Minggu, 23 Januari 2011

Bolehkah Ketika Sujud Membaca Do’a yang Asalnya dari Al Qur’an?

Filled under:

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Seperti telah kita pahami bersama bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita membaca Al Qur’an ketika ruku’ dan sujud.

Dalil tentang hal ini adalah hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنِّى نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِى الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

“Ketahuilah, aku dilarang untuk membaca al-Qur’an dalam keadaan ruku’ atau sujud. Adapun ruku’ maka agungkanlah Rabb azza wa jalla, sedangkan sujud, maka berusahalah bersungguh-sungguh dalam doa, sehingga layak dikabulkan untukmu.” (HR. Muslim no. 479)



‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

نَهَانِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَقْرَأَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangku untuk membaca (ayat Al Qur’an) ketika ruku’ dan sujud.” (HR. Muslim no. 480)

Lalu apa hikmah tidak boleh membaca Al Qur’an ketika ruku’ dan sujud?

Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh para ulama.

Ada ulama yang menyatakan bahwa sebaik-baik rukun shalat adalah berdiri dan sebaik-baik bacaan adalah Al Qur’an. Karenanya, yang afdhol ini ditempatkan pada yang afdhol. Sedangkan Al Qur’an tidak diperkenankan dibaca di tempat lainnya agar tidak disangka bahwa Al Qur’an punya kedudukan yang sama dengan dzikir lainnya.

Ada pula ulama yang menyatakan bahwa ruku’ dan sujud adalah dua keadaan di mana seseorang tunduk dan hina di hadapan Allah, sehingga bacaan yang lebih pantas ketika itu adalah do’a dan bacaan tasbih. Oleh karena itu, terlarang membaca Al Qur’an ketika sujud dalam rangka untuk mengagungkan Al Qur’an dan untuk memuliakan yang membacanya. (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 3/91)

Lalu bagaimana membaca do’a yang diambil dari Al Qur’an ketika sujud?

Jawabnya, hal ini tidaklah mengapa. Kita boleh saja berdo’a dengan do’a yang bersumber dari Al Qur’an. Seperti do’a sapu jagad,

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah: 201).

Atau do’a agar diberikan keistiqomahan,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imron: 8)

Alasannya karena niatan ketika itu adalah bukan untuk tilawah Al Qur’an, namun untuk berdo’a. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Setiap amalan tergantung pada niat. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

Salah seorang ulama Syafi’iyah, Az Zarkasyi rahimahullah berkata,

وَمَحَلُّ كَرَاهَتِهَا إذَا قَصَدَ بِهَا الْقُرْآنَ فَإِنْ قَصَدَ بِهَا الدُّعَاءَ وَالثَّنَاءَ فَيَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ كَمَا لَوْ قَنَتَ بِآيَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ

“Yang terlarang adalah jika dimaksudkan membaca Al Qur’an (ketika sujud). Namun jika yang dimaksudkan adalah do’a dan sanjungan pada Allah maka itu tidaklah mengapa, sebagaimana pula seseorang boleh membaca qunut dengan beberapa ayat Al Qur’an” (Tuhfatul Muhtaj, 6/6, Mawqi’ Al Islam).

Para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, Komisi Tetap Riset Ilmiyah dan Fatwa Saudi Arabia pernah ditanya,

“Kami mengetahui bahwa tidak boleh membaca Al Qur’an di dalam sujud. Lalu bagaimana dengan sebagian ayat yang mengandung do’a seperti ”Robbana laa tuzigh quluubana ba’da idz hadaitanaa” [Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami]? Bagaimana hukum membaca do’a yang berasal dari Al Qur’an ketika sujud?

Para ulama tersebut menjawab,

لا بأس بذلك إذا أتى بها على وجه الدعاء لا على وجه التلاوة للقرآن

“Seperti itu tidaklah mengapa jika ayat tersebut dibaca untuk maksud do’a, bukan maksud untuk membaca Al Qur’an” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, pertanyaan ketiga,fatwa no. 7921, 6/441)

Dari penjelasan ini, membaca do’a yang berasal dari Al Qur’an ketika sujud itu dibolehkan selama niatannya bukanlah untuk tilawah, namun untuk berdo’a.

Semoga Allah memberikan tambahan ilmu yang bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

Posted By Minang Sunnah9:55 PM

Bahaya Khomr (Segala Sesuatu yang Memabukkan)

Filled under:

Hadits 46

عن سعيد بن أبي بردة عن أبيه عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم بعثه إلى اليمن فسأله عن أشربة تصنع بها فقال وما هي قال البتع والمزر -فقلت لأبي بردة ما البتع قال نبيذ العسل والمزر نبيذ الشعير- فقال كل مسكر حرام


"Dari Sai'id bin Abi Burdah dari ayahnya dari Abu Musa Al-Asy'ari bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya ke negeri Yaman maka iapun (Abu Musa) bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hukum minum-minuman yang dibuat di Yaman. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun bertanya kepadanya, "Apakah minum-minuman tersebut?", ia menjawab, "Al-Bit'[1] dan dan Al-Mizr[2]. -Aku (Sa'id bin Abi Burdah) bertanya kepada Abi Burdah, "Apakah itu Al-Bit'?", ia berkata, "Al-Bit' adalah nabidz[3] madu dan Al-Mizr adalah nabidz gandum"-. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallambersabda, "Setiap yang memabukkan adalah haram" (HR Al-Bukhari 4/1579 no 4087 dan 5/2269 no 5773, Muslim 3/1586 no 1733)


Berkata sekelompok salaf bahwasanya peminum khomr melalui suatu waktu dimana ia tidak mengenal pada waktu tersebut Robbnya, padahal Allah hanyalah menciptakan mereka (para peminum khomr) untuk mengenalNya, mengingatNya, beribadah kepadaNya, dan taat kepadaNya. Maka perkara apa saja yang mengantarkan kepada terhalanginya seorang hamba dengan tujuan-tujuan penciptaannya dan menghalangi antara hamba dari mengenal dan mengingat serta bermunajat kepada RobNya maka hukumnya adalah haram, dan perkara tersebut adalah mabuk. Dan hal ini berbeda dengan tidur, karena Allah telah menjadikan hamba-hambaNya memiliki sifat tersebut dan menjadikan mereka harus membutuhkan hal itu, tidak ada penegak untuk menegakkan tubuh-tubuh mereka kecuali dengan tidur karena tidur merupakan istirahat dari keletihan dan kelelahan. Dan tidur merupakan salah satu nikmat Allah yang sangat besar kepada hamba-hambaNya. Jika seorang mukmin tidur sesuai dengan kebutuhannya lalu bangun dari tidurnya untuk mengingat Allah dan bermunajat kepadaNya serta berdo'a kepadaNya maka tidurnya itu merupakan penolong baginya untuk sholat dan berdzikir. Oleh karena itu sebagian salaf berkata, إني أحتسب نومتي كما أحتسب قومتي "Aku mengharapkan pahala dari Allah dengan tidurku sebagaimana aku mengharapkan pahala dengan sholat malamku" (Jami'ul Ulum 1/421)


Akal adalah anggota tubuh yang membedakan antara hewan dan manusia, akal merupakan tempat memahami, dengan akal seseorang bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara hak dan batil. Oleh karena itu agama Islam sangat memperhatikan penjagaan akal dan menjadikan sebagai tempat digantungkannya "taklif" (beban untuk menjalankan hukum-hukum syari'at) dan Islam menjatuhkan taklif bagi orang yang kehilangan akal sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

