Kamis, 31 Januari 2013

Makalah: Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi’i Dalam Beragama -2

Filled under:

Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi’i Dalam Beragama

PRINSIP KEDUA

Membela Hadits Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم

Adapun bagaimana peran Imam Syafi’i dalam hadits sebenarnya ini adalah masalah yang cukup populer dari Imam yang mendapat gelar “Pembela hadits” ini, namun tidak mengapa jika kita tampilkan di sini beberapa sisi dan bukti pembelaan dan pengagungan beliau terhadap hadits Nabi صلى الله عليه وسلم. Dan kami tekankan di sini beberapa masalah yang merupakan kaidah dan prinsip dasar dalam memahami dan membela hadits Nabi.  Lihat prinsip pertama pada artikel Makalah: Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi’i Dalam Beragama -1.

Imam Syafi’i Pembela Hadits Nabi
Sesungguhnya membela hadits Nabi صلى الله عليه وسلم merupakan suatu amalan yang amat mulia dan utama. Oleh karenanya, tidak heran bila para ulama menilainya sebagai Jihad fi Sabilillah.

Imam Yahya bin Yahya pernah mengatakan:

الذَّبُّ عَنِ السُّنَّةِ أَفْضَلُ مِنَ الْجِهَادِ

Membela sunnah lebih utama daripada jihad[1].

Imam Al-Humaidi mengatakan:

وَاللهِ! لأَنْ أَغْزُوَ هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ يَرُدُّوْنَ حَدِيْثَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَغْزُوَ عِدَّتَهُمْ مِنَ الأَتْرَاكِ

Saya perang melawan orang-orang yang menolak hadits Nabi صلى الله عليه وسلم lebih saya sukai daripada saya perang melawan pasukan kafir sejumlah mereka[2].

Syaikh Muhammad bin Murtadha al-Yamani berkata: “Pembela sunnah adalah seperti seorang yang berjihad di jalan Allah, yang mempersiapkan alat, kekuatan dan bekal semampunya, sebagaimana firman Allah:

وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. (QS. Al-Anfal: 60)

Telah shahih dalam Shahih Bukhari bahwa Malaikat Jibril mendukung Hassan bin Tsabit tatkala dia melantunkan syair-syairnya dalam rangka pembelaannya terhadap Nabi صلى الله عليه وسلم. Demikian pula setiap orang yang membela agamanya dan sunnahnya karena didasari rasa cinta kepada Nabi”.[3]

Dan Imam Syafi’i termasuk barisan para pembela hadits Nabi صلى الله عليه وسلم sehingga beliau mendapat gelar dari para ulama semasa beliau dengan “Nashirul sunnah” pembela hadits Nabi صلى الله عليه وسلم.

Imam Ahmad berkata: “Semoga Allah merahmati Syafi’i, dia telah membela hadits-hadits Rasulullah[4] صلى الله عليه وسلم

Imam Syafi’i berkata:

سُمِّيْتُ بِمَكَّةَ نَاصِرَ الْحَدِيْثِ

Di Mekkah saya digelari sebagai pembela hadits”.[5]

سُمِّيْتُ بِبَغْدَادَ نَاصِرَ الْحَدِيْثِ

Di Baghdad saya digelari sebagai pembela hadits”.[6]

Sikap sangat menarik dan menakjubkan yang menunjukkan pengaguman Imam Syafi’i terhadap hadits dan sikap beliau terhadap orang yang menolak hadits adalah kisah laporan beliau kepada Al-Qodhi Abul Bakhtari tentang Bisyr al-Marrisi[7] karena dia telah menolak hadits Rasulullah. Imam Syafi’i bercerita: “Saya pernah berdebat dengan al-Marrisi tentang undian, lalu dia mengatakan bahwa undian adalah perjudian!! Maka saya datang kepada Abul Bakhtari seraya aku katakan padanya: “Aku mendengar al-Marrisi mengatakan bahwa undian adalah perjudian!! Lalu dia mengatakan: “Wahai Abu Abdillah (kunyah Imam Syafi’i), datangkanlah saksi lainnya niscaya saya akan membunuhnya”. Dalam lafadz lainnya: “Datangkanlah saksi lainnya, niscaya saya akan mengangkatnya di atas pohon lalu menyalibnya”.[8]

Kedudukan Hadits Dalam Pandangan Imam Syafi’i

Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Alloh merahmatimu- bahwasanya Allah menurunkan dua wahyu berupa Al-Qur’an dan Al-Hikmah kepada Rosul-Nya dan mewajibkan kepada seluruh hamba untuk mengimani keduanya dan mengamalkan kandungannya. Allah berfirman:

وَأَنزَلَ اللّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

Dan Alloh telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu.(QS. an-Nisa [4]:113)

Maksud al-kitab yaitu al-Qur’an dan maksud al-Hikmah adalah Sunnah Nabi dengan kesepakatan ulama Salaf. Imam Syafi’i berkata:

فَذَكَرَ اللهُ الْكِتَابَ وَهُوَ الْقُرْآنُ وَذَكَرَ الْحِكْمَةَ فَسَمِعْتُ مَنْ أَرْضَى مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالْقُرْآنِ يَقُوْلُ الْحِكْمَةُ سُنَّةُ رَسُوْلِ اللهِ

Alloh menyebut al-Kitab yaitu al-Qur’an dan mengiringinya dengan al-hikmah. Saya mendengar para ahli ilmu tentang al-Qur’an yang saya ridhoi bahwa maksud Al-Hikmah adalah sunnah Rosululloh”.[9]

Imam Syafi’i Membantah Para Pengingkar Hadits

Imam Syafi’i telah membantah secara tuntas para pengingkar sunnah yang hanya mencukupkan dengan Al-Qur’an saja tanpa hadits dan berdialog dengan mereka dengan hujjah-hujjah yang kuat. Banyak sekali ucapan beliau dalam masalah ini, tetapi kita nukil beberapa saja di sini.

وَكُلُّ مَا سَنَّ فَقَدْ أَلْزَمَنَا اللهُ اتِّبَاعَهُ وَجَعَلَ فِي اتِّبَاعِهِ طَاعَتَهُ, وَفِي الْعُنُوْدِ عَنِ اتِّبَاعِهَا مَعْصِيَتَهُ الَّتِيْ لَمْ يَعْذِرْ بِهَا خَلْقًا, وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ مِن اتِّبَاعِ سُنَنِ رَسُوْلِ اللهِ مَخْرَجًا لِمَا وَصَفْتُ وَمَا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ

Setiap apa yang dicontohkan oleh Nabi maka Allah mewajibkan kita untuk mengikutinya dan menjadikan hal itu sebagai ketaatan dan Allah menjadikan sikap menyimpang dan tidak mengikutinya sebagai kemaksiatan yang Allah tidak memberikan udzur kepada makhluk, dan Allah tidak menjadikan jalan keluar dari mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah, sebagaimana telah saya jelaskan dan sebagaimana sabda Nabi”.[10]

Lalu beliau membawakan sebuah hadits Abu Rofi’:

لاَ أَلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيْكَتِهِ يَأْتِيْهِ الأَمْرُ مِنْ أَمْرِيْ مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ أَوْ نَهَيْتُ عَنْهُ فَيَقُوْلُ لاَ أَدْرِيْ مَا وَجَدْنَا فِيْ كِتَابِ اللهِ اتَّبَعْنَاهُ

Hampir saja saya mendapati salah seorang di antara kalian duduk seraya bersandar di atas ranjang hiasnya tatkala datangnya padanya perintah atau larangan dariku lalu dia berkomentar: Saya tidak tahu, apa yang kami jumpai dalam Al-Qur’an maka kami mengikutinya[11].

Beliau berkomentar tentang hadits di atas:

وَفِيْ هَذَا تَثْبِيْتُ الْخَبَرِ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ وَإِعْلاَمُهُمْ أَنَّهُ لاَزِمٌ لَهُمْ وَإِنْ لَمْ يَجِدُوْا لَهُ نَصَّ حُكْمٍ فِيْ كِتَابِ اللهِ

Dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang hujjahnya hadits dari Rasulullah dan penejalasan kepada hamba bahwa wajib bagi mereka mengikuti hadits sekalipun mereka tidak mendapati nash hukumnya dalam kitabullah (Al-Qur’an)”.[12]

Imam al-Baihaqi berkata: “Inilah khabar Rasulullah صلى الله عليه وسلم tentang ingkarnya para ahli bid’ah terhadap hadits beliau. Sungguh apa yang beliau صلى الله عليه وسلم sampaikan telah nyata terjadi.”[13]

Imam as-Suyuthi berkata: “Ketahuilah-semoga Alloh merahmatimu- bahwa orang yang mengingkari hadits Nabi yang shohih sebagai hujjah, baik yang berupa ucapan maupun perbuatan, maka dia telah kufur, keluar dari Islam dan dikumpulkan bersama orang-orang Yahudi, Nashara dan kelompok-kelompok kafir lainnya”.[14]

Ibnu Hazm juga berkata: “Seandainya ada orang yang mengatakan: Kami tidak mengambil kecuali apa yang kami dapati dalam Al-Qur’an saja maka dia telah kafir dengan kesepakatan ulama”.[15]

Hadits Ahad Hujjah Menurut Imam Syafi’i

Masalah ini telah dibahas tuntas dan panjang lebar oleh Imam Syafi’i dalam banyak kesempatan. Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Kelompok ketiga mengatakan: “Kami menerima hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang mutawatir dan kami menolak hadits-hadits ahad[16] baik berupa ilmu maupun amal. Syafi’i telah berdialog dengan sebagian manusia pada zamannya tentang masalah ini, kemudian Syafi’i mematahkan syubhat (kerancuan) lawannya dan menegakkan hujjah-hujjah kepadanya. Syafi’i membuat satu bab yang panjang tentang wajibnya menerima hadits ahad. Tidaklah beliau dan seorangpun dari ahli hadits membedakan antara hadits masalah ahkam (hukum) dan sifat (aqidah). Paham pembedaan seperti tidaklah dikenal dari seorangpun dari sahabat dan satupun dari tabi’in dan tabi’ut tabi’in maupun seorangpun dari kalangan imam Islam. Paham ini hanyalah dikenal dari para gembong Ahli bid’ah beserta cucu-cucunya”.[17]

Di antara kata mutiara Imam Syafi’i tentang masalah ini adalah nukilan beliau tentang ijma’ ulama akan hujjahnya hadits ahad apabila shohih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam , beliau berkata:

لَمْ أَحْفَظْ عَنْ فُقَهَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ أَنَّهُمْ اخْتَلَفُوْا فِيْ تَثْبِيْتِ خَبَرِ الْوَاحِدِ

Saya tidak mendapati perselisihan pendapat di kalangan ahli ilmu tentang menerima hadits ahad”. [18]

Imam Ibnu Abdil Barr berkata: “Ahli ilmu dari kalangan pakar fiqih dan hadits di setiap negeri -sepanjang pengetahuan saya- telah bersepakat untuk menerima hadits ahad dan mengamalkannya. Inilah keyakinan seluruh ahli ilmu pada setiap masa semenjak masa sahabat hingga saat ini kecuali kelompok khowarij dan ahli bid’ah yang perselisihan mereka tidaklah dianggap”.[19]

Imam Abu Mudhoffar as-Sam’ani berkata: “Sesungguhnya suatu hadits apabila telah Shohih dari Rosululloh shalallahu’alaihi wasallam maka dia mengandung ilmu. Inilah perkataan seluruh ahli hadits dan sunnah. Adapun paham yang menyatakan bahwa hadits ahad tidak mengandung ilmu dan harus berderajat mutawatir, maka paham ini hanyalah dibuat-buat oleh kaum Qodariyah dan Mu’tazilah dengan bertujuan menolak hadits Nabi. Paham ini kemudian diusung oleh orang-orang belakangan yang tidak berilmu mantap dan tidak mengetahui tujuan paham ini. Seandainya setiap kelompok mau adil, sungguh mereka akan menetapkan bahwa hadits ahad mengandung ilmu karena engkau lihat sekalipun keadaan mereka yang compang-camping dan beragam aqidah mereka, namun setiap kelompok dari mereka berhujjah dengan hadits ahad untuk menguatkan pahamnya masing-masing”.[20]

Imam Ibnul Qosh asy-Syafi’i berkata: “Sesungguhnya ahli kalam (filsafat) itu menolak hadits ahad disebabkan lemahnya dia tentang ilmu hadits. Dia menganggap dirinya tidak menerima hadits kecuali yang mutawatir berupa khabar yang tidak mungkin salah atau lupa. Hal ini menurut kami adalah sumber untuk menggugurkan sunnah al-Musthafa r.” [21]

Para ulama kita telah membahas tuntas dan panjang masalah ini, sehingga tidak perlu bagi kami untuk memerincinya di sini.[22]

Tidak Mungkin Al-Qur’an Bertentangan Dengan Hadits

Harus kita yakini bahwa dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadits yang shahih tidaklah saling bertentangan sama sekali karena keduanya dari Allah. Allah berfirman:

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisa’: 82)

Inilah yang ditegaskan oleh Imam Syafi’i tatkala berkata:

وَلاَ تَكُوْنُ سُنَّةٌ أَبَدًا تُخَالِفُ الْقُرْآنَ

Tidak mungkin sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyelisihi Kitabullah sama sekali.”[23]

Bahkan beliau menilai ucapan seseorang bahwa “hadits apabila menyelisihi tekstual al-Qur’an, tertolak” adalah suatu kejahilan. [24]

Apabila Hadits Bertentangan dengan Pendapat

Imam Syafi’i telah berwasiat emas kepada kita semua apabila ada hadits yang bertentangan dengan pendapat kita, maka hendaknya kita mendahulukan hadits dan berani meralat pendapat kita.

Imam Ibnu Rojab berkata: “Adalah Imam Syafi’i sangat keras dalam hal ini, beliau selalu mewasiatkan kepada para pengikutnya untuk mengikuti kebenaran apabila telah nampak kepada mereka dan memerintahkan untuk menerima sunnah apabila datang kepada mereka sekalipun menyelisihi pendapat beliau”.[25]

Syaikh Jamaluddin Al-Qosimi juga berkata: “Imam Syafi’i sangat mengangungkan Sunnah, mendahulukan sunnah daripada akal, kapan saja sampai kepada beliau sebuah hadits maka beliau tidak melampui kandungan hadits tersebut”.[26]

Banyak sekali bukti akan hal itu. Cukuplah sebagian nukilan berikut sebagi bukti akan hal itu:

1. Robi’ (salah seorang murid senior Syafi’i) berkata: “Saya pernah mendengar Imam Syafi’i meriwayatkan suatu hadits, lalu ada seorang yang hadir bertanya kepada beliau: “Apakah engkau berpendapat dengan hadits ini wahai Abu Abdillah? Beliau menjawab:

مَتَى رَوَيْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ حَدِيْثًا صَحِيْحًا وَلَمْ آخُذْ بِهِ، فَأُشْهِدُكُمْ أَنَّ عَقْلِيْ قَدْ ذَهَبَ

Kapan saja saya meriwayatkan sebuah hadits shohih dari Rasulullah kemudian saya tidak mengambilnya, maka saksikanlah dan sekalian jama’ah bahwa akalku telah hilang”.[27]

2. Imam Syafi’i juga berkata:

يَا ابْنَ أَسَدٍ اقْضِ عَلَيَّ حَيِيْتُ أَوْ مِتُّ أَنَّ كُلَّ حَدِيْثٍ يَصِحُّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ فَإِنِّيْ أَقُوْلُ بِهِ وَإِنْ لَمْ يَبْلُغْنِيْ

Wahai Ibnu Asad, putuskanlah atasku, baik aku masih hidup atau setelah wafat bahwa setiap hadits yang shahih dari Rasulullah, maka sesungguhnya itulah pendapatku sekalipun hadits tersebut belum sampai kepadaku”.[28]

3. Al-Humaidi (salah seorang murid Syafi’i) berkata: “Suatu kali Imam Syafi’i meriwayatkan suatu hadits, lalu saya bertanya kepada beliau: Apakah engkau berpendapat dengan hadits tersebut? Maka beliau menjawab:

رَأَيْتَنِيْ خَرَجْتُ مِنْ كَنِيْسَةٍ، أَوْ عَلَيَّ زُنَّارٌ، حَتَّى إِذَا سَمِعْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم حَدِيْثًا لاَ أَقُوْلُ بِهِ وَلاَ أُقَوِّيْهِ؟

Apakah kamu melihatku keluar dari gereja atau memakai pakaian para pendeta sehingga bila aku mendengar sebuah hadits Rasulullah, aku tidak berpendapat dengan hadits tersebut dan tidak mendukungnya?!!”.[29]

“Dalam ucapan ini terdapat bantahan yang jelas bagi para ahli taklid yang taklid buta pada imam atau madzhab tertentu sehingga ketika didatangkan kepada mereka hadits Nabi yang shahih, mereka berpaling seraya mengatakan: Kami bermazdhab Syafi’i, atau madzhab kami Abu Hanifah dan sebagainya.

