Senin, 25 April 2011

Seputar Terorisme...

Filled under:

Segala puji bagia Allah, selawat beserta salam buat Rasulullah, keluarga dan para sabatnya.
Tujuan dari Pembahasan Tentang Terorisme:

  • Sebagai sebuah jawaban atas tuduhan bahwa aksi terorisme muncul dikarenakan kefanatikan sebagian pemeluk agama Islam kepada ajaran agamanya. Melalui pembahasan berikut ini kami akan memaparkan bahwasanya ajaran Islam sangat mengecam terorisme. 



Sesungguhnya Islam adalah agama kedamaian dan menganjurkan pemeluknya untuk merealisasikan kedamaian sebagaimana makna kata ”islam” itu sendiri. Kedamaian inilah yang telah terealisasikan ketika Islam berkuasa di kota Madinah. Demikian halnya yang berlaku ketika kaum muslimin menguasai negeri Syam. Orang nonmuslim baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani hidup tentram di bawah kekuasan Islam. Begitu pula ketika kejayaan Islam di Andalusia (Spanyol).

Nabi umat Islam merupakan nabi pembawa rahmat bagi seluruh alam, tidak terbatas untuk umatnya semata bahkan termasuk di dalamnya hewan dan tumbuhan.
Allah Ta`ala berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ [الأنبياء/107]
“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta.”
Sebagai gambaran betapa agungnya akhlak nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam terhadap musuh-musuh Islam yaitu:
Ketika beliau mengajak masyarakat Thaif untuk masuk Islam, mereka tidak hanya menolak untuk masuk Islam bahkan menyuruh para pemuda dan orang bodoh melempari nabi dengan batu kerikil. Hal tersebut mengakibatkan kaki dan tumit Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam berdarah, bahkan beliau tidak sadarkan diri kecuali setelah sampai di Qornu Tsa’alib. Kemudian Allah mengutus malaikat Jibril kepada beliau dan menyampaikan bahwa Allah mendengar perkataan masyarakat Thaif dan apa yang mereka lakukan terhadap beliau. Allah telah mengutus kepada beliau malaikat Jibal (gunung) yang serta merta akan melakukan apa yang beliau kehendaki untuk masyarakat Thaif berupa kebinasaan. Kemudian malaikat Jibal mendekati Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan berkata, “Aku diperintahkan Allah untuk menemuimu agar aku melakukan apa yang engkau inginkan terhadap mereka. Jika engkau menginginkan agar aku menjatuhkan kedua gunung Makkah ini di atas mereka, maka aku akan melakukannya.” Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam menjawab: “Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang yang mau menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.”[1]
Demikian pula ketika Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam menalukkan kota Makkah, beliau bersabda,
« مَنْ دَخَلَ دَارَ أَبِى سُفْيَانَ فَهُوَ آمِنٌ وَمَنْ أَلْقَى السِّلاَحَ فَهُوَ آمِنٌ وَمَنْ أَغْلَقَ بَابَهُ فَهُوَ آمِنٌ » رواه مسلم.
“Barangsiapa yang masuk rumah Abu Sofyan, maka ia aman. Barangsiapa yang meletakkan pedangnya, maka ia aman. Dan Barangsiapa yang bersembunyi dirumahnya, maka ia aman.”

  • Sebagai untaian nasehat kepada kelompok teroris yang mengatasnamakan aksi-aksi teror mereka sebagai jihad fi sabilillah.

Nasihat merupakan perkara yang sangat penting dalam agama Islam. Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Tamim Ad-Daary radhiallahu ‘anhu , dia mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
« الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ » رواه مسلم
“Agama adalah nasehat.” Kami (para sahabat) bertanya,”Bagi siapa?” Beliau bersabda,”Bagi Allah, kitab-Nya, rasul-Nya dan bagi penguasa kaum muslimin serta rakyatnya.(HR.Muslim).
Kita diperintahkan untuk menolong saudara kita yang menzalimi orang lain, yaitu dengan cara mencegahnya. Imam Bukhari meriwayatkan haditsnya dari Anas  radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
( انصر أخاك ظالما أو مظلوما ) . فقال رجل يا رسول الله أنصره إذا كان مظلوما أفرأيت إذا كان ظالما كيف أنصره ؟ قال ( تحجزه أو تمنعه من الظلم فإن ذلك نصره ) رواه البخاري
“Tolonglah saudaramu yang menzalimi dan dizalimi.” Maka seseorang bertanya, ‘Ya Rasulullah, aku menolong apabila ada yang dizalimi. Maka bagaimana cara menolong orang berlaku zalim?’ Beliau menjawab: “Engkau menghalangi dan mencegahnya dari berbuat zalim. Maka demikian cara menolongnya.’” (HR. Bukhari).
  • Sebagai bantahan kepada pihak yang mengkait-kaitkan antara terorisme dengan dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab.

Beberapa waktu belakangan ini banyak pihak tertentu yang berupaya mengkait-kaitkan antara aksi terorisme dengan dakwah Ahlussunnah yang ditegakkan oleh tokoh pembaharu paham Ahlussunnah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab. Apakah mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwasanya diantara ulama yang paling keras memerangi terorisme adalah para ulama yang mengikuti dakwah Ahlussunnah. Oleh sebab itu, ancaman teroris terbesar di tujukan kepada negara Ahlussunnah, yaitu Saudi Arabia. Bahkan para gembong teroris mengkafirkan para ulama yang membongkar kesesatan mereka. Termasuk kelompok pro-teroris di negeri ini, beberapa bulan yang lalu menerbitkan dalam sebuah majalah mereka yang berisikan penghinaan terhadap pemerintah dan ulama Saudi Arabia.[2]
Penulis belum pernah melihat perjuangan dan kesungguhan ulama yang demikian tinggi dalam menupas terorisme sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama Saudi Arabia. Mereka senantiasa menerangkan kepada umat tentang bahaya laten terorisme, baik dalam bentuk karya ilmiah, tulisan, artikel, ceramah, fatwa, seminar dan lain-lain. Bahkan, mereka menumpas terorisme sampai keakar-akarnya. Mereka menjelaskan dan membongkar kesalahan para tokoh teroris dalam beragumentasi dengan ayat dan hadits. Silakan pembaca merujuk pada beberapa buku (kitab) yang akan kami sebutkan di akhir pembahasan ini. Bahkan gembong-gembong teroris internasional juga tidak segan-segan untuk mengkafirkan para ulama yang membongkar kesesatan mereka.
Bagaimana bisa dikatakan bahwa dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab ada kaitannya dengan teroris? Kami meminta bukti kepada setiap orang melontar tuduhan dan fitnah tentang terkaitnya dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan terorisme. Kami tidak meminta satu kitab, tetapi cukup satu ungkapan saja dari ulama yang mengikuti dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab mengarah pada doktrin terorisme. Menurut hemat kami, orang yang menuduh adanya kaitan antara trorisme dengan dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab ada beberapa kemungkinan:
Pertama: Dia belum mengenal dan memahami tentang arti terorisme dan bagaimana doktrin pemahamannya.
Kedua: Atau dia belum mengenal dan memahami tentang landasan dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dan bagaimana pemahamannya.
Ketiga: Atau dia hanya mengambil informasi dari sepihak, yaitu dari pihak yang mudah menuduh dan berkesimpulan sebelum mengadakan eksperimen, penelitian, dan pengkajian mendalam terhadap pihak yang dituduh.
Keempat: Atau dia sengaja ingin melakukan sebuah propaganda dalam memecah belah umat Islam, dengan mengelompokkan mereka menjadi berbagai kelompok, lalu membenturkan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.
Kelima: Atau dia mempunyai agenda dan tujuan tertentu di balik tuduhan itu semua. Mungkin dari musuh Islam atau dari musuh dakwah Ahlussunnah, atau mungkin juga dari kelompok yang mendukung tindakan terorisme untuk mengalihkan tuduhan[3].

Definisi Terorisme

Belum ada kesepakatan atas definisi terorisme yang dapat diterima oleh semua pihak. Berbagai definisi yang dikemukakan oleh berbagai pakar dan penelaah dalam masalah ini tidak terlepas dari berbagai sanggahan. Bahkan salah seorang pakar mengatakan bahwa definisi terorisme ada sekitar 180 [4].
Satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan bagi kita semua adalah jangan mengidentikkan terorisme dengan agama apapun, apalagi dengan agama Islam. Sebab, aksi teror tidak dibenarkan dalam ajaran agama manapun sebagaimana pengakuan pemeluk setiap agama.
Setelah melihat berbagai definisi yang dikemukakan oleh beberapa pakar, di sini kami mencoba memilih dan menyimpulkan sebagian dari definisi-definisi tersebut. Kesimpulan penulis tentang definisi terorisme adalah:
Doktrin dan aksi terorganisir yang mengancam keselamatan jiwa dan harta orang banyak dengan pembunuhan dan penghancuran tanpa alasan dan tujuan yang benar.
Akan tetapi, istilah terorisme baru dikenal beberapa tahun terakhir ini. Hal ini diawali sejak perang dingin antara dua negara adikuasa berakhir, yakni setelah kalahnya negara adikuasa Uni sofyet ketika memerangi Afganistan. Kemudian negara-negara Islam yang berada dalam cengkeraman negara tersebut berusaha melepaskan diri. Bahkan lebih mengemuka lagi istilah terorisme setelah kejadian 11 September di Amerika Serikat tahun 2001.
Namun hal yang sangat menggelitik sekaligus memalukan yakni pernyataan yang terlontar dari salah seorang yang dianggap sebagai tokoh Islam bahwa ciri-ciri teroris yakni jenggotan, bercelana cingkrang dan selalu membawa mushaf kecil. Pernyataan ini menunjukkan keterbelakangan tokoh tersebut dari aspek informasi dan pemikiran, bahkan pemahamannya akan ajaran agama. Pernyataan tersebut selain tidak sesuai dengan fakta, juga terselip bentuk kebencian terhadap umat Islam yang berusaha menerapkan agamanya sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.