رفع القلم عن ثلاثة عن المجنون المغلوب على عقله حتى يفيق وعن النائم حتى يستيقظ وعن الصبي حتى يحتلم

"Diangkat pena dari tiga (golongan), orang gila yang hilang akalnya hingga sadar, dari orang yang tidur hingga terjaga dan dari anak kecil hingga bermimpi (dewasa)" (HR Abu Dawud 4/140 (dan ini adalah lafal dari Abu Dawud), Ibnu Majah 1/658, Ibnu Hibban 1/356, Ibnu Khuzaimah 4/348)

Jika kita menelusuri ayat-ayat Al-Qur'an maka kita akan dapati bahwa penyebutan tentang akal berulang-ulang hingga 49 kali dengan metode penyebutan yang bervariasi. Diantaranya:

1. Dengan pertanyaan untuk menghinakan أَفَلاَ تَعْقِلُونَ dan ayat seperti ini terulang dalam Al-Qur'an sebanyak 15 kali, diantaranya

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Alkitab (Taurat) Maka tidakkah kamu berpikir? (QS. 2:44)

Allah memberikan pertanyaan ini kepada yang ditujukanNya adalah untuk menghinakan mereka disebabkan mereka tidak menggunakan akal mereka untuk memikirkan ayat-ayat Allah, padahal Allah telah memberikan mereka karunia akal dan Allah menurunkan kepada mereka ayat-ayat yang bisa dipahami dengan akal mereka. Pada akhirnya di akhirat kelak mereka baru merasakan pentingnya menggunakan akal mereka sebagaimana penyesalan yang mereka ungkapkan kelak tatkala mereka di neraka

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Dan mereka berkata:"Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala". (QS. 67:10)

2. Datang penyebutan akal juga dalam konteks لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ , dan ini berulang dalam Al-Qur'an delapan kali, diantaranya:

فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا كَذَلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَى وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya, agar kamu mengerti. (QS. 2:73)

Demikian juga firman Allah

كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum-hukum-Nya), supaya kamu memahaminya. (QS. 2:242)

Dari bentuk penyebutan akal yang kedua ini jelas kita pahami bahwa Allah menurunkan dan menampakan ayat-ayatnya adalah agar manusia menggunakan akal mereka untuk mentadabauri kebesaran Allah

3. Penyebutan akal juga dalam konteks لاَ يَعْقِلُونَ dan ini berjumlah 11 kali, diantaranya firman Allah

أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُون

Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk? (QS. 2:170)

}صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ|

Mereka tuli, bisu, dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (QS. 2:171)

4. Penyebutan akal dalam Al-Qur'an juga datang konteks يَعْقِلُونَ, dan ini berjumlah 8 kali, diantaranya firman Allah

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآياتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. 2:164)

Perhatikanlah, Allah dalam ayat ini sebelumnya menyebutkan terlebih dahulu ayat-ayat kauniah yang Allah hamparkan di penjuru alam sebagai 'ibroh (pelajaran) bagi mereka yang menggunakan akal mereka

5. Penyebutan tentang akal juga datang dalam Al-Qur'an dalam konteks إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ, dan ini berjumlah dua kali

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآياتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (QS. 3:118)



قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

Musa berkata:"Rabb yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya (Itulah Rabbmu) jika kamu mempergunakan akal". (QS. 26:28)

Yaitu jika kalian adalah orang-orang yang berakal maka terbitnya matahari di timur dan terbenamnya di barat menunjukan bahwa tidak ada yang menguasainya kecuali Allah –padahal hal ini juga diketahui oleh orang yang jahil-

6. Penyebutan tentang akal juga datang dalam Al-Qur'an dalam konteks عَقَلُوهُ dalam ayat berikut

أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (البقرة:75)

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah lalu mereka mengubahya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (QS. 2:75)

7. Penyebutan tentang akal juga datang dalam Al-Qur'an dalam konteks يَعْقِلُهَا dalam ayat berikut

{وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ) (العنكبوت:43)

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang yang berilmu. (QS. 29:43)

Ini adalah sekilas tentang bentuk-bentuk penyebutan akal dalam Al-Qur'an, maka jika penyebutan akal berulang-ulang dalam Al-Qur'an dengan jumlah yang banyak maka hal ini menunjukan akan urgensinya akal, karena ia adalah tempat memahami dan tempat digantungkannya taklif. Jika akal menempati kedudukan yang sangat penting ini maka Syari'at telah memerintahkan untuk menjaga akal bahkan ia termasuk dari Ad-Dhoruriat Al-Khomsah (agama, jiwa, akal, harta, keturunan) yang patut dijaga dalam kehidupan manusia.

Oleh karena itu perbuatan kriminal seseorang terhadap akalnya dengan meniadakan fugsi akal dan menghentikan aktifitas akal maka orang tersebut pantas untuk dihukum akibat perbuatan kriminalnya tersebut walaupun pada hakikatnya orang tersebut telah berbuat kriminal terhadap dirinya sendiri dimana ia telah menutup akalnya sehingga jadilah ia seperti hewan atau lebih parah yang tidak bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan karena alat yang digunakannya untuk membedakan telah ia rusakan fungsinya.

Apakah merupakan tindakan seorang yang memiliki akal –dengan pilihannya- berusaha untuk menghilangkan fungsi akalnya?? yang akal merupakan alat yang sangat teiti yang mampu mencatat masa lalunya dengan baik serta membuatnya berjalan dalam jalan yang teratur, serta memberikan gambaran yang baik di masa depan, apakah ada orang yang berakal yang ingin menghilangkan fungsi akalnya??. Sesungguhnya orang yang menghilangkan fungsi akalnya dengan sengaja, perbuatannya itu menunjukan bahwa ia bisa tanpa akalnya, ia tidak butuh dengan akalnya, ia ingin berjalan di atas muka bumi dengan keadaannya yang tanpa akal, dia ingin seperti hewan-hewan yang tidak bisa membedakan, atau seperti benda-benda mati yang tidak bisa merasakan apa yang terjadi di daerah sekitarnya. (Lihat pembahasan Syaikh Sa'd Nida dalam majalah Jami'ah Islamiyah no 54, hal 123-131)

Sebagian salaf berkata, "Aku heran dengan orang yang berakal yang sengaja dengan meminum khomr untuk menggabungkan dirinya dalam golongan orang-orang yang tidak berakal (gila)"

Ibnu Abi Dunya menyebutkan bahwa ia melewati seorang yang sedang mabuk lalu orang mabuk tersebut kencing di kedua telapak tangannya kemudian ia berbuat seakan-akan orang yang sedang berwudlu lalu berkata, الحمد لله الذي جعل الإسلام نورأ والماء طهورأ "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Islam sebagai cahaya dan menjadikan air sebagai penyuci" (Sebagaimana dinukil dalam Majalah Jami'ah Islamiyah no 54 hal 105-122)



Hukum Khomr


Allah telah mengharamkan khomr dengan firmanNya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون، إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلاغُ الْمُبِينُ|

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. jika kamu berpaling, Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. 5:90-92)