Lihatlah bagaimana Imam Syafi’i merasa heran dan mengingkari seorang yang bertanya kepadanya: Apakah engkau akan mengambil hadits yang engkau riwayatkan? Perhatikanlah wahai saudaraku bagaimana jawaban Imam Syafi’i, beliau menyamakan orang yang meninggalkan hadits dengan orang Nashrani yang kafir?!!!”.[30]

4. Imam Syafi’i berkata:

إِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِيْ

Apabila ada hadits shohih maka itulah madzhabku”.[31]

Ucapan emas dan berharga ini memberikan beberapa faedah kepada kita:
  • Madzhab Imam Syafi’i dan pendapat beliau adalah berputar bersama hadits Nabi. Oleh karena itu, seringkali beliau menggantungkan pendapatnya dengan shahihnya suatu hadits seperti ucapannya “Apabila hadits Dhuba’ah shahih maka aku bependapat dengannya”, “Apabila hadits tentang anjuran mandi setelah memandikan mayit shohih maka aku berpendapat dengannya” dan banyak lagi lainnya sehingga dikumpulkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitab berjudul “Al-Minhah Fiima ‘Allaqo Syafi’i Al-Qoula Fiihi Ala Sihhah”.[32]
  • Hadits yang lemah dan palsu bukanlah madzhab Imam Syafi’i, karena beliau mensyaratkan shohih. Imam Nawawi berkata menjelaskan keadaan Imam Syafi’i: “Beliau sangat berpegang teguh dengan hadits shahih dan berpaling dari hadits-hadits palsu dan lemah. Kami tidak mendapati seorangpun dari fuqoha’ yang perhatian dalam berhujjah dalam memilah antara hadits shohih dan dho’if seperti perhatian beliau. Hal ini sangatlah nampak sekali dalam kitab-kitabnya, sekalipun kebanyakan sahabat kami tidak menempuh metode beliau”.[33]. Al-Hafizh al-Baihaqi juga berkata setelah menyebutkan beberapa contoh kehati-hatian beliau dalam menerima riwayat hadits: “Madzhab beliau ini sesuai dengan madzhab para ulama ahli hadits dahulu”.[34]
  • Imam Syafi’i tidak mensyratakan suatu hadits itu harus mutawatir, tetapi cukup dengan shohih saja, bahkan beliau membantah secara keras orang-orang yang menolak hadits shohih dengan alasan bahwa derajatnya hanya ahad bukan mutawatir!!

Demikianlah beberapa contoh pengagungan beliau terhadap sunnah Nabi dan peringatan keras beliau terhadap menolak Sunnah Nabi. Maka ambilah pelajaran wahai orang yang berakal!!.

Kesimpulan:

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa Imam Syafi’i betul-betul layak dengan gelar “pembela hadits” karena pembelaannya kepada hadits Nabi dan bantahannya kepada para penghujat hadits. Dan beliau juga telah meletakkan kaidah-kaidah penting, seperti:
  1. Hadits adalah hujjah seperti halnya Al-Qur’an
  2. Hadits Ahad adalah Hujjah baik dalam aqidah maupun hukum
  3. Hadits tidak mungkin bertentangan dengan Al-Qur’an
  4. Hadits harus lebih didahulukan daripada pendapat seseorang.

PRINSIP KETIGA

Mengagungkan Tauhid Dan Memberantas Syirik

Tauhid merupakan perkara yang sangat penting sekali. Karenanya, Allah menciptakan manusia dan Jin, karenanya Allah mengutus para utusan dan menurunkan kitab-kitab, karenanya Allah menciptakan surga dan neraka, karenanya Allah menganjurkan jihad.

Maka hendaknya seorang muslim untuk memprioritaskan dan mencurahkan tenaganya pertama kali untuk mempelajari tauhid. Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) yang berhak diibadati selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. (QS. Muhammad:19)

Imam Syafi’i Menetapkan Pembagian Tauhid Menjadi tiga

Berdasarkan penelitian yang seksama terhadap dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits Nabi, para ulama menyimpulkan bahwa tauhid terbagi menjadi tiga:
  1. Tauhid Rububiyyah
  2. Tauhid Uluhiyyah
  3. Tauhid Asma’ wa Shifat

Pembagian ini bukanlah perkara baru/bid’ah apalagi menyerupai agama trinitas[35], tetapi pembagian ini berdasarkan penelitian terhadap dalil. Hal ini persis dengan pembagian para ulama ahli bahasa yang membagi kalimat menjadi tiga: isim, fi’il dan huruf.[36].

Banyak sekali ayat ayat yang menjelaskan tiga macam tauhid ini, bahkan dalam surat Al-Fatihah terkandung tiga macam permbagian tauhid.

Demikian juga, banyak ucapan para ulama salaf[37] yang menunjukkan pembagian ini, seandainya kami menukilnya niscaya akan mempertebal buku ini, cukuplah di antaranya ucapan Imam Syafi’i tatkala berkata:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرِ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ… وَلاَ يَبْلُغُ الْوَاصِفُوْنَ كُنْهَ عَظَمَتِهِ الَّذِيْ هُوَ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ وَفَوْقَ مَا يَصِفُهُ بِهِ خَلْقُهُ

Segala puji hanya bagi Allah yang mencipatakan langit-langit dan bumi dan menjadikan kegelapan dan cahaya kemudian orang-orang kafir menyimpang… Dan orang-orang yang mensifatkan tentang keagunganNya tidak akan bisa sampai seperti apa yang Dia sifatkan pada diriNya dan lebih dari apa yang disifatkan oleh makhlukNya”. [38]

Ucapan beliau “yang menciptakan langit dan bumi…” ini adalah tauhid rububiyyah.
Ucapan beliau “kemudian orang-orang kafir menyimpang” ini adalah tauhid uluhiyyah karena penyimpangan mereka bukan pada tauhid rububiyyah tetapi dalam uluhiyyah.
Ucapan beliau “orang-orang yang mensifatkan tentang keagunganNya…” ini adalah tauhid asma’ wa shifat.

Tauhid Rububiyyah

Demikian juga Imam Syafi’i, beliau telah menegaskan akan tauhid rububiyyah ini. Dikisahkan bahwa pernah ada tujuh belas orang zindiq menghadang Imam Syafi’i di jalan Ghoza, lalu mereka bertanya: “Apa dalil adanya Pencipta?” Syafi’i berkata: Seandainya saya menyebutkan padamu bukti yang kuat, apakah kalian akan beriman? Mereka berkata: “Ya”. Syafi’i berkata: “Daun pohon itu, warna dan rasanya sama, namun ketika dimakan oleh beberapa makhluk kenapa keluarnya berbeda, kalau dimakan lebah jadinya madu dan kalau dimakan kambing jadinya kotoran, tentu semua itu pasti ada yang mengaturnya”.

Beliau juga berkata: “Saya melihat sebuah benteng yang kuat dan mulus tanpa retak sedikitpun, luarnya seperti perak dan dalamnya seperti emas dan temboknya sangat kuat sekali, kemudian saya melihat dinding tersebut pecah dan keluar darinya seekor hewan yang bisa mendengar dan melihat. Pasti semua itu ada yang mengatur. Benteng kuat tersebut adalah telur dan hewannya adalah ayam”.[39]

Imam Syafi’i juga sering melantunkan bait-bait syair sebagai berikut:

فَيَا عَجَبًا كَيْفَ يُعْصَى الإِلَهُ أَمْ كَيْفَ يَجْحَدُهُ الْجَاحِدُ
وَفِيْ كُلِّ شَيْءٍ لَهُ آيَةٌ تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَاحِدُ

Aduhai bagaimana Allah dimaksiati

Atau bagaimana seorang mengingkarinya

Dalam segala sesuatu terdapat tanda

Yang menunjukkan bahwa Allah adalah Esa.[40]

Tauhid Uluhiyyah

Tauhid Uluhiyyah adalah memurnikan seluruh macam ibadah hanya untuk Allah semata, baik ibadah lisan, hati, dan anggota badan. Tauhid inilah yang berisi kandungan Laa Ilaha Illa Allah yang berarti tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah saja.

Tauhid jenis inilah pembeda antara muslim dan kafir dan inilah hakekat tauhid yang sesungguhnya. Imam Syafi’i berkata:

سُئِلَ مَالِكٌ عَنِ الْكَلاَمِ وَالتَّوْحِيْدِ، فَقَالَ: مُحَالٌ أَنْ نَظُنَّ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ عَلَّمَ أُمَّتَهُ الاسْتِنْجَاءَ، وَلَمْ يُعَلِّمْهُمْ التَّوْحِيْدَ، وَالتَّوْحِيْدُ مَا قَالَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: ” أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ “، فَمَا عَصَمَ بِهِ الدَّمَ وَالْمَالَ حَقِيْقَةُ التَّوْحِيْدِ.

Imam Malik pernah ditanya tentang kalam masalah kalam dan tauhid, maka beliau menjawab: Mustahil kalau Nabi mengajarkan kepada umatnya tentang tata cara istinja’ (buang kotoran) tetapi tidak mengajarkan mereka tentang tauhid. Tauhid adalah apa yang dikatakan oleh Nabi: “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengatakan Laa Ilaha Illa Allah, apa yang dapat menjaga darah dan harta maka itulah hakekat tauhid”.[41]

Untuk menjaga kemurnian tauhid inilah, Imam Syafi’i juga mengingatkan secara keras dari segala bentuk kesyirikan yang dapat menodai kemurnian tauhid ini. Terlalu banyak contohnya, cukuplah akan saya nukil dua permasalahan saja sebagai contoh bukan untuk pembatasan:

1. Fitnah Kuburan

Ini adalah sebuah fitnah yang amat besar. Imam Ibnu Katsir mengatakan: “Sumber penyembahan berhala adalah karena sikap berlebih-lebihan terhadap kuburan dan penghuninya”.[42]

Oleh karenanya, Nabi Muhammad dalam banyak haditsnya membendung segala sarana yang dapat menjurus kepada kesyirikan dengan melarang berlebih-lebihan terhadap kuburan[43], seperti hadits:

عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ الأَسَدِيِّ قَالَ : قَالَ لِيْ عَلِيُّ بْنُ أَبِيْ طَالِبٍ : أَلاَ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِيْ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ؟ أَنْ لاَ تَدَعْ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ

Dari Abu Hayyaz al-Asadi berkata: “Ali bin Abi Thalib berkata padaku: Maukah saya mengutusmu seperti Rasulullah mengutusku? Jangan tinggalkan patung kecuali kamu menghancurkannya dan kuburan yang yang tinggi kecuali kamu meratakannya”.[44]

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : نَهَى رَسُوْلُ اللهِ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

Dari Jabir berkata: Rasulullah melarang kuburan dikapur, diduduki dan di bangun di atasnya”.[45]

Demikian juga para ulama yang mengikuti petunjuk beliau, termasuk di antara mereka adalah Imam Syafi’i, beliau mengatakan:

وَأُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلاَ يُجَصَّصَ, فَإِنَّ ذَلِكَ يُشْبِهُ الزِّيْنَةَ وَالْخُيَلاَءَ, وَلَيْسَ الْمَوْتَ مَوْضِعٌ وَاحِدٌ مِنْهُمَا وَلَمْ أَرَ قُبُوْرَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَالأَنْصَارِ مُجَصَّصَةٌ … وَقَدْ رَأَيْتُ مِنَ الْوُلاَةِ مَنْ يَهْدِمُ بِمَكَّةَ مَا يُبْنَى فِيْهَا فَلَمْ أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيْبُوْنَ ذَلِكَ

Saya suka agar kuburan itu tidak dibangun dan dikapur karena hal itu termasuk perhiasan dan kesombongan, sedangkan kematian bukanlah tempat untuk salah satu di antara keduanya. Dan saya tidak mendapati kuburan orang-orang Muhajirin dan Anshor dibangun… Aku mendapati para imam di Mekkah memerintahkan dihancurkannya bangunan-bangunan (di atas kuburan) dan saya tidak mendapati para ulama mencela hal itu”.[46]

Imam Nawawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa kuburan tidak ditinggikan dari tanah dengan sangat tinggi, namun hanya ditinggikan seukuran satu hasta. Ini adalah madzhab Syafi’i dan yang sependapat dengannya”. Lalu beliau menukil ucapan Imam Syafi’i di atas dan menyetujuinya.[47]

Al-Munawi berkata: “Mayoritas ulama Syafi’iyyah berfatwa tentang wajibnya menghancurkan segala bangunan di Qorofah (tempat pekuburan) sekalipun kubah Imam kita sendiri Asy-Syafi’i yang dibangun oleh sebagian penguasa”.[48].

2. Tabarruk (Ngalap Berkah)

Sesungguhnya Tabarruk atau yang biasa disebut dengan ngalap berkah ada dua:

2.1. Tabarruk masyru’ yaitu tabarruk dengan hal-hal yang disyari’atkan seperti Al-Qur’an, air zam-zam, bulan ramadhan dan sebagainya. Akan tetapi tidak boleh bertabarruk dengan hal-hal tersebut kecuali seizin syari’at, sesuai petunjuk Nabi dan dengan niat bahwa hal itu hanyalah sebab, sedangkan yang memberikan barokah adalah Allah, sebagaimana kata Nabi:

الْبَرَكَةُ مِنَ اللهِ

Barokah itu (bersumber) dari Allah”.[49]

2.2. Tabarruk Mamnu’ yaitu tabarruk dengan hal-hal yang tidak disyari’atkan maka tidak boleh, seperti tabarruk dengan pohon, batu ajaib (!), kuburan, dzat kyai dan lain sebagainya.[50]

Simaklah ucapan Amirul mukminin Umar bin Khoththob tatkala berkata ketika mencium hajar aswad:

إِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ ، وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

Saya tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan bahaya atau manfaat. Seandainya saya tidak melihat Rasulullah menciummu maka saya tidak menciummu.[51]

Imam Ibnul Mulaqqin berkata mengomentari atsar di atas: “Ucapan ini merupakan pokok dan landasan yang sangat agung dalam masalah ittiba’ (mengikuti) kepada Nabi sekalipun tidak mengetahui alasannya, serta meninggalkan ajaran Jahiliyyah berupa pegangungan terhadap patung dan batu, karena memang tidak ada yang dapat memberikan manfaat dan menolak bahaya kecuali hanya Allah semata, sedangkan batu tidak bisa memberikan manfaat, lain halnya dengan keyakinan kaum Jahiliyyah terhadap patung-patung mereka, maka Umar ingin memberantas anggapan keliru tersebut yang masih menempel dalam benak manusia”.[52]

Jenis tabarruk ini telah diiingkari secara keras oleh para ulama Syafi’iyyah. Menarik sekali dalam masalah ini apa yang dikisahkan bahwa tatkala ada berita sampai kepada telinga Imam Syafi’i bahwa sebagian orang ada yang bertabarruk dengan peci Imam Malik, maka serta merta beliau mengingkari perbuatan itu.[53]

Imam Nawawi berkata:

وَمَنْ خَطَرَ بِبَالِهِ أَنَّ الْمَسْحَ بِالْيَدِ وَنَحْوِهِ أَبْلَغُ فِي الْبَرَكَةِ فَهُوَ مِنْ جَهَالَتِهِ وَغَفْلَتِهِ لِأَنَّ الْبَرَكَةَ إِنَّمَا هِيَ فِيْمَا وَافَقَ الشَّرْعَ وَكَيْفَ يَنْبَغِي الْفَضْلَ فِيْ مُخَالَفَةِ الصَّوَابِ؟

Barangsiapa yang terbesit dalam hatinya bahwa mengusap-ngusap dengan tangan dan semisalnya lebih mendatangkan barokah maka hal itu menunjukkan kejahilannya dan kelalaiannya, karena barokah itu hanyalah yang sesuai dengan syari’at. Bagaimanakah mencari keutamaan dengan menyelisihi kebenaran?!”.[54]

Al-Ghozali juga berkata:

فَإِنَّ الْمَسَّ وَالتَّقْبِيْلَ لِلْمَشَاهِدِ عَادَةُ الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى

Sesungguhnya mengusap-ngusap dan menciumi kuburan merupakan adapt istiadat kaum Yahudi dan Nasharo”.[55]

Demikianlah ketegasan para ulama Syafi’iyyah, lantas bandingkanlah hal ini dengan fakta yang ada pada kaum muslimin sekarang!!.