Terorisme dari Masa ke Masa

Jika kita meneliti berbagai aksi teror telah berlangsung lama dalam sejarah kehidupan manusia.
Aksi teror telah dilakukan oleh penentang dakwah para rasul. Mereka memburu dan membunuh para pengikut mereka. Beberapa aksi teror yang telah ada diantaranya:
-  kaum Babilonia terhadap nabi Ibrahim ‘alahissalam
-  kaum Fir’aun terhadap nabi Musa ‘alahissalam dan pengikutnya
-  kaum Yahudi terhadap nabi Isa ‘alahissalam dan pengikutnya
-  kaum Quraisy terhadap nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam dan pengikutnya
-  Hitler Nazi di Jerman
-  Israil terhadap muslim Palestina
-  Serbia terhadap muslim Bosnia
-  Soviet terhadap Muslim di negeri-negeri Balkhan
-  Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia
- Syi’ah Rafidhoh terhadap Ahlussunnah di Iran

Sebab-Sebab Muncul Dan Berkembangnya Terorisme

Mengenal sebab sesuatu hal yang ingin kita obati merupakan perkara yang sangat penting. Dengan mengetahui sebab-sebab tersebut, akan dengan mudah mendiagnosa untuk selanjutnya memberikan terapi yang tepat terhadap suatu penyakit. Oleh sebab itu, sebelum memberikan terapi, penting kita mengenal sebab akibat dari suatu penyakit. Terapi yang tepat, sangat mendukung kesembuhan dan pemulihan kondisi penderita. Bahkan, bisa jadi terapi dari penyakit tersebut cukup dengan menghindari sebab-sebabnya saja tanpa meminum obat.
Jika kita cermati banyak sekali fakror yang mendukung dan menyebabkan muncul dan berkembangnya terorisme. Berikut ini akan kami sebutkan faktor yang paling dominan, diantaraya:
  • Penjajahan dan pencaplokan terhadap negara-negara muslim, seperti di Palestina, Iraq, dan Afganistan.
Dunia bungkam seribu bahasa terhadap penjajahan yang dilakukan Israil dan Amerika. Mengapa presiden George Bush tidak dibawa ke mahkamah hukum internasional sebagai penjahat perang dimana dia telah menentang keputusan PBB dan dunia internasional dalam aksi penyerbuannya ke Iraq? Bahkan alasan penyerbuan tersebut tidak terbukti sebagaimana yang dituduhannya bahwa terdapat pengembangan senjata pembunuh massal dan nuklir di Iraq.
Demikian pula kekejaman Israil terhadap rakyat Palestina. Mengapa dunia internasional tidak bertindak dan menghukum Israil terhadap kejahatan dan kekejamannya di Palestina? Mengapa Israil boleh membangun pabrik pengayaan uranium dan senjata nuklir tetapi negara lain tidak? Apakah ini semua yang dinamakan sebagai keadilan dan demokrasi yang diterapkan dan dipaksakan oleh barat dan Amerika kepada negara-negara lain? Sesungguhnya semua hal ini tidak luput dari perhatian para pemimpin negara muslim. Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan kepada mereka untuk berani berbicara di dunia internasional demi keadilan.
Mengapa yang dihancurkan dan dimusnahkan adalah negara dan manusia yang tidak bersalah hanya untuk menangkap Saddam dan Bin Ladin? Sesungguhnya orang-orang kafir memang tidak akan pernah berbuat adil.
Sebagaimana firman Allah Ta`ala:
{وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ} [البقرة/254]
Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim“.
Dan firman-Nya:
{وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ} [إبراهيم/42]
“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak”.
Dalam firman-Nya lain:
{إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ} [يوسف/23]
Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.”
  • Penindasan yang dialami kaum muslimin di berbagai belahan dunia, terutama di negara-negara yang mayoritas nonmuslim.
Mereka dikekang dan dibelenggu dalam menjalankan ajaran agama mereka secara sempurna. Walaupun menurut undang-undang internasional setiap individu dijamin kebebasan untuk menjalankan agamanya, akan tetapi undang-undang ini hanya dinikmati oleh orang non-muslim yang berada di negara-negara Muslim. Adapun untuk orang muslim yang berada di negara-negara nonmuslim, undang-undang tersebut tidak diberlakukan. Tentu yang berkewajiban menyampaikan hal ini adalah para penguasa muslim di hadapan para pemimpin dunia.
  • Terdapatnya kedzaliman sebagian penguasa terhadap para aktifis dakwah, sehingga menimbulkan dendam yang berkepanjangan dalam diri sebagian mereka.
Kemudian diiringi dengan berbagai konflik perebutan kebijakan dalam kekuasaan antara aktifis dakwah dengan sebagian penguasa. Sehingga hal ini tidak jarang bermuara kepada penculikan dan pembunuhan karakter dari pihak penguasa terhadap para aktifis dakwah. Ditambah lagi dengan adanya berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab yang secara sengaja membenturkan antara umat Islam dengan penguasa, kemudian lahirlah kekhawatiran dari pihak penguasa akan terjadinya Islamisasi terhadap sebuah bangsa dan dianggap dapat mengganggu keamanan dan persatuan bangsa.
Kesalahan tidak terdapat di pihak tertentu, tetapi dari kedua belah pihak. Karena di antara aktifis dakwah ada yang menjadikan isu Islam sebagai batu locatan untuk memuaskan nafsu politiknya. Tetapi perlu diyakini oleh semua penegak bangsa ini bahwa Islam adalah perekat persatuan bangsa. Islam menyuruh pemeluknya untuk taat kepada penguasa dalam segala kebenaran. Islam mengharamkan tindakan-tindakan yang dapat melemahkan penguasa walau terdapat penyimpangan di tengah-tengah penguasa.  Hal ini ditekankan oleh setiap ulama dalam kitab-kitab aqidah Ahlussunnah wal jama’ah.
  • Kebodohan umat terhadap agama terutama masalah aqidah dan hukum-hukum jihad.
Tatkala kebodohan dan kemunduran terhadap pemahaman agama tersebar di tengah-tengah masyarakat Islam  terlebih khusus generasi muda. Pembodohan tersebut ada yang  disengaja diprogram dalam sistem pendidikan dan ada pula yang tidak disengaja. Hal ini menjadi ladang yang subur bagi aliran-aliran sesat untuk menyebarkan doktrin-doktrin mereka termasuk gerakan terorisme terutama dikalangan generasi muda.
  • Ghuluw (ekstrim) dalam pemahaman dan pengamalan agama dari sebagian generasi muda Islam.
Semangat beragama yang tidak diiringi dan didukung oleh pengetahuan agama yang cukup dan pemahaman yang benar sering membawa kepada sikap ekstrim dalam bersikap dan bertindak. Sesungguhnya setan dalam menjerumuskan manusia kedalam kesesatan dengan dua pintu; pintu syahwat (maksiat) dan pintu syubhat (bid’ah/ghuluw). Jika seseorang gila syahwat maka setan menyesatkannya melalui pintu maksiat. Dan bila seseorang senang berbuat taat, setan menyesatkan melalui pintu bid’ah/ ghuluw. Hal ini terjadi jika keta’atan tersebut tidak berdasarkan kepada ilmu dan sunnah.
Adapun yang kami maksud dengan ghuluw di sini adalah melampaui batas perintah agama sehingga terjatuh kepada perbuatan bid’ah.
Berikut kami sebutkan dalil dari Al Qur’an dan sunnah tentang larangan tindakan ghuluw dalam agama:
Allah Ta`ala berfirman,
{يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ} [النساء/171]
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.”
Dalam ayat yang lain Allah berfirman,
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ [المائدة/77]
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.”
Rasulullah bersabda,
((يا أيها الناس إياكم والغلو في الدين فإنه أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين)). رواه النسائي وابن ماجه وصححه الشيخ الألباني.
“Wahai manusia ! Jauhilah sikap ghuluw (eksrim) dalam beragama. Karena sungguh sikap ghuluw beragama telah membinasahkan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah serta disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
  • Jauh dari bimbingan ulama dalam mempelajari dan memahami ajaran agama.
Mempelajari agama secara otodidak atau belajar agama bukan kepada ahlinya merupakan penyebab utama lahirnya berbagai kesesatan dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama. Yang salah bukan agama, akan tetapi cara dan jalan yang ditempuh dalam memahaminya. Oleh sebab itu Allah perintahkan agar kita bertanya kepada ahlinya. Dia berfirman,
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [النحل/43]
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui.”
Bukan hanya ilmu agama, ilmu dunia sekalipun jika tidak dipelajari melalui ahlinya akan membawa kepada kebinasaan. Jika seseorang ingin menjadi seorang dokter, dia pergi ke toko buku, lalu dia membeli segala buku kedokteran. Kemudian dia coba memahami sendiri di rumah tanpa belajar kepada ahli kesehatan. Atau buku tersebut ia pahami menurut konsep dukun atau ia pelajari melalui dukun. Lalu setelah lima tahun ia membuka pratek pelayanan kesehatan, kira-kira bagaimana jadinya jika orang seperti itu mengobati masyarakat. Orang seperti ini pasti ditangkap dan diproses ke pengadilan karena dianggap sebagai dokter gadungan. Tetapi sekarang banyak ulama dan da’i gadungan mengapa tidak ditangkap pada hal mereka jauh lebih berbahaya dari dokter gadungan.
Kemarin ia sebagai bintang film, pelawak, model, penyanyi dan bekas tahanan kejahatan. Tiba-tiba hari ini menjadi dai kondang dan berfatwa dengan seenaknya. Tokoh politik pun ikut berbicara masalah agama dan mengacak-acak ajaran agama. Dan lebih sadis lagi belajar Islam kepada orang kafir, mereka yang sudah nyata-nyata sesat dalam memahami Taurat dan Injil, kok malah sekarang Al Qur’an dipelari melalui mereka. Sekalipun terasa aneh, tetapi hal ini adalah nyata terjadi.
Rasulullah telah mengabarkan tentang keadaan ini beberapa abad yang lalu. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari shahabat Abdullah bin Amru bin ‘Ash radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
« إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا » متفق عليه.
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari (dada) manusia. Akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga tatkala Dia tidak menyisakan seorang pun yang berilmu maka manusia pun menjadikan para tokoh yang tidak berilmu (sebagai ulama). Lalu mereka ini ditanya (tentang permasalahan agama) maka mereka pun berfatwa tanpa didasari ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari-Muslim).
Rasulullah juga telah memberikan solusi tentang masalah itu; yaitu dengan berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnah khulafaur-rosyidin. Shahabat ‘Irbadh radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam shalat mengimami kami, kemudian (setelah selesai) beliau membalikkan badannya menghadap kami lalu menyampaikan nasehat yang menyentuh hati; membuat mata berlinang dan hati bergetar. Ada yang berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah ! Seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan, maka apakah wasiatmu kepada kami? Maka beliaupun bersabda,
« أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ » رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه وقال الترمذي: هذا حديث صحيح.
“Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah. (Demikian pula aku wasiatkan agar) mendengar dan ta’at (kepada penguasa) walaupun ia seorang budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup diantara kalian sepeninggalku ia akan melihat perbedaan (perpecahan) yang banyak. Maka berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham. Hindarilah perkara-perkara baru dalam agama. Karena setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud- Tirmidzi dan Ibnu Majah. Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini shahih”)
  • Merajalelanya kemungkaran di tengah-tengah masyarakat, baik dari segi akhlak maupun pemikiran.
Kebebasan berfikir dan berekspresi tanpa karidor dan batas telah membuka pintu lebar-lebar bagi para menyembah hawa nafsu dan kaum zindiq untuk merusak ajaran agama. Adapun jika seseorang berkeinginan menjalankan ajaran agama secara benar justru dianggap melanggar kebebasan. Kebebasan sepihak ini membuat sebagian pihak yang tidak senang dan memicu tindak teror di tengah-tengah masyarakat.
  • Lemahnya pengawasan badan penegak hukum dalam menindak berbagai bentuk pelanggaran hukum yang terjadi. Sehingga membuat sebagian oknum merasa gerah dan melakukan tindakan main hakim sendiri.
Bahkan kadangkala hal tersebut mengesankan ketidakperhatian terhadap pelanggaran hukum yang terjadi. Terutama sekali bagi orang yang berani menghina dan mencela simbol dan hukum-hukum agama. Hukum Allah disalahkan dan dikritik habis-habisan, adapun undang-undang dan hukum buatan manusia tidak boleh dikritik dan disalahkan. Seandainya ada seseorang yang menafsirkan Undang-Undang 45, dan KUHP dengan seenaknya dan semaunya, tentunya orang tersebut akan dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Namun jika ada orang yang menafsirkan Al Qur’an dengan seenaknya, mengolok-olok hukum Allah dan isi Al Qur’an, kemudian dia dituntut untuk dihukum dan diproses, maka akan dianggap bertentangan dengan undang-undang hak asasi manusia.
  • Kurangnya kematangan para dai dari segi ilmu, kesabaran dan pengalaman dalam menghadapi tantangan dakwah.
Sebagian orang ada yang menginginkan jika mulai berdakwah di pagi hari, maka di sore hari harus melihat perubahan total 180 derajat. Hal ini bertentangan dengan sunnah kauniyah dan sunnah syar’iyah. Secara kauniyah segala sesuatu mengalami perubahan dengan cara berangsur-angsur. Demikian halnya sunnah syar’iyah, Allah menurunkan syariatnya secara berangsur-angsur. Diantara para nabi ada yang berdakwah ratusan tahun, seperti nabi Nuh ‘alahissalam, akan tetapi beliau sabar dalam menunggu hasil. Diantara mereka juga ada yang diutus kepada penguasa yang kejam, seperti nabi Ibrahim dan nabi Musa, mereka sabar dalam mendakwahi kaumnya. Tidak pernah mengajak pengikutnya untuk menculik dan merusak fasilitas negara. Demikian halnya nabi kita Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam saat beliau di Makkah, beliau disiksa dan dihina, bahkan keluarga Ammar bin Yasir disiksa dihadapan beliau. Ketika itu beliau tidak melakukan perbuatan teror kepada orang kafir, bahkan memerintahkan sebagian sahabat untuk hijrah ke negeri Najasyi yang beragama Nasrani. Tidakkah para da’i mengambil ‘ibroh dan pelajaran dari perjalanan dakwah nabi kita Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam.