Para ulama telah berdalil dengan ayat ini untuk menunjukan bahwa khomr adalah haram dan hukum pengharamannya adalah sangat jelas dan qo'ti, hal ini dapat dilihat dari beberapa sisi:

1. Allah menjadikan khomr dan perjudian termasuk rijs (najis) sebagaimana firman Allah

Ayat ini dibuka dengan lafal إِنَّمَا yang memberikan faedah pengkhususan dan pembatasan, yang hal ini menunjukan tidak ada sifat dalam khomr kecuali kenajisan. Dan jika kita memeriksa lafal الرِّجْسَ dalam Al-Qur'an maka kita akan dapati tidaklah Allah menyifati dengan | الرِّجْسَ } kecuali pada perkara-perkara yang sangat buruk, diantaranya firman Allah

{فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ (الحج:30)

maka jauhilah olehmu barhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan yang dusta. (QS. 22:30)

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقاً حَرَجاً كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk(memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS. 6:125)

وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْساً إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ

Dan adapun orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. (QS. 9:125)

{قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقاً أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (الأنعام:145

Katakanlah:"Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Rabbmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. 6:145)

{سَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ إِذَا انْقَلَبْتُمْ إِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوا عَنْهُمْ فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (التوبة:95)

Kelak mereka bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada meraka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah kepada mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 9:95)

Maka demikianlah, meminum khomr termasuk dalam kalimat | الرِّجْسَ } bersama dengan kekufuran, dan orang-orang kafir, serta penyembahan berhala

2. Allah menggandengkan antara khomr dan perjudian dengan bentuk-bentuk kesyirikan yaitu penyembahan berhala الْأَنْصَابُ dan mengundi nasib dengan anak panahالْأَزْلام
3. Allah menjadikan khomr dan perjudian termasuk perbuatan syaitan, dan syaitan tidaklah melakukan kecuali keburukan dan kejahatan, dan dalam bahasa Arab dan uslub (metode) Al-Qur'an adalah sebagai kinayah bagi sesuatu yang sangat keji dan buruk

4. Allah memerintahkan untuk menjauhi khomr, dan larangan untuk menjauhi sesuatu lebih keras daripada larangan untuk langsung mengkonsumsi sesuatu tersebut.

5. Allah mengkaitkan sikap penjauhan khomr dengan (الفَلاَح) keberuntungan (kemenangan), dan lafal keberuntungan mengandung makna keselamatan dari kerugian makna mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat. Allah menjelaskan bahwa sikap mendekati khiomr mengantarkan kepada kerugian yang umum (baik di dunia maupun di akhirat)

6. Allah menjelaskan tentang akibat buruk dari meminum khomr dalam hubungan kemasyarakatan diantara manusia

{إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ|

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu dan berjudi itu

7. Selain itu Allah juga menjelaskan tentang akibat buruk khomr yang berkaitan dengan akhirat yaitu terputusnya hubungan antara peminum khomr dengan Robnya

}وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ|

dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat

8. Yang terakhir Allah tutup ayat ini yang mengandung metode-metode pengharaman di atas dengan pertanyaan untuk penghinaan dengan firmanNya | فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ } (maka tidakkah kalian berhenti (dari mengerjakan pekerjaan itu)??.) yang menunjukan akan ancaman yang keras. Syaikh Sholeh Alu Syaikh berkata, “Allah membawakan perintah untk meninggalkan khomr dalam bentuk pertanyaan, dan ini lebih mengena daripada dengan bentuk perintah secara langsung sebagaimana kaidah ini telah diketahui oleh para ahli bahasa dan balagoh yaitu tentang perbedaan antara menta’birkan (mengungkapkan) perintah dengan bentuk khobar dengan bentuk perintah secara langsung. Jika bentuk perintah langsung dirubah kepada bentuk khobar atau pertanyaan maka hal ini menunjukan bahwa perintah tersebut lebih mengena dan lebih tegas. (Dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh yang berjudul Qimar wa Suaruhu Al-Muharromah)

9. Allah menyambung ayat perintah untuk menjauhi khomr dengan firmanNya

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَاحْذَرُوا فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلاغُ الْمُبِينُ

Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. 5:92)

Lihatlah bagaimana Allah mengkaitkan pengharaman khomr dengan ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang jika seandainya stiap orang meniggalkan larangan-larangan Allah karena ketaatan kepada Allah maka akan selesailah kebanyakan problematika yang ada di masyarakat.

Adapun jika kita mengingatkan para peminum khomr dengan menakut-nakuti mereka dengan penyakit dan bahaya yang bisa ditimbulkan oleh khomr maka ini hanyalah dilakukan bagi orang-orang yang imannya lemah dan bukanlah metode yang baik jika dijadikan metode yang utama. Bahkan kenyataan yang ada banyak dari peminum khomr yang tidak merasa khawatir dengan kesehatannya, lihat saja orang-orang kafir mereka terus meminum khomr walaupun telah dijelaskan pada mereka tentang bahaya khomr, bahkan penjelasan mereka (orang-orang kafir) tentang bahayanya khomr jauh lebih baik daripada penjelasan kita (secara umum), namun hal ini kurang bermanfaat dalam menghentikan budaya minum khomr. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mentarbiayah (mendidik) para sahabatnya dengan mengkaitkan perintah untuk meninggalkan larangan-larangan Allah dengan ketaatan kepada Allah, sehingga tatkala seseorang terbiasa meninggalkan perkara yang dilarang oleh Allah karena ketaatan kepada Allah (bukan karena kepentingan dunia) maka akan semakin bertambah imannya dan semakin mudah baginya untuk meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah. Jika kita perhatikan bagaimana kisah para sahabat tatkala diharmkannya khomr sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits diantaranya …..

كنت ساقي القوم في منزل أبي طلحة فنزل تحريم الخمر فأمر مناديا فنادى فقال أبو طلحة أخرج فانظر ما هذا الصوت قال فخرجت فقلت هذا مناد ينادي ألا إن الخمر قد حرمت فقال لي اذهب فأهرقها قال فجرت في سكك المدينة

Dari Anas bin Malik ia berkata, ((Aku adalah penuang khomr bagi orang-orang di rumah Abu Tolhah lalu turunlah ayat tentang pengharaman khomr maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh seseorang untuk menyerukan kepada manusia (akan pengharaman khomr), lalu Abu Tolhah berkata kepadakum "Lihatlah suara apakah itu?" maka akupun keluar lalu kukatakan kepadanya ini adalah suara seorang penyeru yang menyerukan bahwasanya khomr telah diharamkan. Lalu ia berkata kepadaku, "Pergilah engkau dan tumpahkanlah khomr", maka akupun keluar lalu ditumpahkanlah khomr di jalan-jalan kota Madinah)). [HR Al-Bukhari 4/1688 no 4344 dan Muslim 3?1670 no 1980]

Lihatlah para sahabat bagaimana mudahnya bagi mereka untuk berhenti dari meminum khomr padahal diantara mereka ada yang merupakan pecandu khomr selama bertahun-tahun. Dan cukup bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menghentikan mereka dari meminum khomr dengan mengutus seseorang yang menyerukan akan diharamkannya khomr

Jika kita memperhatikan metode-metode pengharaman yang terdapat dalam ayat ini maka sangatlah jelas bahwasanya satu satu jada dari metode-metode di atas sudah cukup untuk mengharamkan khomr apalagi jika berkumpul semua metode-metode di atas. Namun anehnya masih saja ada orang yang menghalakan khomr atau berkata khomr hukumnya hanyalah makruh dan tidak haram karena tidak ada dalam ayat yang jelas-jelas mengatakan |حُرِّمَتْ عَلَيكُمُ الْخَمْرُ} (diharamkan atas kalian khomr) sebagaimana pengharaman bangkai |حُرِّمَت عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ} (diharamkan atas kalian memakan bangkai), yang ada hanyalah perintah untuk menjauhi khomr | فَاجْتَنِبُوهُ } (jauihilah khomr). Sungguh benar sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang sejak jauh-jauh telah mengingatkan kita akan hal ini.