Faedah: Kedustaan Kisah Imam Syafi’i Ngalap Berkah di Kuburan Imam Abu Hanifah

Adapun apa yang dinukil dari Imam Syafi’i bahwa beliau mengatakan: “Saya ngalap berkah dengan Abu Hanifah. Aku mendatangi kuburannya setiap hari. Apabila aku ada hajat, maka aku pergi ke kuburannya, sholat dua rokaat dan berdoa di sisi kuburan Abu Hanifah, lalu tak lama dari itu Allah mengabulkan do’aku”. [56]

Kisah ini adalah kedustaan yang amat nyata. Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim berkata: “Ini adalah kedustaan yang sangat nyata bagi orang yang memiliki ilmu hadits… Orang yang menukil kisah ini hanyalah orang yang sedikit ilmu dan agamanya”. [57] Ibnu Qoyyim juga berkata: “Kisah ini termasuk kedustaan yang sangat nyata”.[58] Dalam kitab Tab’id Syaithon dijelaskan: “Adapun cerita yang dinukil dari Syafi’i bahwa beliau biasa pergi ke kuburan Abu Hanifah, maka itu adalah kisah dusta yang amat nyata”.[59]

Kisah ini dijadikan dalil oleh sebagian kalangan untuk melegalkan ngalap berkah yang tidak disyari’atkan[60] seperti ngalap berkah kepada kuburan-kuburan orang shalih, padahal banyak bukti yang menguatkan kedustaan kisah ini, yaitu sebagai berikut.
  • Imam Syafi’i tatkala datang ke Baghdad, tidak ada di sana kuburan yang biasa didatangi untuk berdoa di sisinya.
  • Imam Syafi’i telah melihat di Hijaz, Yaman, Syam, Iraq dan Mesir kuburan-kuburan para Nabi, sahabat dan tabi’in yang tentunya mereka lebih utama daripada Abu Hanifah. Lantas, kenapa hanya pergi ke kuburan Abu Hanifah saja?
  • Imam Syafi’i telah menegaskan dalam Al-Umm 1/278 bahwa beliau membenci pengagungan kubur karena khawatir fitnah dan kesesatan. Maksud beliau dengan pengagungan yaitu sholat di sana atau berdoa di sisinya.[61]
  • Hal yang menguatkan bathilnya kisah ini adalah pengingkaran Imam Abu Hanifah terhadap meminta-minta kepada selain Allah. Dalam kitab Ad-Durr Al-Mukhtar dan kitab-kitab Hanafiyyah sering dinukil ucapan Imam Abu Hanifah: “Saya membenci seorang meminta kecuali hanya kepada Allah”. “Tidak boleh bagi seorangpun untuk meminta Allah kecuali dengan-Nya saja”. Dan tidak ragu lagi bahwa Imam Syafi’i mengetahui bahwa ini adalah pendapat Abu Hanifah dalam masalah tawassul. Lantas, bagaimana mungkin beliau bertawassul kepadanya padahal dia tahu bahwa Abu Hanifah membenci dan mengharamkannya? Ini tidak masuk akal sama sekali. Bahkan hal itu akan membuat murka Imam Abu Hanifah. Semua itu adalah mustahil dan kedua Imam ini berlepas diri dari kisah dusta ini. Namun, apa yang kita katakan kepada para pendusta?! Hanya kepada Allah kita mengadu. Ya Allah, kami berlepas diri dari apa yang mereka perbuat.[62]
Setelah itu, maka janganlah engkau dengarkan apa yang dikatakan oleh al-Kautsari bahwa sanad kisah ini adalah shohih[63], karena ini termasuk kesalahannya.

Demikianlah dua contoh saja, masih banyak sebenarnya contoh-contoh lainnya yang menunjukkan kegigihan Imam Syafi’i dalam menjaga tauhid dan memberantas kesyirikan.[64]

Tauhid Asma’ wa Shifat

Tauhid asma wa shifat adalah mengimani nama dan sifat Allah yang telah disebutkan Al-Qur’an dan hadits yang shohih tanpa tahrif (pengubahan), ta’thil (pengingkaran), takyif (membagaimanakan), maupun tamtsil (penyerupaan).

Imam Syafi’i berkata:

نُثْبِتُ هَذِهِ الصِّفَاتِ الَّتِي جَاءَ بِهَا الْقُرْآنُ, وَوَرَدَتْ بِهَا السُّنَّةُ، وَنَنْفِي التَّشْبِيْهَ عَنْهُ كَمَا نَفَى عَنْ نَفْسِهِ، فَقَالَ: (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ) [ الشورى: 11.]

Kita menetapkan sifat-sifat ini yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dan kita juga meniadakan penyerupaan sebagaimana Alloh meniadakan penyerupaan tersebut dari diri-Nya dalam firmanNya (yang artinya) : Tidak ada sesuatupun yang serupa dengannya”.(QS.Asy-Syuro: 11).[65]

Imam Syafi’i juga berkata:

آمَنْتُ بِاللهِ وَبِمَا جَاءَ عَنِ اللهِ عَلَى مُرَادِ اللهِ, وَآمَنْتُ بِرَسُوْلِ اللهِ وَمَا جَاءَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ عَلَى مُرَادِ رَسُوْلِ اللهِ

Saya beriman kepada Allah dan apa yang datang dari Allah sesuai dengan maksud Allah. Dan saya beriman kepada Rasulullah dan apa yang datang dari Rasulullah sesuai maksud Rasulullah”.[66]

Imam Ahmad bin Abdul Halim berkata: “Apa yang dikatakan oleh Syafi’i ini adalah kebenaran yang wajib bagi setiap muslim untuk meyakininya. Barangsiapa yang meyakininya dan tidak menentangnya maka dia telah menempuh jalan keselamatan di dunia dan akherat”.[67]

Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan: “Dalam ucapan Imam Syafi’i ini terdapat bantahan bagi ahli takwil (memalingkan arti) dan ahli tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk) karena keduanya tidak mengimani apa yang datang dari Allah dan rasulNya karena ahli takwil mengurangi dan ahli tamtsil menambah”.[68]

Imam Ibnu Katsir berkata: “Dan telah diriwayatkan dari Ar-Robi’ (seorang murid senior Imam Syafi’i) dan beberapa sahabat seniornya yang menunjukkan bahwasannya beliau (Imam Syafi’i) menafsirkan ayat-ayat dan hadits-hadits (yang menyebutkan) sifat-sifat Alloh seperti apa adanya tanpa takyif (membagaimanakan), tasybih (penyerupaan), ta’thil (pengingkaran) maupun tahrif (pengubahan) sesuai dengan metode salaf”.[69]

Imam Ibnu Katsir mengatakan ketika menafsirkan ayat istiwa dalam surat Al-A’rof: 54: “Manusia dalam menyikapi masalah ini memiliki banyak pendapat, bukan di sini tempat untuk memaparkannya, hanya saja ditempuh dalam masalah ini jalan salaf shalih, Malik, al-Auza’i, Tsauri, Laits bin Sa’ad, Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rohawaih dan selain mereka dari para imam kaum muslimin dahulu hingga sekarang yaitu menjalankannya sebagaimana datangnya tanpa takyif (membagaimanakan), tasybih (penyerupaan), ta’thil (pengingkaran). Apa yang terlintas dalam benak orang-orang yang menyerupakan harus dibesihkan dari Allah karena Allah tidak ada yang menyerupaiNya sesuatupun, bahkan sebagaimana kata para imam –diantaranya adalah Nu’aim bin Hammad guru Imam Bukhori- : “Barangsiapa menyerupakan Allah dengan makhlukNya maka kafir dan barangsiapa yang mengingkari sifat Allah yang ditetapkan maka kafir dan tidaklah menetapkan apa yang Allah sifatkan pada diriNya dan juga Rasulullah merupakan suatu penyerupaan”. Barangsiapa menetapkan ayat-ayat dan hadits shohih bagi Allah sesuai dengan kebesaran Allah dan mensucikan Allah dari segala cacat maka dia telah menempuh jalan petunjuk”.[70]

Berikut ini kita ambil dua contoh aqidah Imam Syafi’i dalam masalah ini:

1. Sifat Tinggi

Imam Syafi’i meyakini ketinggian Allah di atas Arsy-Nya. Imam al-Baihaqi berkata setelah membawakan dalil-dalil yang banyak tentang masalah ini: “Atsar-atsar salaf tentang hal ini sangat banyak sekali. Dan inilah madzhab dan keyakinan Imam Syafi’i”.[71]

Imam Syafi’i berdalil dengan hadits Mu’awiyah bin Hakam dalam beberapa kitabnya. Di antaranya beliau berkata:

وَأُحِبُّ إِلَى أَنْ لاَ يَعْتِقَ إِلاَّ باَلِغَةً مُؤْمِنَةً, فَإِنْ كَانَتْ أَعْجَمِيَّةً فَوَصَفَتِ الإِسْلاَمَ أَجْزَأَتْهُ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِلاَلٍ ابْنِ أُسَامَةَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ أَنَّهُ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ جَارِيَةً لِيْ كَانَتْ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ فَجِئْتُهَا وَفَقَدْتُ شَاةً مِنَ الْغَنَمِ فَسَأَلْتُهَا عَنْهَا فَقَالَتْ : أَكَلَهَا الذِّئْبُ فَأَسَفْتُ عَلَيْهَا وَكنُتْ ُمِنْ بَنِيْ آدَمَ فَلَطَمْتُ وَجْهَهَا وَعَلَيَّ رَقَبَةٌ أَفَأَعْتِقُهَا؟ فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم (أَيْنَ اللهُ؟) فَقَالَتْ : فِي السَّمَاءِ فَقَالَ (مَنْ أَنَا؟) فَقَالَتْ : أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ, قَالَ : (فَأَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ).

Saya suka agar tidak memerdekakan budak kecuali budak yang sudah baligh dan mukminah. Seandainya dia non arab kemudian bersifat Islam maka sudah mencukupi. Mengabarkan kepada kami Malik dari Hilal bin Usamah dari Atho’ bin Yasar dari Umar bin Hakam[72] berkata: “…Saya memiliki seorang budak wanita yang bekerja sebagai pengembala kambing di gunung Uhud dan Al-Jawwaniyyah (tempat dekat gunung Uhud). Suatu saat saya pernah memergoki seekor serigala telah memakan seekor dombanya. Saya termasuk dari bani Adam, saya juga marah sebagaimana mereka juga marah, sehingga saya menamparnya, kemudian saya datang pada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, ternyata beliau menganggap besar masalah itu. Saya berkata: “Wahai Rasulullah, apakah saya merdekakan budak itu?” Jawab beliau: “Bawalah budak itu padaku”. Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم bertanya: “Dimana Allah?” Jawab budak tersebut: “Di atas langit”. Nabi صلى الله عليه وسلم bertanya lagi: “Siapa saya?”. Jawab budak tersebut: “Engkau adalah Rasulullah”. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Merdekakanlah budak ini karena dia seorang wanita mukminah”.[73]

Imam Ad-Dzahabi berkata:

فَفِيْ الْخَبَرِ مَسْأَلَتَانِ: إِحْدَاهُمَا: مَشْرُوْعِيَّةُ قَوْلِ الْمُسْلِمِ أَيْنَ اللهُ؟ وَثَانِيْهَا: قَوْلُ الْمَسْؤُوْلِ: فِيْ السَّمَاءِ. فَمَنْ أَنْكَرَ هَاتَيْنِ الْمَسْأَلَتَيْنِ فَإِنَّمَا يُنْكِرُ عَلَى الْمُصْطَفَى صلى الله عليه وسلم

Dalam hadits ini terdapat dua masalah: Pertama: Disyari’atkannya pertanyaan seorang muslim; Dimana Allah?[74] Kedua: Jawaban orang yang ditanya: Di atas langit. Barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini, maka berarti dia mengingkari Nabi”[75].

Mari kita renungi ucapan berikut:

قَالَ بَعْضُ أَكَابِرِ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ : فِي الْقُرْآنِ أَلْفُ دَلِيْلٍ أَوْ أَزْيَدُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ اللهَ تَعَالَى عَالٍ عَلَى الْخَلْقِ وَأَنَّهُ فَوْقَ عِبَادِهِ

Sebagian kawan senior Syafi’i mengatakan: “Dalam Al-Qur’an terdapat seribu dalil atau lebih yang menunjukkan bahwa Allah tinggi di atas makhluk dan Allah di atas hambaNya”.[76].

2. Sifat Turun

الْقَوْلُ فِي السُّنَّةِ الَّتِيْ أَنَا عَلَيْهَا وَرَأَيْتُ أَصْحَابَنَا عَلَيْهَا أَهْلَ الْحَدِيْثِ الَّذِيْنَ رَأَيْتُهُمْ وَأَخَذْتُ عَنْهُمْ مِثْلَ سُفْيَانَ وَمَالِكٍ وَغَيْرِهِمَا الإِقْرَارُ بِشَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَأَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَيَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ.

Pendapat dalam sunnah[76] (aqidah) yang saya yakini dan diyakini oleh kawan-kawanku ahli hadits yang saya bertemu dengan mereka dan belajar kepada mereka seperti Sufyan, Malik dan selain keduanya adalah menetapkan syahadat bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi secara benar kecuali hanya Allah saja dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah dan bahwa Allah di atas Arsy-Nya di langitNya dekat dengan para hambaNya sekehandak Dia dan Dia turun ke langit dunia sekehendakNya”.[78]

Aqidah beliau ini berdasarkan hadits yang mutawatir tentang sifat turunnya Allah:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ الأَخِيْرِ يَقُوْلُ : مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ, مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ, مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan, dan siapa yang yang memohon ampun kepadaKu, maka akan Aku ampuni”. [79].

Demikianlah metode Imam Syafi’i dalam aqidah asma’ wa shifat, beliau menetapkan setiap nama dan shifat yang ada dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi yang shohih. Maka perluaslah kaidah ini dalam masalah-masalah lainnya yang serupa.[80] Dan perlu kita ingat bahwa bahasa dan sastra Imam Syafi’i adalah tinggi dan hujjah sebagaimana diakui oleh para pakar bahasa Arab[81], namun sekalipun demikian kita tidak mendapati beliau merubah dan memalingkan makna ayat dan hadits dari dhohirnya tanpa dalil. Maka fikirkanlah!!.


Oleh : Al-Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.
Sumber : Makalah Dauroh Akbar Medan 2011 di http://www.kajianonlinemedan.com
Publish : http://abangdani.wordpress.com

---------------------
[1] Dzammul Kalam al-Harawi 4/254/no. 1089, Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 4/13

[2] Dzammul Kalam al-Harawi 2/158/no. 236

[3] Iitsar al-Haq ‘ala Al-Khalq hal. 24.

