Selasa, 29 November 2011

Ilmu Seputar Hukum Aborsi

Filled under:

Sebagian orang yang telah mengikuti program KB, akan merasa kecolongan kalau ternyata Alloh Ta’ala mentaqdirkan dia hamil lagi. Bagi orang-orang yang meyakini bahwa ini semua adalah ketentuan dan ketetapan dari Alloh Yang Maha Kuasa akan menerima semuanya dengan tawakkal yang penuh pada Nya, namun sebaliknya bagi yang tidak terlalu memperdulikan halal dan haram, mungkin akan ditempuh jalan pintas untuk tetap tidak memiliki anak kecuali menurut rencana yang sudah terprogam dengan baik –dalam anggapannya-, yaitu dengan cara melakukan tindakan aborsi alias menggugurkan kandungan.
Ditambah lagi dengan maraknya praktek aborsi seiring dengan semakin meraja lelanya perzinaan wal’iyadzu Billah, hanya sekedar menutupi aib mereka tega untuk membunuh seorang bayi yang suci tanpa dosa. Bagaimanakah pandangan syariat islam yang suci menghadapi masalah ini ?
Kita mohon pada Alloh Ta’ala semoga tetap menjaga hati dak perbuatan kita dari segala tipu daya syaithon.

Kehidupan Janin dalam Perut Ibu
Dalam perut sang ibu, janin anak manusia mengalami empat fase, yaitu :
  • Fase masih berupa air mani ( نطفة)
  • Fase berupa gumpalan darah (علقة)
  • Fase berupa gumpalan daging(مضغة)
  • Fase ditiupkan padanya ruh
Keempat fase ini disebutkan oleh Alloh dalam firman Nya :
Wahai sekalian manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka ketahuilah sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah , kemudian dari setetes air mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging yang sempurna kejadiannya atau tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan , kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi.”(QS. Al Haj : 5)
Juga disebutkan oleh Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam :

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : حدثنا رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو الصادق المصدوق أن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم يكون علقة مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح و يؤمر بأربع كلمات بكتب رزقه و أجله وعمله وشقي أو سعيد

Dari Abdulloh bin Mas’ud berkata : Rosululloh menghabarkan kepadaku –dan beliau adalah seseorang yang jujur lagi terpercaya- : “Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai air mani, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian akan diutus kepadanya seorang malaikat yang akan meniupkan ruh padanya, dan dia diperintahkan untuk melakukan empat perkara yaitu : menulis rizqinya, ajalnya, amalnya serta apakah dia nanti sengsara ataukah bahagia.”(HR. Bukhori Muslim)

Hukum menggugurkan kandungan.
Menggugurkan kandungan ada dua macam :

I. PERTAMA >>> Menggugurkan kandungan kalau tidak bertujuan untuk membunuh janin yang masih dalam perut ibu, seperti mengeluarkan janin dengan paksa bila sudah mencapai umur kelahiran namun tetap tidak keluar, maka hal ini diperbolehkan dengan dua syarat :

A.Tidak membahayakan ibu maupun anak. Berdasarkan kaedah umum yang disebutkan oleh Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam dalan sabda beliau :
لا ضرر و لا ضرا ر
Tidak boleh berbuat yang membahayakan diri maupun orang lain.”
(HR. Ahmad 5/326, Ibnu Majah 2340, Baihaqi 11166 dengan sanad hasan)

B.Mendapatkan izin dari suami.
(Lihat Risalah Fid Dima’ oleh Syaikh Muhammad Al Utsaimin hal : 60)
Hal ini kalau mengeluarkan paksa janin tersebut tanpa melalui operasi, semacam kalau dengan cara menelan pil pendorong bayi keluar atau lainnya.
Adapun kalau lewat operasi semacam operasi cesar atau operasi lainnya, maka hukumnya harus diperinci. Berkata Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin : “Kalau sampai operasi, maka ada empat kemungkinan hukum, yaitu :
  1. Kondisi ibu dan anak masih hidup. Dalam kondisi ini tidak boleh dilakukan operasi , kecuali ada keperluan yang sangat mendesak, seperti kesusahan dalam melahirkan anak yang mengharuskan untuk operasi. Hal ini karena tubuh merupakan amanat dari Alloh yang tidak boleh diperlakukan dengan semaunya kecuali untuk maslahat yang lebih besar.
  2. Kondisi ibu dan anak meninggal dunia. Dalam kondisi ini tidak boleh dilakukan operasi karena tidak ada fungsinya.
  3. Kondisi ibu masih hidup dan anak sudah meninggal. Dalam kondisi ini diperbolehkan operasi untuk mengeluarkan bayi, kecuali apabila dikhawatirkan terjadi sesuatu yang membahayakan ibunya. Alasannya, apabila bayi sudah meninggal dalam perut ibunya biasanya tidak akan bisa keluar kecuali melalui operasi 1. sedangkan menetapnya tubuh bayi yang sudah meninggal dalam perut ibunya akan menghalanginya untuk bisa hamil lagi dikemudian hari.
  4. Kondisi ibu sudah meninggal dan bayi masih hidup. Kondisi ini, jika nyawa bayi itu tidak mungkin bisa diselamatkan maka tidak boleh dioperasi., namun apabila masih bisa diharapkan kelanjutan hidupnya, maka jika sebagian tubuh bayi sudah keluar maka boleh membedah tubuh ibunya untuk mengeluarkan sebagiannya lagi yang masih tertinggal, tapi apabila tubuh bayi belum ada yang keluar, sebagian ulama’ Hanabilah menyebutkan bahwa tidak boleh membedah perut ibunya untuk mengeluarkan bayi, karena ini adalah bentuk pencincangan. Namun pendapat yang benar diperbolehkan membedah perut ibunya jika memang tidak bisa diakukan cara lain. Terutama sekali pada zaman ini opeasi bedah bukanlah suatu bentuk pencincangan tubuh, karena nanti setelah dioperasi dijahit kembali, juga karena kehormatan orang yang masih hidup lebih utama daripada kehormatan orang yang sudah meninggal, serta menolong bayi yang merupakan jiwa yang ma’shum dari kebinasaan adalah sebuah kewajiban. (Lihat Risalah Fid Dima’ hal : 61 dengan ringkas, Fatwa-fatwa tentang wanita 3/243.lihat kembali hukum otopsi pada edisi lalu)
II. KEDUA >> Menggugurkan kandungan yang bertujuan untuk membunuh janin bayi
Adapun kalau aborsi itu bertujuan untuk membunuh bayi, maka ada dua kemungkinan :

Pertama. Kalau bayi itu sudah berumur 120 hari, dalam artian sudah ditiupkan ruh kepadanya, berdasarkan hadits Abduloh bin Mas’ud diatas, maka hukum menggugurkannya haram. Karena itu berarti membunuh jiwa yang ma’shum yang hal itu diharamkan berdasarkan Al qur’an, As Sunnah serta kesepakatan ummat islam. Alloh Ta’ala berfirman :
Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka jahannam, kekal ia didalamnya dan Alloh murka kepadanya dan mengutuknya serta menyediakan adzab yang besar baginya.” (QS. An Nisa’ : 93) (Lihat Fatwa-fatwa tentang wanita 3/242)

Kedua.Kalau janin itu belum berumur 120 hari, maka para ulama’ berselisih pendapat mengenai boleh tidaknya menggugurkan kandungan tersebut.
Khilaf ini berangkat dari permasalahan kapan kandungan seorang wanita itu disebut janin ?
  • Sebagian ulama’ Hanafiyah, jumhur Malikiyah, Imam Al Ghozali dan Ibnul Amad dari kalangan Syafi’iyah, Ibnul Jauzi dari ulama’ hanabilah dan Dhohiriyah mengatakan bahwa haram menggugurkan kandungan meskipun masih di hari-hari pertama kandungan dan kandungan masih berupa air mani.
  • Sebagian ulama’ Malikiyah dan sebuah riwayat dari madzhab Syafi’iyah mengatakan dibencinya aborsi saat kandungan masih berupa air mani dan haram kalau sudah berupa segumpal darah
  • Sebagian Malikiyah dan pendapat yang rajih dalam madzhab Hambali mengatakan dibolehkannya menggugurkan saat fase air mani tapi kalau sudah berupa segumpal darah hukumnya haram.
  • Sebagian ulama’ Syafi’iyah mengatakan dibolehkan menggugurkan pada fase air mani dan segumpal darah namun haram pada fase segumpal daging.
  • Terakhir, Madzhab Hanafiyah mengatakan dibolehkannya mengugurkan kandungan selagi belum ditiupkan ruh padanya.
(Lihat Mukhtashor Al Um oleh Imam Al Muzani 8/249, Mughnil Muhtaj 3/103, Syarah Al kabir oleh Imam Ad Dirdir dengan Hasyiyah Dasuqi 4/268, Al Mughni Imam Ibnu Qudamah 7.802, Ad Durrul Mukhtar Ibnu Abidin 6/590, Al Muhalla Imam Ibnu Hazm 11/31, Al Mufashol Fi Ahkamil Mar’ah Syaikh Abdul Karim Zaidan 5/383)

Pendapat yang rajih
Setiap kali kita mengahadapi khilaf diantara para ulama, maka kita harus mengembalikan semuanya pada firman Alloh Ta’ala :
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu , maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Qur’an) dan Rosul (sunnahnya ).” (QS. An Nisa’ : 59)
dengan tetap menjaga adab dan kehormatan kita pada seluruh para ulama’ ummat islam (Lihat Kitab Rof’ul Malam Anil A’immatil A’lam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)
Pendapat yang paling rajih dalam masalah ini adalah madzhab pertama yang mengatakan bahwa pada dasarnya dilarang menggugurkan kandungan meskipun baru pada fase pertama dan masih di hari-hari awal kehamilan, kecuali untuk suatu kebutuhan yang sangat mendesak semacam kalau tidak digugurkan akan mengancam nyawa ibunya berdasarkan keterangan dokter yang tsiqoh. karena beberapa hal, diantaranya :
  • Air mani apabila sudah bertemu dengan sel telur kalau dibiarkan terus maka dengan taqdir dari Alloh, ia akan menjadi bayi yang terjaga kehormatannya dan haram dibunuh.
  • Tujuan dari pernikahan adalah untuk memperoleh keturunan, maka pengguguran kandungan menyelisihi tujuan nikah yang mulia ini.
  • Kalau ‘azl disebutkan oleh Rosululloh sebagai penguburan anak wanita hidup-hidup yang tersembunyi, padahal azl cuma menghalangi jalan bertemunya air mani dengan sel telur, maka bagaimana dengan menggugurkan kandungan saat keduanya sudah bertemu ?
(Lihat Al Mufashol Fi Ahkamil Mar’ah 5/407, Ahkamun Nisa’ oleh Imam Ibnul Jauzi hal : 108, Tanbihat Syaikh Al Fauzan hal : 35)

Hukuman bagi pelaku aborsi

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : أن امرأتين من هذيل رمت إحداهما الأخرى فطرحت جنينها , فقضى رسول الله صلى الله عليه و سلم فيها بغرة عبد أو أمة

Dari Abu Huroiroh berkata : “Sesungguhnya ada dua wanita dari Bani Hudzail, salah satu dari keduanya melempar lainnya sehingga gugur kandungannya. Maka Rosululloh memutuskan harus membayar diyat sebesar seorang budak laki-laki atau budak wanita.’(HR. Bukhori 12/247 dan Muslim 11/175)

عن عمر بن الخطا ب أنه استشارهم في إملاص المرأة , فقال المغيرة : قضى رسول الله صلى الله عليه و سلم بالغرة عبدا أو أمة

Dari Umar bin Khothob, bahwasannya beliau meminta pendapat para sahabat tentang wanita yang menggugurkan kandungannya. Maka Mughiroh bin Syu’bah berkata : “Rosululloh menghukumi dengan membayar seorang budak laki-laki atau wanita.”(HR. Bukhori 12/247 dan Muslim 11/179)

Dua hadits ini serta hadits-hadits yang senada memberikan faedah hukum, diantaranya :
1. Menggugurkan janin hukumnya haram
2. Menggugurkan kandungan termasuk dosa besar, karena Rosulloh menyebutkan hukumannya di dunia
3. Bagi yang menggugurkan kandungan wajib membayar denda seorang budak laki-laki atau budak wanita
4. Kalau tidak ada budak seperti dizaman sekarang ini, maka wajib membayar sepersepuluh diyat ibunya yaitu lima ekor unta atau lima puluh dinar. 2
  • Selain membayar denda ini, wajib bagi ibu yang mengugurkan kandungannya untuk membayar kaffaroh, karena tindakan aborsi ini termasuk pembunuhan jiwa tanpa cara yang benar. Dan ini adalah pendapat jumhur para ulama’ diantaranya Imam Syaf’I, Malik, Ahmad, Ibnu Hazm dal lainnya. Bahkan Imam Ibnul Mundzir berkata : “Seluruh para ulama’ yang kami ketahui mewajibkan membayar kaffaroh disamping harus membayar diyat.” (Lihat Al Mughni Imam Ibnu Qudamah 7/815, Al Muhalla Ibnu Hazm 11/30)
  • Adapun kaffarohnya adalah memerdekakan budak muslim, dan kalau tidak mampu wajib puasa dua bulan berturut-turut, dan kalau tidak mampu memberi makan enam puluh orang miskin dalam pendapat sebagian para ulama’. (Lihat Al Mufashol fi Ahkamil Mar’ah 5/412) sebagaimana disebutkan Alloh Ta’ala dalam firman Nya (yang artinya):
Dan tidak layak bagi seorang mu’min membunuh seorang mu’min (yang lain) kecuali karena salah (tidak sengaja), dan barang siapa membunuh seorang mu’min karena tersalah hendaklah dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat.”
Selanjutnya Alloh berfirman (yang artinya) :
Dan barang siapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia berpuasa dua bulan berturut-turut .”(QS. An Nisa’ : 92)