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف

Sungguh akan ada dari umatku kaum yang menghalalkan zina, kain sutra (bagi kaum pria), khomr, dan alat-alat music. ( HR Al-Bukhari 5/2123 no 5268)

Barangsiapa yang mengamati dengan baik maka ia akan tahu bahwa Firman Allah ini |فَاجْتَنِبُوهُ} (jauihilah khomr) lebih jelas dan lebih mengena serta lebih kuat pengharamannya daripada seandainya jika Allah berkata |حُرِّمَتْ عَلَيءكُمُ الْخَمْرُ} (diharamkan atas kalian khomr), karena perintah untuk menjauhi khomr berarti diharamkan mendekati khomr dengan bentuk apapun apalagi sampai meminumnya[4].

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda

أتاني جبريل فقال يا محمد إن الله لعن الخمر وعاصرها ومعتصرها وشاربها وحاملها والمحمولة إليه وبايعها وساقيها ومسقيها هذا حديث صحيح الإسناد وشاهده حديث عبد الله بن عمر ولم يخرجاه

((Jibril telah datang kepadaku dan berkata, "Wahai Muhammad sesungguhnya Allah melaknat khomr dan pemerasnya (misalnya yang memeras anggur untuk dijadikan khomr-pen), dan orang yang meminta untuk memerasnya, peminumnya, yang membawa khomr dan yang meminta untuk dibawakan khomr kepadanya, penjualnya, yang menuangkan khomr, dan yang meminta untuk dituankan khomr")) [HR Ibnu Hibban (Al-Ihsan 12/178 no 5356) dari hadits Ibnu Abbas, Al-Hakim di Al-Mustdrok 2/37 no 2234, dan beliau berkata, "Hadits ini isnadnya shahih dan ada syahidnya dari hadits Abdullah bin Umar", Ahmad 1/316 no 2899]

Perhatikanlah khomr telah dilaknat oleh Allah bukan hanya peminumnya bahkan seluruh yang berkaitan dengan pengadaan khomr dan peminuman khomr terlaknat, bahkan jika kita perhatikan hadits ini kebanyakan yang disebutkan untuk dilaknat adalah yang membantu dan ikut andil dalam pengadaan khomr dan peminumannya. Jika yang membantu pengadaan khomr serta peminumannya telah dilaknat oleh Allah bagaimanapula dengan yang meminumnya secara langsung.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambersabda

كل مسكر خمر وكل مسكر حرام ومن شرب الخمر في الدنيا فمات وهو يدمنها لم يتب لم يشربها في الآخرة

((Setiap yang memabukan adalah khomr dan setiap yang memabukan adalah khomr dan barangsiapa yang meminumnya di dunia lalu mati dan dia masih terus jadi pecandu khomr yang tidak bertaubat maka ia tidak akan meminumnya di akhirat)) [HR Muslim 3/1587 no 2003, dari hadits Ibnu Umar]

Maka sungguh sangatlah menyedihkan keadaan para pecandu khomr, sungguh merugi keadaan mereka, di dunia mereka telah menghamburkan harta mereka, telah merusak tubuh mereka, telah menghilangkan akal mereka (sehingga seperti orang gila) dan di akhirat kelak mereka akan terhalang dari meminum khomr yang ada di surga. Maka kerugian apakah lagi yang lebih besar dari orang yang mencegah dirinya dari kenikmatan meminum khomr di surga. Allah berfirman,

}مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفّىً وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيماً فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ| (محمد:15)

(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka di dalamnya memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya (QS. 47:15)

Allah sungguh maha adil, maka Allah akan membalas para hambanya yang meninggalkan khomr di dunia karena taat kepadaNya dengan memberikan mereka khomr yang ledzat, yang diminum bukan untuk menghilangkan rasa dahaga namun untuk keledzatan, bukan hanya sebotol atau dua botol, bukan cuma bergalon-galon, bahkan sungai khomr yang mengalir…

Sungguh malang nasib para pecandu khomr tersebut, tidak hanya mereka terhalangi dari meminum khomr yang ada disurga bahkan mereka diberi minuman yang menjijikan sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

إن على الله عز وجل عهدا لمن يشرب المسكر أن يسقيه من طينة الخبال قالوا يا رسول الله وما طينة الخبال قال عرق أهل النار أو عصارة أهل النار

((Sesungguhnya ada janji Allah bagi barangsiapa yang meminum minuman yang memabukan yaitu Allah akan memberinya minum cairan penduduk neraka)), mereka bertanya, "Wahai Rasulullah apakah itu cairan penduduk api neraka?", Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ((Keringat penduduk neraka atau ampas (sisa perasan) penduduk neraka)) [HR Muslim 3/1587 no 2003, dari hadits Ibnu Umar]

Namun mereka tetap saja menjadi para pecandu khomr, sulit bagi mereka untuk meninggalkan kedunguan mereka itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda إن مدمن الخمر كعابد الوثن ((Pecandu khomr seperti penyembah berhala)) [HR Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam shahih ibnu Majah no 2736]

Ibnu Rojab berkata, "Karena orang yang menyembah berhala hatinya terkait dengan berhala tersbut hingga sulit baginya untuk meninggalkannya, demikianlah pula dengan pecandu khomr sulit baginya untuk meninggalkan khomr"



Definisi Khomr

Khomr menurut istilah syari'at (terminologi) adalah segala sesuatu yang bisa memabukan tanpa membedakan apakah dari bentuknya nampak bahwa ia memabukan atau bentuknya tidak menunjukan demikian, dan tanpa memandang dari dzat apakah dibuat khomer tersebut, sama saja apakah terbuat dari anggur atau gandum atau nira atau yang lainnya, tanpa memandang apakah berbentuk cairan ataukah berupa dzat padat, dan tanpa memandang apakah cara penggunaannya dengan diminum ataukah dengan dimakan atau dengan dihirup, dimasukkan melewati suntikan atau dengan cara apapun, inilah yang ditunjukan oleh hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan atsar para sahabat

Sekelompok ulama berkata, "Dan sama saja apakah yang memabukan tersebut adalah berbentuk benda padat atau benda cair atau berupa makanan atau minuman, dan sama saja apakah yang memabukan tersebut berasal dari biji (hab) atau dari kurma atau susu atau yang lainnya" (Jami'ul Ulum 1/423)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَام "Setiap yang memabukan adalah khomr dan setiap khomr adalah haram" ( HR Muslim no 2003 dari hadits Ibnu Umar, Bab "bayanu anna kulla muskirin khomr wa anna kulla khmr harom", Abu Dawud no 3679) ini adalah lafal Muslim, dalam riwayat yang lain كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ "Setiap yang memabukkan adalah haram" ( HR Al-Bukhari no 4087, 4088 (bab ba'ts Mu'adz ilal yaman qobla hajjatil wada'), no 5773, Muslim no 1733) tanpa membeda-bedakan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda وإنِّي أَنْهَكُمْ عَنْ كُلِّ مُسْكِرٍ "Dan aku melarang kalian dari segala yang memabukan" (HR Abu Dawud no 3677, bab al-'inab yu'shoru lilkhomr)