[4] Tawali Ta’sis hlm. 86 oleh Ibnu Hajar.

[5] Tawali Ta’sis hlm. 40 oleh Ibnu Hajar.

[6] Siyar A’lam Nubala 3/3286.

[7] Demikian harokatnya yang benar, dengan menfathah mim, mengkasroh ro’ dan mensukun ya’. (Wafayatul A’yan Ibnu Khollikan 1/278, Dhobtul A’lam hlm. 189 Ahmad Taimur Basya).

[8] Diriwayatkan Al-Khollal dalam As-Sunnah 1735 dan Al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikhnya 7/60 dengan sanad yang shohih. (Lihat Sittu Duror hlm. 65 oleh Abdul Malik Romadhoni).

[9] Ar-Risalah hal.78.

[10] Ar-Risalah hlm. 88-89.

[11] HR. Abu Dawud (4604), Ahmad (4/130-131), dll. Hadits ini dishahihkan al-Albani dalam al-Misykah (163) dan Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi hlm. 30.

[12] Ar-Risalah hlm. 404.

[13] Dala’il Nubuwwah (1/25).

[14] Miftahul Jannah fil Ihtijaj Bis Sunnah hal.11.

[15] Al-Ihkam 2/208.

[16] Mutawatir secara bahasa berurutan atau beriringan. Adapun secara istilah yaitu hadits yang diriwayatkan dari jalan yang sangat banyak sehingga mustahil kalau mereka bersepakat dalam kedustaan karena mengingat banyak jumlahnya dan keadilannya serta perbedaan tempat tinggalnya. Ahad secara bahasa satu Adapun secara istilah yaitu hadits yang diriwayatkan dari satu jalan, dua atau lebih tetapi tidak mencapai derajat mutawatir. (Lihat Akhbarul Ahad fil Hadits Nabawi hlm. 40, 48 oleh Abdullah al-Jibrin, Taisir Mustholah Hadits hlm. 23, 27 oleh Dr. Mahmud ath-Thohan).

[17] Mukhtashor Showaiq Al-Mursalah (2/433-435).

[18] Ar-Risalah hal. 457.

[19] At-Tamhid 1/6.

[20] Al-Intishor Li Ashabil Hadits hlm. 34-35.

[21] Dinukil oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih 1/281.

[22] Lihatlah kitab Al-Hadits Hujjah bi Nafihi fil Aqoid wal Ahkam dan Wujub Al-Akhdhi bi Haditsil Ahad fil Aqidah war Roddu Ala Syubahil Mukholifin, keduanya karya Syaikh al-Albani.

[23] Jima’ul Ilmi hlm. 124, Ar-Risalah hal. 546.

[24] Ikhtilaf Hadits hal. 59.

[25] Al-Farqu Baina Nashihah wa Ta’yir hlm. 9.

[26] Syarh Al-Arba’in Al-Ajluniyyah hlm. 262.

[27] Al-Faqih wal Mutafaqqih 1/389 oleh al-Khothib al-Baghdadi.

[28] Al-I’tiqod hlm. 133 oleh al-Baihaqi.

[29] Manaqib Syafi’i 1/475 oleh al-Baihaqi.

[30] Silsilah Atsar Shahihah hlm. 25.

[31] Hilyatul Auliya’ 9/170 oleh Abu Nu’aim dan dishohihkan an-Nawawi dalam Al-Majmu’ 1/63. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ucapan ini masyhur dari beliau”. (Tawali Ta’sis hlm. 109). Dan as-Subki memiliki kitab khusus tentang ucapan ini berjudul “Makna Qoulil Imam Al-Muthollibi Idha Shohhal Haditsu Fahuwa Madzhabi”.

[32] Lihat Tawali Ta’sis hlm. 109 oleh Ibnu Hajar, Mu’jam Al-Mushonnafat Al-Waridah fi Fathil Bari hlm. 415 oleh Syaikhuna Masyhur bin Hasan Salman.

[33] Al-Majmu’ 1/28.

[34] Risalah Al-Baihaqi ila al-Juwaini sebagaimana dalam Thobaqot Syafi’iyyah 5/81.

[35] Dr. Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad menulis sebuah kitab berjudul “Al-Qoulus Sadid fir Raddi Ala Man Ankara Taqsima Tauhid” (bantahan bagus untuk para pengingkar pembagian tauhid). Dalam kitab tersebut, beliau menyebutkan dalil-dalil dan ucapan-ucapan ulama salaf yang menegaskan adanya pembagian tauhid ini dan membantah sebagian kalangan yang mengatakan bahwa pembagian tauhid ini adalah termasuk perkara bid’ah.

[36] Lihat At-Tahdzir Min Mukhtashorot Ash-Shobuni fi Tafsir hlm. 331 –ar-Rudud- oleh Syaikh Bakr Abu Zaid dan Adhwaul Bayan 3/488-493 oleh Imam asy-Syinqithi.

[37] Dalam kitabnya “Al-Mukhtashorul Mufid fi Bayani Dalail Aqsami Tauhid”, Syaikh Dr. Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad menukil ucapan-ucapan ulama salaf yang menetapkan klasifikasi tauhid menjadi tiga ini, seperti Imam Abu Hanifah (w 150 H), Ibnu Mandah (182 H), Ibnu Jarir (310 H), ath-Thohawi (w 321 H), Ibnu Hibban (354 H), Ibnu Baththoh (387 H), Ibnu Khuzaimah (395 H), Ath-Thurtusi (520 H), al-Qurthubi (671 H). Lantas, akankah setelah itu kita percaya dengan ucapan orang yang mengatakan bahwa klasifikasi ini baru dimunculkan oleh Ibnu Taimiyyah pada abad ke delapan hijriyyah?!!! Fikirkanlah wahai orang yang berakal!!

[38] Ar-Risalah hlm. 7-8.

[39] Mufidul Ulum hlm. 25-27 oleh al-Qozwini, sebagaimana dalam Manhaj Imam Syafi’i fi Itsbatil Aqidah hlm. 325-326 oleh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab al-‘Aqil.

[40] Al-Manaqib 2/109 oleh al-Baihaqi.

[41] Siyar A’lam Nubala 3/3282 oleh adz-Dzahabi.

[42] Al-Bidayah wa Nihayah 5/703.

[43] Lihat bid’ah-bid’ah kuburan secara bagus dalam kitab Bida’ul Qubur Anwa’uha wa Ahkamuha oleh Syaikh Shalih bin Muqbil al-‘Ushaimi. Dan lihat masalah kuburan di masjid secara bagus dalam Syarh Shudur fi Tahrimi Rof’il Qubur oleh asy-Syaukani dan Tahdzir Sajid ‘an Ittihodzil Qubur Masajid oleh Syaikh al-Albani.

[44] HR. Muslim: 2239.

[45] HR. Muslim: 2240.

[46] Al-Umm 1/277.

[47] Syarah Shahih Muslim 7/40-41.

[48] Faidhul Qodir 6/309.

[49] HR. Bukhori 3579.

[50] Lihat masalah tabarruk secara luas dan bagus dalam kitab “At-Tabarruk Anwa’uhu waa Ahkamuhu” oleh DR. Nashir bin Abdirrahman al-Judai’.

[51] HR. Bukhori 1597 dan Muslim 1270.

[52] Al-I’lam bi Fawa’id Umadatil Ahkam 6/190. Lihat komentar indah para ulama madzhab Syafi’i lainnya tentang atsar ini dalam Juhud Syafi’iyyah fi Taqrir Tauhidil Ibadah oleh DR. Abdullah al-’Anquri hlm. 582-584.

[53] Lihat Manaqib Syafi’i 1/508 oleh al-Baihaqi dan Syarh Arba’in Al-‘Ajluniyyah hlm. 262-263 oleh Syaikh Jamaluddin al-Qosimi.

[54] Al-Majmu’ Syarh Muhadzab 8/275.

[55] Ihya’ Ulumuddin 1/271.

[56] Kisah ini dicantumkan oleh Al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad 1/123 dari jalur Umar bin Ishaq bin Ibrahim dari Ali bin Maimun dari asy-Syafi’i. Riwayat ini adalah lemah, bahkan bathil, karena Umar bin Ishaq tidaklah dikenal dan tidak disebutkan dalam kitab-kitab perawi hadits. (Lihat Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah 1/78 oleh al-Albani).

[57] Iqtidho’ Shirthil Mustaqim 2/685-686.

[58] Ighotsatul Lahfan 1/399.

[59] At-Tawashul Ila Haqiqoti Tawassul hlm. 339-340.

[60] Persis dengan kisah ini juga kisah tentang tabarruknya Imam Syafi’i dengan bajunya Imam Ahmad bin Hanbal. Kisah ini dibawakan oleh Ibnul Jauzi dalam Manaqib Imam Ahmad bin Hanbal hlm. 609-610. Dan kisah ini adalah kisah yang tidak shohih. (Lihat Siyar A’lam Nubala’ 12/587-588 oleh adz-Dzahabi, At-Tabarruk hlm. 386-387 oleh Dr. Nashir al-Juda’I, Qoshoshun Laa Tatsbutu 4/85-90 oleh Yusuf al-‘Atiq).

[61] Lihat Iqtidho’ Shirathil Mustaqim 2/686 oleh Ibnu Taimiyyah dan At-Tabarruk hlm. 345 oleh Dr. Nashir al-Judai’.

[62] Qoshoshun Laa Tatsbutu 2/85-86 oleh Syaikhuna Masyhur bin Hasan Salman.

[63] Maqolat Al-Kautsari hlm. 381.

[64] Lihat secara luas masalah ini dalam Juhud Syafi’iyyah fi Taqrir Tauhid Ibadah oleh Dr. Abdullah al-‘Unquri, Bayanu Syirki ‘Inda Ulama Syafi’iyyah oleh Dr. Abdurrahman al-Khumais, Imam Syafi’i Menggugat Syirik oleh akhuna al-Fadhil al-Ustadz Abdullah Zaen.

[65] Thobaqot Hanabilah 1/283-284 oleh Al-Qodhi Ibnu Abi Ya’la, Siyar A’lam Nubala 3/3293 oleh adz-Dzahabi, Manaqib Aimmah Arbaah hlm. 121 oleh Ibnu Abdil Hadi, I’tiqad Imam Syafi’i hlm. 21 oleh al-Hakkari, Dan kitab aqidah Imam Syafi’i karya al-Hakkari ini betul-betul sah dari Imam Syafi’i. Barangsiapa yang menyangka bahwa penisbatan aqidah ini tidak sah maka dia salah. (Lihat Qa’idah Muhimmah Fima Dhohiruhu Ta’wil Min Sifat Robb hlm. 27 oleh Syaikh ‘Amr bin Abdul Mun’im).

[66] Dibawakan oleh Ibnu Qudamah dalam Dzammu Ta’wil hlm. 9 dan Lum’atul I’tiqod hlm. 36 –Syarh Ibnu Utsaimin-

[67] Ar-Risalah Al-Madaniyyah –Majmu Fatawa- 6/354.

[68] Syarh Lum’atil I’tiqod hlm. 37.

[69] Al-Bidayah wan Nihayah 5/694.

70] Tafsir Al-Qur’anil Azhim 3/426-427.

[71] Al-Asma wa Shifat 1/517.

[72] Dalam sanad imam Malik tertulis “Umar bin Hakam” sebagai ganti dari “Mu’awiyah bin Hakam”. Para ulama’ menilai bahwa hal ini merupakan kesalahan imam Malik. Imam As-Syafi’i berkata -setelah meriwayatkan hadits ini dari imam Malik- : “Yang benar adalah Mua’wiyah bin Hakam sebagaimana diriwayatkan selain Malik dan saya menduga bahwa Malik tidak hafal namanya”. (Ar-Risalah hlm. 7-8)

Imam Ibnu Abdil Barr berkata: “Demikianlah perkataan Malik dalam hadits ini dari Hilal dari Atha’ dari Umar bin Hakam. Para perawi darinya (Malik) tidak berselisih dalam hal itu. Tetapi hal ini termasuk kesalahan beliau (Malik) menurut seluruh ahli hadits karena tidak ada sahabat yang bernama Umar bin Hakam, yang ada adalah Mu’awiyah (bin Hakam). Demikianlah riwayat seluruh orang yang meriwayatkan hadits ini dari Hilal. Mua’wiyah bin Hakam termasuk dari kalangan sahabat yang terkenal dan hadits ini juga masyhur darinya. Diantara ulama’ yang menegaskan bahwa Malik keliru dalam hal itu adalah Al-Bazzar, At-Thahawi dan selainnya”. (At-Tamhid 9/67-68 dan lihat pula Syarh Az-Zurqani (4/106) dan Tanwir Hawalik (2/140) oleh as-Suyuthi).

[73] Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Juz’ul Qiro’ah hlm. 70, Muslim dalam Shahihnya 537, Ahmad 5/448, Malik dalam Al-Muwatho’ 2/772, asy-Syafi’i dalam Ar-Risalah no. 242 dll. Lihat takhrij secara luas tentang hadits ini, komentar ulama ahli hadits tentangnya dan pembelaan ulama terhadanya dalam buku “Di Mana Allah? Oleh Ust. Abu Ubaidah, hlm. 53-62. Lihat pula kitab khusus tentang hadits ini yaitu Ainallah? Difa’ an hadits Jariyah oleh Salim al-Hilali dan Takhilul Ainain bi Jawaz Su’al Ainallah bil’ Ain oleh Dr. Shaodiq bin Salim.

[74] Imam Abdul Ghoni al-Maqdisi berkata: “Siapakah yang lebih jahil dan rusak akalnya serta tersesat jalannya melebihi seorang yang mengatakan bahwa tidak boleh bertanya di Mana Allah setelah ketegasan Rasulullah yang bertanya Di Mana Allah?! (Al-Iqtishod fil I’tiqod hlm. 89 dan Tadzkirotul Mu’tasi hlm. 89-90 Syarh Dr. Abdurrozzaq al-Badr).

[75] Al-‘Uluw lil ‘Aliyyil Adzim (hal. 81 -Mukhtasar Al-Albani-)

[76] Majmu’ Fatawa 1/121, Bayanu Talbis Jahmiyyah 1/555.

[77] Dari ucapan ini dapat dipetik faedah bahwa istilah sunnah sering digunakan oleh salaf bermakna aqidah, sebagaimana istilah ahli hadits merupakan istilah yang sudah popular pada mereka yang semakna dengan istilah Ahli Sunnah wal Jama’ah. Oleh karenanya, maka hendaknya bagi kita untuk menghidupkan nama ini, khususnya bagi kalangan para penuntut ilmu dan sejenis mereka. (Aqidah Imam Syafi’i -Jam’ul Funun- 2/12 oleh Dr. Muhammad bin Abdirrahman al-Khumais).

[78] Diriwayatkan oleh Syaikhul Islam al-Hakari dalam I’tiqod Imam Syafi’i hlm. 17, Abu Muhammad al-Maqdisi sebagaimana dalam Mukhtashor Al-Uluw hlm. 176. Dan disebutkan juga oleh Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah dalam Ijtima’ Juyusy Islamiyyah hlm. 122, Ibnu Qudamah dalam Itsbat Shifatil Uluw hlm. 124 dan Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa 4/181-183.

[79] HR. Bukhari: 1145 dan Muslim: 758.

[80] Lihat secara luas Manhaj Imam Syafi’i fi Itsbatil Aqidah oleh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab al-‘Aqil, I’tiqad Imam Syafi’i oleh al-Hakari, Aqidah Imam Syafi’i oleh Dr. Abdurrahman al-Khumais.

[81] Lihat Manaqib Syafi’i 2/41-59 oleh al-Baihaqi dan Tawali Ta’sis hlm. 96-97 .