Fatwa Ulama seputar aborsi 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang wanita yang sengaja menggugurkan kandungannya dengan dipukul atau minum obat-obatan ?
Jawab :Wajib baginya membayar Ghurroh (Budak baik laki-laki maupun wanita) berdasarkan Sunnah Rosululloh dan kesepakatan kaum muslimin. Budak ini dimiliki oleh ahli waris janin selain ibunya, kalau dia memiliki ayah maka budak itu menjadi miliknya, namun jika ayahnya membebaskan si ibu dari denda itu maka itu hak dia. Harga dari seorang budak adalah sepersepuluh diyat atau lima puluh dinar. Dalam pandangan jumhur ulama’ juga wajib baginya untuk memerdekakan seorang budak, apabila tidak mampu maka harus berpuasa dua bulan berturut-turut dan apabila juga tidak mampu maka wajib untuk memberi makan eman puluh orang miskin.” (Lihat Majmu’Fatawa 34/161)

Syaikh Muhammad Al Utsaimin berkata setelah mengisyaratkan adanya khilaf diatas : “Yang lebih selamat, adalah melarang untuk menggugurkannya kecuali jika ada keperluan yang sangat mendesak, seperti jika wanita sakit yang tidak bisa menanggung kehamilan dan sejenisnya. Dalam kondisi ini boleh menggugurkannya sebelum sampai pada fase terbentuknya tubuh manusia.” (Fatwa-fatwa tentang wanita 3/243)

Syaikh Sholih Al Fauzan di tanya tentang hukum menggugurkan kandungan ?
Jawab :
Praktek aborsi yang sering terjadi pada zaman kita ini termasuk perbuatan haram. Bila bayi sudah ditiupkan ruh ke tubunya dan meninggal karena digugurkan, perbuatan ini termasuk pembunuhan terhadap jiwa yang diharamkan Aloh untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar, yang konsekwensinya harus menanggung hukum kriminalitas. Yaitu membayar diyat yang besarnya sesuai dengan aturan perinciannya. Juga menurut sebagian ulama’ wajib baginya membayar kaffaroh yaitu dengan memerdekakan budak mu’min, bila tidak ada diganti dengan berpuasa dua bulan berturut-turut. Sebagian para ulama’ menyebut perbuatan ini dengan penguburan bayi hidup-hidup secara tersembunyi.

Syaikh Muhammad bin Ibrahim berkata dalam majmu’ fatawa 11/151 : “Usaha untuk menggugurkan kandungan tidak diperbolehkan sebelum ada kejelasan tentang kematian bayi. Apabila telah jelas kematian bayi tersebut, maka diperbolehkan.” (Tanbihat Ala Ahkam Takhtashu bil Mu’minat hal : 36)

Majlis Hai’ah kibarul Ulama’ Arab Saudi dalam keputusannya no 140 tanggal 20/6/1407 H menyebutkan sebagai berikut :
  1. Tidak diperbolehkan menggugurkan kandungan dalam berbagai fasenya kecuali dengan alasan syar’I dan dalam batas-batas yang ketat sekali.
  2. Bila usia kehamilan masih dalam fase pertama, yaitu sampai umur empat puluh hari, dan terdapat maslahah syar’iyah dalam menggugurkannya atau untuk mencegah adanya kemudlorotan, maka boleh menggugurkannya. Tapi mengugurkan dalam fase ini bila dengan alasan takut bisa mendidik bayinya nanti atau takut tidak mampu menanggung biaya kehidupannya dan biaya pendidikannya, khawatir tentang masa depannya, atau sudah merasa cukup punya anak maka tidak diperbolehkan menggugurkan kandungan dengan alasan diatas.
  3. Tidak boleh menggugurkan kandungan jika sudah berbentuk gumpalan darah atau daging hingga ada keterangan jelas dari para dokter yang dapat dipercaya bahwa membiarkan kehamilan akan membahayakan jiwa ibunya, seperti kematiannya. Dalam kondisi ini boleh menggugurkan kandungan setelah berupaya dengan segala cara untuk menghindari bahaya yang mungkin terjadi atas ibunya.
  4. Setelah fase ketiga dan setelah empat bulan tidak bole menggugurkan kandungan sampai sejumlah dokter spesialis yang bisa dipercaya menyebukan bahwa membarkan janin dalam perut ibunya bisa menyebabkan kematian sang ibu, setelah berupaya dengan segala cara untuk menghindari bahaya yang mungkin terjadi atas ibunya. Diperbolehkan menggugurkan dengan berbagai syarat tersebut bertujuan untukmencegah terjadinya bahaya yang lebih besar dan upaya untuk mendapatkan maslahah yang lebih besar. (Fatwa-fatwa tentang wanita 3/245)
Penutup

Akhirnya, kita mohon pada Alloh Ta’ala semoga meneguhkan hati kita pada keimananan. Adapun kesimpulan dari pembahasan ini adalah :
  1. Janin dalam perut ibu mengalami empat fase kehidupan
  2. Mengeluarkan paksa kandungan kalau tujuannya bukan untuk membunuh bayi, maka diperbolehkan dengan syarat tidak membahayakan ibu maupun bayi serta mendapat izin dari suami.
  3. Kalau tujuannya untuk membunuh bayi, maka jika bayi itu sudah ditiupkan ruh padanya, haram menggugurkannya dengan kesepakatan ulama’
  4. Adapun jika belum mencapai umur tersebut para ulama’ berselisih madzhab. Yang rajih adalah terlarang kecuali kalau meneruskan kandungan itu akan membahayakan nyawa si ibu.
  5. Bagi yang melakukan aborsi wajib membayar denda yaitu seorang budak atau lima ekor unta atau lima puluh dinar
  6. Di samping itu juga harus membayar kaffaroh dengan perincian diatas.
Wallahu A’lam.
posting oleh:  Novi effendi blog
sumber artikel:  http://ahmadsabiq.com 

1 Namun saat ini alhamdulillah secara medis bisa mengeluarkan janin yang meninggal diperut ibu tanpa operasi. Akan tetapi kalau dalam keadaan tertentu tidak bisa, maka hukumnya kembali pada apa yang dikatakan oleh Syaikh –pent.
2 Para ulama’ sepakat bahwa diyat wanita adalah separoh diyat laki-laki, berarti diyat wanita adalah lima puluh ekor unta. (lihat Al Ijma’ Imam Ibnul Mundzir hal : 72, Maratibil Ijma’ Imam Ibnu Hazm hal : 140) Adapun ukuran dinar adalah 4,25 gr emas murni (Lihat kembali masalah zakat dalam Al Furqon 3/8)

Posted By Minang Sunnah10:30 AM

Rabu, 23 November 2011

Minhajussunnah: Menyikapi Pembunuhan Al Husein

Filled under:

Menyikapi Peristiwa Karbala

Minhajussunnah IV/553-556

Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan;

“Dalam menyikapi peristiwa pembunuhan Husain radhiyallahu ‘anhu, manusia terbagi menjadi tiga golongan, dua golongan dan satu berada di tengah-tengah.

Golongan Pertama: Mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu itu merupakan tindakan benar. Karena Husain radhiyallahu ‘anhu ingin memecah-belah Jamaah kaum Muslimin.Telah Tsabit dalam As Sohih Dari Rasulullah shallalahu Alaihi Wasallam bahwasanya ia bersabda:

“Jika ada orang yang mendatangi kalian dalam keadaan urusan kalian berada dalam satu pemimpin lalu pendatang hendak memecah-belah jama’ah kalian, maka bunuhlah dia.”[1]

Kelompok pertama ini mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu datang saat urusan kaum Muslimin berada dibawah satu pemimpin (Yazid bin Muawiyah,red) dan Husain radhiyallahu ‘anhu hendak memecah-belah umat. Mereka mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu merupakan orang pertama yang memberontak kepada penguasa didalam Islam

Golongan Kedua: Mereka mengatakan Husain radhiyallahu ‘anhu adalah imam yang wajib ditaati; tidak boleh menjalankan perkara-perkara keimanan tanpa perintahnya; tidak boleh melakukan shalat jama’ah dan kecuali dibelakang orang yang ditunjuknya; dan tidak boleh berjihad melawan musuh kecuali dengan izinnya dan lain sebagainya.[2]

Golongan Ketiga: Yaitu Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah yang tidak sejalan dengan pendapat golongan pertama maupun kedua. Mereka mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan syahid dan beliau bukanlah seorang imam (pemimpin kaum Muslimin) karena memang peristiwa yang terjadi tidak seperti itu.

Ketika sampai kabar kepadanya tentang (terbunuhnya,red) –anak pamannya- Muslim bin Aqil ia tidak jadi meminta baiat (dari penduduk irak, red), tapi meminta untuk dihadapkan kepada –anak Pamannya- Yazid[3] , kedaerah perbatasan, atau dikembalikan ke negerinya. Namun mereka tidak memenuhinya dan penduduk irak memintanya untuk membela mereka, namun itu tidak wajib baginya

Bid’ah-bid’ah setelah Pembunuhan Husein


Syaikhul-Islam mengatakan:

Dengan sebab kematian Husain radhiyallahu ‘anhu, setan memunculkan dua bid’ah di tengah manusia[4].

Bid’ah kesedihan dan ratapan para hari ‘Asyûra seperti menampar-nampar, berteriak, merobek-robek, sampai-sampai mencaci-maki dan melaknat generasi Salaf, memasukkan orang-orang yang tidak berdosa ke dalam golongan orang yang berdosa[5] Mereka sampai mereka berani mencaci Sâbiqûnal-awwalûn. Kemudian riwayat-riwayat tentang Husain radhiyallahu ‘anhu dibacakan yang kebanyakan merupakan kebohongan. Karena tujuan mereka adalah membuka pintu fitnah dan perpecahan di tengah umat. Acara-acara tersebut tidak Wajib apalagi dianjurkan dengan kesepakatan kaum Muslimin, Bahkan Menghidupkan bid’ah kegelisahan dan meratapi musibah-musibah yang telah berlalu termasuk sesuatu yang paling diharamkan oleh Allah dan Rasulnya, begitu juga senang dan berbahagia (atas kematian Husein, red)

Di Kufah, saat itu terdapat kaum yang senantiasa membela Husain radhiyallahu ‘anhu yang dipimpin oleh Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid al-Kadzdzâb (karena dia mengaku mendapatkan wahyu,red). Di Kufah juga terdapat satu kaum yang membenci ‘Ali dan keturunan Beliau radhiyallahu ‘anhu. Di antara kelompok ini adalah Hajjâj bin Yûsuf ats-Tsaqafi. Dalam sebuah hadits shahîh dijelaskan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);

Akan ada di suku Tsaqif seorang pendusta dan perusak.

Pengikut Syi’ah (Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid,red) itulah sang pendusta. Sedangkan si Nashibi (Al Hajjaj, red) adalah sang Perusak. Yang pertama membuat bid’ah kesedihan, sementara yang kedua membuat bid’ah kesenangan. Kelompok kedua ini pun meriwayatkan hadits yang menyatakan bahwa barangsiapa melebihkan nafkah keluarganya pada hari ‘Asyûra, maka Allah ‘Azza wa Jalla melonggarkan rezekinya selama setahun itu.”

Berkata Harb Al Kirmani: aku bertanya kepada ahmad Bin Hambal tentang hadits tersebut, dia Menjawab: tidak ada asalnya dan tidak memiliki Isnad yang Tsabit, Kecuali apa yang telah diriwayatkan oleh Suyan ibnu Uyainah, dari Ibrahim dan Muhammad bin Muntasyir, dari bapaknya, dia berkata: Telah sampai kepadaku barang siapa yang meluaskan untuk keluarganya di hari Asyura… Alhadits. Dan ibnu Muntasyir adalah orang kufah yang mendengar dan meriwayatkan dari orang-orang yang tidak dikenal. Mereka meriwayatkan bahwasanya siapa yang bercelak pada hari Asyura niscaya tidak akan terkena katarak pada tahun tersebut ,barangsiapa yang mandi pada hari ASyura niscaya tidak akan sakit pada tahun itu. Riwayat-riwayat tersebut membuat orang-orang menganjurkan untuk bercelak, mandi, dan bersenang-senang dengan makanan ekstra kepada keluarga.

Perbuatan-perbuatan Tersebut adalah bid’ah yang sumbernya dari orang-orang yang fanatik maupun benci kepada Al Husein Radiyallahu anhu, sedangkan semua bid’ah adalah sesat dan tidak dianjurkan oleh seorangpun Imam kaum Muslimin yang empat. Baik bid’ah terkait kefanatikan terhadap Husein Maupun kebencian terhadapnya.

Yang sunnah dilakukan Pada hari Asyura adalah Berpuasa berdasarkan pendapat Jumhur. Dianjurkan untuk menyertai puasa tersebut pada hari ke-9 karena sebagian dari mereka tidak menyukai untuk berpuasa pada hari ke-10 saja. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Minhajussunnah IV/559-560

Syaikhul Islam Rahimahullah Berkata:

Tidak diragukan bahwa pembunuhan Al Husain termasuk dosa yang paling besar. Pelakunya, yang meridhoinya, dan yang membela pembunuhnya layak mendapatkan hukuman Allah.

Namun Pembunuhan beliau tidaklah lebih besar dari pembunuhan orang—orang yang lebih mulia dari beliau dari kalangan Para nabi[6], As Sabiqunal Awwalun, orang yang terbunuh ketika memerangi Musailamah, Syuhada Uhud, Sahabat yang terbunuh di Bi’ru ma’unah, Utsman bin Affan, dan Ali Bin Abi Thalib. Bahkan para Pembunuh Ali Meyakini bahwa Ali telah kafir dan murtad dan membunuhnya adalah ibadah yang agung.

Berbeda dengan para pembunuh Al Husain, Mereka tidak berkeyakinan bahwa ia kafir, justeru sebagian besar dari mereka tidak suka untuk membunuhnya dan mengira hal itu adalah dosa besar, tetapi mereka membunuh Al Husein karena tujuan pribadi mereka seperti halnya manusia saling bunuh karena kekuasaan

[1] Hadits riwayat Muslim, Bab imaarah

[2] Kelompok pertama dan kedua ini berkumpul di Irak. Hajjâj bin Yûsuf adalah pemimpin golongan pertama. Ia sangat benci kepada Husain radhiyallahu ‘anhu dan merupakan sosok yang zhalim. Sementara kelompok kedua dipimpin oleh Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid yang mengaku mendapat wahyu dan sangat fanatik dengan Husain radhiyallahu ‘anhu. Orang inilah yang memerintahkan pasukannya agar menyerang dan membunuh ‘Ubaidullah bin Ziyad dan memenggal kepalanya.