Dan tatkala turun ayat pengharaman khomr maka para sahabat memahami juga secara umum tanpa membeda-bedakan akan dzat asal pembuatan khomr tersebut, mereka juga memahami bahwa semua yang memabukan adalah khomr sama saja apakah terdapat di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam atau tidak ada kemudian muncul di zaman mereka, atau di masa mendatang, sama saja apakah namanya khomr atau dengan nama yang lain. (Fathul Bari 10/46)

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال خطب عمر على منبر رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال إنه قد نزل تحريم الخمر وهي من خمسة أشياء العنب والتمر والحنطة والشعير والعسل والخمر ما خامر العقل

Dar Ibnu Umar, ia berkata, "Umar berkhutbah di atas mimbar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu ia berkata, "Sesungguhnya telah turun (ayat) pengharaman khomr, dan khomr berasal dari lima macam, anggur, kurma, hintoh, syair, madu, dan khomr adalah apa yang menutup akal" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari 5/2122 no 5266, Muslim 4/2322)

Apa yang dijelaskan oleh Umar adalah pengertian khomr secara istilah (terminology) bukan secara bahasa (etimologi). Berkata Ibnu Hajr, ((Karena Umar bukan sedang berada dalam posisi menjelaskan definisi khomr menurut bahasa tetapi beliau sedang berada dalam posisi menjelaskan defenisi khomr menurut hukum syar'i. Seakan-akan beliau berkata, "Khomr yang diharamkan dalam syari'at adalah apa yang menutup akal" meskipun ahli bahasa berbeda pendapat tentang definisi khomr menurut bahasa…kalaupun seandainya menurut bahasa khomr adalah sesuatu yang memabukan yang khusus berasal dari anggur namun yang menjadi patokan adalah definisi menurut hukum syar'i, telah datang hadits-hadits yang menunjukan bahwa sesuatu yang memabukan yang berasal dari selain anggur (juga) dinamakan khomr dan definisi menurut hukum syar'i dikedepankan atas definisi menurut bahasa)) [Fathul Bari 10/47]

Atsar ini dibawakan oleh para penulis hadits dalam bab-bab hadits-hadits yang marfu' (yang disandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam) karena di sisi mereka atsar ini memiliki hukum marfu' karena ia adalah pengabaran dari seorang sahabat yang menyaksikan turunnya ayat (tentang diharamkannya khomr) [QS Al-Maidah ayat 90] yang mengerti tentang sebab turunya ayat ini. Umar telah mengucapkan perkataannya ini di hadapan para pembesar sahabat-sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak dinukil bahwasanya ada sorang dari mereka yang mengingkari beliau. Umar hendak mengingatkan bahwa yang dimaksud dengan khomr dalam ayat tidak hanya khusus bagi khomr yang terbuat dari anggur melainkan mencakup semua khomr yang terbuat dari selain anggur. Apa yang dipahami oleh Umar ini telah dengan jelas diucapkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadits Nu'man bin Basyir (Fathul Bari 10/46)

أن النعمان بن بشير خطب الناس بالكوفة فقال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول إن الخمر من العصير والزبيب والتمر والحنطة والشعير والذرة وإني أنهاكم عن كل مسكر

Nu'man bin Basyir berkhutbah dihadapan manusia di Kufah lalu ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata bahwasanya khomr itu dari perasan (anggur), dari zabib (anggur yang dikeringkan), dari kurma, dari hinthoh (gandum yang sudah dihaluskan), asy-Syai'r (yang masih belum dihaluskan) , dan dari Adz-Dzurroh (jagung) dan aku melarang kalian dari segala yang memabukan" (HR Ibnu Hibban 12/219 no 5398, Abu Dawud 3/326 no 3677)



Penggunaan Alkohol pada Pemakaian Luar (bukan untuk diminum) ?

Syaikh Utsaimin ditanya tentang hukum penggunaan cairan yang mengandung alcohol untuk tujuan percetakan, gambar, peta, untuk eksperimen ilmiah dan yang lain sebagainya??

Maka beliau menjawab, ((Telah diketahui bersama bahwa dzat alcohol kebanyakannya diambil dari kayu dan akar… وجذور القصب وأليافه dan yang paling banyak kulit-kulit buah-buahan yang kecut seperti jeruk dan lemon sebagaimana yang kita saksikan. Alkohol adalah cairan yang mudah terbakar dan cepat menguap, dan jika alcohol murni diminum maka bisa membunuh peminumnya atau memberi mudhorot atau menyebabkan kecacatan. Namun jika alcohol tersebut dicampur dengan dzat (cairan) lain dengan ukuran tertentu maka akan menjadikan campuran tersebut minuman yang memabukan. Oleh karena itu alcohol jika dilihat dari dzatnya maka tidaklah digunakan sebagai minuman dan untuk mabuk-mabukan namun ia jika dicampur dengan dzat lain maka hasil dari campuran itu memabukan. Dan apa saja yang memabukan maka ia adalah khomr yang diharamkan berdasarkan Al-Qur'an, As-Sunnah, dan ijma' (kesepakatan) kaum muslimin. Namun apakah khomr dzatnya adalah najis sebagaimana air kencing dan tai?, atau dzatnya tidak najis namun yang najis adalah makna (yang terdapat di dalamnya)?, para ulama berselisih tentang permasalahan ini, dan mayoritas ulama berpendapat bahwa dzat khomr adalah najis, namun yang benar menurutku dzat khomr tidaklah najis namun hanyalah maknanya yang najis. Hal ini dikarenakan hal-hal berikut:

Pertama, karena tidak ada dalil akan najisnya dzat khomr. Dan jika tidak ada dalil yang menunjukan akan najisnya dzat khomr maka dzat khomr adalah suci karena (kaidah mengatakan) asal segala sesuatu adalah suci, Dan tidak setiap yang haram maka otomatis najis, racun haram namun tidak najis. Adapun firman Allah

}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون، إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ | (المائدة: 90-91)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, ( berkorban untuk ) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah najis termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka tidakkah kalian berhenti (dari mengerjakan pekerjaan itu)??. (QS. 5:90-91)

Maka kami katakana bahwasanya penggunaan khomr untuk selain diminum hukumnya adalah boleh karena hal ini tidak sesuai dengan firman Allah | رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ } ((adalah najis termasuk perbuatan syaitan)), sebagaimana perjudian, berhala-berhala (yang disembah), dan anak-anak panah (yang digunakan untuk mengundi nasib) dzatnya tidaklah najis maka demikian pula dengan khomr

Kedua, khomr tatkala turun ayat pengharaman khomr maka khomr ditumpahkan di pasar-pasar yang ada di kota Madinah, kalau seandainya khomr itu dzatnya najis maka akan diharamkan juga penumpannya di jalan-jalan yang dilewati oaring-orang sebagaimana diharamkannya menumpahkan air kencing di pasar-pasar tersebut

Ketiga, Khomr tatkala diharamkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memerintahkan untuk mencuci bejana-bejana bekas diletakan khomr sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk mencuci bejana-bejana tempat diletakannya daging keledai negeri tatkala diharamkannya. Maka jika seandainya dzat khomr itu najis maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam akan memerintahkan para sahabat untuk mencuci bejana-bejana mereka yang bekas diletakan khomr.