Posted By Minang Sunnah9:07 PM

Rabu, 30 Januari 2013

Makalah: Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi’i Dalam Beragama -1

Filled under:

Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi’i Dalam Beragama
Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم وعلى آله وأصحابه أجمعين، أما بعد:


Tidak diragukan bahwa Imam Syafi’i –rahimahullah- adalah salah seorang ulama besar yang karismatik yang namanya tidak asing lagi bagi kaum muslimin, beliau termasuk sosok ulama pembaharu agama yang mempunyai jasa besar dan memiliki usaha yang mulia lagi berkah dalam mengajak umat untuk kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah dan mendidik mereka diatas landasan Tarbiyah dan Tashfiyah.

Manhaj Imam Syafi’i dalam aqidah dan prinsip-prinsip beliau dalam beragama adalah manhaj dan prinsip Ahlusunnah wal jama’ah, tidak ada perbedaan, mereka mengambil dari sumber yang sama, yaitu Al Qur’an dan Sunnah, oleh karenanya perkataan Imam Syafi’i dan perkataan imam-imam Ahlusunnah yang lain seperti Imam Ahmad Bin Hambal, Malik, Abu Hanifah, Al Auzaa’i, Ats Tsauri, Sufyan Bin ‘Uyainah, Abdullah Bin Mubaarok dan yang lain tentang aqidah dan prinsip-prinsip beragama adalah sama tidak ada kontradiksi dan perbedaan kecuali dalam redaksinya saja[1].

Betapa bagusnya ungkapan Imam Abu Mudzoffar As Sam’aani –beliau adalah salah seorang ulama Syafi’iyah- yang mengatakan: “Jika kamu memperhatikan/membaca seluruh kitab-kitab karya mereka (Ahlussunnah) dari pertama sampai terakhir, yang klasik dan kontemporer, sedang zaman mereka berbeda dan tempat tinggalnya berjauhan, masing-masing tinggal di tempat yang terpisah, niscaya kamu dapatkan mereka dalam menjelaskan aqidah (prinsip-prinsip agama) dengan metode yang sama dan cara yang tidak berbeda, mereka mengikuti sebuah metode yang tidak akan melenceng dan condong darinya, perkataan mereka dalam hal tersebut satu, kamu tidak dapatkan kontradiksi dan perbedaan diantara mereka dalam suatu perkara sedikitpun, bahkan jika kamu kumpulkan apa yang keluar dari mulut mereka dan apa yang mereka nukilkan dari salaf (pendahulu) mereka, niscaya kamu dapati seolah-olah hal (perkataan) itu keluar dari satu hati dan muncul dari satu lisan”[2].

Adakah bukti yang lebih nyata yang menjelaskan akan kebenaran dari pada ini? Nah, apakah rahasia dan penyebab yang menjadikan mereka bersatu dalam aqidah dan prinsip-prinsip beragama? Tiada lain kecuali karena mereka semuanya mengambil agama dari sumber yang satu, yaitu Al Qur’an dan Sunnah, adapun orang-orang yang mengambil aqidah dan agamanya dari selain Al qur’an dan Sunnah, seperti akal, logika dan mimpi, maka mereka selalu dalam perselisihan yang tajam dan kontradiksi yang dahsyat, habis umur mereka akan tetapi tidak pernah bersatu dalam aqidah dan prinsip-prinsip beragama, kamu menyangka mereka bersatu tetapi hati mereka bercerai-berai dan bermusuhan, tentu ini adalah bukti kebatilan yang nyata dan kesesatan yang jauh, Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً النساء: ٨٢

Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”.

Inilah pertanda ahlu bid’ah dan seluruh sekte yang menyimpang dari sunnah, mereka selalu dalam pertentangan yang berkepanjangan, adapun Ahlussunnah wal jama’ah apa yang mereka tulis dan katakan semuanya sama, tidak ada pertentangan dalam kandungan dan maknanya, oleh karenanya jika anda membaca kitab yang menjelaskan aqidah imam Syafi’i, atau kitab yang ditulis oleh Imam Ahmad Bin Hambal dalam aqidah, atau kitab yang ditulis oleh Syeikhul islam Ibnu Taimiyah dan yang ditulis oleh Syeikh Muhammad Bin Abdul wahhab tentang aqidah atau kitab yang ditulis oleh salah seorang ulama Ahlussunnah dizaman sekarang ini, niscaya anda akan mendapatkan aqidah yang sama dan prinsip-prinsip agama yang tidak berbeda dan berobah.

Aqidah Imam Syafi’i dan prinsip-prinsip beragama beliau adalah aqidah dan prinsip beragama ulama Syafi’iyyah yang berjalan diatas manhaj Imam mereka dan yang setia menelusuri jejak beliau yang selamat dari bermacam bentuk bid’ah dan syubuhat.

Kemudian sebagaimana yang dimaklumi, bahwa zaman Imam Syafi’i adalah awal munculnya bid’ah ilmu kalam dan bid’ah shufiyyah, keduanya adalah bid’ah yang sangat berbahaya, ilmu kalam merusak pemikiran dan keilmuan seseorang dan bid’ah shufiyah merusak akhlak dan ibadahnya.

Maka dengan penuh kecintaan kepada agama Allah yang mulia ini dan semangat untuk memperjuangkan sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam serta kesungguhan yang besar untuk memberikan nasehat kepada kaum muslimin, Imam Syafi’i bangkit dengan keilmuan yang beliau miliki untuk menghujat, membantah dan meng-counter seluruh bid’ah yang muncul di zamannya, sehingga beliau dikenal dikalangan ulama ahlusunnah sebagai seorang imam pembela/pejuang sunnah yang memiliki ketegasan dan kebencian yang dalam terhadap ilmu kalam, sampai sampai beliau mengatakan: “Hukumku bagi ahli kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, dan dinaikkan diatas unta kemudian dia dikelilingkan ke kampung seraya dilihatkan kepada khalayak: inilah kukuman bagi orang orang yang perpaling dari Al Qur’an dan Sunnah lalu menuju ilmu kalam/filsafat“[3].

Akan tetapi yang sangat mengherankan, munculnya di tengah masyarakat yang menisbatkan diri kepada mazhab imam Syafi’i, orang orang yang menekuni dan mempelajari ilmu kalam, bahkan mereka mendirikan lembaga lembaga pendidikan yang berasaskan kepada aqidah ahlulkalam dan filsafat. Fenomena ini tidak khusus pada para pengikut mazhab imam Syafi’i saja, tetapi juga para pengikut mazhab yang lain, sementara seluruh para imam tersebut telah sepakat dalam mencela dan mengingkari ilmu kalam dan filsafat.

Dan yang sangat aneh bin ajaib lagi, munculnya dikalangan Syafi’iyyah mutakhirin orang orang yang menulis kitab berdasarkan aqidah ahlulkalam kemudian mereka menisbatkan hal itu kepada imam Syafi’i seraya berkata: “Ini adalah aqidah imam Syafi’i“, tentu ini adalah kebohongan yang sangat nyata. Inilah sebenarnya faktor utama yang menyebabkan munculnya kerancuan dan kebimbangan bagi para pemula dalam menuntut ilmu dalam mempalajari aqidah dan prinsip-prinsip beragama imam Syafi’i, sementara aqidah beliau adalah aqidah dan prinsip-prinsip dasar para imam Ahlussunnah yang lain sebagaimana yang telah diutarakan diatas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang dua orang –keduanya bermazhab Syafi’i- yang berbeda pendapat dalam masalah aqidah, yang satu mengatakan: “Barangsiapa yang tidak meyakini bahwa Allah berada di langit, maka ia telah sesat”. Yang kedua mengatakan: “Sesungguhnya Allah tidak berada disuatu tempat”. Maka jelaskan kepada kami apa yang harus diikuti dari aqidah imam Syafi’i dan yang benar dari perkataan diatas? Beliau menjawab:

“Aqidah imam Syafi’i dan aqidah para (ulama) salaf seperti (imam) Malik, At Tsauri, Al Auzaa’i, Ibnu Mubarok, Ahmad Bin Hambal, Ishaq Bin Rohawaih, dan ia adalah aqidah para masyaayekh yang diikuti, seperti Fudhail Bin ‘Iyaadh, Abu Sualaiman Ad Daaraani, Sahl Bin Abdullah At Tasturi dan yang lain, maka sesungguhnya tidak ada antara para imam tersebut dan yang lain perbedaan/pertentangan dalam perkara ushuluddin (aqidah). Begitu juga Imam Abu Hanifah, maka aqidah yang tetap dari beliau dalam (permasalahan) tauhid dan qadar dan yang semisalnya sesuai dengan aqidah para imam tersebut. Dan aqidah mereka adalah apa yang diikuti/diamalkan oleh para shahabat dan tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, yaitu apa yang di katakan oleh Al Qur’an dan Sunnah” –kemudian Syaikhul Islam menukil perkataan imam Syafi’i, Ahmad dan Malik tentang aqidah- kemudian berkata : Maka barangsiapa yang berbicara tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya dengan sesuatu yang menyelisihi Al Qur’an dan Sunnah, maka ia termasuk kepada orang orang yang bebicara tetang ayat-ayat Allah dengan batil, dan mayoritas dari mereka (ahlulbid’ah) menisbatkan kepada para imam kaum muslimin apa yang tidak mereka katakan, mereka menisbatkan kepada imam Syafi’i, Ahmad Bin Hambal, Malik dan Abu Hanifah aqidah-aqidah yang tidak mereka katakan/yakini, seraya berkata kepada para pengikut mereka: ini adalah aqidah imam si fulan, tetapi jika mereka diminta untuk mendatangkan nukilan (perkataan) yang shohih dari para imam tersebut nyatalah kebohongan mereka“[4].

Inilah adalah sebuah kaedah yang harus digunakan untuk menghujat setiap orang yang menisbatkan kepada para imam Ahlussunnah -diantaranya imam Syafi’i- aqidah yang tidak mereka yakini dan prinsip yang tidak mereka amalkan, kita menuntut mereka untuk mendatangkan nukilan-nukilan yang shohih dari para imam tersebut, jika mereka tidak mampu mendatangkannya maka jelaslah kebatilan penisbatan tersebut dan nyatalah kebohongan para pelakunya.

Oleh karana itu pengikut sejati imam Syafi’i adalah orang orang yang mengikuti mazhab beliau dalam permasalahan ushuluddin (aqidah) dan permasalahan fiqih dan tidak membedakan antara keduannya, adapun orang yang menisbatkan diri kepadanya dalam permasalah fiqih, tetapi menyelisihiya dalam permasalahan aqidah dan prinsip-prinsip beragama, atau mengadopsi mazhab gado-gado, seperti ungkapan sebagian mereka: “mazhabku adalah mazhab Syafi’i, tarekatku adalah tarekat Qodiriyah atau Naqasyabandiyah dan aqidahku adalah aqidah Asy’ariyah”, tentu ini adalah pernyataan yang aneh dan kontradiksi yang nyata, dan Imam Syafi’i tentu berlepas diri dari orang yang seperti ini, sebab tidak pernah beliau beraqidah Asy’ariyah dan mengikuti tarekat-tarekat shufiyyah, terekat beliau adalah Tarekat Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, beliau tiada lain kecuali seorang Sunni Salafi dalam aqidah, ibadah, fiqih dan akhlak.

Imam Al Karaji (wafat: 532H) –beliau adalah salah seorang ulama Syafi’yyah- telah mencela dan mengingkari dengan keras sikap warna-warni seseorang dalam beragama seraya mengatakan: “Maka mengikuti mazhab salah seorang imam (dalam fiqih) dan meyelisihinya dalam aqidah, demi Allah ini merupakan kemungkaran secara syari’at dan akal, maka barangsiapa yang mengatakan: saya bermazhab Syafi’i dan beraqidah Asy’ari, maka kita katakan: ini adalah sikap/pernyataan yang kontradiksi, bahkan merupakan menyimpangan dan kesesatan, karena tidak pernah Syafi’i beraqidah Asy’ari“[5].

Dan Imam Abu Mudzoffar As Sam’aani berkata: “Tidak pantas bagi seorangpun memperjuangkan mazhab Syafi’i dalam permasalahan furu’iyyah (fiqih) kemudian meninggalkan manhajnya dalam aqidah”[6].

Berangkat dari kenyataan dan fenomena diatas, maka merupakan kewajiban utama dan pertama bagi setiap individu muslim, untuk mempelajari aqidah Ahlussunnah dan prinsip-prinsip beragama mereka, yang merupakan prinsip beragama seluruh imam ahlussunnah, dan mewaspadai aqidah-aqidah yang sesat dan prinsip-prinsip yang batil yang dinisbatkan kepada mereka. Inilah diantara faktor utama yang mendorong para ulama, masyayekh dan tholabatul’ilmi untuk menulis kitab-kitab yang mengumpulkan perkataan perkataan para imam Ahlussunah dalam aqidah dan prinsip-prinsip beragama mereka, termasuk dalam hal ini Imam Asy Syafi’i –rahimahullah-.

Diantara kitab yang mengupas dan menjelaskan aqidah Imam Syafi’i sebagai berikut:

1.منازل الأئمة الأربعة“, Karangan Imam Abu Zakariya Yahya Bin Ibrahim As Salmaasi (wafat: 505 H) –beliau salah seorang ulama Syafi’iyyah-, Dalam kitab ini beliau menjelaskan biografi singkat setiap imam, kemudian menukil perkataan mereka tentang aqidah dan prinsip-prinsip beragama. Kitab ini telah dicetak dengan tahqiq DR. Mahmud Kedah. Cet. Universitas Islam Madinah.

2.الفصول في الأصول عن الأئمة الفحول إلزاما لذوي البدع والفضول“, Karangan Imam Abul Hasan Al Karji (wafat : 532 H) –beliau salah seorang ulama Syafi’iyyah-. Dalam kitab ini beliau menukil perkataan sebagian imam Ahlussunnah dalam aqidah, diantaranya: Imam Syafi’i, Ahmad, Malik, Bukhari, Ibnu ‘Uyainah, At Tsuari, Ibnu Mubarok, Laits Bin Sa’ad, Ishak Bin Rahawaih dan yang lain, tujuan beliau menukil dari para imam tersebut untuk membantah dan menghujat orang orang yang menisbatkan diri kepada seorang imam dalam masalah fiqih dan menyelisihinya dalam masalah aqidah, karena ini adalah kesesatan yang nyata dan kemungkaran yang besar. Kitab ini belum ditemukan, akan tetapi sebagian dari pembahasanya telah dinukil oleh Syekhul islam Ibnu Taimiyyah dalam sebagian kitabnya (lihat: Majmu’ fatawa: 4/175-177).

3.عقيدة الشافعي“, Karangan Al ‘Allaamah Muhammad Bin Rasul Al Barzanji (wafat: 1103 H) –beliau adalah salah seorang ulama Syafi’iyyah-, kitab ini telah dicetak dengan tahqiq oleh Syaikh Muhammad Bin Abdurrahman Al Khumaiyyis.

4. “اعتقاد الأئمة الأربعة“, karangan Syekh DR. Muhammad Bin Abdurrahman Al Khumaiyyis, kitab ini telah cetak.

Beliau juga menulis makalah tentang (عقيدة الإمام أبي عبد الله محمد بن إدريس الشافعي) dan telah di muat dalam majallah Al Buhuuts islamiyyah, Riyadh, edisi 64 (hal: 193-251).

5.منهج الإمام الشافعي في إثبات العقيدة“, karangan Syaikhuna Syaikh DR. Muhammad Bin Abdulwahhab Al Aqiil hafidzahullah-, sebuah disertasi yang beliau tulis di Universitas Islam Madina, ia telah dicetak dan di terjemahkan kedalam bahasa indonesia.

Aqidah Imam Syafi’i dan prinsip-prinsip beragama beliau adalah aqidah dan prinsip yang diikuti oleh ulama Syafi’iyah yang setia berjalan diatas manhaj/mazhab imam mereka yang selamat dari syubuhat dan syahawat.