[3] Yazid bin Muawiyah masih terhitung sepupunya karena Muawiyah merupakan Sepupu Rasulullah dan Ali bin Abu thalib

[4] Bid’ah duka cita dari syiah dan bid’ah kesenangan yang disebarkan oleh Hajjaj,red

[5] Para Sahabat seperti Abu Bakar dan Umar dimasukkan, padahal mereka tidak tahu apa-apa dan tidak memiliki andil dosa sedikit pun. Pihak yang berdosa adalah yang terlibat langsung kala itu.

[6] Kepala Nabi Yahya telah dipersembahkan kepada seorang pelacur. Nabi Zakaria pun dibunuh. Nabi Musa dan Nabi Isa—’alaihimas salam, umat mereka ingin membunuh mereka berdua. Dan beberapa orang nabi lainnya juga telah dibunuh.

Sumber: Minhajussunnah Juz IV

553

554

555

556

559

560

Anda bisa membaca artikel sebelumnya:




Artikel dari: http://syaikhulislam.wordpress.com
diposting oleh Novi Effendi Blog

Posted By Minang Sunnah3:06 PM

Syarah Kitab Minhajus Salikin-2

Filled under:

Artikel berikut lanjutan dari Syarah Kitab Minhajus Salikin-1, silahkan dibaca..!
Matan :

م / فَهَذَا كِتَابٌ مُخْتَصَرٌ فِي اَلْفِقْهِ, جَمَعْتُ فِيهِ بَيْنَ اَلْمَسَائِلِ وَالدَّلَائِلِ; وَاقْتَصَرْتُ فِيهِ عَلَى أَهُمِّ اَلْأُمُورِ, وَأَعْظَمِهَا نَفْعًا, لِشِدَّةِ اَلضَّرُورَةِ إِلَى هَذَا اَلْمَوْضُوعِ, وَكَثِيرًا مَا أَقْتَصِرُ عَلَى اَلنَّصِّ إِذَا كَانَ اَلْحُكْمُ فِيهِ وَاضِحًا; لِسُهُولَةِ حِفْظِهِ وَفَهْمِهِ عَلَى اَلْمُبْتَدِئِين لِأَنَّ اَلْعِلْمَ: مَعْرِفَةُ اَلْحَقِّ بِدَلِيلِهِ
وَالْفِقْهَ: مَعْرِفَةُ اَلْأَحْكَامِ اَلشَّرْعِيَّةِ اَلْفَرْعِيَّةِ بِأَدِلَّتِهَا مِنْ اَلْكِتَابِ, وَالسُّنَّةِ, وَالْإِجْمَاعِ, وَالْقِيَاسِ اَلصَّحِيحِ. وَأَقْتَصِرُ عَلَى اَلْأَدِلَّةِ اَلْمَشْهُورَةِ; خَوْفًا مِنْ اَلتَّطْوِيلِ, وَإِذَا كَانَتِ اَلْمَسْأَلَةُ خِلَافِيَّةً, اِقْتَصَرْتُ عَلَى اَلْقَوْلِ اَلَّذِي تَرْجَّحَ عِنْدِي, تَبَعًا لِلْأَدِلَّةِ اَلشَّرْعِيَّة

Ini merupakan kitab yang ringkas dalam disiplin ilmu fiqih, di dalamnya aku kumpulakan antara masalah dan dalil. Di dalamnya aku cukupkan dengan menyebutkan masalah-masalah yang paling penting dan paling besar manfa’atnya; dikarenakan sangat mendesaknya pembahasan ini. Pada kebanyakannya aku cukupkan dengan menyebutkan nas, jika hukum dalam permasalahan tersebut telah jelas; Untuk mudah dihafal dan difahami oleh para pemula, karena ilmu itu mengetahui kebenaran dengan dalil-dalilnya.

Fiqih adalah mengetahui hukum syari’ah far’iyah ‘cabang’ dengan dalil-dalilnya; dari al Kitab, as Sunnah, Ijma dan qias yang sahih. Aku cukupkan pula dengan menyebutkan dalil-dalil yang terkenal; karena merasa takut menjadi meluas. Jika masalah tersebut merupakan masalah khilafiyah/yang diperselisihkan, maka aku cukupkan dengan menyebutkan pendapat yang paling kuat disisiku; demikian itu karena mengikuti dalil-dalil syar’iyah.

**************************************************

Syarah Syaikh Sulaiman hafidzohulloh :

(فهذا كتاب مختصر في الفقه) ‘Ini merupakan kitab yang ringkas dalam disiplin ilmu fiqih”. Makna ‘Mukhtashor’ adalah paerkataan yang sedikit lafadznya namun banyak maknanya.

(والفقه) ‘Fiqih’. Fiqih secara bahasa ‘al Fahmu’/pemahaman. Diantara pendukungnya firman Alloh Ta’ala :

يَفْقَهُوا قَوْلِي

Supaya mereka mengerti perkataanku”. (QS. Thaha : 28). Akan datang pengertiannya.

(جَمَعْتُ فِيهِ بَيْنَ اَلْمَسَائِلِ وَالدَّلَائِلِ) ‘di dalamnya aku kumpulakan antara masalah dan dalil’. Al-Masail merupakan bentuk jamak dari masalah, ia adalah sesuatu yang memerlukan penjelasan/dalil. Ad-Dalail jamak dari dalil, dalil ini disisi para ulama mencakup dalil naqli dan ‘aqli.

(وَاقْتَصَرْتُ فِيهِ عَلَى أَهُمِّ اَلْأُمُورِ, وَأَعْظَمِهَا نَفْعًا, لِشِدَّةِ اَلضَّرُورَةِ إِلَى هَذَا اَلْمَوْضُوعِ) ‘Di dalamnya aku cukupkan dengan menyebutkan masalah-masalah yang paling penting dan paling besar manfa’atnya; dikarenakan sangat mendesaknya pembahasan ini.’ Yakni : Beliau tidak membahas seluruh masalah dan hukum, beliau hanya membatasi pada permasalahan yang paling penting; Beliau hanya memilih masalah-masalah yang paling besar manfa’atnya, karena sangat diperlukan. Karena kitab ini beliau tulis untuk para pemula di dalam ilmu.

(وَكَثِيرًا مَا أَقْتَصِرُ عَلَى اَلنَّصِّ إِذَا كَانَ اَلْحُكْمُ فِيهِ وَاضِحًا; لِسُهُولَةِ حِفْظِهِ وَفَهْمِهِ عَلَى اَلْمُبْتَدِئِين) ‘Pada kebanyakannya aku cukupkan dengan menyebutkan nas, jika hukum dalam permasalahan tersebut telah jelas; Untuk mudah dihafal dan difahami oleh para pemula’, Ini merupakan metode yang sangat indah lagi bermanfa’at, yaitu menyebutkan nas, yang ia merupakan hukum dan masalah, ia memberikan dua faidah :
  • Mengetahui hukum syar’i,
  • Mengetahui dalil.

(لأن العلم معرفة الحق بدليلة) ‘Karena ilmu itu mengetahui kebenaran dengan dalil-dalilnya’, Mengetahui dalil sangat penting bagi pencari ilmu.

Faidah mengetahui hukum dengan dalil-dalinya bagi pencari ilmu :
  1. Merasa tenang pada hukum syar’i.
  2. Memiliki hujjah dari Alloh Ta’ala.
  3. Melahirkan kemampuan untuk memuaskan/meyakinkan orang lain.
  4. Dia beribadah kepada Alloh di atas ilmu dan keterangan/dalil.

(معرفة) ‘Mengetahui’, Ia meliputi ilmu dan dzon, karena mengetahui hukum syar’iyah terkadang ilmiy dan sebagian yang lainnya adalah dzoniy.

Mengetahui (wajibnya) sholat yang lima waktu ilmu, sedangkan mengetahui sunah nya shalat witir menurut pendapat kebanyakan para ulama ‘jumhur’ dzoniy.

(الأحكام الشرعية) ‘Hukum-hukum syar’iyah’, Maksudnya hukum yang di ambil dari syara. Maka tidak termasuk hukum aqli; seperti mengetahui bahwa keseluruhan lebih besar daripada sebagian, mengetahui bahwa satu merupakan setengah dari dua. Juga tidak termasuk hukum hissi; seperti pengetahuan bahwa api panas. Demikian pula tidak termasuk hukum ‘adiy; seperti pengetahuan hujan turun setelah guntur dan kilat.

(الفرعية) ‘cabang’, seperti sholat, haji, perniagaan/jual beli … dan seterusnya. Maka tidak termasuk masalah-masalah ‘ilmiyah seperti tauhid.

(بأدلتها التفصيلية) ‘’, Ia sebagai pembeda dari ilmu ushul fiqih. Karena pembahasan ushul fiqih berkisar pada dalil-dalil fiqih yang global ‘ijamaliyah’. Contoh adilah ta tafshiliyah :
  • Untuk sahnya wudkhu disyaratkan niat, berdasarkan hadits : ‘Amal ditentukan dengan niat …’.
  • Membaca af faihah merupakan salah satu rukun sholat, berdasarkan hadits : ‘Tidak ada sholat bagi orang yang tidak membaca …’.
Adapun contoh ushul fiqih sebagai berikut :
  • Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang kurang syaratnya maka bathil [ini ushul fiqih].
  • Perintah memberikan konsekwensi wajib; demikian pula larangan, naskh – mansukh.
Maka fiqih membahas dalil tafshiliyah juziyah, untuk mengkonklusikan hukum tertentu dari dalil tersebut; dengan berpijak pada dalil-dalil ijmaliyah.

Maka maksud kata fiqih yang dikehendaki penulis adalah fiqih secara istilah.
(وأقتصر على الأدلة المشهورة خوفاً من التطويل) ‘’. Yakni : Beliau akan membatasi pada dalil-dalil yang dikenal lagi terkenal, tidak akan menyebutkan dalil-dalil yang tidak dikenal; yakni dalil yang hanya diketahui oleh penuntut ilmu. Karena kitab ini merupakan mukhtashor.

(وإذا كانت المسألة خلافية، اقتصرت على القول الذي ترجح عندي، تبعاً للأدلة الشرعية) ‘Jika masalah tersebut merupakan masalah khilafiyah/yang diperselisihkan, maka aku cukupkan dengan menyebutkan pendapat yang paling kuat disisiku; demikian itu karena mengikuti dalil-dalil syar’iyah’. Yakni : Jika permasalahan tersebut merupakan permasalahan yang diperselisihkan pada beberapa pendapat, maka beliau akan menyebutkan satu pendapat saja, dan pendapat tersebut merupakan pendapat yang kuat di sisinya; yang beliau menguatkannya dengan dalil. Beliau bukan seseorang yang taqlid pada madzhab atau ‘alim tertentu, beliau hanya mengikuti dalil.

Matan :

م / الأحكام الخمسة: اَلْوَاجِبُ : وَهُوَ مَا أُثِيبَ فَاعِلُهُ, وَعُوقِبَ تَارِكُه ُ. وَالْحَرَامُ : ضِدَّهُ. وَالْمَكْرُوهُ : مَا أُثِيبَ تَارِكُهُ, وَلَمْ يُعَاقَبْ فَاعِلُهُ . وَالْمَسْنُونُ : ضِدَّهُ. وَالْمُبَاحُ :وَهُوَ اَلَّذِي فِعْلُهُ وتَرْكُهُ عَلَى حَدٍّ سَوَاءٍ

Hukum yang lima : Wajib : Ia adalah perbuatan yang pelakunya diberikan pahala dan yang meninggalkanya di siksa. Dan Haram kebalikannya. Makruh : Perbuatan yang di beri pahala orang yang meninggalkanya dan tidak di siksa orang yang mengerjakannya. Dan yang disunnahkan kebalikannya. Mubah : Sesuatu yang mengerjakan dan meninggalkannya ada pada kedudukan yang sama.

******************************************

Syarah Syaikh Sulaiman bin Muhammad Al Luhaimid hafidzohulloh Ta’ala :

(الأحكام الخمسة) ‘Hukum yang lima”, Yakni : Jenis hukum taklifiyah.

Kemudian beliau rohimahulloh menyebutkannya :

Wajib : Ia adalah perbuatan yang pelakunya diberikan pahala dan yang meninggalkanya di siksa : Ini merupakan pengertian dengan hukum bukan dengan had. Karena ia bukanlah wajib : “: Ia adalah perbuatan yang pelakunya … ” , tapi hukum bagi sesuatu yang memiliki hukum wajib. Adapun pengertiannya secara had adalah : (ما أمر به الشارع على وجه الإلزام) Sesuatu yang diperintahkan pembuat syari’at secara ilzam (mesti).

Dalam ucapan : (ما أمر به الشارع) ‘Sesuatu yang diperintahkan pembuat syari’at’ maka dikecualikan sesuatu yang haram, makruh dan mubah, karena ketiga jenis tersebut tidak diperintahkan.

Pembuat syari’at : Alloh atau RosulNya sholallohu ‘alaihi wa sallam. Alloh Ta’ala berfirman :

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا


Dia Telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh … ” (QS. Asy Syuroo : 13), dan Rosul Sholallohu ‘alaihi wa sallam merupakan penyampai dari Alloh subhanahu.

Dalam ucapan kita : (على وجه الإلزام) ‘secara ilzam (mesti)’, dikecualikan al-mandzub; karena, ia diperintahkan namun tidak secara ilzam.

Hukum wajib : Ia sebagimana di katakan oleh penulis : Pelakunya diberi pahala, jika sesuai perintah. Dan yang meninggalkannya berhak mendapatkan siksa.