Berbagai Segi Pelanggaran Terorisme Terhadap Syari’at Islam
1. Pengkafiran terhadap kaum muslimin.
Aksi-aksi teror yang terjadi didukung oleh doktrin-doktrin sesat yang ditanamkan kepada para pelaku teror. Mereka meyakini bahwa orang muslim di luar kelompok mereka dianggap telah murtad (keluar) dari Islam. Alasannya -menurut mereka- adalah karena mereka -kaum muslimin- diam terhadap kezaliman yang terjadi dan tidak mau bergabung dengan mereka dalam melawan penguasa yang tidak menjalankan Islam secara sempurna dalam kekuasaan mereka. Maka orang yang tidak sependapat dan tidak mendukung aksi teror mereka dalam menegakkan keadilan, menurut mereka adalah penentang Islam. Siapa yang menentang Islam berarti ia sudah kafir. Demikianlah filosofi pengkafiran gerakan terorisme dalam menghalalkan darah orang muslim yang di luar kelompok mereka.

Kita tidak mengingkari tentang adanya hal-hal yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Akan tetapi ada kode etik dan syarat-syarat serta hal-hal yang menghambat dijatuhkannya vonis kafir kepada seseorang. Hal ini tidak pernah luput dalam kupasan para ulama yang menulis kitab-kitab aqidah Ahlussunnah. Kemudian yang berhak menerapkan kode etik serta berbagai ketentuan tersebut adalah ulama yang terpercaya dalam ilmunya. Bukan sembarang orang yang berhak untuk menerapkannya kepada siapa saja, terlebih anak-anak muda yang baru belajar tentang Islam. Karena banyak hal yang perlu diketahui dan dipahami dalam masalah tersebut. Pertama hal yang menjadi poin pengkafiran harus ada dalil yang jelas dari Al Qur’an dan Sunnah, bukan dalil yang samar-samar, apalagi hanya disandarkan kepada sangkaan atau berita media informasi yang tidak akurat. Pembahasan ini sangat luas dan panjang sehingga tidak mungkin kami jelaskan dalam kesempatan terbatas ini. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam telah mengingatkan umatnya agar tidak bermudah-mudah dalam menuduh seseorang kafir, karena bahaya dan akibatnya sangat fatal. Sahabat Abu Dzar menceritakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
((وَمَنْ دَعَا رَجُلاً بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ. وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلاَّ حَارَ عَلَيْهِ» رواه مسلم
“Barangsiapa memanggil seseorang dengan (sebutan) kafir atau mengatakannya sebagai musuh Allah sementara halnya tidak demikian, maka hal tersebut kembali kepada pengucapnya.” (HR. Muslim).
Demikian besarnya dosa orang yang memvonis orang muslim dengan kafir tanpa ada dalil. Bagaimana jika yang di vonis kafir itu seluruh kaum muslimin secara mutlak, tentu dosanya akan lebih besar lagi. Berkata Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, “Saya tidak mengkafirkan seorangpun dari kalangan muslim yang melakukan dosa. Dan tidak pula mengeluarkan mereka dari lingkaran Islam.”
Komentar: Dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong bahwa beliau membawa paham teroris, mengkafirkan kaum muslimin atau berfaham khawarij.[5]
2. Menentang dan membangkang terhadap penguasa.
Doktrin terorisme telah melanggar aqidah Ahlussunnah tentang wajibnya taat dan patuh kepada penguasa dalam hal yang baik, sekalipun mereka berbuat zalim. Hal ini telah disepakati oleh seluruh ulama Ahlussunnah. Jika penguasa menyuruh kita melakukan hal yang haram, kita dilarang untuk mentaatinya dalam hal tersebut. Tetapi hal itu bukan berarti kita boleh mencela dan merongrong kekuasaannya, serta menentangnya dalam perintah lain yang sesuai dengan kebenaran.
Oleh sebab itu, kitab-kitab aqidah Ahlussunnah tidak pernah luput dari menjelaskan tentang hal tersebut, karena begitu banyak dalil menegaskan masalah tersebut.
A. Dalil dari ayat-ayat  Alquran
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ} [النساء/59]
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.”
Syeikh As-Sa’dy berkata dalam tafsirnya, “Allah perintahkan untuk taat kepada Ulil Amri, yakni para penguasa dan pejabat serta para mufti. Sesungguhnya tidak akan pernah berjalan baik urusan agama dan dunia kecuali dengan mentaati dan mematuhi mereka, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan mengharap pahala di sisi-Nya. Akan tetapi hal itu dengan syarat tidak dalam hal bermaksiat kepada Allah.”[6]
{وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا} [النساء/83]
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan jika seandainya mereka itu menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengambil keputusan (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikuti syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).”
Para ulama mufassirin menjelaskan, “Kalau suatu berita tentang perdamaian dan ketakutan itu disampaikan kepada Rasul dan Ulil Amri, tentulah Rasul dan Ulil Amri yang ahli dapat menetapkan kesimpulan (istinbath) dari berita itu.