Jika telah jelas bahwa dzat khomr tidaklah najis maka tidaklah wajib untuk mencuci sesuatu yang terkena khomr seperti baju, bejana, dan yang lainnya serta tidak diharamkan penggunaan khomr pada selain penggunaan yang diharamkan yaitu untuk diminum atau yang lainnya yang menyebabkan mafsadah (kerusakan) yang Allah menjadikan kerusakan merupakan sebab untuk mengharamkan sesuatu.

Jika dikatakan, "Bukankah Allah mengatakan | فَاجْتَنِبُوهُ } ((Maka jauhilah khomr..)), dan konsekuensi dari perintah ini adalah menjauhi khomr dalam segala keadaan?", maka jawabannya adalah sesungguhnya Allah menjelaskan sebab perintahNya (untuk menjauhi khomr) yaitu firmanNya | إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ } ((Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan…)) hingga akhir ayat, dan sebab ini tidak ada pada khomr yang digunakan untuk selain diminum dan yang semisalnya. Jika alcohol memiliki manfaat-manfaat yang terbebas dari mafsadah-mafsadah yang disebutkan oleh Allah sebagai sebab adanya perintah (untuk menjauhi khomr) maka bukanlah hak kita untuk melarang orang-orang menggunakan alcohol (untuk selain diminum), dan paling keras yang bisa katakana bahwasanya khomr termasuk perkara-perkara yang subhat (tidak jelas hukumnya) dan sisi pengharamannya lemah. Maka jika memang ada kebutuhan untuk menggunakannya (untuk selain diminum) maka hilanglah pengharamannya.

Oleh karenanya maka penggunaan alcohol pada perkara-perkara yang disebutkan oleh penanya hukumnya tidaklah mengapa insya Allah, karena Allah telah menciptakan bagi kita seluruh yang ada di muka bumi ini dan telah menundukan apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Dan bukanlah hak kita untuk menahan sesuatu dan melarang hamba-hamba Allah dari sesuatu tersebut kecuali dengan dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah.

Jika dikatakan, "Bukankah tatkala khomr diharamkan khomr-khomr tersebut (langsung) ditumpahkan?"

Jawabannya adalah hal itu mnunjukan kesungguhan dalam melaksanakan perintah dan untuk memutuskan hubungan jiwa dengan khomr, lagi pula kita tidak melihat adanya manfaat khomr jika disimpan pada waktu itu, Allahlah yang lebih mengetahui)) [Dari fatawa Syaikh Utsaimin no 210]

Ibnu Taimiyah berkata, "Berobat dengan memakan lemak babi hukumnya tidak boleh adapun berobat dengan memoleskan minyak babi tersebut kemudian nantinya dicuci maka hukumnya dibangun diatas hukum tentang menyentuh najis –tatkala dalam keadaan di luar sholat-, dan para ulama khilaf tentang hukum permasalahan ini. Dan yang benar hukumnya adalah boleh jika dibutuhkan sebagaimana dibolehkannya seseorang untuk beristinja' (cebok) dengan tangannya dan menghilangkan najis dengan tangannya. Dan apa-apa yang dibolehkan karena ada hajat (kebutuhan, namun tidak mendesak hingga sampai pada keadaan darurat-pen) maka boleh pula digunakan untuk berobat sebagaimana dibolehkan berobat dengan menggunakan memakai kain sutra menurut pendapat yang paling benar dari dua pendapat.

Dan apa-apa yang dibolehkan karena darurat (yang jika tidak dilakukan bisa mengakibatkan kematian-pen) seperti makanan-makanan yang haram maka diharamkan untuk digunakan sebagai obat (yang dimakan) sebagaimana tidak boleh berobat dengan meminum khomr…" (Majmu' Fatawa Syaikhul Islam 24/270)

Berkata Syaikh Utsaimin, "Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah) telah membedakan antara memakan dan selain memakan dalam penggunaan benda-benda yang najis, apalagi dengan alcohol yang datnya tidak najis, karena jika alcohol bukanlah khomr maka jelas akan kesuciannya dan jika ia merupakan khomr maka yang benar dzatnyapun tidak najis" (Fatwa Syaikh Utsaimin no 211 tatkala beliau ditanya tentang hukum penggunaan alcohol untuk mengobati luka?, maka beliau berkata, "tidaklah mengapa")



Hukum Meminum Obat yang Bahan Pencampurnya dari Alkohol

Syaikh Utsaimin menukil perkataan Syaikh Muhammad Rasyid Ridho dari fatawa beliau hal 1631 dimana ia berkata "Kesimpulannya bahwasanya alcohol adalah dzat yang suci dan mensucikan dan merupakan dzat yang sangat urgen dalam farmasi dan pengobatan dalam kedokteran serta pabrik-pabrik, dan alcohol masuk dalam obat-obat yang sangat banyak sekali. Pengharaman penggunaan alcohol bagi kaum muslimin menghalangi mereka untuk memakari banyak bidang ilmu dan proyek dan hal ini merupakan sebab terbesar keunggulan orang-orang kafir atas kaum muslimin dalam bidang kimia, farmasi, kedokteranm pengobatan, dan industri dan pengharaman penggunaan alcohol bisa jadi merupakan sebab terbesar meninggalnya orang-orang yang sakit dan yang terluka atau menyebabkan lama sembuhnya penyakit mereka atau semakin parah sakit mereka" . Syaikh Utsaimin mengomentari fatwa ini, ((Ini adalah perkataan yang sangat kokoh, semoga Allah merahmati beliau, adapun mencampurkan sebagian obat dengan sedikit alcohol maka hal ini tidaklah menjadikan haramnya obat-obat tersebut jika campurannya sedikit dimana tidak nampak bekasnya setelah tercampur yang hal ini merupakan pendapat para ulama. Berkata (Ibnu Qudamah) di Al-Mugni 8/306, "Jika ia mencampur adonan tepung dengan khomr untuk dijadikan roti (dengan meletakan adonan tersebut di atas pembakaran-pen) lalu ia memakannya maka ia tidak diberi hukum had karena api telah membakar seluruh bagian khomr tersebut maka tidak tersisa bekasnya", dan (Ibnu Qudamah) juga berkata di Al-Iqna' dan syarhnya (4/71 penerbit Muqbil) jika ia mencampurkan khomr dengan air sehingga hilang bekas khomr tersebut dalam air kemudian ia meminumnya maka ia tidaklah diberi hukuman had karena dengan lebur dan hilangnya bekas khomr tersebut dalam air tidaklah merubah nama air tersebut (masih dinamakan air-pen), atau ia mengobati lukanya dengan khomr maka iapun tidak diberi hukuman had karena ia tidak menggunakannya dengan meminumnya atau yang semisalnya". Dan ini adalah sesuai dengan dalil dan logika. Adapun dalil maka telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda

الماء طهور لا ينجسه شيء إلا إن تغير ريحه أو طعمه أو لونه بناجسة تحدث فيه

((Air itu suci dan mensucikan dan tidak bisa dinajisi oleh sesuatupun kecuali jika berubah baunya atau rasanya atau warnanya dengan najis yang mengenainya))

Walaupun pengecualian dalam hadits ini (yaitu sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali jika berubah baunya…dst-pen) lemah (sanadnya) hanya saja para ulama berijma' untuk mengamalkannya. Sisi pendalilan dari hadits ini yaitu jika jatuh dalam air sesuatu yang najis yang tidak merubah kondisi air tersebut maka air tersebut tetap pada kesuciannya, maka demikianlah pula dengan khomr jika dicampur dengan cairan yang lain yang halal kemudian tidak mempengaruhi kondisi cairan tersebut maka cairan tersebut tetap pada keadaan asalnya. Dalam shahih Al-Bukhari (ta'liqon) berkata Abu Darda' ((وقال أبو الدرداء في المري ذبح الخمر النينان والشمس)) [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam shahihnya secara ta'liqon 5/2092] (Al-Mury adalah penyembelihan ikan paus dengan khomr dan matahari), Al-Mury adalah makanan yang terbuat dari ikan yang diolesi dengan garam kemudian diberi khomr lalu dijemur di bawah terik matahari maka berubahlah rasa khomrnya. Maksud dari atsar Abu Darda' di atas adalah ikan paus yang ada garamnya dan diletakan di bawah terik matahari sehingga menghilangkan bekas khomr maka hukumnya adalah halal (untuk dimakan) [ Lihat Umdatul Qori 21/107]. Adapun jika ditinjau dari logika maka khomr itu hanyalah diharamkan karen sifat yang dikandungnya yaitu memabukan, maka jika telah hilang sifat tersebut maka hilanglah pengharamannya karena hukum itu berputar bersama 'illahnya (sebabnya), jika sebabnya ada maka hukumnya ada dan jika hilang sebabnya maka hilanglah hukumnya jika 'illahnya (sebabnya) diketahui dengan pasti berdasarkan nas atau ijma' sebagaimana dalam permasalahan kita ini (yaitu sebab pengharaman khomr diketahui dengan nas yaitu karena sifatnya yang memabukan-pen). Sebagian orang menyangka bahwa sesuatu yang tercampur dengan khomr hukumnya haram secara mutlak meskipun persentasi khomr tersebut kecil dan tidak nampak lagi bekas-bekasnya, dan mereka menyangka bahwa inilah makna dari sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ما أسكر كثيره فقليله حرام ((Apa yang jika banyaknya memabukan maka sedikitnya haram)) lalu mereka berkata, "Dalam obat ini ada sedikit khomr yang jika banyak akan memabukan maka hukumnya adalah haram". Maka dijawab bahwasanya khomr yang sedikit ini telah lebur dan hilang bekasnya dalam cairan lain baik sifatnya maupun hukumnya maka hukumnya dikembalikan kepada yang mendominasinya (yaitu cairan lain yang dicampuri khomr tersebut-pen). Adapun makna hadits tersebut adalah jika suatu minuman diminum banyak oleh seseorang mengakibatkan ia mabuk dan jika ia meminum sedikit saja tidak mabuk maka walaupun meminum sedikit hukumnya adalah haram, karena meminum sedikit merupakan sarana untuk meminum yang banyak. Hal ini dijelaskan oleh hadits 'Aisyah, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda

كل مسكر حرام وما أسكر الفرق منه فملء الكف منه حرام

((Seluruh yang memabukan adalah haram, dan apa saja yang jika diminum seukuran farq memabukan maka meminum seukuran telapak tangan juga haram))

Dan farq adalah suatu volume yang cukup untuk 16 ritl, artinya jika ada sebuah minuman yang hanya bisa memabukan kecuali jika diminum seukuran farq maka meminum seukuran telapak tangan juga haram dan inilah makna dari hadits ما أسكر كثيره فقليله حرام ((Apa yang jika banyak memabukan maka sedikitnya haram))…

Aku ingin mengingatkan suatu permasalahan yang rancu pada sebagian para penuntut ilmu yaitu mereka menyangka bahwa makna hadits ما أسكر كثيره فقليله حرام ((Apa yang jika banyaknya memabukan maka sedikitnya haram)) adalah jika dicampurkan sesuatu yang sedikit dari khomr dengan sesuatu cairan lain yang banyak maka hukumnya otomatis adalah haram, hal ini bukanlah makna hadits ini. Namun makna dari hadits ini adalah jika suatu minuman hanya memabukan jika diminum dalam jumlah yang banyak maka meminum sedikitpun dari minuman tersebut juga haram hukumnya (meskipun tidak memabukan). Contohnya jika ada suatu minuman jika seseorang meminumnya sepuluh botol ia akan mabuk dan jika hanya meminum sebotol tidak mabuk, maka sebotol minuman ini meskipun tidak memabukan namun hukumnya haram inilah makna hadits ما أسكر كثيره فقليله حرام ((Apa yang jika banyaknya memabukan maka sedikitnya haram)) [Fatawa Syaikh Utsaimin pertanyaan no 211]



Hukum Menggunakan Parfum yang ada Alkoholnya??

Syaikh Utsaimin ditanya tentang hukum penggunaan parfum yang mengandung kolonia (yang mengandung alcohol) dan bagaimana hukum sholat dengan menggunakan baju yang tersentuh parfum tersebut??

Beliau menjawab, "Jika persentase alkohonya besar maka yang lebih utama adalah meninggalkan pemakaian parfum tersebut, dan jika persentasenya kecil maka tidaklah mengapa. Adapun hukum sholat dengan pakaian yang tersentuh parfum tersebut maka adalah sah"

Syaikh Albani berkata, ((Parfum-parfum yang mengandung alcohol yang bukan minyak tidaklah najis, namun bisa jadi hukumnya adalah haram. Hukumnya haram jika persentase alcohol pada parfum-parfum tersebut besar hingga menjadikan parfum-parfum tersebut suatu cairan yang memabukan, maka jika demikian jadilah parfum tersebut memabukan (khomr) dan masuklah ia dalam keumuman hadits-hadits yang melarang dari jual beli dan pembuatan khomr. Maka tidaklah boleh bagi kaum muslimin jika demikian untuk menggunakan parfum tersebut karena jenis penggunaan apapun terhadap parfum ini telah masuk dalam keumuman firman Allah

} وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْأِثْمِ وَالْعُدْوَانِ |(المائدة: من الآية2)

dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. 5:2)

dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

((Allah melaknat khomr pada sepuluh perkara, peminumnya, penuangnya, yang meminta untuk dituangkan, yang membawanya, yang dibawakan untuknya, yang menjualnya, yang membelinya)) Al-hadits

Oleh karenanya kami menasehati untuk menjauhi perdagangan parfum-parfum yang mengandung alcohol terlebih lagi jika tertulis dalam lebelnya bahwa kandungan alkoholnya 60 persen atau 70 persen, maknanya yaitu memungkinkan untuk mengubah parfum tersebut menjadi minuman yang memabukan.