Maka suatu keharusan untuk menyatakan (امتثالاً) ‘Sesuai perintah’, karena pahala tidak di capai kecuali jika mengerjakannya sesuai dengan perintah Alloh Ta’ala.
Haram : Kebalikannya; Di beri pahala yang meninggalkannya, dan di siksa yang mengerjakannya : Ini merupakan pengertian dengan hukum, tidak dengan had. Adapun pengertian haram secara had adalah : (ما نهى عنه الشارع على وجه الإلزام بالترك) ‘Sesuatu yang dilarang oleh pembuat syari’at, dengan larangan yang ilzam (mesti) untuk ditinggalkan”. Seperti : Durhaka kepada kedua orang tua dan minum khomr/minuman keras. Dalam perkataan seperti : Gibah, namimah dan dusta.

Dari perkataan : (ما نهى عنه الشارع) ‘Sesuatu yang dilarang pembuat syari’at’ dikecualikan wajib dan mandzub.

Dalam perkataan (على وجه الإلزام بالترك) ‘Secara mesti untuk ditingglkan”, maka dikecualikan sesuatu yang dimakruhkan.

Adapun hukumnya seperti yang disebutkan penulis : (يثاب تاركه امتثالاً ويستحق العقاب فاعله) “Yang meninggalkannya di beri pahala, jika meninggalkannya sesuai perintah. Dan berhak mendapat siksa orang yang mengerjakannya”.

Maka harus mencantumkan (امتثالاً) ‘Sesuai perintah’. Contohnya : Seseorang berazam untuk melakukan sesuatu yang haram, kemudian teringat Kemaha Besaran Alloh dan siksanya, maka ia pun meninggalkannya. Maka jika seperti ini di beri pahala.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang beliau meriwayatkannya dari Robb nya Tabaroka Wa Ta’ala, dia berkata :


إن الله كتب الحسنات والسيئات ، ثم بيّن ذلك ، فمن همّ بحسنة فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة كاملة ، وإن هم بها فعملها كتبها عنده عشر حسنات إلى سبعمائة ضعف إلى أضعاف كثيرة وإن هم بسيئة فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة كاملة وإن هم بها فعملها كتبها الله سيئة واحدة رواه البخاري ومسلم

Alloh menulis kebaikan dan kejelekan, kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berikeinginan untuk mengerjakan kebaikan namun tidak mengerjakannya, maka Alloh menuliskannya di sisi Nya satu kebaikan secara sempurna. Jika berkeinginan dengan kebaikan tersebut dan mengamalkannya, maka Akkoh menuliskan di sisi Nya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus lipat, sampai kelipatan yang sangat banyak. Dan jika berkeinginan untuk mengerjakan kejelekan namun tidak mengerjakannya, maka Alloh menuliskan satu kebaikan yang sempurna di sisi Nya. Dan jika berkeinginan untuk mengerjakan kejelekan, kemudian mengerjakannya, maka Alloh menuliskan satu kejelekan (baginya). (HR. Bukhori dan Muslim).

Dalam riwayat Muslim :


إنما ترك ذلك من جرائي

Dia meninggalkannya semata mata karena jaro’iy (rasa takut kepadaku dan mengharapkan sesuatu yang ada di sisiku)”. Yakni : karena Aku.

Seperti kisah yang berkeinginan jelek pada anak perempuan pamannya, maka dia membatalkannya karena Alloh. Maka Alloh pun mengabulkan do’a nya dan menghilangkan kegelisahannya; maka bergeserlah batu tersebut”.

Akan tetapi, jika seseorang bercita-cita mengerjakan yang haram, dan tidak menempuh sebabnya, maka dia di sanksi seukuran niatnya.
Dalilnya hadits Abu Kabsyah Al Anmariy, dia berkata : Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :


ورجل آتاه الله مالاً ولم يؤته علماً ، فهو يخبط في ماله ينفقه في غير حقه ، ورجل لم يؤته الله مالاً ولا علماً وهو يقول : لو كان لي مثل هذا عملتُ فيه مثل الذي يعمل قال رسول الله : فهما في الوزر سواء رواه ابن ماجه

…. seseorang, Alloh mengkaruniakan harta namun tidak memberikan ilmu kepadanya, maka dia berbuat kerusakan dengan membelanjakan hartanya tidak pada kemestiannya. Dan seseorang yang tidak diberikan harta dan ilmu, maka dia berkata : ‘Andaikan aku memiliki seperti yang dia miliki, maka aku akan berbuat seperti yang dia kerjakan’. Rosulolloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Maka dosa keduanya sama’. (HR. Ibnu Majah [Syaikh Al Albani mensahihkannya dalam Sahih dan dlho’if Ibnu Majah, juga dalam Sahih Targhib wa Tarhib]).

Ketiga : Seseorang yang berkeinginan mengerjakan suatu yang haram, kemudian menempuh sebab-sebabnya, akan tetapi tidak memungkinkan untuk mengerjakannya, maka dia di siksa seperti siksaan yang mengerjakan.

Dalilnya hadits Abi Bakroh, bahwa Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا التقى المسلمان بسيفيهما فالقاتل والمقتول في النار ، قلت : يا رسول الله، هذا القاتل فما بال المقتول في النار ؟ قال : إنه حريصاً على قتل صاحبه متفق عليه

Jika dua orang muslim saling berhadapan dengan pedangnya, maka yang membunuh dan yang di bunuh berada di Neraka. Maka aku berkata : wahai Raosulolloh, kalau yang membunuh pantas baginya, tapi yang di bunuh ?, Rosululloh menjawab : Karena dia pun sangat berkeinginan untuk membunuh saudaranya (Mutafaq ‘alaih).

Yang disunnahkan : Pelakunya mendapat pahala dan yang meninggalkannya tidak di siksa : Ini pengertian dengan hukum, adapun pengertian dengan had adalah : (ما أمر به الشارع لا على وجه الإلزام) ‘Sesuatu yang diperintahkan pembuat syari’at dengan tidak mesti, seperti sunnah rowatib. Pengertian secara hukmunya sebagimana disebutkan oleh penulis : Pelakunya mendapat pahala jika mengerjakannya sesuai dengan perintah, dan tidak di siksa yang meninggalkannya. Maka andaikan mengerjakannya tidak sesuai dengan perintah, maka tidak mendapat pahala.

Contohnya : Seseorang mandi pada hari Jum’at untuk bersih-bersih semata, tidak bertujuan melaksanakan perintah Alloh, maka mandinya tidak mendapat pahala.

Dan yang meninggalkannya tidak di siksa, baik di dunia maupun di akhirat. Adapun di akhirat maka telah jelas, Alloh tidak akan menyiksa karena perkara yang di dalamnya ada rukhsoh. Adapun di dunia maka tidak di berikan sanksi; penguasa tidak menta’zirnya, karena bukan sesuatu yang wajib.

Dalam masalah yang di sunnahkan ada beberapa faidah, ia sebagai penutup celah-celah/kekurangan dalam perkara yang wajib. Sebagimana dalam hadits :

أول ما يحاسب عليه العبد من أعماله صـلاته ، فإن صلحت ، كتبت تامة ، وإن نقصت ، قال الله : انظروا لعبدي هل له من تطوع ؟ … الحديث

Amal pertama seorang hamba yang di hisab sholatnya, jika baik maka dituliskan kesempurnaan baginya. Jika kurang maka Alloh berfirman : Lihatlah !, apakah dia memiliki shalat sunnah ?. (Al Hadits).

Ia sebagai sebab yang mendatangkan kecintaan Alloh, berdasarkan hadits :

ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه رواه البخاري

Seorang hamba senantiasa mendekatkan diri dengan amal-amal yang sunnah, sehingga aku mencintainya”. (HR. Bukhori).

Makruh : Kebalikannya. Meninggalkanya di beri pahala, dan mengerjakannya tidak di siksa. Adapun pengertian secara had adalah : (ما طلب الشارع تركه لا على وجه الجزم والإلزام) ‘Sesuatu yang pembuat syari’at menuntut untuk meninggalkannya, namun tidak secara pasti dan mesti”.

Perkataannya : (لا على وجه الإلزام) ‘Tidak secara pasti dan mesti”, dikecualikan haram. Karena ia sesuatu yang di tuntut untuk di tinggalkan secara mesti.

Adapun hukumnya sebagimana disebutkan oleh penulis : (يثاب تاركه امتثالاً ولا يعاقب فاعله) “Di beri pahala yang meninggalkannya, jika sesuai dengan perintah, dan yang meninggalkannya tidak di siksa”.

Al Mubah : (الذي فِعلهُ وتركُهُ على حدٍ سواء) Sesuatu yang mengerjakan dan meninggalkannya ada pada kedudukan yang sama. Sesuatu yang secara dzat nya tidak berkaitan dengan perintah dan larangan, seperti mandi untuk mendinginkan badan, dan hubungan suami istri pada malam bulan Ramadlhan.


artikel: http://sunande.wordpress.com/

Posted By Minang Sunnah2:36 PM

Majmu Fatawa : Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Yazid bin Muawiyah

Filled under:

Mari kita menelaah Fatwa Syaikhul Islam terkait fitnah pembunuhan Husain ini! kita ketahui bahwasanya Yazid bin Muawiyah Bin Abu Sufyan merupakan khalifah yang berkuasa ketika Ubaidillah bin ziyad membantai Husain dan keluarga.

Syaikhul Islam mengatakan:

Belum pernah sebelumnya seorangpun manusia membicarakan masalah Yazid bin Mu’awiyah dan tidak pula membicarakannya termasuk masalah Dien.
Hingga terjadilah setelah itu beberapa perkara, sehingga manusia melaknat Yazid bin Mu’awiyah, bahkan bisa saja laknat tersebut berujung kepada laknat terhadap orang lain dengan menggunakan kejadian-kejadian tersebut
Sedangkan kebanyakan Ahlus Sunnah tidak suka melaknat orang tertentu. Kemudian suatu kaum dari golongan yang ikut mendengar yang demikian meyakini bahwa Yazid termasuk pemuka orang shalih dan imam yang mendapat petunjuk.

Maka golongan yang melampaui batas terhadap Yazid menjadi dua sisi yang berlawanan:

Sisi pertama, mereka yang mengucapkan bahwa dia kafir zindiq dan bahwasanya dia telah membunuh salah seorang anak perempuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, membunuh sahabat-sahabat Anshar, dan anak-anak mereka pada kejadian Al-Hurrah (pembebasan Madinah) untuk menebus dendam keluarganya yang dibunuh dalam keadaan kafir seperti kakek ibunya ‘Utbah bin Rab’iah, pamannya Al-Walid dan selain keduanya. Mereka menyebutkan pula bahwa dia terkenal sebagai peminum khamr dan menampakkan maksiat-maksiatnya.

Pada sisi lain, ada yang meyakini bahwa dia (Yazid) adalah imam yang adil, mendapatkan petunjuk dan dapat memberi petunjuk. Dan dia dari kalangan sahabat atau pembesar shahabat serta salah seorang dari wali-wali Allah. Bahkan sebagian dari mereka meyakini bahwa dia dari kalangan para nabi. Mereka berkata : barangsiapa yang ragu terhadap Yazid maka Allah akan menghentikan dia dalam neraka Jahannam.

Mereka meriwayatkan dari Syaikh Hasan bin ‘Adi bahwa ia adalah wali yang seperti ini dan seperti itu. Barangsiapa yang ragu maka dia menetap dalam neraka karena ucapan mereka yang demikian terhadap Yazid.

Setelah zaman Syaikh Hasan bertambahlah perkara-perkara batil dalam bentuk syair atau prosa. Mereka ghuluw kepada Syaikh Hasan dan Yazid dengan perkara-perkara yang menyelisihi apa yang ada di atasnya Syaikh ‘Adi yang agung -semoga Allah mensucikan ruhnya-. Karena jalan beliau sebelumnya adalah baik, belum terdapat bid’ah-bid’ah yang seperti itu, kemudian mereka mendapatkan bencana dari pihak Rafidlah yang memusuhi mereka dan kemudian membunuh Syaikh Hasan bin ‘Adi sehingga terjadilah fitnah yang tidak disukai Allah dan Rasul-Nya.

Dua sisi ekstrim terhadap Yazid tersebut menyelishi apa yang disepakati oleh para ahli Ilmu dan orang beriman.
Yazid bin Mu’awiyah dilahirkan pada masa khalifah Utsman bin ‘Affan radliallahu ‘anhu dan tidak pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak pula termasuk sahabat dengan kesepakatan para ulama. Dia tidak pula terkenal dalam masalah Dien dan keshalihan.
Dia termasuk pemuda muslim bukan kafir dan bukan pula zindiq. Dia memegang tampuk kekuasaan setelah ayahnya dengan tidak disukai oleh sebagian kaum muslimin namun diridlai oleh sebagian yang lain. Dia memiliki keberanian dan kedermawanan dan tidak pernah menampakkan kemaksiatan-kemaksiatan sebagaimana dikisahkan oleh musuh-musuhnya.

Namun pada masa pemerintahannya telah terjadi perkara-perkara besar
yaitu:

1. Terbunuhnya Al-Husein radhiyallahu ‘anhu padahal dia tidak memerintahkan untuk membunuhnya dan tidak pula menampakkan kegembiraan dengan pembunuhan Husein serta tidak memukul gigi taringnya dengan besi.
Dia juga tidak membawa kepala Husein ke Syam. Dia hanya memerintahkan untuk mencegah Husein dengan melarangnya dari urusan tertentu sekalipun dengan memeranginya. Tetapi para utusannya melebihi dari apa yang diperintahkannya karena Samardzi Al-Juyusy mendorong ‘Ubaidillah bin Ziyad untuk membunuhnya. Ibnu Ziyad pun menyakitinya dan ketika Al-Husein radhiyallahu ‘anhu meminta agar dia dibawa menghadap Yazid, atau diajak ke front untuk berjihad (memerangi orang-orang kafir bersama tentara Yazid -pent), atau kembali ke Mekkah, mereka menolaknya dan tetap menawannya. Atas perintah Umar bin Sa’d, maka mereka membunuh beliau dan sekelompok Ahlul Bait radhiyallahu ‘anhum dengan dzalim.