B. Dalil dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam
  • Taat kepada penguasa adalah bukti ketaatan kepada Allah dan Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam. Sebaliknya, menentang penguasa sama dengan menentang Allah dan Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
«من أطاعني فقد أطاع الله ، ومن عصاني فقد عصى الله ، ومن يطع الأمير فقد أطاعني، ومن يعص الأمير فقد عصاني وإنما الإمام جنة يقاتل من ورائه ويتقى به فإن أمر بتقوى الله وعدل فإن له بذلك أجرا وإن قال بغيره فإن عليه منه» رواه البخاري
“Barangsiapa taat kepadaku, maka sungguh ia telah mentaati Allah. Barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka sungguh ia telah mendurhakai Allah. Barangsiapa taat kepada penguasa, maka sungguh ia telah mentaatiku. Sebaliknya barangsiapa yang durhaka kepada penguasa, maka sungguh ia telah mendurhakaiku. Sesungguhnya seorang pemimpin hanyalah sebagai perisai yang jika berperang harus di belakang komandonya dan berlindung di baliknya. Jika ia memerintahkan untuk bertaqwa dan berlaku adil, maka ia mendapat pahala karenanya. Namun bila memerintahkan sebaliknya, maka ia menanggung dosa atasnya.” (HR. Bukhari).
Hadits di atas menjelaskan bahwa diantara bukti ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan kepada penguasa.
  • Ancaman terhadap orang yang menentang dan melawan penguasa.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bahwa beliau bersabda,
« مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ » رواه مسلم
“Barangsiapa keluar dari ketaatan (terhadap penguasa) dan memisahkan diri dari Jama’ah kaum muslimin lalu ia mati, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah. Barangsiapa berperang di bawah bendera kefanatikan; marah atas dasar fanatik, mengajak kepada fanatik atau membela kefanatikan lalu ia mati, maka matinya dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Muslim).
Dalam hadits di atas terdapat ancaman bagi orang yang keluar dari ketaatan kepada penguasa jika ia mati, maka kematiannya seperti orang yang mati dalam keadaan jahiliah.
  • Wajib taat dan patuh kepada penguasa dalam kondisi apapun, kecuali dalam hal maksiat
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bahwa beliau bersabda,
« عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ» متفق عليه
“Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan ta’at (kepada penguasa) terhadap perkara yang ia sukai dan ia benci, kecuali bila diperintah untuk bermaksiat. Jika ia diperintah untuk bermaksiat, maka tidak boleh mendengar dan taat (dalam maksiat tersebut)”. (HR. Bukhari Muslim).
Dalam hadits di atas terdapat penjelasan tentang wajib dalam segala kondisi, baik suka maupun duka. Dan terdapat pula larangan taat jika penguasa menyuruh berbuat maksiat atau dosa.
  • Wajib taat dan patuh kepada penguasa dalam kondisi apapun, sekalipun mereka berlebihan dalam memakan harta negara.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
«عَلَيْكَ السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ فِى عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ وَأَثَرَةٍ عَلَيْكَ»رواه مسلم
“Wajib atasmu untuk mendengar dan taat dalam waktu sulit maupun lapang, di saat bersemangat maupun dalam hal yang kurang engkau sukai dan pada waktu penguasa memonopoli harta negara di atas engkau.” (HR. Muslim).
Dalam hadits di atas terdapat perintah untuk tetap taat kepada penguasa dalam segala kondisi sekalipun ia memakan harta negara secara berlebihan.
Berkata Imam Nawawi, “Tetaplah tunduk dan patuh pada penguasa sekalipun mereka lebih mengkhususkan dirinya dengan dunia, dan tidak memberikan kepada kalian hak-hak kalian yang ada pada mereka. Hadits ini perintah untuk tetap tunduk dan patuh dalam segala kondisi. Dimana hal itu akan mempersatukan kaum muslimin, terlebih perpecahan hanya akan menyebabkan keadaan mereka rusak berantakan baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat[7].”
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
((ستكون أثرة وأمور تنكرونها))
“Kelak akan datang keadaan dan perkara-perkara yang kalian ingkari.”
Mereka (para sahabat) bertanya,”Apa yang harus dilakukan oleh orang yang mendapatinya? Beliau bersabda,
((أدوا الحق الذي عليكم وسلوا الله الذي لكم)) متفق عليه
”Tunaikan kewajiban yang dibebankan atas kalian dan mintalah hak kalian kepada Allah.” (HR. Bukhari Muslim).
Dari Junadah bin Abi Umayyah, ia berkata,
دخلنا على عبادة بن الصامت وهو مريض قلنا أصلحك الله حدث بحديث ينفعك الله به سمعته من النبي صلى الله عليه وسلم قال دعانا النبي صلى الله عليه وسلم فبايعناه فقال فيما أخذ علينا أن بايعنا على السمع والطاعة في منشطنا ومكرهنا وعسرنا ويسرنا وأثرة علينا وأن لا ننازع الأمر أهله إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان)) متفق عليه.
“Kami masuk menemui Ubadah bin Shamit yang sedang sakit. Kamipun mendoakannya; ‘Semoga Allah memberikan kebaikan kepada Anda’. Sampaikanlah sebuah hadits yang anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam semoga Allah memberi manfaat kepada Anda dengannya. Ia menuturkan, ”Dahulu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam memanggil kami agar mengambil baiat (sumpah setia) kami kepada beliau”.maka pernyataan sumpah setia yang beliau ambil dari kami adalah “agar kami mendengar dan ta’at di waktu bersemangat maupun dalam keadaan yang tidak disukai, di waktu lapang maupun sulit serta di saat penguasa memonopoli harta negara di atas kami. Dan agar tidak mencopot penguasa dari kekuasaannya kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata yang kalian memiliki bukti nyata dari agama Allah.” (HR. Bukhari Muslim).
Dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang syarat-syarat yang mesti terpenuhi ketika meninggalkan ketaatan kepada penguasa:
  1. Wajibnya memiliki bukti (dalil) bahwa perbuatan tersebut dihukum kafir oleh Allah dalam agama, bukan berdasarkan kepada dalil-dalil yang samar.
  2. Wajibnya memiliki bukti bahwa penguasa telah melakukan perbuatan tersebut, bukan berdasarkan kepada isu dan opini.
  3. Perbuatan kufur tersebut dilihat dengan kasat mata oleh khalayak ramai.
Berkata Imam Nawawi,
“ومعنى الحديث لا تنازعوا ولاة الأمور في ولايتهم ولا تعترضوا عليهم إلا أن تروا منهم منكرا محققا تعلمونه من قواعد الإسلام فإذا رأيتم ذلك فأنكروه عليهم وقولوا بالحق حيث ما كنتم وأما الخروج عليهم وقتالهم فحرام بإجماع المسلمين وإن كانوا فسقة ظالمين وقد تظاهرت الأحاديث بمعنى ما ذكرته وأجمع أهل السنة أنه لا ينعزل السلطان بالفسق”
“Makna hadits ini adalah janganlah kalian menentang penguasa dalam kekuasaan mereka. Dan jangan pula melawan mereka, kecuali kalian melihat dari mereka kemungkaran yang nyata yang kalian ketahui dari aturan-aturan Islam. Jika kalian melihat hal itu maka nasehatilah mereka dan katakan kebenaran, di manapun kalian berada. Adapun melakukan kudeta dan memerangi mereka adalah haram menurut kesepakatan kaum muslimin. Sekalipun mereka berbuat fasik lagi zalim. Sungguh banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan tentang apa yang aku ungkapkan tersebut. Dan Ahlussunnah bersepakat bahwa tidak boleh menjatuhkan penguasa dengan alasan kefasikan (pelaku dosa)[8]. “
  • Dalil tentang wajibnya membela penguasa yang sah.
Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk membela penguasa yang sah. Bahkan, apabila ada seseorang yang ingin merebut kekuasaannya, maka kita diperbolehkan untuk membunuhnya.
Imam Muslim meriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
«مَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا رَقَبَةَ الآخَرِ»
“Barangsiapa membaiat seorang pemimpin lalu mengulurkan tangannya dan memberikan kecintaannya, maka hendaklah mentaatinya semampunya. Jika ada orang lain yang hendak menurunkannya, maka bunuhlah dia.”
Akupun bertanya, ”Apakah engkau mendengarnya begitu dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam ? Ia (Abdullah) menjawab,”Dua telingaku ini mendengar hal itu dan hatiku memahaminya. Akupun berujar,”Ini Muawiyah anak pamanmu, ia memeritahkan kami untuk berbuat sesuatu maka kami pun melakukannya”. Ia (Abdullah) menyatakan, “Taatilah ia dalam perkara ketaatan kepada Allah dan jangan taat kepadanya dalam hal bermaksiat kepada Allah.” (HR. Muslim).
  • Anjuran untuk bersabar dan tetap bersatu dalam sebuah jama’ah (kekuasaan), ketika melihat penguasa melakukan sesuatu yang dibenci dalam agama.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasullullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
«من رأى من أميره شيئًا يكرهه فليصبر، فإنه من فارق الجماعة شبرًا فمات فميتته جاهلية » رواه البخاري
”Barangsiapa yang melihat penguasanya melakukan sesuatu yang dia benci maka hendaklah dia bersabar, karena sesungguhnya siapa saja yang memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin walaupun hanya sejengkal kemudian dia mati,maka kematiannya adalah kematian jahiliyah.” (HR.Bukhari).
Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
« مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلاَّ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً » رواه مسلم
“Barangsiapa melihat sesuatu yang tidak ia sukai dari penguasanya, maka hendaklah ia bersabar. Karena barangsiapa memisahkan diri sejengkal saja dari jama’ah kaum muslimin lalu ia mati, maka matinya dalam keadaan mati jahiliyah.” (HR. Muslim).
Dalam kedua hadits di atas, terdapat perintah untuk bersabar di atas jamaah kaum muslimin (dengan tetap bersatu di dalamnya) dan ancaman terhadap perbuatan memisahkan diri dari mereka, walaupun mereka melakukan perbuatan yang maksiat.
  • Perintah tegas tentang wajibnya taat kepada penguasa sekalipun mereka bertindak zalim dan tidak menunaikan kewajibanya terhadap rakyat.
Imam Muslim meriwayatkan hadist dalam kitab shahihnya,
قَالَ حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ فَجَاءَ اللَّهُ بِخَيْرٍ فَنَحْنُ فِيهِ فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ. قُلْتُ هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ قَالَ « نَعَمْ ». قُلْتُ فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ « نَعَمْ ». قُلْتُ كَيْفَ قَالَ « يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ في جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ » رواه مسلم
“Hudzaifah bin Yaman radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku berkata,”Wahai Rasulullah! Sesungguhnya dahulu kami berada dalam kejelekkan lalu Allah mendatangkan kebaikan maka kami berada di dalamnya. Apakah di belakang kebaikan ini terdapat lagi kejelekan ? Jawab Beliau: “Iya ada”. Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kejelekkan itu ada lagi kebaikan? Beliau menjawab, “Iya ada”. Aku bertanya lagi, “Apakah setelah setelah kebaikan tersebut ada lagi kejelekkan? Beliaupun mengiyakan. Aku menimpali, “Bagaimana bentuknya?” Beliau berkata: “Akan ada setelahku para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, tidak menerapkan tuntunanku. Dan akan muncul orang-orang yang berhati setan dalam rupa manusia.” Hudzaifah berkata, “Aku bertanya: ”Apa yang harus aku lakukan Wahai Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam jika aku menemui masa itu? Beliau bersabda, “Dengar dan taati penguasa meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil. Dengar dan taatilah!” (HR. Muslim).
