadi guru besar di Masjidil Haroom. Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab hanya baru sampai ke kota Mekah setelah Kerajaan Arab Saudi menguasai kota Mekah pada tahun 1219 H (1804 M) sekitar 13 tahun setelah wafatnya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah.

Yang lebih konyol lagi yaitu pernyataan Kholil yang kedua bahwa Malik Abdul Aziz mengajak Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab bersama-sama memberantas bid'ah khurofat syirik. Bagaimana bisa hal ini terjadi??, padahal Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab telah meninggal pada tahun 1206 H atau 1791 M. Adapun Malik Abdul Aziz lahir pada tahun 1293 H (1876 M) yaitu sekitar 87 tahun setelah wafatnya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Dan Malik Abdul Aziz mendirikan kembali kerajaan Saudi yang ketiga kali pada tahun 1319 H (1902).

Memang Kholil ini sangat pandai mengarang cerita, karena memang sangat berbudi luhur (baca : ngapusi)

KHOLIL BUSTOMI DIUSIR PEMERINTAH SAUDI

Sungguh sangat memalukan….ternyata Kholil dideportasi (diusir) dari kerajaan Arab Saudi karena memiliki pemahaman takfiri (suka mengkafirkan). Karenanya hingga saat ini sang Kholil tidak bisa tinggal menetap di Arab Saudi karena telah diblacklist oleh pemerintah Saudi akibat pemikiran takfirnya (suka mengkafirkan).

Kholil hanya dibolehkan oleh pemerintah Saudi untuk datang haji dan umroh, adapun menetap tinggal di kerajaan Saudi maka tidak mungkin.

Sungguh-sungguh memalukan…Kholil ditangkap oleh polisi dan di usir dari kota tempat sang raja dahulu menimba ilmu !!???

Kholil bertutur –sebagaimana ditranskrip cerita beliau sbb-:

 Arsip islam jama'ah 14

Dalam penuturan Kholil ini, ia mengesankan bahwa Kerajaan Arab Saudi memerangi madzhab, terutama madzhab Syafii !!!. Ini jelas merupakan kedustaan. Terlebih lagi Kholil menyatakan bahwa kalau ada orang yang mengerjakan madzhab Syafii maka akan ditangkap dan dipenjara !!!!. Kita mahasiswa Universitas Islam Madinah diwajibkan untuk mempelajari kitab Bidaayatul Mujtahid (karya Ibnu Rusyd) yang berisikan tentang pendapat 4 madzhab, madzhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali.

Jika ada orang yang menerapkan madzhab Syafii lantas ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Arab Saudi, maka tentunya kebanyakan jama'ah haji Indonesia sudah pada dipenjara ???

TERNYATA… justru Kholil yang ditangkap, dipenjara, dan dideportasi karena memiliki pemikiran menyimpang yaitu pemikiran takfiri (tukang mengkafirkan) !!!, sungguh amat memalukan !!!

KLAIM KHOLIL BAHWA RAKYAT ISLAM JAMA'AH KALAU MENINGGAL PASTI (BAHKAN WAJIB) UNTUK MASUK SURGA

Diantara taktik yang dilancarkan oleh ISLAM JAMA'AH agar rakyatnya senantiasa patuh dan tetap terperangkap dalam tempurung katak yaitu keberanian ISLAM JAMA'AH untuk mengklaim bahwasanya mereka pasti masuk surga. Kholil berkata :

Arsip islam jama'ah 15

Kholil Bustomi juga bertutur :

Arsip islam jama'ah 16

Tidak ada seorang sahabat Nabipun yang pernah dengan begitu berani dan PeDe mengklaim bahwa ia pasti masuk surga. Bahkan seperti Umar bin Al-Khottob radhiallahu 'anhu saja yang telah dijamin masuk surga oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun tidak PeDe memastikan beliau masuk surga. Sungguh hebat ISLAM JAMA'AH yang benari memastikan seluruh anggotanya pasti masuk surga dan pasti selamat dari api neraka !!!.

KENAPA ISLAM JAMA'AH MEMUSUHI SALAFI ???

Seharusnya ISLAM JAMA'AH bersyukur dengan adanya dakwah salafiyah yang diemban oleh banyak dai yang merupakan lulusan universitas-universitas Kerajaan Arab Saudi. Karena mereka para dai-dai salafi tersebut telah belajar langsung sebagaimana pengakuan ISLAM JAMA'AH bahwa rajanya Nur Hasan Ubaidah juga belajar langsung di sana. Akan tetapi kenyataannya ternyata pihak Kerajaan ISLAM JAMA'AH sangat memusuhi para dai salafy, kenapa bisa demikian perkaranya??!!

Jawabannya sangatlah jelas… karena dakwah salafiyah akan membongkar kedustaan raja mereka selama ini !!!.

Catatan : Adapun bukti-bukti otentik tentang pemahaman takfiri (mengkafirkan kaum muslimin di luar Islam Jama'ah) maka bisa dibaca di http://airmatakumengalir.blogspot.com/2012/09/pemahaman-takfiri-islam-jamaah_27.html

Semoga dengan tulisan sederhana ini maka para rakyat Islam Jama'ah bisa membuka hati dan meluruskan keyakinan mereka dan kembali kepada jalan yang telah ditempuh oleh para ulama yang berpijak di atas jalan para as-salaf ash-sholeh.

Alhamdulillahi Robbil 'Aaalamiin


Oleh: Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

di http://firanda.com/index.php/artikel/30-sekte-sesat/301-rakyat-islam-jama-ah-dibohongi-rajanya-puluhan-tahun

Posted By Minang Sunnah12:12 PM