Terbunuhnya beliau -radhiyallahu ‘anhu- adalah musibah besar, terbunuhnya Al-Husein dan Utsman Bin Affan sebelumnya merupakan penyebab fitnah terbesar pada umat ini. Pembunuh keduanya adalah makhluk yang paling jelek di sisi Allah.

Ketika keluarga beliau radhiyallahu ‘anhu mendatangi Yazid bin Mua’wiyah, Yazid memuliakan mereka dan mengantarkan mereka ke Madinah.

Diriwayatkan bahwa Yazid melaknat Ibnu Ziyad atas pembunuhan Husein dan berkata: “Aku sebenarnya meridhai ketaatan penduduk Irak tanpa pembunuhan Husein.” Tetapi dia tidak menampakkan pengingkaran terhadap pembunuhnya, tidak membela serta tidak pula membalasnya, padahal itu adalah wajib bagi dia. Maka akhirnya Ahlul Haq mencelanya karena meninggalkan kewajibannya, ditambah lagi dengan perkara-perkara lainnya dan musuh-musuhnya malah menambahkan beberapa kedustaan palsu atasnya.

2. Penduduk Madinah membatalkan bai’atnya kepada Yazid dan mereka mengeluarkan utusan-utusan dan penduduknya. Yazid pun mengirimkan tentara kepada mereka, memerintahkan mereka untuk taat dan jika mereka tidak mentaatinya setelah tiga hari mereka akan memasuki Madinah dengan pedang dan menghalalkan darah mereka. Setelah tiga hari, tentara Yazid memasuki Madinah an-Nabawiyah, membunuh mereka, merampas harta mereka, bahkan menodai kehormatan-kehormatan wanita yang suci, kemudian mengirimkan tentaranya ke Mekkah yang mulia dan mengepungnya. Yazid meninggal dunia pada saat pasukannya dalam keadaan mengepung Mekkah dan hal ini merupakan permusuhan dan kedzaliman yang dikerjakan atas perintahnya.

Oleh karena itu, keyakinan Ahlus Sunnah dan para imam-imam umat ini adalah mereka tidak melaknat dan tidak mencintainya.

Shalih bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku katakan kepada ayahku: “Sesungguhnya suatu kaum mengatakan bahwa mereka cinta kepada Yazid.” Maka beliau rahimahullah menjawab: “Wahai anakku, apakah akan mencintai Yazid seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir?” Aku bertanya: “Wahai ayahku, mengapa engkau tidak melaknatnya?” Beliau menjawab: “Wahai anakku, kapan engkau melihat ayahmu melaknat seseorang?” Diriwayatkan pula bahwa ditanyakan kepadanya: “Apakah engkau menulis hadits dari Yazid bin Mu’awiyyah?” Dia berkata: “Tidak, dan tidak ada kemulyaan, bukankah dia yang telah melakukan terhadap ahlul Madinah apa yang dia lakukan?”

Yazid menurut ulama dan Imam-imam kaum muslimin adalah termasuk raja (Islam -pent). Mereka tidak mencintainya seperti mencintai orang-orang shalih dan wali-wali Allah namun tidak pula melaknatnya.
Karena sesungguhnya mereka tidak suka melaknat seorang muslim secara khusus (ta ‘yin), berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu:
seseorang yang dipanggil dengan Hammar sering meminum khamr.
setiap dia dihadapkankan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ia dicambuk. Maka berkatalah seseorang: “Semoga Allah melaknatnya. Betapa sering dia dihadapkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan engkau melaknatnya, sesungguhnya dia mencintai Allah dan Rasul-Nya. ” (HR. Bukhari)

Walaupun demikian di kalangan Ahlus Sunnah juga ada yang membolehkan laknat terhadapnya karena mereka meyakini bahwa Yazid telah melakukan kedhaliman yang menyebabkan laknat bagi pelakunya.

Kelompok yang lain berpendapat untuk mencintainya karena dia seorang muslim yang memegang pemerintahan di zaman para shahabat dan dibai’at oleh mereka. Serta mereka berkata: “Tidak benar apa yang dinukil tentangnya padahal dia memiliki kebaikan-kebaikan, atau dia melakukannya dengan ijtihad.”

Pendapat yang benar adalah apa yang dikatakan oleh para imam (Ahlus Sunnah), bahwa mereka tidak mengkhususkan kecintaan kepadanya dan tidak pula melaknatnya. Di samping itu kalaupun dia sebagai orang yang fasiq atau dhalim, Allah masih mungkin mengampuni orang fasiq dan dhalim. Lebih-lebih lagi kalau dia memiliki kebaikan-kebaikan yang besar.

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dari Ummu Harran binti Malhan radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tentara pertama yang memerangi Konstantinopel akan diampuni. (HR.
Bukhari)

sedangkan tentara pertama yang memerangi konstantinopel adalah di bawah pimpinan Yazid bin Mu’awiyyah dan pada waktu itu Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bersamanya.

Catatan:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah melanjutkan setelah itu dengan ucapannya: “Kadang-kadang sering tertukar antara Yazid bin Mu’awiyah dengan pamannya Yazid bin Abu Sufyan. Padahal sesungguhnya Yazid bin Abu Sufyan adalah dari kalangan Shahabat, bahkan orang- orang pilihan di antara mereka dan dialah keluarga Harb (ayah Abu Sufyan bin Harb -pent) yang terbaik.
Beliau adalah salah seorang pemimpin Syam yang diutus oleh Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu ketika pembebasan negeri Syam. Abu Bakar ash- Shiddiq pernah berjalan bersamanya ketika mengantarkannya, sedangkan dia berada di atas kendaraan. Maka berkatalah Yazid bin Abu Sufyan: “Wahai khalifah Rasulullah, naiklah! (ke atas kendaraan) atau aku yang akan turun.”
Maka berkatalah Abu Bakar: “Aku tidak akan naik dan engkau jangan turun, sesungguhnya aku mengharapkan hisab dengan langkah-langkahku ini di jalan Allah. Ketika beliau wafat setelah pembebasan negeri Syam di zaman pemerintahan Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau mengangkat saudaranya yaitu Mu’awiyah untuk menggantikan kedudukannya.

Kemudian Mu’awiyah mempunyai anak yang bernama Yazid di zaman pemerintahan ‘Utsman ibnu ‘Affan dan dia tetap di Syam sampai seterusnya.
Yang wajib adalah membatasi dan menghindar dari membicarakan Yazid bin Mu’awiyah serta menguji kaum muslimin dengan melakukan hal tersebut. Sesungguhnya yang demikian merupakan bid’ah yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah. Karena hal itu menyebabkan sebagian orang bodoh meyakini bahwa Yazid bin Mu`awiyah termasuk kalangan shahabat dan termasuk Pemuka orang shalih atau imam yang adil padahal ini adalah kesalahan yang nyata.”[1]
Semoga bermanfaat`


[1] MAJMU FATAWA III/410-414

410

411

412-413

414

Anda bisa membaca artikel sebelumnya:
Majmu Fatawa: Kedudukan Muawiyah dan Amr Bin Ash
Majmu Fatawa : Pembunuhan Husain bin Ali bin Abu Thalib
Minhajussunnah: Menyikapi Pembunuhan Al Husein

sumber: http://syaikhulislam.wordpress.com/

Posted By Minang Sunnah5:39 AM

Selasa, 22 November 2011

Untukmu Yang Menjadi Panutan Penyesat Umat

Filled under:


بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم وبارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Tulisan ini untuk setiap manusia yang menjadi panutan orang banyak…
Tulisan ini untuk setiap makhluk yang setiap perkataan dan perbuatannya diikuti orang banyak…
Tulisan ini untuk setiap manusia yang menjadi trend made orang banyak…
Tulisan ini tertulis untuk Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar tidak menjadikan seorang sebagai panutan yang menyesatkan mereka dari Jalan Allah Ta’ala, panutan yang sebenarnya dia adalah pembawa ke jalan syetan, jalan neraka. Nau’dzubillah.


Tulisan ini tertulis ketika saking banyaknya panutan, tapi menyesatkan umat dari Jalan Allah Ta’ala, baik dengan melakukan:

  • Kesyirikan dengan Istightsah dan Tawassulnya kepada orang-orang yang sudah mati.
  • Kesyirikan dengan mengambil barokah dari dzatnya orang-orang shalih.
  • Sarana penyebab kesyirikan dengan mencari-cari hari baik untuk pernikahan atau hajat,…dan lain-lain.
  • Bid’ah dengan amalan-amalan dan shalawat-shalawat yang tidak pernah ada di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
  • Bid’ah dengan pembacaan dzikir-dzikir yang dikhususkan tempatnya, waktunya, keadaaanya, jumlah bilangannya yang tidak pernah dikhususkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
  • Maksiat dengan ta’arufnya padahal itu pacaran.
  • Maksiat dengan bersalaman dengan wanita bukan mahram padahal larangan dan keharamannya jelas.
  • Maksiat dengan tidak menjaga pandangan, meluaskan pandangan kepada wanita yang setengah telanjang.
  • Maksiat dengan berkumpul dengan wanita-wanita bukan mahram tanpa ada penutup, bahkan wanitanya memakai pakaian yang tidak pantas dilihat kecuali oleh suaminya.
  • Dan lain-lain dari perbuatan dosa.


Takutlah kepada Allah Ta’ala…jika Anda menjadi panutan orang banyak dalam dosa dan maksiat, karena Anda akan:
1) Menjadi orang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihin wasallam atas umatnya. Intinya adalah Anda adalah orang sangat berbahaya bagi umat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِنِّي لَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي إِلَّا الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي لَمْ يُرْفَعْ عنهم إلى يوم القيامة)

Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku tidak takut atas umatku kecuali para pemimpin yang menyesatkan, dan jika diletakkan pedang dari umatku maka tidak akan diangkat dari mereka sampai hari kiamat”. HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan di dalam kitab Silsisilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1582.

Makna pemimpin:

1. Para pemimpin Negara yang sesat dan para ulama yang menyesatkan.

والمراد بقوله: "الأئمة المضلين": الذين يقودون الناس باسم الشرع، والذين يأخذون الناس بالقهر والسلطان; فيشمل الحكام الفاسدين، والعلماء المضلين، الذين يدعون أن ما هم عليه شرع الله، وهم أشد الناس عداوة له.

Orang-orang yang menuntun manusia dengan membawa nama syariat, dan orang-orang yang membawa manusia dengan kekuasaan, dan termasuk mereka ini adalah para pemimpin negara yang rusak dan para ulama yang menyesatkan, orang-orang yang mengklaim bahwa apa yang mereka lakukan adalah syariat Allah padahal mereka adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadapnya (syariat Allah). Lihat kitab Al Qaul Al Mufid ‘Ala Kitab At Tauhid, karya Syeikh Ibnu Utsaimin.

2. Para pemimpin kekuasaan, para ulama, para ahli ibadah yang menyesatkan.

والأئمة جمع: إمام، والإمام هو القدوة الذي يُقتدى به في الخير أو الشر.
فإذا كانت القدوة من أهل الضلال ضلّت الأمة، وحصل فيهم الشر، ويراد بهم الأمراء الضالون، والعلماء الضالون، والعُبّاد الضالون، والدُّعاة الضالون، كل هؤلاء من الأئمة المضلّين، فإذا قاد الأمة هؤلاء قادوها إلى الهلاك، أما إذا قاد الأمة دعاة الحق قادوها إلى الصلاح والسلامة.

Aimmah adalah jamak (bentuk plural) dari imam dan Imam adalah panutan yang diikuti baik dalam kebaikan atau keburukan.
Jika panutan dari orang-orang yang sesat maka akan tersesat umat, dan terjadi ditengah-tengah mereka keburukan, dan mereka yang dimaksudkan adalah para pemimpin Negara yang sesat, para ulama yang sesat, para ahli ibadah yang sesat, dan para ahli dakwah yang sesat, setiap dari mereka adalah para pemimpin yang sesat, jika umat dituntun oleh mereka maka mereka akan menuntun kepada kebinasaan, adapun jika yang menuntun umat adalah para penyeru kebenaran maka mereka akan menuntun umat kepada kebaikan dan keselamatan. Lihat kitab I’anat Al Mustafid bi Syarh Kitab At Tauhid, karya Syeikh Shalih Al Fauzan.

Mari perhatikan beberapa pernyataan yang sangat bermanfaat di bawah ini:

أن الأئمة ثلاثة أقسام: أمراء وعلماء وعباد; فهم الذين يخشى من إضلالهم لأنهم متبوعون; فالأمراء لهم السلطة والتنفيذ، والعلماء لهم التوجيه والإرشاد، والعباد لهم تغرير الناس وخداعهم بأحوالهم; فهؤلاء يطاعون ويقتدى بهم، فيخاف على الأمة منهم; لأنهم إذا كانوا مضلين ضل بهم كثير من الناس، وإذا كانوا هادين اهتدى بهم كثير من الناس.

Bahwa para pemimpin itu ada tiga jenis: Umara (pemimpin Negara) , Ulama (para ahli ilmu agama), Ubbad (para ahli ibadah). Mereka inilah yang ditakutkan penyesatannya karena mereka adalah orang-orang yang diikuti, para Umara mereka memiliki kekuasaan dan pelaksanaan, para ulama mereka memiliki penyuluhan dan pendidikan dan para ahli Ibadah mereka memiliki penipuan dengan keadaan mereka. Merekalah orang-orang yang ditaati dan dipanuti, maka ditakutkan umat akibat mereka, karena mereka jika menyesatkan maka mereka akan menyesatkan kebanyakan manusia dan jika mereka memberikan petunjuk kepada kebaikan maka kebanyakan manusia akan mendapat petunjuk. Lihat kitab Al Qaul Al Mufid, karya Syeikh Ibnu Utsaimin.