Mereka mempunyai peran besar dan usaha yang mulia sejak awal abad ketiga hijriyah dalam meperjuangkan dan menghidupkan sunnah serta berdakwah kepada aqidah salafiyah, mencela bid’ah dan mengingkarinya, mereka adalah para ulama besar yang karismatik dan para imam yang mulia yang di kenal dengan loyalitas tinggi, pengagungan yang besar dan kecintaan yang dalam kepada sunnah dan ahlinya, mereka telah menghabiskan umur dan waktu untuk menebarkan aqidah Ahlussunnah Wal jama’ah dan mengajak umat untuk berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah berdasarkan manhaj salafus sholeh, dan mengingkari bemacam bentuk bid’ah dan menghujat para pelakunya dengan menggunakan bermacam fasilitas dan sarana yang syar’i, terkadang dengan pendidikan dan dakwah dan terkadang dengan menulis tentang sunnah yang mencakup penjelasan tentang aqidah ahlussunnah dan bantahan terhadap ahlulbid’ah dan lain-lain, hal itu mereka lakukan tiada lain kecuali ingin mengharapkan ridho Allah dan sebagai aplikasi terhadap makna nasehat kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kaum muslimin.

Berikut sebagian nama-nama ulama Syafi’iyyah yang setia mengikuti manhaj dan mazhab Imam Syafi’i dalam aqidah dan fiqih, dan sebagian dari karya tulis mereka tentang sunnah (aqidah) dan pengingkaran terhadap bid’ah dan aqidah-aqidah sempalan yang muncul dalam kehidupan kaum muslimin.

Akan tetapi sebelumnya perlu di ketahui, bahwa yang di maksud dengan sunnah disini adalah jalan dan pola hidup Rasulullah –shalallahu’alaihi wasallam- yang mencakup permasalahan aqidah dan ibadah, dan yang lebih khusus permasalahan-permaslahan yang berkaitan dengan aqidah. Inilah pengertian sunnah yang masyhur di kalangan salafus sholeh.

Syaikhul islam Ibnu Taimiyah berkata: “Dan lafadz sunnah dalam perkataan salaf mencakup sunnah dalam permasalahan ibadah dan permasalahan aqidah, sekalipun mayoritas (ulama) yang menulis tentang sunnah bermaksud pembahasan tentang aqidah”[7].

Dan Imam Ibnu Rajab berkata –setelah menukil sebagian perkataan ulama salaf tentang sunnah-: “Dan maksud para ulama tersebut tentang sunnah adalah jalan Nabi –shalallahu’alaihi wasallam- yang di ikuti beliau dan para shahabatnya, yang selamat dari syubuhat dan syahawat, …kemudian istilah sunnah itu di kalangan mayoritas ulama muta’akhirin dari kalangan ahlulhadits dan yang lain dikenal dengan : sesuatu yang selamat dari syubuhat, terkhusus yang berkaitan dengan permasalahan iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul dan hari akhirat, begitu juga yang berkaitan dengan masalah taqdir, keutamaan para shahabat, mereka telah menulis dalam keilmuan ini kitab kitab yang mereka beri judul dengan “As sunnah“, mereka mengkhususkan ilmu ini dengan nama sunnah kerena permasalahannya sangat urgen dan berbahaya sehingga orang yang menyelisihinya akan terjerumus kejurang kebinasaan (kesesatan), adapun sunnah dengan pengertian yang sempurna adalah jalan yang selamat dari syubuhat dan syahawat”[8].

Berikut diantara nama ulama Syafi’iyyah dan karya tulis mereka tentang sunnah dan aqidah: 
  • Imam Abu Bakr Al Humaidi (wafat th. 219 H). Beliau mempunyai kitab tentang aqidah yang berjudul ( أصول السنة), kitab ini telah di cetak.
  • Imam Abdulaziz Al Kinaani (wafat th. 240 H), beliau mempunyai kitab yang berjudul (الحيدة والاعتذار في الرد على من قال بخلق القرآن), sebagai membantahan terhadap orang orang yang mengatakan Al Qur’an adalah makhluk, dan ia telah dicetak.
  • Imam Ismail Bin Yahya Al Muzani –murid senior Imam Syafi’i- (wafat th. 264H), beliau menulis kitab tentang aqidah yang berjudul (شرح السنة), telah di cetak.
  • Imam Utsman Bin Sa’id Ad Daarimi (wafat th. 282H), beliau menulis dua bua kitab yang sangat bagus dan bermanfaat tentang sunnah dan bantahan terhadap ahlulbid’ah[9], yang pertama: (الرد على الجهمية) dan yang kedua: (النقض على بشر المريسي الجهمي). Keduanya telah dicetak.
  • Imam Muhammad Bin Nashr Al Marwazi (wafat th. 294 H), beliau mempunyai kitab yang berjudul ( السنة), yang mengupas tentang kedudukan sunnah dan kewajiban untuk mengikutinya serta bantahan terhadap orang orang mengingkarinya, kitab ini telah di cetak.
  • Imam Abul Abbas Ibnu Suraij (wafat th. 306 H), beliau menulis kitab yang bagus tentang sunnah, sebagai jawaban terhadap pertanyaan tentang sifat Allah, dalam kitab itu beliau menjelasakan mazhab salaf dalam tauhid asma’ dan sifat dan perkara perkara lain yang berkaitan dengan prinsip-prinsip aqidah ahlussunnah wal jama’ah.
  • Imam Ibnu Khuzaimah (wafat th. 311 H), beliau menulis kitab tentang sunnah dan tauhid dengan judul ( التوحيد وإثبات صفات الرب عز وجل ), telah di cetak.
  • Imam Abul Hasan Al Buusyanji (wafat th. 347 H), beliau menulis kitab yang berjudul (التوحيد والرد على من خالف السنة )[10].
  • Imam Abul ‘Alaa’ Al Muharibi (wafat th. 359 H). Al Khathiib Al Bagdaadi berkata: “Beliau mempunyai karangan tentang bantahan terhadap Al Qodariyah, Al Jahmiyyah, Al Rafidhah dan yang lain”[11].
  • Imam Abu Bakr Al Ajurri (wafat th. 360 H), beliau mengarang kitab yang sangat bagus dan bermanfaat tentang sunnah yang berjudul ( الشريعة ), dalam kitab ini beliau mengupas permasalahan aqidah islamiyah yang sesuai dengan manhaj ahlussunnah waljama’ah, dan bantahan terhadap sekte sekte yang menyelisihi Ahlussunnah dalam permasalahan tersebut, kitab ini telah dicetak.
  • Imam Abu Bakr Al Isma’ili (wafat th. 371 H), beliau memiliki kitab yang bagus tentang aqidah ahlussunnah yang berjudul ( اعتقاد أهل السنة ), kitab ini telah di cetak.
  • Imam Abul Hasan Al Malathi (wafat th. 377 H), beliau mempunyai kitab yang membahas tentang pemikiran dan idiologi sesat sebagai bantahan tehadap ahlulbid’ah wal ahwa’ yang berjudul ( التنبيه والرد على أهل الأهواء والبدع ). Kitab ini telah di cetak.
  • Imam Abul Qosim Al Laalakaa’i (wafat th. 418H), beliau mengarang sebuah kitab yang bagus tentang sunnah dan aqidah ahlusunnah wajama’ah dengan judul (شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة ), kitab ini termasuk ensiklopedi aqidah ahlussunnah yang memuat dalil-dalil, hadits dan perkataan ulama salaf beserta sanadnya. Kitab ini telah dicetak.
  • Imam Abu Utsman Ash Shoobuni (wafat th. 449 H), beliau menulis kitab yang bagus tentang sunnah dan aqidah ahlulhadits yang berjudul (عقيدة السلف أصحاب الحديث), kitab ini telah di cetak.
  • Imam Abul Qosim Az Zanjaani (wafat th. 471 H), beliau mempunyai Qoshidah dan syarahnya tentang sunnah dan aqidah ahlussunnah. Di dalamnya beliau menjelaskan pentingnya mengikuti Al qur’an dan Sunnah sesuai dengan manhaj salaf dan bahanya bid’ah serta bantahan terhadap ahlul bid’ah dari ahlulkalam, syi’ah (rofidhah), Khawarij, Al Jahmiyyah dan yang lain.
  • Imam Abu Muzaffar As Sam’ani (wafat th. 489H), beliau mempunyai kitab yang bagus tentang sunnah dan pembelahan terhadap ahlussunnah yang berjudul: (الانتصار لأصحاب الحديث). 
  • Imam Abul Fath Nashr Al Maqdisi (wafat th. 490H), beliau mempunyai kitab yang bagus tentang sunnah yang berjudul ( الحجة على تارك المحجة), dalam kitab ini beliau menukil dalil-dalil dari Al Qur’an dan sunnah serta perkataan para ulama salaf yang memerintahkan untuk mengikuti sunnah dan larangan meninggalkannya serta celaan terhadap ilmu kalam dan para pemujanya. kitab ini telah di cetak.
  • Imam Abul Hasan Al Karji (wafat th. 532 H), beliau mempunyai kitab yang bagus tentang sunnah yang berjudul (الفصول في الأصول عن الأئمة الفحول إلزاما لذوي البدع والفضول). Dalam kitab ini beliau menukil dari duabelas imam ahlusunnah perkataan mereka tentang aqidah, diantara mereka: Imam Syafi’i, Malik, Ahmad Bin Hambal, Al Bukhari, Ibnu ‘Uyainah, Abdullah Bin Mubarak, Al Awzaa’I dan yang lain. Dalam kitab ini beliau mencela orang orang yang membedakan antara permasalahan aqidah dan fiqh dalam mengikuti para ulama mazhab, karena para ulama mazhab tidak membedakan antara kedua permasalahan diatas kerena semuanya kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah. Biliau berkata: “Barangsiapa yang mengatkan : saya bermazhab Syafi’i dan beraqidah asy’ari, maka ini adalah dua perkara yang kontropersial, sebab tidak pernah Imam Syafi’i beraqidah asy’ari”[12].
  • Imam Qowamussunnah Abul Qosim At Taimi (wafat th. 535H), beliau menulis kitab yang mermanfaat dan bagus tentang sunnah yang berjudul (الحجة في بيان المحجة في شرح التوحيد ومذهب أهل السنة), telah di cetak.
  • Imam Yahya Bin Abil Khair Al ‘Imraani (wafat th. 558H), beliau menulis kitab bantahan yang bagus terhadap sekte Mu’tazilah Al qodariyah yang berjudul : (الانتصار في الرد على المعتزلة القدرية الأشرار ), kitab ini telah di cetak.

Itulah sebagian ulama Syafi’iyah dan karya tulis mereka yang menjelaskan tentang sunnah dan aqidah ahlussunnah wal jama’ah serta bantahan terhadap bermacam bid’ah yang muncul dalam bab aqidah dan sekte sekte sempalan yang menisbatkan diri kepada islam dan sunnah.

Tidak terbatas pada permasalahan itu saja, tetapi mereka juga menulis kitab kitab yang mencela dan mengingkari segala perkara yang baru dan bermacam bid’ah yang muncul dalam bab ibadah.

Diantara ulama Syafi’iyah dan karya tulis mereka dalam bab ini sebagai berikut:
  • Qodhi Abu Abdillah Husain Ad Dimyaati (wafat th. 648H), beliau mempunyai karya tulis yang mengkritisi bid’ah dan perkara perkara baru dalam agama, yang berjudul: (اللمعة في أحكام البدع) [13].
  • Imam Al ‘Iz Bin Abdussalam (wafat th. 661 H), beliau adalah seorang ulama yang karismatik yang mempunyai perang besar dalam menyeru kepada sunnah dan mengingkari bid’ah, beliau mempunyai dua karya tulis yang mengingkari bid’ah sholat ragaaib, yang pertama berjudul: (الترغيب عن صلاة الرغائب) yang kedua: (الرد على جواز صلاة الرغائب), keduanya telah di cetak.
  • Imam Abu Syaamah (wafat th. 665 H), beliau adalah murid Imam Al ‘Iz Bin Abdussalam, beliau mempunyai karya tulis yang bagus tentang bid’ah dengan judul: (الباعث على إنكار البدع والحوادث), telah di cetak.
  • Imam An Nawawi (wafat, th. 676 H), beliau adalah seorang ulama yang tidak asing di kalangan pengikut mazhab Syafi’i, beliau memiliki loyalitas tinggi kepada sunnah dan membenci bermacam bentuk bid’ah, hal ini sangat jelas dalam karya tulis beliau yang bagus dan bermanfaat, seperti “Syarah shohih Muslim”, “Al Majmu’ syarah muhazzab”, “Al Azkar” dan yang lain.
  • Imam Ali Bin Ibrahim Al ‘Aththaar, (wafat th. 724H), beliau adalah murid terdekat Imam Nawawi, beliau mempunyai karya tulis yang mengingkari bermacam bid’ah yang berkembang dalam bulan Rajab dan Sya’ban, diantaranya bid’ah sholat Nisfu sya’ban yang di kenal dengan sholat alfiyyah, judul kitabnya: (حكم صوم رجب وشعبان وما الصواب عند أهل العلم والعرفان وما أحدث فيهما وما يلزمه من البدع التي يتعين إزالتها على أهل الإيمان), telah di cetak.
  • Imam Hafizd Az Zahabi (wafat th. 748 H), beliau mempunyai karya tulis yang bagus dan bermanfaat tentang agidah dan seruan mengikuti sunnah dan penginkaran terhadap bid’ah, diantaranya: (العلو للعلي العظيم ) mengupas tentang dalil-dalil dari Al Qur’an dan sunnah serta perkataan ulama salaf dalam menetapkan sifat Uluw (tinggi) bagi Allah Ta’ala serta bantahan terhadap sekte sekte yang mengingkarinya. Diantara karangan beliau kitab (التمسك بالسنن) mengupas tentang kewajiban mengikuti sunnah dan mewaspadai bid’ah, dan kitab ( تشبه الخسيس بأهل الخميس) mengupas tentang larangan menyerupai non islam dan mengikuti hari hari besar dan tradisi tradisi mereka. semuanya telah di cetak.
  • Imam Ibnu An Nahhaas (wafat th. 814 H), beliau mempunyai kitab yang bagus mengupas tentang dosa dosa besar, kemungkaran kemungkaran dan bid’ah bid’ah yang muncul di kalangan kaum muslimin, yang berjudul: (تنبيه الغافلين عن أعمال الجاهلين وتحذير السالكين من أعمال الهالكين) kitab ini telah di cetak.
  • Hafizd Ibnu Hajar Al ‘Asqalani (wafat th. 852 H ), beliau salah seorang ulama ahli hadits dan fiqh yang memiliki karya tulis yang banyak dalam disiplin ilmu hadits dan yang lain, peran dan usaha beliau dalam memperjuangkan sunnah dan menginkari bid’ah tidak bisa di pungkiri, bahkan kitab beliau yang terkenal (فتح الباري في شرح صحيح البخاري) sarat dengan seruan kepada sunnah dan bantahan terhadap bid’ah. Bahkan beliau telah menulis kitab yang bagus dan bermanfaat yang mengkoreksi hadits hadits yang dhoi’f dan palsu yang berkaitan dengan keutamana bulan rajab dan bid’ah bid’ah yang mucul di dalamya, beliau beri judul dengan: (تبيين العجب بما ورد في فضل رجب), dalam kitab ini beliau menyimpulkan bahwa seluruh hadits hadits yang menjelaskan keutamaan bulan Rajab dan keutamaan ibadah di dalamnya terkhusus hadits yang menjelaskan keutamaan sholat Ragaaib, semuanya hadits yang dho’if (tidak shohih) atau palsu. Kitab ini telah di cetak.
  • Imam Burhanuddin Al Biqaa’i (wafat th. 885 H), beliau memiliki beberapa karya tulis yang bagus dan bermanfaat yang mengajak kepada sunnah dan mengingkari bermacam bentuk bid’ah dalam aqidah dan ibadah, beliau adalah orang yang sangat tegas dan keras terhadap sekte sufi dengan bermacam pemikiran dan idiologi mereka seperti wihdatul wujud dan huluul (keyakinan bahwa Allah berada di mana mana), diantara karya tulis beliau dalam hal ini : (تنبيه الغبي بتكفير ابن عربي) dalam kitab ini beliau menukil perkataan dan pernyataan para ulama ahlussunnah dari semua mazhab yang mengkafirkan Ibnu Arabi sebagai tokoh central pemikiran wihdatul wujud. (تحذير العباد من أهل العناد ببدعة الاتحاد), kitab ini menjelaskan kekufuran pemikiran wihdatul wujud. (صواب الجواب للسائل المرتاب المجادل المعارض في تفكير ابن الفارض), kitab ini membantah pernyataan sebagian orang yang meragukan kekufuran Ibnul Faaridh, salah seorang tokoh central pemikiran wihdatul wujud juga. (السيف المسنون اللماع على المفتى المفتون بالابتداع), kitab ini sebagai bantahan terhadap seseorang yang membolehkan praktek praktek zikir yang bid’ah seperti zikir jama’I. (إنارة الفكر بما هو الحق في كيفية الذكر), kitab ini juga mengkoreksi dan mengingkari praktek praktek zikir jama’I yang bid’ah yang di lakuan orang sebagian kaum muslimin.
  • Hafizd As Sayuthi (wafat th. 911 H), beliau mempunyai karya tulis yang bagus yang menjelaskan kedudukan sunnah dan kewajiban untuk mengikutinya serta bantahan terhadap orang orang yang mengingkari sunnah, yang berjudul: (مفتاح الجنة في الاعتصام بالسنة) dan kitab yang menjelaskan larangan melakukan bid’ah yang berjudul: (الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع) dalam kitab ini beliau berusaha mengumpulkan bid’ah bid’ah yang berkaitan dengan bermacam perkara agama. Keduanya telah di cetak.
  • Syaikh Ali Mahfuz (wafat th. 1361 H), beliau salah seorang ulama kontemporer yang berasal dari Mesir, beliau memiliki sebuah karya tulis yang bagus yang mengingkari bid’ah bid’ah yang muncul di masyarakat Mesir dan dunia islam, yang berjudul: (الإبداع في مضار الابتداع), kitabnya telah di cetak.
  • Syaikh Ahmad Bin Hajar Aalu Buu Thoomi (wafat th. 1423 H), salah seorang ulama ahlussunnah kontemporer berasal dari Qotar, beliau mempunyai banyak karya tulis tentang aqidah ahlussunnah dan seruan mengikuti sunnah serta larangan dari sikap taqlid dan fanatisme serta pengingkaran terhadap bid’ah bid’ah yang mucul di kalangan kaum muslimin, diantara tulisan beliau dalam hal ini: (سبيل الجنة بالتمسك بالقرآن والسنة) dan (تحذير المسلمين عن الابتداع والبدع في الدين), keduanya telah di cetak.