Beliau (Imam Muslim) juga meriwayatkan dari Salamah bin Yazid Al-Ju’fy, bahwasanya dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam: “Ya Nabi Allah! Bagaimana pendapatmu jika berkuasa atas kami pemimpin-pemimpin yang menuntut hak mereka dan merampas hak kami? Apa perintahmu kepada kami?” Maka Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam mengelak dari menjawabnya, sampai tiga kali ia bertanya. Maka ia ditarik oleh Asy’ats bin Qois. Maka Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
« اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوا وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ » رواه مسلم
“Dengar dan patuhi, sesungguhnya mereka bertanggung jawab atas apa yang dibebankan kepada mereka. Dan kamu bertanggung jawab ata apa yang dibebankan kepadamu”. (HR. Muslim).
Kedua hadits di atas dengan sangat jelas menunjukkan tentang wajibnya taat kepada penguasa sekalipun mereka bertindak zalim dan tidak menunaikan kewajibanya terhadap rakyat.
  • Dilarang memerangi penguasa yang melakukan kemungkaran selama mereka melaksanakan shalat.
Dari Ummu Salamah Radhiallahu ‘anha -istri nabi shallallahu ‘alahi wa sallam – dari nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bahwa beliau bersabda,
« إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِىَ وَتَابَعَ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ نُقَاتِلُهُمْ قَالَ «لاَ مَا صَلَّوْا ». أي مَنْ كَرِهَ بِقَلْبِهِ وَأَنْكَرَ بِقَلْبِهِ. رواه مسلم
“Sesungguhnya akan ditugaskan untuk memimpin kalian para pemimpin lalu kalian mengetahui (kezaliman) mereka dan mengingkarinya. Barangsiapa yang membenci perkara tersebut lalu berlepas diri dan mengingkari, maka sungguh dia selamat. Akan tetapi barangsiapa yang rela dan mengikutinya (maka ia telah bermaksiat).” Mereka (para sahabat) bertanya,”Wahai Rasulullah! Bolehkah kita memerangi mereka?” Beliau bersabda, ”Tidak boleh, selama mereka melaksanakan sholat.” Maksud dari “membenci dan mengingkari” yaitu membenci dan mengingkari dengan hati. (HR. Muslim)
Dari ‘Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam beliau bersabda,
«خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ » رواه مسلم
“Pemimpin yang terbaik diantara kalian adalah orang yang kalian cintai dan merekapun mencintai kalian, mereka mendoakan kebaikan untuk kalian dan kalianpun mendoakan mereka. Sedangkan pemimpin yang terburuk diantara kalian adalah orang yang kalian benci dan mereka juga membenci kalian, kalian melaknat mereka, mereka juga melaknat kalian.” Ada yang bertanya, ”Wahai Rasulullah! Bolehkah kami menyingkirkan mereka dengan senjata? Beliau bersabda, “Tidak, selama mereka mendirikan sholat. Apabila kalian lihat sesuatu yang kalian benci dari penguasa kalian, maka bencilah perbuatannya dan jangan kalian lepaskan ketaatan kalian.” (HR. Muslim).
Kedua hadits di atas menunjukkan tentang larangan memerangi penguasa yang melakukan kemungkaran, selama mereka melaksanakan shalat. Namun, bukan berarti kita meridhai perbuatan mungkar mereka, bahkan kita wajib mengingkarinya minimal dengan hati.
C. Ungkapan para ulama salaf.
Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku tidak akan memberikannya kecuali untuk pemimpin negara. Karena kebaikan seorang pemimpin membuat negeri dan rakyatnya menjadi tenteram[9].”
Imam Thahawy berkata, “Kita tidak membolehkan tindakan melawan terhadap penguasa dan para pemimpin kita, sekalipun mereka berlaku zalim. Kita tidak mendo’akan kebinasaan atas mereka. Kita tidak meninggalkan ketaatan kepada mereka. Kita meyakini bahwa ketaatan kepada mereka adalah wajib, termasuk diantara ketaatan kepada Allah. Selama mereka tidak menyuruh dengan maksiat. Kita mendo’akan agar mereka dituntun untuk berbuat baik dan diberi kesehatan[10].”
Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata, “Saya berpandangan tentang wajibnya ta’at kepada para pemimpin kaum muslimin. baik yang berlaku adil maupun yang berbuat zalim. selama mereka tidak menyuruh kepada perbuatan maksiat[11].”
Komentar: Dari ungkapan beliau ini terbantah tuduhan bohong yang mengatakan bahwa beliau menganut faham teroris atau khawarij. Dari sini juga terbukti kebohongan pihak-pihak yang mencoba mengkait-kaitkan dakwah beliau dengan teroris.
Dalil-dalil  di atas menunjukkan tentang beberapa hal penting diantaranya:
a.       Tunduk dan patuh kepada pemimpin adalah wajib dalam segala kondisi kecuali dalam hal maksiat.
b.      Ajaran Islam  melarang untuk menggulingkan penguasa bila mereka tidak mau menerima nasehat.
c.       Ajaran Islam  melarang untuk memicu fitnah atau melakukan sebab-sebab yang menimbulkan fitnah.
d.      Ajaran Islam  melarang dari segala bentuk tindakan menghasut melawan penguasa baik lisan maupun tulisan.
e.       Ajaran Islam  melarang dari pemberontakan kepada penguasa selama mereka tidak melakukan kekufuran yang nyata.
f.       Wajibnya menjaga keutuhan persatuan bangsa dan negara.
g.      Ajaran Islam  melarang dari tindakan provokasi untuk melemahkan penguasa.
h.      Ancaman keras bagi orang yang melanggar hal-hal tersebut.
D. Adab-adab dalam menasihati penguasa.
Ketaatan kepada penguasa bukan berarti kita diam terhadap kesalahan mereka. Tetapi, dalam penyampaian nasihat kepada penguasa perlu memperhatikan adab-adab yang mulia yang diajarkan Islam. Kemudian juga perlu pula dipastikan bahwa kita tidak diperbolehkan dalam agama menyembunyikan kebenaran kepada siapa pun, apalagi terhadap penguasa. Berikut kita sebutkan beberapa dalil yang menjelaskan masalah tersebut:
  • Dalil-dalil tentang wajibnya menyampaikan nasihat.
Saling menasihati merupakan sifat golongan kanan (merupakan lawan dari golongan kiri yang tempat kembalinya adalah neraka). Allah Ta`ala berfirman,
ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ (17) أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ [البلد/17، 18]
“Kemudian ia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.”
Allah meridhai perbuatan menasehati pemimpin. Dalam sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abu Huraira, dia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
((إن الله يرضى لكم ثلاثا ويسخط لكم ثلاثا يرضى لكم أن تعبدوه ولا تشركوا به شيئا وأن تعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا وأن تناصحوا  من ولاء الله أمركم ويسخط لكم قيل وقال وإضاعة المال وكثرة السؤال)) رواه أحمد وصححه الشيخ الأباني في “صحيح الجامع الصغير”
“Allah meridhoi untuk kalian tiga hal dan membenci tiga hal pula; Allah meridhoi bahawa kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan kalian semua berpenggang teguh dengan tali Allah, serta memberi nasihat orang yang dijadikan Allah sebagai pemimpin kalian. Dan Allah membenci; mengucapkan sesuatu yang tidak jelas kebenarannya, menyia-nyiakan harta, dan banyak meminta.”
  • Dalil tentang tatacara menyampaikan nasihat kepada penguasa.
Allah memerintahkan kepada  Musa dan Harun `Alaihumas salam untuk berbicara kepada Fir`aun dengan lemah lembut.
Allah Ta`ala berfirman,
اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى [طه/43، 44]
“Pergilah kamu berdua (Wahai Musa dan Harun) kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut (pada Allah).”
Diantara petunjuk Nabi kita dalam menasehati pemimpin adalah dengan sembunyi-sembunyi. Ibnu Abi ‘Ashim meriwayatkan hadits dengan sanad yang shohih, dari ‘Iyadh bin Ghanim radhiallahu ‘anhu, dia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
« من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبده علانية ، وليأخذ بيده فإن سمع منه فذاك، وإلا أدى الذي عليه » رواه ابن أبي عاصم بسند صحيح
“Barangsiapa yang ingin menasihati pemimpin, maka janganlah ia memperlihatkannya secara terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia menggandeng tangannya (berbicara secara empat mata). Jika pemimpin tersebut mengindahkannya, maka itulah yang diinginkan. Namun bila tidak diindahkan, maka ia telah menunaikan kewajibannya (menyampaikan nasehat).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dengan sanad yang sahih).
Dari beberapa dalil di atas, kita dapat menyimpulkan beberapa adab yang sangat penting untuk diperhatikan dalam menyampaikan nasihat kepada penguasa, diantaranya:
  1. Persoalan yang diingkari bukan dalam konteks ijtihad yang menjadi hak penguasa untuk memilih dan menentukan keputusan.
  2. Menyampaikan nasihat secara halus, santun dan sopan.
  3. Menyampaikan nasihat secara empat mata, atau melalui surat.
  4. Tidak menyebarkan ‘aib penguasa, dihadapan khalayak ramai.
  5. Tidak melakukan tindakan menghasut untuk melawan penguasa ketika penguasa tidak mengindahkan nasehat.
Segala dalil yang kita kemukakan di atas bukan berarti memberikan peluang dan legalitas bagi penguasa untuk berbuat curang, zalim, dan berlaku semena-mena terhadap rakyatnya. Karena begitu banyak pula dalil-dalil yang menerangkan tentang ancaman azab bagi penguasa yang zalim dan tidak menjalankan hukum Allah dalam kekuasaannya. Akan tetapi Islam tidak membolehkan mengingkari kemungkaran dengan cara yang mungkar, apalagi menimbulkan kemungkaran yang lebih besar.
3.  Keliru dalam memahami kode etik jihad. Jihad memiliki dua pengertian; pengertian umum dan khusus. Jihad dalam pengertian umum yaitu berjihad dengan segala yang baik sesuai kemampuan masing-masing. Baik berupa harta atau ilmu, baik secara lisan maupun tulisan. Adapun jihad dalam pengertian khusus adalah jihad dengan senjata melawan orang kafir.
Sesungguhnya seorang muslim tidak meragukan tentang kemuliaan dan keutamaan jihad fi sabilillah. Akan tetapi jihad dengan senjata memiliki syarat dan ketentuan-ketentuan yang harus terpenuhi. Sebagaimana wajibnya shalat memiliki syarat-syarat yang harus terpenuhi, jika syarat-syaratnya tidak terpenuhi maka hukum shalat menjadi tidak wajib. Demikian pula jihad jika syarat-syarat belum terpenuhi, maka jihadpun tidak diwajibkan. Seluruh dalil yang menyebutkan tentang keutamaan jihad dan kewajiban jihad semuanya bergantung kepada ketentuan dan keputusan penguasa. Kecuali dalam kondisi negeri muslim diserang musuh secara tiba-tiba, maka saat itu semua penduduk wajib mempertahankan negeri mereka dari serangan musuh.