أن الرجل العالم المقتدي به والمرموق بعين الصلاح إذا فعلها كان موهما للعامة أنها من السنن كما هو الواقع فيكون كاذبا على رسول الله بلسان الحال قد يقوم مقام لسان المقال وأكثر ما أتى الناس في البدع بهذا السبب يظن في شخص أنه من أهل العلم والتقوى وليس هو في نفس الأمر كذلك فيرمقون أقواله وأفعاله فيتبعونه في ذلك فتفسد أمورهم
ففي الحديث عن ثوبان رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه و سلم قال إن مما الخوف على أمتي الأئمة المضلين أخرجه ابن ماجة والترمذي وقال هذا حديث صحيح
وفي الصحيح أن النبي صلى الله عليه و سلم قال إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ولكن يقبض العلم بموت العلماء وحتى إذا لم يبقى عالم اتخذ الناس رؤساء جهالا فأفتوا بغير علم وأضلوا
قال الإمام الطرطوشي رحمه الله تعالى فتدبروا هذا الحديث فإنه يدل على أنه لا يؤتى الناس قط من قبل علمائهم وإنما يؤتون من قبل إذا مات علماؤهم أفتى من ليس بعالم فيؤتى الناس من قبلهم قال وقد صرف عمر رضى الله عنه هذا المعنى تصريفا فقال ما خان أمين قط ولكان ائتمن غير أمين فخان قال ونحن نقول ما ابتدع عالم قط ولكنه استفتى من ليس بعالم فضل وأضل وكذلك فعل ربيعة قال مالك رحمه الله تعالى بكى ربيعة يوما بكاء شديدا فقيل له أمصيبة نزلت بك قال لا ولكن أستفتى من لا علم عنده وظهر في الإسلام أمر عظيم. الباعث على إنكار البدع (ص: 55)

Seorang berilmu yang diikuti dan dipandang dengan mata keshalihan, jika mengerjakannya (shalat-shalat bid’ah), maka jelas akan memberikan samaran terhadap orang awam bahwa hal tersebut adalah termasuk sunnah, jadilah dia seorang yang berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan keadaannya yang terkadang bisa menjadi langsung (dia berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam). Kebanyakan manusia melakukan bid’ah dengan sebab ini, dia mengira seorang itu termasuk orang berilmu dan takwa, padahal dia bukan orang seperti itu, maka mereka memperhatikan perkataan dan perbuatannya, lalu mereka mengikutinya dalam hal tersebut dan akhirnya rusaklah keadaan mereka.
Di dalam hadits riwayat Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk rasa takut atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan”. HR. Ibnu Majah dan At Tirmidzi dan beliau mengatakan: “Hadits ini adalah hadits yang shahih”.

Dan di dalam kitab Ash Shahih, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu tiba-tiba, tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama, sampai tidak tersisa seorang berilmupun maka akhirnya manusia menjadikan orang-orang bodoh (sebagai ulama), akhirnya mereka (orang-orang bodoh tadi) memberi fatwa tanpa ilmu dan mereka menyesatkan”.

Berkata Imam Ath Tharthusyi rahimahullah berkata: “Renungkanlah kalian semua hadits ini, sesungguhnya hadits ini menunjukkan bahwa manusia tidak didatangi perbuatan bid’ah disebabkan oleh para ulama mereka, akan tetapi bid’ah datang dari sisi jika wafat ulama-ulama mereka, lalu orang yang tidak punya ilmu memberi fatwa, maka datang bid’ah kepada manusia dari sisinya.

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu memindahkan makna ini dengan berkata: “Seorang yang amanah tidak akan pernah berkhianat akan tetapi jika diberi amanat orang yang tidak amanat maka akhirnya dia berkhianat”.

Dan kita mengatakan: “Tidak pernah seorang alim melakukan bid’ah akan tetapi orang yang tidak berilmu ditanya fatwa akhirnya dia sesat dan menyesatkan”.
Dan demikianlah perbuatan Rabi’ah, Imam Malik berkata: “Suatu hari Rabi’ah menangis dengan sekencang-kencangnya, ketika ditanya: “Apakah karena musibah yang kamu dapatkan?”, beliau menjawab: “Tidak, akan tetapi akan ditanya orang yang tidak berilmu maka akhirnya muncul dalam (umat) Islam perkara yang sangat besar”. Lihat Kitab Al Ba’its ‘Ala Inkar Al Bida’, karya Abu Syamah.


2) Menanggung dosa seluruh orang mengikuti Anda dalam dosa dan maksiat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنِ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا ».

 “Al Mundzir bin Jarir medapatkan riwayat dari bapaknya, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mensunnahkan (mencontohkan) kebiasaan yang buruk, lalu diamalkan, maka dia akan menanggung dosanya dan dosa yang mengerjakannya setelahnya, tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun”. HR. Ibnu Majah dan Muslim.

3) Diadukan kepada Allah Ta’ala oleh orang yang mengikuti Anda di dalam dosa dan maksiat agar Anda mendapat siksa berlipat dan terlaknat, akibat kesesatan yang Anda sebarkan.


{إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا (64) خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (65) يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا (66) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا (67) رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا (68)} [الأحزاب: 64 - 68]

 “Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka)”. “Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong”. “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul". “Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)”. QS. Al Ahzab: 64-68.

Pesan terakhir…

Jadilah manusia yang merupakan kunci Kebaikan bukan kunci kesesatan

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ ».

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dari manusia ada yang merupakan kunci-kunci untuk kebaikan dan penutup-penutup untuk keburukan dan sesungguhnya dari manusia ada yang merupakan kunci-kunci untuk keburukan dan penutup-penutup untuk kebaikan, maka bahagialah bagi siapa yang telah Allah jadikan kunci-kunci kebaikan melalui tangannya dan celakalah bagi siapa yang telah Allah jadikan kunci-kunci keburukan melalui tangannya”. HR. Ibnu Majah dan dihasankan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1332.

Ditulis oleh: Ustadz Ahmad Zainuddin LC
sumber: http://fkiajubail.blogspot.com dari judul "Panutan Penyesat Umat (Refleksi dari 11/11/11)"

Posted By Minang Sunnah10:50 AM

Kesulitan membawa kemudahan

Filled under:


المَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ
Kesulitan membawa kemudahan

Makna Kaedah

المَشَقَّةُ berarti kepayahan, kesulitan dan kerepotan.
التَّيْسِيْرَ artinya adalah kemudahan dan keringanan.

Dari sini maka secara bahasa kaedah ini mempunyai pengertian bahwa sebuah kesulitan akan menjadi sebab datangnya kemudahan dan keringanan.
Adapun secara istilah para ulama’, maka kaedah ini berarti :
Hukum-hukum syar’i yang dalam prakteknya menimbulkan kesulitan dan kepayahan serta kerumitan bagi seorang mukallaf (orang yang diberi beban syar’i) maka syariat islam meringankanya agar bisa dilakukan dengan mudah dan ringan.
(Lihat Al Wajiz Fi Idlohi Qowa’id Fiqh Kulliyah oleh DR. Muhammad Shidqi al Burnu hal : 218)

Dalil Kaedah

Banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan pada kaedah ini, yang bisa kita ringkaskan menjadi sebagai berikut :
Dalil Al Qur’an Al Karim
Alloh berfirman :

يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Alloh menginginkan bagi kalian kemudahan dan tidak mengiginkan bagi kalian kesulitan.”
(QS. Al Baqoroh : 185)
Alloh berfirman :

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا
“Alloh tidak membebani seorang jiwa kecuali sesuai kemampuannya.”
(QS. Al Baqoroh : 286)

Alloh juga berfirman :

رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآإِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَطَاقَةَ لَنَا بِهِ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.”
(QS. Al Baqoroh : 286)

Alloh Ta’ala berfirman :

يُرِيدُ اللهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنكُمْ
“Alloh menginginkan untuk meringankan atas kalian.”
(QS. An Nisa’ : 28)

Firman Alloh :

مَايُرِيدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ
“Alloh tidak hendak menyulitkan kalian.”
(QS. Al Ma’idah : 6)

Alloh berfirman :

وَمَاجَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“Dan Alloh sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”
(QS. Al Hajj : 78)

Dalil as Sunnah :

Hadits Abu Umamah

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ بِالْيَهُودِيَّةِ وَلَا بِالنَّصْرَانِيَّةِ وَلَكِنِّي بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ
Dari Abu Umamah berkata : Rosululloh bersabda : “Saya tidak diutus dengan membawa agama Yahudi dan Nashroni namun saya diutus membawa agama yang lurus lagi mudah.”
(HR. Ahmad 5/266 (21788)

Hadits Abu Huroiroh :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ
Dari Abu Huroiroh berkata : “Ada seorang Arab Badui yang kencing dimasjid, lalu para sahabat memarahinya, maka Rosululloh bersabda : “Biarkan dia, tuangkan saja pada kencingnya air satu timba, sesunguhnya kalian diutus untuk membawa kemudahan dan bukan diutus untuk menyulitkan.”
(HR. Bukhori 220, Muslim)

Hadits Aisyah :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّه عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ
Dari Aisyah berkata : “Tidaklah Rosululloh diberi pilihan untuk memilih antara dua perkara kecuali beliau akan memilih yang paling mudah, selagi hal itu bukan perbuatan dosa. Namun jika itu perbuatan dosa maka Rosululloh adalah orang yang paling jauh darinya”
(HR. Bukhori 3560 Muslim 2327)

Semua ayat dan hadits ini memberikan sebuah faedah bahwa agama islam tidak datang untuk membawa kesulitan akan tetapi datang dengan membawa kemudahan.

Syaikh Abdur Rohman As Sa’di berkata :
“Seluruh syariat islam ini lurus dan mudah, Lurus dalam masalah tauhid yang dibangun atas dasar beribadah hanya kepada Alloh saja yang tiada sekutu bagiNya, serta mudah dalam hal hukum dan amal perbuatan. Lihatlah !!! sholat lima waktu yang wajib dikerjakan dalam satu hari satu malam tidaklah mengambil waktu kecuali hanya sedikit sekali, begitu pula zakat, itu hanya sebagian kecil dari seluruh harta dan itupun harta yang berkembang bukan harta yang tidak berkembang, serta setiap tahun hanya wajib sekali. Begitu juga dengan puasa cuma satu bulan dalam satu tahun. Adapun masalah haji, maka itu hanya wajib sekali seumur hidup bagi yang mampu melaksanakanya. Adapun kewajiban-kewajiban lainnya, maka hanyalah dilakukan kalau ada sebabnya, semuanya amatlah mudah. Alloh juga mensyariatkan banyak sebab yang bisa membantu seseorang agar giat dalam menjalankan semua ibadah tersebut.”
(Al Qowa’id wal Ushul Jami’ah oleh Syaikh As Sa’di hal : 20)

Kalau engkau cermati maka engkau akan mengetahui bahwa tidak ada yang berat dan membawa masyaqoh dalam syariat islam, sebagaimana firman Alloh diatas, namun perlu diketahui bahwa sesuatu yang berat dalam syariat itu ada tiga macam :

Macam-macam masyaqqoh :
  1. Masyaqqoh yang diluar kemapuan manusia. Maka ini tidak mungkin terdapat dalam syariat islam. Misalkan : berpuasa sepuluh hari berturut turut siang dan malam, berjalan diatas air, terbang tanpa alat dan lainnya. Ini semua tidak mungin disyariatkan oleh Alloh dan Rosul Nya.
  2. Masyaqqoh yang biasa. Masyaqqoh model ini mesti ada dalam semua beban syari, karena semua perintah dan larangan pasti akan membawa sedikit beban pada jiwa yang diberi beban tersebut. Maka masyaqqoh model ini terdapat dalam syariat islam dan bukan yang dimaksud dengan ayat dan hadits diatas. Misal : Puasa sehari dari terbit fajar sampai terbenam matahari, ini pasti ada masyaqohnya akan tetapi dalam kadar yang wajar. Sholat shubuh, ini juga ada sedikit masyaqqoh, karena harus bangun dan berwudlu disaat mungkin masih ngantuk atau udara dingin. Namun semua ini masyaqoh dalam batas yang wajar Begitu juga mengeluarkan zakat dari sebagian harta dan lainnya.
  3. Masyaqqoh yang sangat amat berat meskipun sebenarnya mampu dilakukan oleh manusia. Masyaqqoh yang ini juga tidak terdapat dalam syariat islam, karena keutaman Alloh yang diberikan kepada hamba Nya. Misalnya : Sholat lima puluh kali sehari semalam, seandainya Alloh memerintahkannya kepada manusia maka hal ini bisa dilakukan oleh mereka, namun dengan sebuah masyaqqoh yang sangat berat sekali. Oleh karena itu Alloh tidak mensyariatkan hal ini pada ummat islam. 
Namun jika masyaqqoh yang terdapat dalam syariat islam yang sebenarnya adalah masyaqoh yang wajar, namun suatu ketika menjadi sulit dan berat karena ada sebab tertentu maka Alloh memberikan keringanan dan keluasan kepada hambaNya. Misalkan puasa pada siang hari bulan Romadhon yang asalnya adalah sebuah masyaqqoh yang ringan, namun saat sakit atau safar akan menjadi berat, maka dari itu Alloh memberikan keringanan kepada mereka untuk tidak berpuasa saat itu dan wajib menggantinya pada saat lain, sebagaimana firman Nya :

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari-hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.
(QS. Al Baqoroh : 185)
Begitu pula harus difahami, bahwa jika Alloh dan Rosul Nya mensyariatkan sesuatu yang kelihatannya sangat berat, maka harus difahami dengan dua kemungkinan :
  • Kita harus meyakini bahwa dibalik syariat yang berat tersebut ada hikmah dan tujuan yang jauh lebih besar. Misalnya : Syariat jihad berperang dijalan Alloh melawan orang kafir. Syariat ini kelihatan berat karena harus mengorbankan harta benda, keluarga bahkan jiwa. Mungkin dengan jihad ini seorang wanita kehilangan suaminya dan seorang anak kehilangan ayahnya. Namun dibalik itu semua ada hikmah berharga yaitu meninggikan kalimat Alloh dimuka bumi dan Alloh menyediakan pahala yang sangat besar bagi para mujahid fisabilillah.
  • Kalau tidak demikian, maka harus kita sadari bahwa apa yang dianggap berat itu sebenarnya bukan sebuah keberatan, namun karena jiwa manusia yang kotorlah yang menganggap itu berat. Bukankah kalau seseorang sedang sakit maka makanan yang sebenarnya tidak keras pun terasa keras, bukanlah kalau sedang sakit makanan yang sebenarnya manis pun terasa pahit. Sadarilah !!!
Sebab-sebab keringanan

Kalau kita cermati tentang sebab-sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan keringanan syar’i adalah:

1. Safar
Safar adalah sepotong adzab, karena banyak kesulitan dan kerepotan saat dalam sebuah perjalanan jauh, oleh karena itu Alloh memberikan beberapa keringanan dalam menjalankan sebuah syariat saat safar.
Diantaranya adalah mengqoshor dan menjama’ sholat, boleh tidak berpuasa pada bulan Romadhon namun harus mengganti pada bulan lainnya, bolehnya mengusap sepatu tiga hari tiga malam sedangkan kalau tidak safar hanya boleh sehari semalam, boleh tidak berjamaah juga tidak sholat jum’at dan lainnya.