Itulah diantara karya tulis ulama Syafi’iyyah yang menjelaskan tentang sunnah dan kewajiban untuk memperjuangkannya serta menyeru untuk berpegang teguh kepadanya serta celaan terhadap bid’ah dan para pelakunya, hal ini menjelaskan kepada kita bahwa seluruh ulama ahlussunah dari dahulu sampai sekarang semuanya sepakat dalam mencela seluruh bentuk bid’ah yang muncul dalam agama dan juga para pelakunya.

Semoga Allah Ta’ala merahmati mereka semua dan membalas seluruh usaha dan kebaikkan mereka dengan sebaik-baik balasan, dan semoga karya tulis yang mereka tinggalkan bermanfaat bagi islam dan kaum muslimin, dan menjadikan kita orang orang yang melanjukkan tongkat estafet perjuangan mereka dalam membela sunnah dan mengingkari bid’ah, Amiin.

Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi’i Dalam Beragama

PRINSIP PERTAMA

Pedoman Agama Adalah Al-Qur’an Dan Hadits Sesuai Pemahaman Salaf, Bukan Akal Dan Filsafat

Pedoman Imam Syafi’i Dalam Beragama

Sesungguhnya pedoman hukum dalam beragama adalah Al-Qur’an, hadits shohih dan ijma’. Tentang hujjahnya Al-Qur’an dan hadits Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya“.(QS. An-Nisa’: 59)

Imam Abdul Aziz al-Kinani berkata: “Tidak ada perselisihan di kalangan orang yang beriman dan berilmu bahwa maksud mengembalikan kepada Allah adalah kepada kitabNya dan maksud mengembalikan kepada rasulullah setelah beliau wafat adalah kepada sunnah beliau. Tidak ada yang meragukan hal ini kecuali orang-orang yang menyimpang dan tersesat. Penafsiran seperti yang kami sebutkan tadi telah dinukil dari Ibnu Abbas dan sejumlah para imam yang berilmu. Semoga Allah merahmati mereka semua”.[14]

Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah juga berkata: “Para ulama salaf dan kholaf telah bersepakat bahwa maksud mengembalikan kepada Allah adalah kepada KitabNya (Al-Qur’an) dan kepada rasulNya di waktu masih hidup dan kepada sunnah beliau bila setelah wafat”.[15]

Adapun dalil bahwa ijma’ (kesepakatan ulama) merupakan hujjah adalah firman Alloh[16]:

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً

Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisa’ [4]: 115)

Nabi juga bersabda:

لاَ يَجْمَعُ اللهُ أُمَّتِيْ عَلَى ضَلاَلَةٍ أَبَدًا

Sesungguhnya Alloh tidak akan menjadikan umatku bersepakat dalam kesesatan.[17]

Dan inilah yang dijadikan landasan oleh Imam Syafi’i juga sebagaimana beliau tegaskan dalam banyak ucapannya, di antaranya adalah sebagai berikut:

Imam Syafi’i berkata:

وَلَمْ يَجْعَلِ اللهُ لِأَحَدٍ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهِ أَنْ يَقُوْلَ إِلاَّ مِنْ جِهَةِ عِلْمٍ مَضَى قَبْلَهُ وَجِهَةُ الْعِلْمِ بَعْدُ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَالإِجْمَاعُ وَالآثَارُ وَمَا وَصَفْتُ مِنَ الْقِيَاسِ عَلَيْهَا

Allah tidak memberikan kesempatan bagi seorangpun selain Rasulullah untuk berbicara soal agama kecuali berdasarkan ilmu yang telah ada sebelumnya, yaitu Kitab, Sunnah, ijma’, atsar sahabat dan qiyas (analogi) yang telah kujelaskan maksudnya”.[18]

Imam Syafi’i berkata:

كُلُّ مُتَكَلِّمٍ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَهُوَ الْجِدُّ، وَمَا سِوَاهُمَا فَهُوَ هَذَيَانُ

Setiap orang yang berbicara berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah maka dia sungguh-sungguh. Adapun selain keduanya maka dia mengigau”.[19]

Imam Syafi’i berkata:

فَقَدْ جَعَلَ اللهُ الْحَقَّ فِيْ كِتَابِهِ, ثُمَّ سُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَّ

Sungguh Allah menjadikan Al-Haq (kebenaran) berada di dalam Al-Kitab dan Sunnah Nabi-Nya”.[20]

Imam Syafi’i berkata:

وَمَنْ قَالَ بِمَا تَقُوْلُ بِهِ جَمَاعَةُ الْمُسْلِمِيْنَ فَقَدْ لَزِمَ جَمَاعَتَهُمْ, وَمَنْ خَالَفَ مَا تَقُوْلُ بِهِ جَمَاعَةُ الْمُسْلِمِيْنَ فَقَدْ خَالَفَ جَمَاعَتَهُمْ الَّتِيْ أُمِرَ بِلُزُوْمِهَا, وَإِنَّمَا تَكُوْنُ الْغَفْلَةُ فِي الْفُرْقَةِ, فَأَمَّا الْجَمَاعَةُ فَلاَ يُمْكِنُ فِيْهَا كَافَةًّ غَفْلَةٌ عَنْ مَعْنَى كِتَابٍ وَلاَ سُنَّةٍ وَلاَ قِيَاسٍ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Barangsiapa berpendapat sesuai dengan jama’ah kaum muslimin maka berarti dia berpegang kepada jama’ah mereka, dan barangsiapa yang menyelisihi jama’ah kaum muslimin maka dia menyelisihi jama’ah yang dia diperintahkan untuk mengikutinya. Sesungguhnya kesalahan itu ada dalam perpecahan, adapaun jama’ah maka tidak mungkin semuanya bersatu menyelisihi al-Qur’an, Sunnah[21], dan qiyas insya Alloh”.[22]

Imam Syafi’i Mengagungkan Para Sahabat

Imam Syafi’i sangat mengagungkan pemahaman para sahabat, berhujjah dengan ucapan para sahabat, memuji para sahabat dan melarang keras dari mencela mereka. Berikut beberapa ucapan Imam Syafi’i:

Imam Syafi’i berkata:

مَا كَانَ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ مَوْجُوْدَيْنِ فَالْعُذْرُ عَمَّنْ سَمِعَهُمَا مَقْطُوْعٌ إِلاَّ بِاتِّبَاعِهِمَا, فَإِذَا لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ صِرْنَا إِلَى أَقَاوِيْلِ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَوْ وَاحِدٍ مِنْهُمْ, ثُمَّ كَانَ قَوْلُ الأَئِمَّةِ أَبِيْ بَكْرٍ أَوْ عُمَرَ أَوْ عُثْمَانَ

Bila Al-Qur’an dan sunnah maka bagi orang yang mendengar keduanya tidak ada udzur untuk tidak mengikutinya. Tetapi kalau tidak ada, maka kita mengambil ucapan para sahabat Rasulullah atau salah satu di antara mereka, kemudian ucapan para imam Abu Bakar, Umar dan Utsman”.[23]

Imam Syafi’i berkata:

وَقَدْ أَثْنَى اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ فِي الْقُرْآنِ وَالتَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيْلِ, وَسَبَقَ لَهُمْ عَلَى لِسَانِ رَسُوْلِ اللهِ مِنَ الْفَضْلِ مَا لَيْسَ لِأَحَدٍ بَعْدَهُمْ, فَرَحِمَهُمُ اللهُ وَهَنَّأَهُمْ بِمَا أَتَاهُمْ مِنْ ذَلِكَ بِبُلُوْغِ أَعْلَى مَنَازِلِ الصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ, أَدَّوْا إِلَيْنَا سُنَنَ رَسُوْلِ اللهِ وَشَاهَدُوْهُ وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ, فَعَلِمُوْا مَا أَرَادَ رَسُوْلُ اللهُ عَامًّا وَخَاصًّا وَعَزْمًا وَإِرْشَادًا, وَعَرَفُوْا مِنْ سُنَّتِهِ مَا عَرَفْنَا وَجَهِلْنَا, وَهُمْ فَوْقَنَا فِيْ كُلِّ عِلْمٍ وَاجْتِهَادٍ وَوَرَعٍ وَعَقْلٍ وَأَمْرٍ اسْتُدْرِكَ بِهِ عُلِمَ وَاسْتُنْبِطَ بِهِ وَآرَاؤُهُمْ لَنَا أَحْمَدُ وَأَوْلَى بِنَا مِنْ رَأْيِنَا عِنْدَ أَنْفُسِنَا

Sungguh Allah telah memuji para sahabat Rasulullah dalam Taurat dan Injil dan Allah memberikan lewat lisan rasulNya kepada mereka keutamaan-keutamaan yang tidak diperoleh oleh seorangpun setelah mereka, semoga Allah merahmati mereka dan memberikan keselamatan kepada mereka dengan apa yang Allah berikan kepada mereka itu untuk sampai ke tingkatan para shiddiqin (orang-orang jujur), para syahid dan para shalihin, mereka telah menyampaikan sunnah Rasulullah kepada kita, dan mereka menyaksikannya ketika wahyu turun kepada beliau, sehingga mereka mengetahui maksud Rasulullah berupa umum dan khusus, wajib dan sunnah, dan mereka mengetahui apa yang kita ketahui dan kita tidak ketahui, mereka lebih tinggi daripada kita dari segi amal, kesungguhan, waro’, akal dan perkara yang dikritik atau diambil dalil, pendapat-pendapat mereka lebih terpuji dan lebih utama bagi kita daripada pendapat kita sendiri”.[24]

Imam Syafi’i berkata menasehati muridnya Rabi’:

لاَ تَخُوْضَنَّ فِيْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ ، فَإِنَّ خَصْمَكَ النَّبِيُّ غَدًا

Janganlah engkau mencela para sahabat Nabi, karena musuhmu kelak adalah Rasulullah”.[25]

Beliau juga berkata:

مَا أَرَى النَّاسَ ابْتُلُوْا بِشَتْمِ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ إِلاَّ لِيَزِيْدَهُمُ اللهُ ثَوَابًا عِنْدَ انْقِطَاعِ عَمَلِهِمْ

Menurutku, tidaklah manusia diberi kesempatan untuk mencela para sahabat Nabi kecuali agar Allah menambah pahala mereka dengan celaan tersebut ketika amal mereka telah terputus”.[26]

Ketahuilah wahai saudaraku bahwa mencela sahabat Nabi beresiko besar karena mereka adalah perantara yang menyampaikan Al-Qur’an dan hadits Nabi kepada kita. Kalau seandainya mereka dicela, maka dasarnya Al-Qur’an dan haditspun tercela. Semoga Allah merahmati imam Abu Zur’ah yang telah mengatakan:

إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيْقٌ, وَذَلِكَ أَنَّ الرَّسُوْلَ عِنْدَنَا حَقٌّ وَالْقُرْآنَ حَقٌّ, وَإِنَّمَا أَدَّى إِلَيْنَا هَذَا الْقُرْآنَ وَالسُّنَنَ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ, وَإِنَّمَا يُرِيْدُوْنَ أَنْ يَجْرَحُوْا شُهُوْدَنَا لِيُبْطِلُوْا الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ, وَالْجَرْحُ بِهِمْ أَوْلَى وَهُمْ زَنَادِقَةٌ.

Apabila engkau mendapati orang yang mencela salah satu sahabat Nabi, maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang zindiq (munafiq). Hal itu karena rasulullah adalah benar dan Al-Qur’an juga benar menurut (prinsip) kita. Dan orang yang menyampaikan Al-Qur;an dan sunnah adalah para sahabat Nabi. Dan para pencela para saksi kita (sahabat) hanyalah bertujuan untuk menghancurkan Al-Qur’an dan sunnah. Mencela mereka lebih pantas. Mereka adalah orang-orang zindiq.[27]

Imam Syafi’i Termasuk Seorang Ahli Hadits

Tidak ragu lagi bahwa Imam Syafi’i termasuk golongan ahli hadits dan mencintai ahli hadits. Imam Syafi’i berkata:

عَلَيْكُمْ بِأَصْحَابِ الْحَدِيْثِ، فَإِنَّهُمْ أَكْثَرُ النَّاسِ صَوَابًا

Hendaknya kalian ikuti ashabul hadits karena mereka adalah golongan yang banyak benarnya”.[28]

Beliau juga berkata:

إِذَا رَأَيْتُ رَجُلاً مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيْثِ، فَكَأَنِّيْ رَأَيْتُ رَجُلاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، جَزَاهُمُ اللهُ خَيْرًا، هُمْ حَفِظُوْا لَنَا الأَصْلَ، فَلَهُمْ عَلَيْنَا الْفَضْلَ

Apabila saya melihat seorang dari ashabul hadits maka seakan-akan saya melihat seorang dari sahabat Nabi. Semoga Allah membalas kebaikan mereka, mereka telah menjaga hadits untuk kita, mereka telah berjasa untuk kita”.[29]

Imam Syafi’i Mendahulukan Dalil daripada Akal

Termasuk pokok-pokok Ahli sunnah wal Jama’ah adalah bahwa akal bukanlah pedoman untuk menetapkan hukum dan aqidah, namun patokannya adalah dalil yang bersumber dari al-Qur’an dan sunnah, adapun akal hanyalah alat untuk memahami.