Salah satu syarat mutlak yang harus terpenuhi yakni jihad harus di bawah kendali penguasa resmi. Baik dari segi pembiayaan, penentuan anggota pasukan, serta negara mana yang akan diperangi. Jihad tidak dapat dilakukan oleh kekuasaan liar, yang tidak punya baitul maal, pasukan dan wilayah. Dan akan lebih fatal lagi jika dilakukan oleh kelompok pengajian yang dipimpin oleh ustadz atau murabbi-nya.
Syarat-syarat jihad tersebut ada yang berhubungan dengan kemampuan penguasa dari untuk membiayai perang dan menyiapkan sejumlah pasukan. Ada pula yang berhubungan dengan daerah yang hendak diperangi. Seperti bahwa di sana belum ada kekuasan muslim dan tidak ada perjanjian damai antara negara muslim dengan negara tersebut. Adapun jika di daerah tersebut syari’at Islam tegak seperti adanya masjid dan azan maka tidak boleh diperangi. Sebagaimana nasehat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam ketika mengirim pasukan (sariyyah) untuk berperang,
«إِذَا رَأَيْتُمْ مَسْجِدًا أَوْ سَمِعْتُمْ مُؤَذِّنًا فَلاَ تَقْتُلُوا أَحَدًا ». رواه أبو داود وصححه الشيخ الألباني
“Jika kalian melihat masjid atau mendengar adzan, maka jangan kalian bunuh seorangpun.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Adapun kelompok teroris, mereka malah mengebom masjid beserta orang yang sedang shalat di dalamnya. Betapa sesatnya dan kejinya perbuatan jahat (bukan jihad) yang mereka lakukan.
Imam Abu Bakar Al-Isma’ily menyebutkan bahwa pandangan ulama ahli hadits dalam masalah jihad wajib bersama penguasa sekalipun mereka berbuat kezaliman. Beliau berkata, “Mereka (ahli hadits) berpandangan tentang jihad melawan orang kafir bersama penguasa sekalipun mereka penguasa tersebut berbuat kezaliman. Mereka mendo’akan untuk para penguasa agar berbuat baik dan condong kepada keadilan.”[12]
Dan Syeikhul Islam Ismail Ash-Shabuny berkata, “Mereka (ahli hadits) berpandangan tentang wajibnya berjihad melawan orang kafir bersama penguasa sekalipun mereka berlaku zalim. Mereka mendo’akan agar penguasa berbuat kebaikan juga diberi taufiq dan kebaikan serta menebar keadilan di tengah masyarakat.”[13]
Demikian pula yang diungkapkan oleh Ibnu Qudamah dalam kita beliau “Al-Mughny”: “Urusan perkara jihad adalah diserahkan kepada pemimpin dan ijtihadnya. Adapun seluruh rakyat wajib mentaati apa yang mereka putuskan dalam hal tersebut.”[14]
Jika urusan jihad menjadi kebijakan kelompok dan organisasi tentu yang akan terjadi hanyalah keonaran di muka bumi ini. Setiap kelompok akan mengklaim perbuatan yang mereka lakukan sebagai jihad.
Kesimpulan pandangan Ahlussunnah seputar masalah jihad:
  1. Jihad adalah hak veto penguasa untuk melakukannya.
  2. Jihad bukanlah urusan kelompok dan golongan.
  3. Jihad tetap sah dilakukan sekalipun bersama penguasa yang zalim dan bermaksiat.
  4. Ulama mengajak orang berjihad bila penguasa menyuarakannya.
  5. Seluruh rakyat wajib tunduk mengikuti keputusan penguasa dalam urusan jihad.
4. Melakukan pembunuhan tanpa alasan syari.
Besarnya dosa pembunuhan digambarkan oleh Allah Ta`ala dalam firman-Nya:
مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا [المائدة/32]
“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.
Hukum ini bukanlah mengenai Bani Israil saja, akan tetapi bersifat umum untuk seluruh manusia. Allah memandang bahwa membunuh seorang jiwa adalah bagaikan membunuh manusia seluruhnya.
Allah tegaskan dalam ayat yang lain,
وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ [الأنعام/151]
Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).
  • Seorang mukmin akan tetap berada dalam kelapangan agamanya selama ia tidak menumpahkan darah haram.
Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
((لا يزال المؤمن في فسحة من دينه ما لم يصب دما حراما)) رواه البخاري.
“Seorang mukmin akan senantiasa dalam kelapangan dari perkara agamanya selama tidak menumpahkan darah (membunuh jiwa) yang haram.” (HR. Bukhari)
  • Dosa pembunuhan adalah perkara yang pertama diperhitungkan pada hari kiamat.
Abdullah radhiallahu ‘anhu ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
« أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِى الدِّمَاءِ ». متفق عليه
“Awal perkara yang akan diselesaikan di antara manusia pada hari kiamat adalah permasalahan darah (nyawa).” (HR. Bukhari-Muslim).
5. Membunuh orang muslim tanpa alasan syar’i.
Tentang masalah ini, Allah Ta`ala berfirman,
{وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا} [النساء/93]
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”
Dalam ayat ini terdapat lima bentuk ancaman bagi orang yang membunuh orang beriman dengan sengaja:
  1. Akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam.
  2. Ia berada dalam neraka jahannam dalam masa yang sangat lama.
  3. Allah marah kepadanya.
  4. Allah melaknatnya (dijauhkan dari rahmat Allah).
  5. Disediakan baginya azab yang besar.
Satu dari azab yang lima ini sudah cukup bagi seorang muslim untuk meninggalkan perbuatan tersebut.
  • Membunuh seorang mukmin merupakan salah satu sifat orang kafir.
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dia mengatakan bahwa berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
« سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ » متفق عليه
“Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan memerangi/membunuhnya merupakan kekufuran.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Sesungguhnya kelompok terorisme tanpa mereka sadari telah membantu program orang kafir dalam membunuh kaum muslimin di negara-negara muslim. Mereka (orang kafir) tidak perlu lagi mengirim pasukan bersenjata dan mengeluarkan biaya yang besar.
Betapa besarnya kehormatan seorang muslim di sisi Allah, dan betapa besarnya dosa orang yang membunuh seorang muslim. Perkara-perkara tersebut diterangkan dalam hadits-hadits berikut ini:
Dari Abdullah Ibnu Amru radhiallahu ‘anhu ia berkata bahwa nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
((لزوال الدنيا أهون على الله من قتل رجل مسلم)) رواه الترمذي والنسائي وابن ماجه، وصححه الشيخ الألباني
“Sungguh lenyapnya dunia ini lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang muslim.” (HR. Tirmidzi, Nasa-i dan Ibnu Majah serta disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Dalam hadits lain,  disebutkan:
عن أبي الحكم البجلي قال سمعت أبا سعيد الخدري و أبا هريرة يذكران عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال, ((لو أن أهل السماء وأهل الأرض اشتركوا في دم مؤمن لأكبهم الله في النار)) رواه الترمذي وصححه الشيخ الألباني
“Dari Abul Hakam Al-Bajaly, ia berkata, “Aku mendengar Abu Said Al-Khudry dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Andaikan penduduk langit dan penduduk bumi turut terlibat (bersekongkol) dalam (penghilangan) nyawa seorang mukmin, sungguh Allah akan mencampakkan mereka (seluruhnya) ke dalam neraka.” (HR. Tirmidzi dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)
6. Membunuh nonmuslim yang musta’man dan mu’ahad tanpa alasan syari.
Sebutan untuk orang kafir yang berada dalam kekuasaan kaum muslimin ada beberapa bentuk:
Pertama: kafir harby yaitu kafir yang diperangi, untuk menetukan status harby kepada sebuah negara atau  wilayah tertentu adalah hak khusus penguasa, bukan berdasarkan keputusan perorangan atau kelompok.
Kedua: Kafir dzimmy yaitu orang kafir yang hidup dalam kekuasaan kaum muslimin sebagai penduduk asli dan mereka membayar upeti sebagai bentuk imbalan atas segala pelayanan kaum muslimin kepada mereka. Ketentuan ini menjadi hak penguasa mereka boleh saja tidak memungut upeti tersebut, sesuai keadaan dan kondisi.
Ketiga: Kafir mu’ahad adalah orang kafir yang memiliki perjanjian dengan kaum muslimin melalui perjanjian negara. Maka kaum muslimin tidak boleh menggangu harta dan jiwa mereka selama dalam perjanjian tersebut.
Keempat: Kafir musta’man adalah orang kafir yang tidak memiliki perjanjian resmi dengan kaum muslimin. Akan tetapi penguasa atau salah seorang kaum muslimin memberikan jaminan keamanan kepadanya untuk memasuki dan tinggal wilayah/ negara muslim.
Berikut ini kami sebutkan dalil-dalil yang menerangkan tentang larangan membunuh non muslim yang diberi jaminan keamanan atau dalam perjanjian keamanan.
- Ajaran Islam mengharamkan pembunuhan terharap orang kafir yang memiliki perjanjian dengan kaum muslimin (kafir mu`ahad). Diantara dalil yang menunjukkan haramnya perbuatan tersebut adalah hadits-hadits berikut:
Dari Abu Bakrشh radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
« مَنْ قَتَلَ مُعَاهِدًا فِى غَيْرِ كُنْهِهِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ ». رواه أبو داود والنسائي وصححه الشيخ اللباني
“Barangsiapa membunuh Mu’ahad (orang yang sedang terikat perjanjian dengan kaum muslimin) tanpa berhak untuk dibunuh, maka Allah haramkan surga atasnya.” (HR. Abu Dawud dan Nasa-i serta disahihkan oleh Shaikh Al-Albani).
Dari Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
((من قتل معاهداً لم يرح رائحة الجنة وإن ريحها ليوجد من مسيرة أربعين عاما)) رواه البخاري
“Barangsiapa membunuh Mu’ahad (orang yang sedang terikat perjanjian dengan kaum muslimin), maka ia tidak akan mencium wanginya surga. Padahal wanginya dapat tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari).
- Ajaran Islam melarang dari pembatalan perjanjian secara sepihak. Dalil tentang haramnya perbuatan tersebut terdapat dalam hadist berikut,
عَنْ سُلَيْمِ بْنِ عَامِرٍ – رَجُلٍ مِنْ حِمْيَرَ – قَالَ كَانَ بَيْنَ مُعَاوِيَةَ وَبَيْنَ الرُّومِ عَهْدٌ وَكَانَ يَسِيرُ نَحْوَ بِلاَدِهِمْ حَتَّى إِذَا انْقَضَى الْعَهْدُ غَزَاهُمْ فَجَاءَ رَجُلٌ عَلَى فَرَسٍ أَوْ بِرْذَوْنٍ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَفَاءٌ لاَ غَدْرٌ فَنَظَرُوا فَإِذَا عَمْرُو بْنُ عَبَسَةَ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ مُعَاوِيَةُ فَسَأَلَهُ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ« مَنْ كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ قَوْمٍ عَهْدٌ فَلاَ يَشُدُّ عُقْدَةً وَلاَ يَحُلُّهَا حَتَّى يَنْقَضِىَ أَمَدُهَا أَوْ يَنْبِذَ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ ». فَرَجَعَ مُعَاوِيَةُ. رواه أبو داود وصححه الألباني
“Dari Sulaim bin Amir – seseorang yang berasal dari kabilah Himyar, ia berkata, “Dahulu terjadi perjanjian antara Mu’awiyah dan negeri Roma. Ia (bersama pasukan) beranjak mendekati negeri mereka. Sehingga apabila masa perjanjian tersebut habis, ia bermaksud hendak memerangi mereka. Lalu datang seseorang yang menunggang kuda atau kereta kuda sambil mengatakan, “Allahu akbar..Allahu akbar! Tunaikan perjanjian! Jangan curang! Kemudian merekapun melihatnya, ternyata ia adalah Amru bin ‘Abasah. Lalu Mu’awiyah mengutus seseorang kepadanya untuk menanyakan alasannya. Iapun berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang telah terjalin perjanjian antara dirinya dengan sebuah kaum, maka janganlah ia mengokohkannya dan jangan pula membatalkannya hingga waktunya selesai, atau ia mengkabarkan berita perang kepada mereka agar diketahui bersama.” Lalu Mu’awiyah pun kembali. (HR. Abu Dawud dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)
- Islam juga mengharamkan pembunuhan terharap utusan musuh atau delegasi sebuah negara. Hal tersebut ditunjukkan oleh hadits berikut,
عن نُعَيْمِ بْنِ مَسْعُودٍ الأَشْجَعِىِّ رضي الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ لَهُمَا حِينَ قَرَآ كِتَابَ مُسَيْلِمَةَ « مَا تَقُولاَنِ أَنْتُمَا » قَالاَ نَقُولُ كَمَا قَالَ. قَال أَمَا وَاللَّهِ لَوْلاَ أَنَّ الرُّسُلَ لاَ تُقْتَلُ لَضَرَبْتُ أَعْنَاقَكُمَا.( رواه أبو داود وصححه الألبان)
“Dari Nu’aim bin Mas’ud Al-Asyja’i radhiallahu ‘anhu, ia berkata,” Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda kepada kedua utusan (Musailamah Al-Kadzdzab) ketika keduanya membacakan surat Musailamah: “Apa yang kalian yakini?” Keduanya menjawab, “Kami meyakini seperti yang dia katakan.” Beliau bersabda, “Kalaulah tidak ada ketentuan bahwa para utusan (delegasi) tidak boleh dibunuh, pastilah aku akan memenggal kalian.” (HR. Abu Dawud dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)
- Islam juga mengharamkan membunuh orang kafir yang diberi keamanan oleh salah seorang muslim meskipun yang memberi jaminan tersebut seorang wanita. Hal tersebut ditunjukkan oleh hadits berikut,
أُمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِى طَالِبٍ أَنَّهَا أَجَارَتْ رَجُلاً مِنَ الْمُشْرِكِينَ يَوْمَ الْفَتْحِ فَأَتَتِ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرَتْ لَهُ ذَلِكَ فَقَالَ « قَدْ أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتِ وَأَمَّنَّا مَنْ أَمَّنْتِ ». رواه أبو داود وصححه الألباني
“Dari Ummu Hani binti Abu Thalib bahwa ia memberi perlindungan kepada seorang musyrik pada masa penaklukan kota Mekkah. Lalu ia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyebutkan perihalnya kepada beliau. Maka beliau bersabda, “Sungguh kami memberi perlindungan kepada orang yang anda lindungi dan kami memberi jaminan keamanan kepada orang yang anda jamin keamanannya.” (HR. Abu Dawud dan disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Dalil-dalil yang dikemukakan di atas menunjukkan betapa indahnya syari’at Islam. Membuktikan bahwa Islam adalah agama kedamaian dan mencintai perdamaian. Oleh sebab itu, bila syari’at Islam diberlakukan tidak semestinya ada rasa takut dan kesangsian pada diri setiap orang kafir. Justru dengan diberlakukannya syari’at Islam, hak-hak mereka lebih terjamin dan terpelihara dari gangguan siapapun. Dengan diberlakukannya syari’at Islam, bukan berarti akan terjadi pembunuhan massal dan penjajahan terhadap umat lain, bahkan Islam sama sekali tidak membolehkan hal tersebut. Kami yakin jika orang mengerti tentang keadilan Islam, pasti semua orang menghendaki agar syari’at Islam itu diberlakukan, sekalipun dia adalah orang kafir. Islam telah membuktikan bagaimana ketenangan yang didapatkan non-muslim ketika hidup di bawah kekuasaan Islam di kota Madinah, Andalusia, dan begitu pula di Palestina pada masa khalifah Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu.
7. Membunuh anak-anak, wanita dan orang tua renta.
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda tatkala mengutus pasukan perang,
« انْطَلِقُوا بِاسْمِ اللَّهِ وَبِاللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ وَلاَ تَقْتُلُوا شَيْخًا فَانِيًا وَلاَ طِفْلاً وَلاَ صَغِيرًا وَلاَ امْرَأَةً وَلاَ تَغُلُّوا وَضُمُّوا غَنَائِمَكُمْ وَأَصْلِحُوا وَأَحْسِنُوا (إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ) ». رواه أبو داود
Berangkatlah dengan membaca “Bismillah wa Billahi wa ‘ala Millati Rasulillah!” Jangan bunuh orang tua jompo, anak balita, anak kecil dan wanita! Jangan menyembunyikan rampasan perang! Gabungkan harta rampasan perang, lakukan kebaikan dan berbuat baiklah! “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (HR. Abu Dawud).
8. Menghancurkan harta benda orang lain tanpa alasan yang dibenarkan syariat.
Sebagian hadits-hadits di atas telah menunjukkan tentang haramnya perbuatan ini. Dalil lainnya adalah sebagai berikut:

- Allah Ta`ala berfirman,
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ} [المائدة/8]
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
- Dalam ayat lain, Allah juga berfirman,
إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ [الشورى/42]
“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.”
- Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
« اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ » رواه مسلم
“Takutlah berbuat zalim, karena kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat.” (HR. Muslim).
Para ulama menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat larangan dari berbuat zalim kepada siapapun, termasuk orang kafir sekalipun.
- Dahulu di masa Jahiliyah, Mughirah pernah menemani sekelompok orang, lalu ia membunuh mereka dan mengambil harta mereka. Kemudian ia datang untuk masuk islam. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
« أَمَّا الإِسْلاَمُ فَقَدْ قَبِلْنَا وَأَمَّا الْمَالُ فَإِنَّهُ مَالُ غَدْرٍ لاَ حَاجَةَ لَنَا فِيهِ ». رواه أبو داود وصححه الألباني
“Adapun keislaman (seseorang) maka kami terima. Namun bila harta tadi, maka itu adalah harta atas dasar kecurangan. Kami tidak butuh padanya.” (HR. Abu Dawud dan dishohihkan Syaikh Al-Albani).
9. Membunuh diri sendiri untuk menutup kesalahan atau karena tidak sanggup menahan luka.
Allah yang maha penyayang melarang hamba-Nya dari bunuh diri. Dia berfirman,
{وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (29) [النساء/29]
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu sesungguhnya Allah Maha Penyayang denganmu”.
Orang yang bunuh diri dengan menggunakan suatu alat, maka di hari kiamat dia akan diadzab dengan benda tersebut. Rasulullah bersabda,
((وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَىْءٍ في الدنيا عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ)) متفق عليه
“Barangsiapa bunuh diri dengan sesuatu ketika di dunia, maka dia diazab pada hari kiamat dengannya.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Beliau juga bersabda,
« مَنَ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِى يَدِهِ يَتَوَجَّأُ بِهَا فِى بَطْنِهِ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ شَرِبَ سَمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَحَسَّاهُ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَرَدَّى فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا ». متفق عليه
“Barangsiapa bunuh diri dengan besi, maka di neraka jahannam besi tersebut berada di tangannya sambil menusuk-nusuk perutnya. Ia kekal dan dikekalkan di dalamnya selamanya. Barangsiapa meminum racun untuk bunuh diri, maka dia meminumnya di neraka jahannam. Ia kekal dan dikekalkan selamanya di sana. Dan barangsiapa lompat dari gunung untuk bunuh diri, maka ia melakukan demikian dalam neraka jahannam. Ia kekal dan dikekalkan di dalamnya selamanya.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Bunuh diri tetap diharamkan walaupun dengan alasan jihad. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam hadits dari Abu Huraira berikut ini,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ شَهِدْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حُنَيْنًا فَقَالَ لِرَجُلٍ مِمَّنْ يُدْعَى بِالإِسْلاَمِ « هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ » فَلَمَّا حَضَرْنَا الْقِتَالَ قَاتَلَ الرَّجُلُ قِتَالاً شَدِيدًا فَأَصَابَتْهُ جِرَاحَةٌ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ الَّذِى قُلْتَ لَهُ آنِفًا « إِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ » فَإِنَّهُ قَاتَلَ الْيَوْمَ قِتَالاً شَدِيدًا وَقَدْ مَاتَ. فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم « إِلَى النَّارِ » فَكَادَ بَعْضُ الْمُسْلِمِينَ أَنْ يَرْتَابَ فَبَيْنَمَا هُمْ عَلَى ذَلِكَ إِذْ قِيلَ إِنَّهُ لَمْ يَمُتْ وَلَكِنَّ بِهِ جِرَاحًا شَدِيدًا فَلَمَّا كَانَ مِنَ اللَّيْلِ لَمْ يَصْبِرْ عَلَى الْجِرَاحِ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَأُخْبِرَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم بِذَلِكَ فَقَالَ « اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنِّى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ». رواه مسلم
“Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata,”Kami turut serta bersama Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dalam perang Hunain. Beliau bersabda tentang seseorang yang dinyatakan sebagai orang islam, “Orang ini termasuk penghuni neraka.” Tatkala kami memasuki kancah peperangan, orang tersebut berperang dengan sangat hebat hingga dia terluka. Lalu ada yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, ”Wahai Rasulullah! Orang yang Anda katakan tadi sebagai penghuni neraka, hari ini dia berperang dengan hebat sampai mati. Nabi pun bersabda, “(Dia) ke neraka.” Sebagian kaum muslimin nyaris meragukan hal itu. Ketika mereka dalam keadaan seperti itu, ternyata ada yang menyampaikan bahwa orang tadi belum mati, namun dia terluka parah. Ketika malam tiba dia tidak sabar menahan rasa sakit, lalu diapun bunuh diri. Hal itu disampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Allahu akbar, aku bersaksi bahwa aku adalah hamba dan utusan Allah.” (HR. Muslim)
Hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa melakukan aksi teror dengan bom bunuh diri adalah diharamkan dalam syari’at Islam.
10. Melakukan penipuan. (pemalsuan dokumen dan lain-lain).
Allah dan Rosul-Nya memerintahkan kepada kita untuk senantiasa jujur dan menjauhi dusta.
Allah Ta`ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ [التوبة/119]
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu , ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
« عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا » رواه مسلم
“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena jujur membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa kepada surga. Seseorang senantiasa berlaku jujur dan memilih kejujuran hingga ditulis disisi Allah sebagai orang jujur. Sebaliknya hindarilah sifat dusta, karena dusta membawa kepada perbuatan keji dan perbuatan keji membawa kepada neraka. Senantiasa seseorang berbuat dusta dan memilih kedustaan hingga ditulis disisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim)
Beliau juga bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,
« َمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا » رواه مسلم
“Barangsiapa yang menipu kami, maka dia tidak termasuk golongan kami.” (HR. Muslim)
11. Menebarkan rasa takut di tengah-tengah kaum muslmin.
Kita dilarang dari membuat takut saudara kita. Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
« مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلاَحَ فَلَيْسَ مِنَّا ». متفق عليه
“Barangsiapa mengarahkan senjata kepada kami, maka dia bukan golongan kami.” (HR. Bukhari-Muslim).
Abdurrahman bin Abi Laila ia berkata, “Para sahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menceritakan kepada kami bahwa mereka pernah mengadakan perjalanan bersama Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Lalu salah seorang dari mereka tertidur. Kemudian sebagian mereka yang lain beranjak menuju tali yang ada bersamanya lalu mengambilnya sehingga ia terkejut. Maka Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
« لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا ». رواه أبو داود وصححه الشيخ الألباني
“Tidak halal bagi seorang muslim membuat takut muslim lainnya.”(HR. Abu Dawud dan dishohihkan Syaikh Al-Albani).
12. Melakukan perbuatan haram untuk mengelabui orang lain (seperti mencukur jenggot, memakai pakaian wanita, dan lain-lain).
Rasulullah telah menerangkan tentang haramnya mencukur jenggot. Beliau bersabda,
« خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى » متفق عليه
“Berbedalah kalian dari orang-orang musyrik. Potonglah kumis dan peliharalah  jenggot.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Sedangkan mengenai haramnya laki-laki menyerupai perempuan, Ibnu Abbas berkata,
((لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم المتشبهين من الرجال بالنساء والمتشبهات من النساء بالرجال)) رواه البخاري
”Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam melaknat para lelaki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai lelaki.” (HR. Bukhari).
13. Membuat kerusakan di muka bumi.
Aksi terorisme telah membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menghancurkan berbagai fasilitas umum. Perbuatan mereka telah menimbulkan kerusakan dalam berbagai segi. Allah sangat membenci orang yang berbuat kerusakan di muka bumi, baik dengan pembunuhan, pengeboman, pengrusakan, penghacuran, dan lain-lain.
Allah berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ [البقرة/11، 12]
“Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang membuat kerusakan, akan tetapi mereka tidak menyadarinya.”
Dalam ayat yang lain,
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ [الأعراف/85]
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.”
Dalam ayat lain Dia juga berfirman,
وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ [القصص/77]
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
14. Mencemarkan nama baik Islam dihadapan umat agama lain.
Berbagai pelanggaran syar’i yang dilakukan oleh para teroris telah mencoreng nama baik islam di hadapan umat agama lain. Hal ini mengakibatkan mereka menilai perbuatan tersebut sebagai ajaran Islam. Padahal Islam sangat mengharamkan aksi terorisme.
Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tidak melakukan hukuman mati kepada sebagian orang yang berhak untuk dibunuh demi menjaga nama baik Islam. Hal tersebut ditunjukkan oleh beberapa hadits berikut ini:
- Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu ia berkata, ”Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dalam sebuah peperangan. Lalu Abdullah bin Ubay berkata, ”Demi Allah! Jika kami kembali pulang ke Madinah sungguh orang-orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah. Umar berkata, “Izinkan saya untuk menebas leher orang munafik ini”. Nabi bersabda,
« دَعْهُ لاَ يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ » متفق عليه
“Biarkan dia! Jangan sampai orang mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya.” (Muttafaqun ‘alaihi).
- Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu ia berkata, ”Seseorang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam di Ji’ronah- tempat bertolaknya beliau dari Hunain. Dalam pakaian Bilal ada perak yang Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bagikan kepada manusia. Lalu orang tadi berkata, “Wahai Muhammad! Berlaku adilah!” Beliau bersabda, “Celakalah engkau, siapa yang akan berlaku adil jika aku tidak adil. Sungguh kecewa dan rugilah engkau jika aku tidak bertindak adil”. Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu berkata, “Izinkan saya wahai Rasulullah untuk membunuh orang munafik ini.” Beliau bersabda, “Aku berlindung kepada Allah dari ucapan manusia bahwa aku membunuh sahabatku. Sesungguhnya orang ini dan pengikutnya, mereka membaca Al-Quran tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar darinya seperti anak panah keluar dari busurnya.” (HR. Muslim).
15. Menyerupai Perbuatan Orang-Orang Khawarij.
Sikap dan tindakan yang mereka lakukan sangat serupa dengan berbuatan orang Khawarij yang dikecam oleh Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Hal tersebut ditunjukkan oleh hadits-hadits berikut,,
- Ali radhiallahu ‘anhu mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
« سَيَخْرُجُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِى قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ». متفق عليه
“Akan keluar di akhir zaman sekelompok kaum yang berusia muda, yang berpikiran bodoh. Mereka mengatakan sebaik-baik perkataan, mereka membaca Al Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya. Bila kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka. Sesungguhnya dalam membunuh mereka di sediakan pahala di hari kiamat bagi siapa melakukannya”. (HR. Bukhari-Muslim).
Dari Abu Said Al Khudri radhiallahu ‘anhu ia berkata: “Ali radhiallahu ‘anhu mengirim emas dalam bungkusannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Lalu Rasulullah membagikannya kepada empat orang sahabat (kemudian beliau merinci nama sahabat-sahabat tersebut). Kemudian datang seorang yang berjenggot lebat, bermuka lebar, bermata kecil, berkening celak, berkepala botak, berkata kepada Rasulullah: Takutlah kepada Allah wahai Muhammad! Maka Rasulullah menjawab,
« فَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ إِنْ عَصَيْتُهُ أَيَأْمَنُنِى عَلَى أَهْلِ الأَرْضِ وَلاَ تَأْمَنُونِى »
“Siapa yang mau taat kepada Allah jika aku membangkang kepada-Nya. Allah mempercayakan penduduk bumi kepadaku, dan engkau tidak mempercayai aku.” Lalu orang tersebut pergi, lalu salah seorang dari  pada sahabat minta izin untuk membunuhnya. Ia adalah Khalid bin Walid. Maka Rasulullah bersabda,
« إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ ». متفق عليه
“Akan keluar dari tulang punggung orang tersebut sekolompok kaum yang mahir membaca Al Qur’an akan tetapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala. Mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya. Jika seandainya aku mendapati mereka niscaya aku akan membunuh merka sebagaimana lenyapnya kaum ‘Ad.” (HR. Bukhari-muslim).
Solusi Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme
  1. Menghentikan penjajahan terhadap negara-negara muslim, serta mengembalikan hak-hak umat Islam terutama di Palestina, Afganistan dan Irak.
  2. Menghentikan penindasan dan pengekangan terhadap umat Islam dari menjalankan ajaran agama mereka, terutama di negara-negara yang mayoritas non muslim.
  3. Menegakkan nilai-nilai keadilan di tengah-tengah masyarakat, serta menumpas segala bentuk maksiat dan kemungkaran terutama penodaan terhadap agama.
  4. Menanamkan aqidah yang benar kepada umat, terutama generasi muda.
  5. Mempelajari ilmu agama dari ulama yang terpercaya dalam ilmunya. Bukan orang yang berpura-pura seperti ulama.
  6. Mengembalikan persoalan-persoalan besar dan penting kepada penguasa.
  7. Adanya kerjasama antara ulama dan umara’ dalam pencerahan pemahaman agama kepada generasi muda.
  8. Perhatian orang tua terhadap pendidikan agama anak-anak mereka serta mengawasi kegiatan anak-anak mereka di luar rumah.
  9. Kepedulian masyarakat terhadap sesama, meninggalkan sikap acuh dan individualisme.
  10. Meningkatkan pengawasan ulama dan pihak terkait terhadap perkembangan pemahaman agama yang berkembang di masyarakat.
Penutup
Sebagai penutup kami mohon maaf atas segala kekurangan dan kekeliruan dalam penyampaian materi ini. Semua itu tidak lain karena keterbatasan ilmu yang kami miliki. Semoga apa yang kami sampaikan ini bermanfaat bagi kami sendiri dan bagi kaum muslimin semua. Semoga Allah memperlihatkan kepada kita yang benar itu adalah benar. Kemudian menuntun kita untuk mengikuti kebenaran tersebut. Dan memperlihatkan kepada kita yang salah itu adalah salah. Dan menjauhkan kita dari mengikuti yang salah tersebut[15].
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت وأستغفرك وأتوب إليك
Rujukan Pembahasan.
Bagi para pembaca yang ingin menambah wawasan tentang pembahasan ini silahkan merujuk buku-buku (kitab-kitab) berikut ini:
م1.     منهج الإمام محمد بن عبد الوهاب في مسألة التكفير تأليف أحمد بن جزاع الرضيمان
2.      بأي عقل ودين يكون التفجير والتدمير جهاداً؟! ويحكم … أفيقوا ياشباب!! تأليف محدث المدينة عبد المحسن بن حمد العباد البدر
3.      بذل النصح والتذكير لبقايا المفتونين بالتكفير والتفجير تأليف محدث المدينة عبد المحسن بن حمد العباد البدر
4.      اقرأ مصيرك قبل أن تفجر!! تأليف د. خالد بن علي العنبري
5.      حصاد الإرهاب تأليف د. ناصر بن مسفر الزهراني
6.      ظاهرة الغلو في الدين (الأسباب والمظاهر والعلاج) تأليف عبود بن علي بن درع
7.      فتاوى الأئمة في النوازل المدلهمة وتبرئة دعوة وأتباع محمد بن عبد الوهاب من تهمة التطرف والإرهاب جمع وترتيب محمد بن حسين القحطاني
8.      فتاوى العلماء الأكابر فيما أهدر من دماء في الجزائر جمع وتعليق عبد الملك رمضاني
9.      وجادلهم بالتي هي أحسن (مناقشة علمية هادئة متعلقة بحكام المسلمين) جمع بندر بن نايف العتيبي
10.  حقوق غير المسلمين في بلاد الإسلام تأليف أ.د صالح بن حسين العايد
11.  السعوديون والإرهاب رؤى عالمية / غيناء للنشر
12.  معاملة الحكام في ضوء الكتاب والسنة تأليف د/ عبد السلام بن برجس
13.  وجوب طاعة السلطان في غير معصية الرحمن بدليل السنة والقرآن تأليف محمد بن ناصر العريني
14.  عقيدة أهل السنة والجماعة في البيعة والإمامة تأليف فواز بن يحي الغسلان
15.  التكفير وضوابطه تأليف د/ إبراهيم بن عامر الرحيلي
16.  التحذير من التسرع في التكفير تأليف محمد بن ناصر العريني
17.  أصول وضوابط في التكفير تأليف عبد اللطيف بن عبد الرحمن آل الشيخ
18.  التحرير لمسألة التكفير -في قضية الحكم بغير ما أنزل الله- تأليف الشيخ محمد بن صالح العثيمين
19.  القطوف الجياد من حكم وأحكام الجهاد أليف أ. د/ عبد الرزاق بن عبد المحسن البدر
رسالة الإرشاد إلى بيان الحق في حكم الجهاد تأليف الشيخ أحمد بن يحي النجمي
Penulis: Ustadz Dr.Ali Musri semjan Putra,M.A.
Artikel www.dzikra.com