2. Sakit
Keringanan yang didapatkan karena sakit misalnya bolehnya bertayamum sebagai ganti dari berwudlu, boleh tidak berpuasa pada bulan Romadhon namun menggantinya pada bulan lain, bolehnya sholat dengan duduk atau berbaring dan lainnya.

3. Terpaksa
Contoh keringanan karena sebab terpaksa adalah bolehnya mengucapkan kalimat kufur dengan syarat hatinya masih teguh diatas keimanan, sebagaiman kisah Ammar bin Yasir yang dipaksa kufur dengan siksaaan yang sangat berat, maka beliau mengucapkan kalimat kufur namun hatinya tetap teguh diatas keimanannya. Sebagaimana firman Alloh Ta’ala :
مَن كَفَرَ بِاللهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ
Barangsiapa yang kafir kepada Alloh sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Alloh), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Alloh menimpanya dan baginya azab yang besar.(QS. An Nahl : 106)

4. Lupa
Orang yang lupa makan dan minum siang hari bulan Romadhon tidak batal puasanya, juga tidak berdosa orang yang lupa tidak sholat sampai keluar waktunya, hanya saja kalau dia ingat maka wajib melaksanakannya saat itu juga.
Sebagaimana sabda Rosululloh :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَسِيَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا
Dari Anas berkata : Rosululloh bersabda : “Barang siapa yang lupa sholat atau ketiduran belum mengerjakannya, maka kaffarohnya adalah mengerjakannya saat dia ingat.” (HR. Bukhori 597, Muslim 684)

5. Bodoh
Terkadang bodoh adalah sebuah sebab seseorang mendapatkan keringanan, misalnya orang yang baru masuk islam dan belum mengetahui bahwa khomer itu hukumnya haram, lalu dia meminumnya maka tidak ada dosa atasnya dan tidak ada hukuman akhirat.

6. Sulit menghindarinya
Dalam keadaan-keadaan tertentu, manusia sulit sekali menghindari sesuatu yang pada dasarnya adalah tidak boleh, maka hal itu bisa diberi keringanan karena kesulitan tersebut.
Misalnya : Tidak dinajiskanya kucing karena binatang ini sangat sering bergaul dengan manusia, keluar masuk rumah dan lainnya, maka seandainya dinajiskan maka akan sangat memberatkan.
Oleh Karena itu tatkala Rosululloh ditanya tentang najisnya kucing beliau menjawab :
إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ
Sesungguhnya dia tidak najis, karena dia binatang yang selalu keliling pada kalian.”
(Shohih HR. Abu Dawud : 75, Nasa’i 1/55, Tirmidzi : 92, Ibnu Majah 367)

7. Kekurangan
Ada beberapa kekurangan yang terdapat pada seseorang, baik kekurangan dalam fisik, akal ataupun lainnya, maka semua kekurangan tersebut bisa menjadi sebab mendapatkan keringanan.
Misalnya orang yang kurang fisiknya maka tidak wajib jihad, contohnya orang yang buta atau pincang yang parah. Adapun kekurangan umur atau belum baligh dan kurang akal, maka orang yang belum baligh dan kurang waras tidak diberi kewajiban syar’i.

Macam-macam keringanan

Kalau kita cermati beberapa misal diatas, maka akan dapat kita simpulkan bahwa keringanan yang diberikan oleh Alloh dan Rosul Nya meliputi beberapa macam :
  • Digugurkan kewajiban. Misalnya orang yang haidl dan nifas tidak boleh sholat dan tidak wajib mengqodlo’
  • Dikurangi dari aslinya, Misalnya sholat dhuhur yang asalnya empat rokaat, namun bagi musafir hanya dikerjakan dengan dua rokaat
  • Diganti dengan yang lain, Semacam mengganti wudlu dan mandi junub dengan bertayammum saja kalau terdapat sebab yang membolehkan tayammum
  • Memajukan dari waktu yang sebenarnya, Misalnya orang boleh untuk mengerjakan waktu ashar diwaktu dhuhur, karena sedang bepergian atau sedang ada keperluan yang mendesak. Juga bolehnya membayar zakat fithri maupun zakat mal sebelum waktu wajibnya.
  • Mengakhirkan dari waktu yang sebenarnya, Misalnya bolehnya mengerjakan shoat dhuhur di waktu ashar serta waktu maghrib di waktu isya’ saat sedang safar atau ada sebuah keperluan yang mendesak
  • Saat terpaksa yang haram jadi boleh, Orang yang sangat kelaparan, maka dia boleh memakan bangkai bahkan terkadang jadi wajib memakan bangkai tersebut kalau seandainya tidak memakanya akan mengakibatkannya meninggal dunia.
  • Merubah, Seperti perubahan tatacara sholat saat berada dikancah medan pertempuran, yang disebut dengan sholat khouf.(Lihat Al Wajiz hal : 227-229)
Penerapan kaedah

Banyak sekali cabang-cabang fiqh yang tercakup dalam kaedah ini, saya sebut beberapa diantaranya :
  • Pada dasarnya bangkai adalah haram, namun kalau seseorang dalam keadaan terpaksa maka diperbolehkan baginya makan bangkai tersebut bahkan mungkin menjadi wajib
  • Asuransi konvensional itu hukumnya haram, karena banyak mengandung unsur kedholiman, riba serta lainnya. Namun pada zaman sekarang ini sistem asuransi ini hampir ada disemua sektor kehidupan, misalnya kalau masuk terminal harus membayar peron yang disitu mesti ada sebagian uangnya untuk PT Asuransi dan lainnya, maka diperbolehkan membayar uang peron tersebut meskipun mengandung unsur asuransi karena akan sangat sulit sekali menghindarinya.
  • Kalau sulit mendapatkan sesuatu dengan cara yang meyakinkan, maka diperbolehkan menggunakan dhon (persangkaan) yang kuat meskpun tidak sampai yakin. Dan ini banyak kita dapatkan dalam fiqh islami. Misalkan Orang yang tidak mengetahui arah kibat lalu sudah berusaha mencarinya namun tidak mendapatkanya, maka dia bisa menggunakan berbagai macam qorinah untuk menguatkan arah kiblat lalu sholat mengarah kesana meskipun dia sendiri belum yakin bahwa itulah arah kiblat.
  • Pada dasanya tidak boleh menjual barang yang tidak diketahui bendanya secara langsung, namun karena banyak keperluan akan hal ini, maka diperbolehkan jual beli pesanan, dengan cara pembeli barang bayar kontan duluan, namun barangnya akan di terima belakangan dengan menyebutkan kretria tertentu, begitu juga diperbolehkannya jual beli biji-bijian yang masih dalam tanah serta menjual buah yang masih dalam pohonnya karena keperluan yang mendesak akan hal itu.
  • Pada dasanya benda najis harus dihilangkan bendanya, namun karena kesulitan maka diperbolehkan untuk mensucikan benda najis yang menempel di sandal dan pakaian wanita yang dipakai berjalan pada jalanan yang najis, hanya sekedar dipakai berjalan dijalan setelahnya yang suci.

posted by Novi Effendi Blog
sumber artikel: http://ahmadsabiq.com/

Posted By Minang Sunnah8:33 AM

Minggu, 20 November 2011

Majmu Fatawa : Pembunuhan Husain bin Ali bin Abu Thalib

Filled under:

Banyak sekali bertebaran kisah-kisah tentang terbunuhnya Husain dari berbagai sumber terutama dari kalangan Syiah. Disini saya mencoba menyusun tulisan dari beberapa tulisan yang telah ada dengan mendasarkan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah dan juga Muridnya ibnu Katsir dalam kitabnya Al bidayah Wannihayah disertai sumber-sumber otentik dari hadits-hadits dan atsar yang telah sah.

Isyarat akan terbunuhnya Husain

Jauh hari sebelum Husain terbunuh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita Kepada Ali bin Abi Thalib bahwa Husain akan wafat dalam keadaan terbunuh. Adz-Dzahabi rahimahullah membawakan dari dari ‘Ali, ia berkata:

Aku datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kedua mata beliau bercucuran air mata, lalu beliau bersabda: “Jibril baru saja datang, ia menceritakan kepadaku bahwa Husain kelak akan mati dibunuh. Kemudian Jibril berkata: “Apakah engkau ingin aku ciumkan kepadamu bau tanahnya?”. Aku menjawab: “Ya. Jibril lalu menjulurkan tangannya, ia menggenggam tanah satu genggaman. Lalu ia memberikannya kepadaku. Sehingga karena itulah aku tidak kuasa menahan air mataku”.[1]

Kronologi terbunuhnya Husain Radiyallahu anhu

Ketika Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu resmi menjadi khalifah, maka Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu juga sangat memuliakannya, bahkan sangat memperhatikan kehidupan Husain Radhiyallahu ‘anhu dan saudaranya, sehingga sering memberikan hadiah kepada keduanya. Tetapi, ketika Yazid bin Mu’awiyah diangkat sebagai khalifah, Husain Radhiyallahu ‘anhu bersama Ibnu Zubair Radhiyallahu ‘anhu termasuk yang tidak mau berbai’at. Bahkan penolakan itu terjadi sebelum Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu wafat ketika Yazid sudah ditetapkan sebagai calon khalifah pengganti Mu’awiyah.

Oleh karena itu, beliau berdua keluar dari Madinah dan lari menuju Mekah. Kemudian keduanya menetap di Makkah. Ibnu Zubair Radhiyallahu ‘anhu menetap di tempat shalatnya di dekat Ka’bah, sedangkan Husain Radhiyallahu ‘anhu di tempat yang lebih terbuka karena di kelilingi banyak orang.

Selanjutnya, banyak surat yang datang kepada Husain Radhiyallahu ‘anhu dari penduduk Irak membujuk beliau supaya memimpin mereka. Menurut isi surat, mereka siap membai’at Husain Radhiyallahu ‘anhu.dan surat-surat itu diantaranya juga berisi pernyataan gembira atas kematian Muawiyah Radhiyallahu 'anhu.[2]

kita ketahui penduduk Irak bahkan hingga saat ini memang banyak diwarnai oleh pemikiran Rafidah (syiah) dan khawarij

Tidak cukup dengan surat saja, mereka terkadang mendatangi Husain radhiyallahu ‘anhu di Makkah, mengajak Beliau radhiyallahu ‘anhu berangkat ke Kufah dan berjanji akan menyediakan pasukan[3]. Para Sahabat seperti Ibnu Abbâs radhiyallahu ‘anhuma kerap kali menasehati Husain radhiyallahu ‘anhu agar tidak memenuhi keinginan mereka, karena ayah Husain radhiyallahu ‘anhu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dibunuh di Kufah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu khawatir mereka membunuh Husain radhiyallahu ‘anhu juga disana.

Saat hendak berangkat dari Mekah menuju Irak, di negeri tempat beliau terbunuh, Husain Radhiyallahu ‘anhu meminta nasehat kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma.

Maka, Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Kalaulah tidak dipandang tidak pantas, tentu aku kalungkan tanganku pada kepalamu (maksudnya hendak mencegah kepergiannya)”.

Maka Husain Radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Sungguh jika aku terbunuh di tempat demikian dan demikian, tentu lebih aku sukai daripada aku mengorbankan kemuliaan negeri Mekah ini” [4]

Husain Radhiyallahu ‘anhu akhirnya tetap berangkat menuju Irak setelah sebelumnya mengutus Muslim bin ‘Aqil bin Abi Thalib ke Irak untuk mengadakan penyelidikan, dan akhirnya mendapat berita bahwa beliau harus segera ke Irak.[5]

Namun, ketika Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma tiba di Madinah, beliau mendengar berita bahwa Husain sedang menuju ke Irak. Mengingat betapa bahayanya Irak bagi Husain Radhiyallahu ‘anhuma, maka Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma pun menyusulnya untuk menyarankan agar Husain mengurungkan niatnya. Tetapi, karena harapan-harapan yang diberikan oleh orang-orang Irak, maka Husain tetap pada pendiriannya untuk berangkat ke Irak. Maka Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma pun dengan berat hati melepaskannya setelah sebelumnya memeluk Husain Radhiyallahu ‘anhu dan mengucapkan kata perpisahan. Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“Aku titipkan engkau kepada Allah dari kejahatan seorang pembunuh”.[6]

Demikianlah, akhirnya Husain bin ‘Ali Radhiyallahu ‘anhuma tetap berangkat ke Irak

Sebagian riwayat menyatakan bahwa Beliau radhiyallahu ‘anhu mengambil keputusan ini karena belum mendengar kabar tentang sepupunya, Muslim bin ‘Aqil, yang telah dibunuh disana.

Akhirnya, berangkatlah Husain radhiyallahu ‘anhu bersama keluarga menuju Kufah.