Maka amatlah salah jika menjadikan akal sebagai hakim terhadap dalil Al-Qur’an dan hadits sebagaimana dilakukan oleh sebagian kalangan, sehingga benar Imam as-Sam’ani tatkala mengatakan: “Mereka menjadikan akal-akal mereka sebagai para penyeru kepada Alloh dan menjadikannya seperti Rosul di tengah-tengah mereka. Seandainya ada orang mengatakan: “Tiada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi kecuali Alloh dan akal adalah Rosulku”, niscaya hal itu bukanlah sesuatu yang salah bagi ahli kalam secara makna”.[30]

Inilah yang ditegaskan oleh Imam Syafi’i tatkala berkata:

إِنَّ لِلْعَقْلِ حَدَّا يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ كَمَا أَنَّ لِلْبَصَرِ حَدًّا يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ

Sesungguhnya akal itu memiliki batas sebagaimana pandangan mata juga memiliki batas”.[31]

Imam Nawawi berkata: “Madzhab kami dan madzhab seluruh Ahli Sunnah adalah bahwa hukum itu tidak ditetapkan kecuali dengan syari’at dan bahwa akal tidaklah menetapkan sesuatupun”.[32]

Masalah ini merupakan salah satu pembeda antara Ahli Sunnah wal Jama’ah dengan kelompok-kelompok sesat lainnya.  

Abul Mudhoffar as-Sam’ani berkata: “Perbedaan mendasar antara kita (ahli sunnah) dengan ahli bid’ah adalah dalam masalah akal, mereka membangun agama mereka di atas akal dan menjadikan dalil mengikut kepada akal. Adapun ahlu Sunnah berkata: Asal dalam agama adalah ittiba’ (mengikuti dalil), akal hanyalah mengikut. Seandainya asas agama ini adalah akal, tentunya makhluk tidak memerlukan wahyu dan Nabi, tidak ada artinya perintah dan larangan dan dia akan berbicara sesukanya. Seandainya dibangun di atas akal maka konsekwensinya adalah boleh bagi kaum mukminin untuk tidak menerima sesuatu sehingga menimbang dengan akal mereka terlebih dahulu”.[33]

Imam Syafi’i tidak beragama dengan ilmu kalam

Islam tidak membutuhkan ilmu kalam sama sekali karena ilmu ini hanyalah berisi kejahilan, kebingungan, kesesatan dan penyimpangan[34]. Hal ini telah diakui oleh para pakar ahli kalam yang telah lama mendalami ilmu ini.

Imamul Haromain al-Juwaini, beliau berkata: “Wahai sahabat-sahabatku, janganlah kami sibuk dengan ilmu kalam. Seandainya saya tahu bahwa hasil ilmu kalam adalah seperti yang menimpa diriku, niscaya saya tidak akan menyibukkan diri dengan ilmu kalam”.[35]

Imam al-Ghozali juga menjelaskan dampak buruk ilmu kalam secara jelas lalu berkata: “Mungkin nasehat seperti ini kalau seandainya engkau mendengarnya dari seorang ahli hadits atau ahli sunnah tentu terbetik dalam hatimu bahwa “manusia adalah musuh apa tidak mereka ketahui’. Namun dengarkanlah hal ini dari seorang yang menyelami ilmu kalam dan berkelana panjang sehingga sampai kepada puncaknya ahli kalam”.[36]

Demikian juga Fakhruddin ar-Rozi, pakar ahli kalam, beliau pernah mengatakan:

نِهَايَةُ إِقْدَامِ الْعُقُوْلِ عِقَالُ وَأَكْثَرُ سَعْيِ الْعَالمَِيْنَ ضَلاَلُ

وَأَرْوَاحُنَا فِيْ وَحْشَةٍ مِنْ جُسُوْمِنَا وَغَايَةُ دُنْيَانَا أَذَى وَوَبَالُ

وَلَمْ نَسْتَفِدْ مِنْ بَحْثِنَا طُوْلَ عُمْرِنَا سِوَى أَنْ جَمَعْنَا فِيْهِ قِيْلَ وَقَالُوْا

Akhir dari mengedepankan akal hanyalah kemandegan
Kebanyakan usaha manusia adalah kesesatan
Ruh yang ada di badan kami selalu dalam kegundahan
Ujung dari dunia kami adalah kemurkaan
Kami tidak memetik hasil apa pun sepanjang umur
Selain hanya mengumpulkan kabar burung.[37]

Oleh karena itulah para ulama telah mengingatkan kepada kita agar waspada dan menjauhi ilmu ini sejauh-jauhnya[38]. Di antara deretan para ulama tersebut adalah Imam Syafi’i.[39]

Imam adz-Dzahabi berkata: “Telah mutawatir dari Imam Syafi’i bahwa beliau mencela ilmu kalam dan ahli kalam. Beliau adalah seorang yang semangat dalam mengikuti atsar (sunnah) baik dalam masalah aqidah atau hukum fiqih”.[40]

Ucapan Imam Syafi’i begitu banyak, di antaranya:

الْعِلْمُ بِالْكَلاَمِ جَهْلٌ

Mempelajari ilmu kalam adalah kejahilan (kebodohan)”.[41]

Beliau juga berkata:



حُكْمِيْ فِيْ أَهْلِ الْكَلاَمِ أَنْ يُضْرَبُوْا بِالْجَرِيْدِ، وَيُحْمَلُوْا عَلَى الإِبِلْ، وَيُطَافُ بِهِمْ فِي الْعَشَائِرِ، يُنَادَى عَلَيْهِمْ : هَذَا جَزَاءُ مَنْ تَرَكَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَأَقْبَلَ عَلَى الْكَلاَمِ

Hukumanku bagi ahli kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, dan dinaikkan di atas unta, kemudian dia kelilingkan ke kampung seraya dikatakan pada khayalak: Inilah hukuman bagi orang yang berpaling dari Al-Qur’an dan sunnah lalu menuju ilmu kalam/filsafat.”[42]

Imam as-Sam’ani berkata setelah membawakan ucapan-ucapan seperti ini: “Inilah ucapan Imam Syafi’i tentang celaan ilmu kalam dan anjuran untuk mengikuti sunnah. Dialah imam yang tidak diperdebatkan dan terkalahkan”.[43].

Dan simaklah kisah menarik berikut yang dituturkan oleh muridnya, al-Muzani, katanya: “Bila ada seorang yang berjasa mengeluarkan apa yang melekat dalam pikiran dan hatiku tentang masalah tauhid maka Syafi’i adalah orangnya. Saya pernah datang kepadanya ketika beliau berada di Masjid. Tatkala saya berada di depannya, beliau mengatakan: “Ada suatu hal yang mengganjal dalam hatiku tentang masalah tauhid dan saya tahu bahwa tidak ada seorang yang berilmu sepertimu? Beliau akhirnya marah seraya mengatakan: Tahukah kamu di mana kamu sekarang? Saya menjawab: Ya. Beliau berkata: Ini adalah tempat Allah menenggelamkan Fir’aun, apakah rasulullah memerintahkan untuk bertanya tentang hal itu? Saya jawab: Tidak. Beliau bertanya lagi: Apakah para sahabat membicarakan hal itu? Saya jawab: Tidak. Beliau bertanya: Tahukah kamu berapa jumlah bintang di langit dan dari apa dia diciptakan? Saya jawab: Tidak. Beliau mengatakan: Suatu benda yang dapat kamu lihat dengan matamu saja kamu tidak mengetahui lantas kenapa kamu akan berbicara tentang ilmu penciptaNya? Kemudian dia bertanya lagi kepada masalah wudhu lalu saya salah, kemudian beliau memerincinya menjadi empat cabang masalah dan sayapun salah semua dalam menjawab, lalu beliau berkata: Suatu ibadah yang kamu butuhkan lima kali dalam sehari saja kamu belum mengilmuinya tetapi kamu ingin menyusahkan diri mempelajari ilmu Allah. Apabila terbesit lagi hal itu dalam hatimu maka ingatlah firman Allah:

وَإِلَـهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Al-Baqoroh: 163-164)

Maka jadikanlah makhluk sebagai bukti tentang Sang Kholiq (Pencipta) dan janganlah engkau memberatkan diri apa yang tidak dijangkau oleh akalmu”.[44]

Kesimpulan:

Dengan penjelasan beberapa point di atas, dapat kita ketahui bahwa Imam Syafi’i meniti metode salaf dalam beragama, beliau bersandar pada Al-Qur’an, hadits shahih dan ijma’ ulama sesuai dengan pemahaman para sahabat dan ahli hadits, para salaf shalih, dan beliau dalam beragama tidak berpedoman kepada akal dan ilmu kalam/filsafat. Wallahu A’lam.


Oleh       : Al-Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.
Sumber : Makalah Dauroh Akbar Medan 2011 di http://www.kajianonlinemedan.com
Publish  : http://abangdani.wordpress.com

[1] Lihat: “Manaazil al aimmah al arba’ah”, Abu Zakariyah Yahya Bin Ibrahim As Salmaasi asy Syafi’i (hal: 54-55).

[2] Fushul min kiatab “Al intishoor li ashhaabil hadits” (hal:46) dan lihat: “Al hujjah fi bayanil mahajjah” (2/224-225).

[3] “Manaaqib Syafi’i”, Al Baihaqi (1/462).

[4] “Majmu’ fatawa” (5/256-257).

[5] Sebagaimana yang beliau katakan dalam kitabnya yang bagus : “Al Fushuul fil ushuul ‘an al aimmah al fuhuul ilzaaman lizawil bida’ wal fudhuul”, di nukil oleh Ibnu Taimiyah dalam : “Majmu’ Fatawa” (4/177).

[6] Fushul min kitab “an intishaar li ashhaabil hadits” (hal: 9).

[7] Majmu’ fatawa (28/178).

[8] “Kasyful kurbah fi washfi ahlil gurbah” (hal: 18-20).

[9] Imam Ibnu Qoyyim berkata: “Dan kedua kitabnya merupakan kitab yang sangat bagus dan bermanfaat tentang sunnah, dan mesti bagi setiap orang yang mencari sunnah yang tujuannya ingin mengetahui apa yang diikuti (diyakini) oleh para shahabat, tabi’in dan para imam (sunnah), hendaklah ia membaca kedua kitab tersebut, dan dahulunya Syekhul islam (Ibnu Taimiyah) selalu mewasitkan dengan serius (kepada murid muridnya) dengan kedua kitab tersebut, dan beliau sangat mengagungkannya, dan dalam kitab tersebut terdapat penjelasan (pemaparan) tentang tauhid asma’ dan sifat dengan logika dan dalil yang tidak didapatkan hal itu pada (kitab) selainya”. “Ijtima’ al juyusy al islamiyah” (hal: 231).

[10] Lihat: “At Tahbiir” karangan As Sam’aani (1/254) dan “Taarikh tadwiin al aqidah as salafiyyah” (hal: 98).

[11] “Tarikh bagdaad” (13/276) lihat juga: “Al Ansaab” karangan As Sam’ani (5/207) dan “Taarikh tadwiin al aqidah as salafiyyah” (hal: 101).

[12] Lihat: “Majmu’ fatawa” Syeikhul islam Ibnu Taimiyah (4/175-177).

[13] Lihat : “Thabaqaat asy Syafi’iyyah” karang Al Asnawi (1/170).

[14] Al-Haidah wal I’tidzarr fir Raddi ‘ala Man Qoola Bikholqil Qur’an hlm. 32.

[15] Risalah Tabukiyyah hlm. 47.

[16] Ayat ini dijadikan dalil oleh Imam Syafi’i tentang hujjahnya ijma’ ulama, sebagaimana dalam kisah yang panjang. (Lihat Manaqib Imam Syafi’i hlm. 83 oleh al-Aburri, Thobaqot Syafi’iyyah 2/243 oleh Ibnu Subki, Siyar A’lam Nubala’ 3/3295 oleh adz-Dzahabi).

[17] HR. al-Hakim dalam al-Mustadrok 1/116, al-Baihaqi dalam Asma’ wa Shifat no. 702. Hadits ini memilki penguat yang banyak. Al-Hafizh as-Sakhowi berkata dalam al-Maqoshidul Hasanah hlm. 460: “Kesimpulannya, hadits ini masyhur matan-nya, memiliki sanad yang banyak, dan penguat yang banyak juga”. Syaikh al-Albani juga menshohihkan dalam As-Shohihah: 1331 dan Shohihul Jami’: 1848

[18] Ar-Risalah hlm. 508.

[19] Tawali Ta’sis hlm. 110 oleh Ibnu Hajar.

[20] Al-Umm 7/298.

[21] Al-Amidi berkata dalam al-Ihkam 1/342: “Semua bersepakat bahwa umat tidak akan bersepakat terhadap suatu hukum melainkan berlandaskan pada pedoman dan dalil”.

[22] Ar-Risalah hlm. 475-476.

[23] Al-Umm 7/265. Lihat pula Ar-Risalah hlm. 596-598.

[24] Ucapan Imam Syafi’i dalam Risalah Baghdadiyyah yang diriwayatkan oleh Hasan bin Muhammad az-Za’faroni, sebagaimana dinukil oleh al-Baihaqi dalam Manaqib Syafi’i 1/442 dan Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah dalam I’lamul Muwaqqi’in 1/30-31 –Tahqiq Syaikh Masyhur Hasan-.

[25] Siyar A’lam Nubala 3/3283 oleh adz-Dzahabi.

[26] Manaqib Imam Syafi’i hlm. 120 oleh al-Aburri dan Manaqib Syafi’i 1/441 oleh al-Baihaaqi.

[27] Al-Kifayah fi Ilmi Riwayah hal. 48 oleh Al-Khathib Al-Baghdadi.

[28] Tawali Ta’sis hlm. 110 oleh Ibnu Hajar.

[29] Manaqib Syafi’i 1/477 oleh al-Baihaqi dan Siyar A’lam Nubala’ 3/3289 oleh adz-Dzahabi.

[30] Al-Intishor Li Ashabil Hadits hlm. 77-78.

[31] Adab Syafi’i hlm. 271 oleh Ibnu Abi Hatim, Tawali Ta’sis hlm. 134 oleh Ibnu Hajar.

[32] Al-Majmu’ 1/263.

[33] Al-Intishor Li Ashabil Hadits hlm. 81-82.

[34] Lihat tulisan al-Ustadz Armen Halim Naro “Filsafat Islam Konspirasi Keji” yang dimuat dalam Majalah Al Furqon edisi 2 Tahun 6 rubrik aqidah.

[35] Al-Mantsur Minal Hikayat was Sualat hlm. 51 oleh Al-Hafizh Muhammad bin Thohir al-Maqdisi.

[36] Ihya’ Ulumuddin 1/97.

[37] Lihat Dar`u Ta’arudh al-’Aql wan Naql 1/159-160 oleh Ibnu Taimiyah, Thabaqat asy-Syafi’iyah 2/82 oleh Ibnu Qadhi Syuhbah.

[38] Al-Hafizh as-Suyuthi menyebutkan tiga alasan di balik larangan ulama salaf untuk mempelajari ilmu kalam: Pertama: Ilmu kalam merupakan faktor penyebab kebid’ahan. Kedua: Ilmu ini tidak pernah diajarkan oleh Al-Qur’an dan hadits serta ulama salaf. Ketiga: Merupakan sebab meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah. (Lihat Shonul Manthiq hlm. 15-33).

[39] Lihat tentang peringatan para ulama tentang ilmu kalam dan ahli kalam secara panjang dalam kitab Dzammul Kalam wa Ahlihi oleh Imam al-Harowi dan Shounul Mantiq oleh al-Hafizh as-Suyuthi.

[40] Mukhtashor Al-Uluw hlm. 177.

[41] Hilyatul Auliya’ 9/111.

[42] Manaqib Syafi’i al-Baihaqi 1/462, Tawali Ta’sis Ibnu Hajar hal. 111, Syaraf Ashabil Hadits al-Khathib al-Baghdadi hal. 143. Imam adz-Dzahabi berkata dalam Siyar A’lam Nubala’ 3/3283: “Ucapan ini mungkin mutawatir dari Imam Syafi’i”.

[43] Al-Intishor li Ashabil Hadits hlm. 8.

[44] Siyar A’lam Nubala’ 3/3283 oleh adz-Dzahabi.

Posted By Minang Sunnah10:20 AM