[1] Kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari: 3/1180 dan Muslim: 5/181.
[2] Lihat majalah “Risalah Mujahidin Th III/Edisi 26 terbit Shafar 1430 H/Jan-Feb 200M.
Dengan topik:  “Poros Setan Mencabik Islam Di Tanah Haram” dan “Dinasti Saudi Satu Trah Dengan Yahudi“.
[3] Baca tulisan kami Apa Itu Wahabi dalam majalah “Adz Dzakhiirah” edisi no 54 terbit bulan Ramadhan th 1430 H.
[4] Lihat kitab As Su’udiyuun Wal Irhaab. Hal: 75.
[5] lihat kumpulan surat-surat pribadi beliau dalam kita “majmu’ muallafaat syeikh Muhammad bin Abdul Wahab jilid 3. baca juga Manhaj Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab fi Masalah at Takfiir” karangan Ahmad Ar-Rudhaiman.[6] Tafsir As Sa’dy hal: 183.
[7] Lihat Syarah An Nawawy, 12/225.
[8] Lihat Syarah An Nawawy, 12/229.
[9] Disebutkan oleh Al Lakaa’i dalam Syarah I’tiqad Ahlussunnah, 1/176.
[10] Lihat Syarah Ath Thawiyah, 428.
[11] lihat kumpulan surat-surat pribadi beliau dalam kita Majmu’ Muallafaat Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab jilid 3.
[12] Lihat ‘Itiqod Ahli Hadits, hal: 75.
[13] Lihat ‘Aqidah As Salaf Ashhabul hadits, hal: 92.
[14] Lihat Al Mughny, 10/368.
[15]Makalah ini pernah disampaikan dalam acara tabligh akbar di masjid Al Furqon Jln. Trunojoyo Jember tanggal 20 Desember 2009.

Posted By Minang Sunnah9:19 PM