Sementara di pihak yang lain, ‘Ubaidullah bin Ziyâd diutus oleh Yazid bin Muawiyah untuk mengatasi pergolakan di Irak. Akhirnya, ‘Ubaidullah dengan pasukannya berhadapan dengan Husain radhiyallahu ‘anhu bersama keluarganya yang sedang dalam perjalanan menuju Irak. Pergolakan ini sendiri dipicu oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan Husain radhiyallahu ‘anhu. Dua pasukan yang sangat tidak imbang ini bertemu, sementara orang-orang Irak yang (telah) membujuk Husain radhiyallahu ‘anhu, dan berjanji akan membantu dan menyiapkan pasukan justru melarikan diri meninggalkan Husain radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya berhadapan dengan pasukan ‘Ubaidullah. Sampai akhirnya, terbunuhlah Husain radhiyallahu ‘anhu sebagai orang yang terzhalimi dan sebagai syahid. Kepalanya dipenggal lalu dibawa ke hadapan ‘Ubaidullah bin Ziyâd dan kepala itu diletakkan di bejana.

Dalam tragedi mengenaskan ini, di antara Ahlul Bait yang gugur bersama Al Husain adalah putera Ali bin Abi Thalib lainnya; Abu Bakar bin Ali, Umar bin Ali, dan Utsman bin Ali.

Demikian pula putera Al Hasan, Abu Bakar bin Al Hasan. Namun anehnya, ketika Anda mendengar kaset-kaset, ataupun membaca buku-buku Syiah yang menceritakan kisah pembunuhan Al Husain , nama keempat Ahlul Bait tersebut tidak pernah diungkit. Tentu saja, agar orang tidak berkata bahwa Ali memberi nama anak-anak beliau dengan nama-nama sahabat Rasulullah ; Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman. Tiga nama yang paling dibenci orang-orang Syiah.

Kemana perginya para pengirim ratusan surat itu? Mana 12.000 orang yang katanya akan berbaiat rela mati bersama Al Husain ?
Mereka tidak memberikan pertolongan kepada Muslim bin Uqail, utusan Al Husain yang beliau utus dari Makkah ke Kufah. Tidak pula berperang membantu Al Husain melawan pasukan Ibnu Ziyad. Maka tak heran jika sekarang orang-orang Syiah meratap dan menyiksa diri mereka setiap 10 Muharram, sebagai bentuk penyesalan dan permohonan ampun atas dosa-dosa para pendahulu mereka terhadap Al Husain .

Tidak mengherankan kalau Ibnu Umar menyalahkan penduduk irak sebagai pembunuh Husain dalam sebuah atsar yang diriwayatkan Oleh Al Imam Al bukhari haditss no. 3470

‏ ‏عن ‏ ‏ابن أبي نعم ‏ ‏قال كنت شاهدا ‏ ‏لابن عمر ‏ ‏وسأله رجل عن دم البعوض فقال : ممن أنت ؟ فقال : من ‏ ‏أهل ‏ ‏‏العراق ، ‏قال انظروا إلى هذا يسألني عن دم البعوض وقد قتلوا ابن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ،‏ ‏وسمعت النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يقول ‏ ‏هما ريحانتاي من الدنيا



Dari ibnu Abi Nuaim, dia berkata:” saya menyaksikan Abdullan bin Umar ketika ditanya oleh seseorang tentang darah nyamuk, Maka ibnu umar bertanya: “engkau darimana? Dia menjawab:”dari irak, Maka ibnu Umar berkata:”Lihatlah orang ini! Dia bertanya kepadaku tentang darah nyamuk padahal mereka telah membunuh cucu Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam, Aku telah mendengar Rasullullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:”mereka berdua adalah Bunga rahanku didunia.

Kisah Kepala Husain

Riwayat yang paling shahih tentang kepala Husain telah dibawakan oleh Imam al-Bukhâri, nomor 3748:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنِي حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أُتِيَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ زِيَادٍ بِرَأْسِ الْحُسَيْنِ فَجُعِلَ فِي طَسْتٍ فَجَعَلَ يَنْكُتُ وَقَالَ فِي حُسْنِهِ شَيْئًا فَقَالَ أَنَسٌ كَانَ أَشْبَهَهُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ مَخْضُوبًا بِالْوَسْمَةِ

Aku diberitahu oleh Muhammad bin Husain bin Ibrâhîm, dia mengatakan; aku diberitahu oleh Husain bin Muhammad, kami diberitahu oleh Jarîr dari Muhammad dari Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan; ‘Kepala Husain dibawa dan didatangkan kepada ‘Ubaidullah bin Ziyâd. Kepala itu ditaruh di bejana. Lalu ‘Ubaidullah bin Ziyâd menusuk-nusuk (dengan pedangnya) seraya berkomentar sedikit tentang ketampanan Husain. Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan; ‘Diantara Ahlul-Bait, Husain adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Saat itu, Husain radhiyallahu ‘anhu disemir rambutnya dengan wasmah (tumbuhan, sejenis pacar yang condong ke warna hitam).


Lalu ‘Ubaidullah yang durhaka ini kemudian menusuk-nusuk hidung, mulut dan gigi Husain radhiyallahu ‘anhu, padahal disitu ada Anas bin Mâlik, Zaid bin Arqam dan Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu ‘anhuma. Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan; “Singkirkan pedangmu dari mulut itu, karena aku pernah melihat mulut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium mulut itu!” Mendengarnya, orang durhaka ini mengatakan; “Seandainya saya tidak melihatmu sudah tua renta yang akalnya sudah rusak, maka pasti kepalamu saya penggal.

Dalam riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Hibbân dari Hafshah binti Sirîn dari Anas radhiyallahu ‘anhu dinyatakan:

Lalu ‘Ubaidullah mulai menusukkan pedangnya ke hidung Husain radhiyallahu ‘anhu.”

Dalam riwayat ath-Thabrâni rahimahullah dari hadits Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu:

Lalu dia mulai menusukkan pedang yang di tangannya ke mata dan hidung Husain radhiyallahu ‘anhu. Aku (Zaid bin Arqam) mengatakan; ‘Angkat pedangmu, sungguh aku pernah melihat mulut Rasulullah (mencium) tempat itu.’

Demkian juga riwayat yang disampaikan lewat jalur Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu:

Aku (Anas bin Malik) mengatakan kepadanya; ‘Sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium tempat dimana engkau menaruh pedangmu itu.’ Lalu Ubaidullah mengangkat pedangnya.

Dari sini, kita mengetahui betapa banyak riwayat palsu tentang peristiwa ini yang menyatakan bahwa kepala Husain radhiyallahu ‘anhu diarak sampai diletakkan di depan Yazid rahimahullah. Para wanita dari keluarga Husain radhiyallahu ‘anhu dikelilingkan ke seluruh negeri dengan kendaaraan tanpa pelana, ditawan dan dirampas. Semua ini merupakan kepalsuan yang dibuat Rafidhah (Syiah). Karena Yazid rahimahullah saat itu sedang berada di Syam, sementara kejadian memilukan tersebut berlangsung di Irak.

Syaikhul-Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan;

“Al-Husain terbunuh di Karbala di dekat Eufrat dan jasadnya dikubur di tempat terbunuhnya, sedangkan kepalanya dikirim ke hadapan Ubaidillah bin Ziyad di Kufah.
Demikianlah yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dan dari para imam yang lain.

Adapun tentang dibawanya kepala beliau kepada Yazid telah diriwayatkan dalam beberapa jalan yang munqathi’ (terputus) dan tidak benar sedikitpun tentangnya.

Bahkan dalam riwayat-riwayat tersebut tampak sesuatu yang menunjukkan kedustaan dan pengada-adaan. Disebutkan padanya bahwa Yazid menusuk gigi taringnya dengan besi dan sebagian para shahabat yang hadir seperti Anas bin Malik, Abi Barzah dan lain-lain mengingkarinya. (tidak suka, red)

Hal ini adalah pengaburan, karena sesungguhnya yang menusuk dengan besi adalah ‘Ubaidilah bin Ziyad. Demikian pula dalam kitab-kitab shahih dan musnad, bahwasanya mereka menempatkan Yazid di tempat ‘Ubaidilah bin Ziyad. Adapun ‘Ubaidillah, tidak diragukan lagi bahwa dialah yang memerintahkan untuk membunuhnya (Husain) dan membawa kepalanya ke hadapan dirinya. Dan akhirnya Ibnu Ziyad pun dibunuh karena itu.

Dan lebih jelas lagi bahwasanya para shahabat yang tersebut tadi seperti Anas dan Abi Barzah tidak berada di Syam, melainkan berada di Iraq ketika itu.

Sesungguhnya para pendusta adalah orang-orang jahil (bodoh), tidak mengerti apa-apa yang menunjukkan kedustaan mereka.”[7]
Adapun tempat yang selama ini dianggap sebagai kuburan Husain atau kuburan kepala Husain di Syam, di Asqalan, di Mesir atau di tempat lain, maka itu adalah dusta, tidak ada bukti sama sekali. Karena semua ulama dan sejarawan yang dapat dipercaya tidak pernah memberikan kesaksian tentang hal itu. Bahkan mereka menyebutkan bahwa kepala Husain dibawa ke Madinah dan dikuburkan di sebelah kuburan Hasan

Adapun yang dirajihkan oleh para ulama tentang kepala Al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma adalah sebagaimana yang disebutkan oleh az- Zubair bin Bukar dalam kitabnya Ansab Quraisy dan beliau adalah seorang yang paling ‘alim dan paling tsiqah dalam masalah ini (tentang keturunan Quraisy). Dia menyebutkan bahwa kepala Al-Husain dibawa ke Madinah An-Nabawiyah dan dikuburkan di sana. Hal ini yang paling cocok, karena di sana ada kuburan saudaranya Al-Hasan, paman ayahnya Al-Abbas dan anak Ali dan yang seperti mereka.[8]

Komentar Ibnu Taimiyah Tentang pembunuhan Husain

“Ketika Husain bin ‘Ali Radhiyallahu ‘anhuma terbunuh pada hari ‘Asyura, yang dilakukan oleh sekelompok orang zhalim yang melampaui batas, dan dengan demikian berarti Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan Husain Radhiyallahu ‘anhuma untuk memperoleh kematian sebagai syahid, sebagaimana Allah Azza wa Jalla juga telah memuliakan Ahlu Baitnya yang lain dengan mati syahid, seperti halnya Allah Azza wa Jalla telah memuliakan Hamzah, Ja’far, ayahnya yaitu ‘Ali dan lain-lain dengan mati syahid. Dan mati syahid inilah salah satu cara Allah Azza wa Jalla untuk meninggikan kedudukan serta derajat Husain Radhiyallahu ‘anhuma. Maka, ketika itulah sesungguhnya Husain Radhiyallahu ‘anhuma dan saudaranya, yaitu Hasan Radhiyallahu ‘anhuma menjadi pemuka para pemuda Ahli sorga.” [9]

Kesyahidan Husain menurut Syaikhul Islam

“Husain Radhiyallahu ‘anhuma telah dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mati syahid pada hari (‘Asyura) ini. Dengan peristiwa ini, Allah Azza wa Jalla juga berarti telah menghinakan pembunuhnya serta orang-orang yang membatu pembunuhan terhadapnya atau orang-orang yang senang dengan pembunuhan itu. Husain Radhiyallahu ‘anhuma memiliki contoh yang baik dari para syuhada yang mendahuluinya. Sesungguhnya Husain Radhiyallahu ‘anhuma dan saudaranya (yaitu Hasan) Radhiyallahu ‘anhuma merupakan dua orang pemuka dari para pemuda Ahli sorga. Keduanya merupakan orang-orang yang dibesarkan dalam suasana kejayaan Islam, mereka berdua tidak sempat mendapatkan keutamaan berhijrah, berjihad dan bersabar menghadapi beratnya gangguan orang kafir sebagaimana dialami oleh para Ahli Baitnya yang lain. Karena itulah, Allah Azza wa Jalla memuliakan keduanya dengan mati syahid sebagai penyempurna bagi kemuliaannya dan sebagai pengangkatan bagi derajatnya agar semakin tinggi. Pembunuhan terhadap Husain Radhiyallahu ‘anhuma ini merupakan musibah besar. Dan Allah Azza wa Jalla mensyari’atkan agar hamba-Nya ber-istirja’ (mengucapkan innâ lillâh wa innâ ilaihi raji’ûn) ketika mendapatkan musibah dengan firman-Nya:

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:”Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji’ûn “. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [al-Baqarah/2:155-157][10]

Semoga Kita dapat mengambil Pelajaran dari kisah ini.

Semoga bermanfaat.

Artikel ini merupakan saduran dari Tulisan Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin dan ustadz Abdul Hakim serta sumber-sumber lain dengan beberapa perubahan sesuai dengan Misi blog ini.
[1] Siyar A’lâm Nubalâ (III/288-289). Pentahqiq kitab ini (Muhammad Na’im al-‘Arqasusy dan Ma’mûn Shagharjiy) mengatakan, hadits itu dan yang senada diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Thabrani dan lain-lain, sedangkan para perawinya oleh al-Haitsami dikatakan sebagai para perawi yang tsiqah.

[2] Al-Bidâyah wan Nihâyah (VIII/150)

[3] Mereka (penduduk irak) mengatakan telah menyediakan 12000 pasukan untuk mengamankan kedatangan Husain, Namun hingga Husain dipenggal kepalanya, tak ada satupun yang muncul.

[4] Siyar A’lâm Nubalâ (III/292). Pentahqiq kitab ini (Muhammad Na’im al-‘Arqasusy dan Ma’mûn Shagharji) mengatakan, riwayat ini diriwayatkan oleh ath-Thabrâni, sedangkan para perawinya oleh al-Haitsami dikatakan sebagai para perawi yang dipakai dalam kitab Shahîh.

[5] al-Bidâyah wan Nihâyah (VIII/153 dst)

[6] Siyar A’lâm Nubalâ (III/292)

[7] Majmû’ Fatâwa, ( IV/ 507)

[8] Majmû’ Fatâwa (XXVII/465)

[9] Majmû’ Fatâwa (XXV/302)

[10] Majmû’ Fatâwa (IV/511)

Posted by: Novi Effendi Blog
Artikel: http://syaikhulislam.wordpress.com

Posted By Minang Sunnah9:00 AM