Dan diantara kaidah-kaidah dalam syari'at adalah bab سد الذرشعة (menutup sarana-sarana yang mengantarkan kepada keharaman). Pengharaman syari'at terhadap sesuatu yang sedikit dari minuman yang memabukan termasuk dalam bab ini, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ما أسكر كثيره فقليله حرام ((Apa yang jika banyaknya memabukan maka sedikitnya haram)). Kesimpulannya tidaklah boleh jual beli parfum berakohol jika persentasenya tinggi)) [Fatawa Al-Madinah Al-Munawwaraoh hal 60, soal no 23]



Cara penyembuhan yang benar dengan taat kepada Allah… dan hal ini tertancap di sahabat

Dalam riwayat yang lain dari hadits Abi Burdah, ia berkata

قال وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم قد أعطى جوامع الكلم بخواتمه فقال أنهى عن كل مسكر أسكر عن الصلاة

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah diberikan (oleh Allah) "Jawami'ul kalim bi khowatimihi" lalu ia bersabda, "Aku melarang dari setiap yang memabukan dari sholat" (HR Muslim 3/1586 no 1733) Jawami'ul kalim adalah perkataan yang ringkas namun luas maknanya.

Ketahuilah wahai saudaraku sesungguhnya Allah adalah Dzat yang maha mengetahu segala sesuatu, sesungguhnya Allah mengetahui akan ada hamba-hambaNya yang memiliki kecenderungan kepada hal-hal yang bersifat kesetanan, akan ada dari hamba-hambanya yang mempermainkan dalil-dalil yang berkaitan dengan pengharaman khomr. Akan ada hambanya yang mengikuti hawa nafsunya (bukan karena hasil ijtihad sebagaimana ijtihadnya para imam kaum nuslimin) yang mengatakan bahwa khomr yang diharamkan hanyalah yang berasal dari anggur. Oleh karena itu Allah mewahyukan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan jawami'ul kalim dengan sabdanya كل مسكر خمر وكل مسكر حرام ((Setiap yang memabukan adalah khomr dan semua khomr haram)).

Allah mengetahui bahwsanya akan ada dari kaum muslimin yang mempermainkan dalil-dalil pengharaman khomr yang mereka berkata "Khomr hanya diharamkan kalau diminum hingga mabuk, adapun jika diminum sedikit namun tidak sampai mabuk maka tidak diharamkan", maka Allahpun mewayhukan kepada RasulNya untuk bersabda,

كل مسكر حرام وما أسكر الفرق منه فملء الكف منه حرام

((Seluruh yang memabukan adalah haram, dan apa saja yang jika diminum seukuran farq[5] memabukan maka meminum seukuran telapak tangan juga haram))

Allah juga mengetahui bahwasanya akan ada dari kaum muslimin yang mempermainkan dalil yang dimana mereka meminum khomr namun mereka menggantikan nama khomr dengan nama yang lain kemudian mereka berkata, "Yang diharamkan hanyalah khomr adapun yang saya minum ini namanya bukan khomr tapi minuman jiwa, atau jamu kesehatan, atau minuman kesehatan", maka Allah mewahyukan kepada RasulNya untuk bersabda,

ليشربن ناس من أمتي الخمر يسمونها بغير اسمها

((Sungguh akan ada golongan dari umatku yang meminum khomr lalu mereka menamakan khomr dengan nama yang lain)) (HR Abu Dawud 3/329 no 3688, Ibnu Majah 2/1123 no 3384, Ibnu Hibban (Al-Ihsan 15/160 no 6758))



*******

[1] Dengan mengkasroh huruf ba' dan mensukun huruf ta', dan terkadang dengan memfathah huruf ta' (Fathul Bari 10/42)

[2] Dengan mengkasroh huruf mim dan mensukun huruf zay (Umdatul Qori 18/3)

[3] Dikatakan seseorang membuat nabidz dari kurma atau dari anggur jika ia meletakkan kurma atau anggur tersebut di sebuah bejana yang berisi air hingga memekat hingga akhirnya memabukkan (lisanul arab 3/512)

Telah berulang-ulang penyebutan nabidz dalam hadits-hadits Nabi ÷ dan yang dimaksud dengannya adalah minum-minuman yang dibuat dari kurma, madu, gandum, anggur, dan yang lainnya yang diletakkan di sebuah bejana yang berisi air (Lisanul Arab 3/512)

[4] Telah kita ketahui bersama bawhasanya yang menyebabkan Nabi Adam dan istrinya Hawwa dikeluarkan dari surga adalah karena mereka berdua memakan buah khuldi, hal ini menunjukan bahwa memakan buah khuldi adalah hukumnya haram bagi mereka berdua, namun jika kita perhatikan ternyata Allah tidaklah mengatakan kepada mereka berdua "Janganlah kalian berdua makan buah khuldi" tetapi yang Allah perintahkan kepada mereka berdua adalah firmannya |وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِين} (maka janganlah kalian berdua mendekati pohon ini sehingga kalian menjadi termasuk orang-orang yang dzalim). Apakah perbedaan antara perkataan Allah ((Janganlah kalian berdua mendekati pohon ini)) dengan jika seandainya Allah berkata ((Janganlah kalian berdua memakan buah dari pohon ini))??,

Seakan-akan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah wajib untuk dijauhi dan wajib untuk menjauhi medan dari perkara-perkara tersebut, karena mendekati perkara-perkara yang haram akan membuka pintu-pintu syaitan untuk menggoda. Dari sini maka kita tahu bahwa larangan untuk mendekati pohon lebih keras daripada larangan untuk memakan buah pohon tersebut, karena seandainya seseorang dilarang untuk memakan buah dari suatu pohon namun tidak dilarang untuk mendekati pohon tersebut maka boleh baginya untuk mendekati pohon tersebut dan memandang keindahannya, atau bahkan memanjatnya, atau bahkan memegang buahnya dan memandang keranuman buahnya. Orang yang seperti ini maka sungguh sangat dikawatirkan akan memakan buah pohon tersebut. Dari sini kita tahu bahwasanya larangan Allah kepada Adam untuk mendekati pohon tersebut menunjukan bahwa mendekati pohon tersebut merupakan awal dari kemaksiatan. Oleh karena itu kita perhatikan di Al-Qur'an, seluruh perkara-perkara yang diharamkan Allah berfirman |وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا } (janganlah kamu campuri mereka itu sedang kamu ber-i'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS. 2:187)), adapun perkara-perkara yang dihalalkan maka Allah berfirman | فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَعْتَدُوهَا} (maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri utuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya.. (QS. 2:229)).

Bahkan perintah untuk menjauhi juga datang dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan akidah, contohnya firman Allah

}فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ| (الحج:30)

maka jauhilah olehmu barhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan yang dusta. (QS. 22:30)

Aapakah ada yang memahami bahwa penyembahan kepada berhala hukumnya hanyalah makruh karena Allah hanya memerintahkan untuk menjauhi berhala-berhala tersebut tanpa mengharamkan dengan jelas penyambahan berhala?? (Lihat pembahasan Syaikh Sa'd Nida dalam majalah Jami'a Islamiyah no 54, hal 123-131)



[5] 1 ritl adalah 5 so’ (Lisanul Arob 3/400)

oleh:

Ust Abu ‘Abdilmuhsin Firanda Andirja

Artikel: www.firanda.com

Posted By Minang Sunnah9:53 PM

CINTA RASUL shallallahu ‘alaihi wa sallam (Antara pengagungan dan sikap perendahan)

Filled under:

الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاقْتَفَى أَثَرَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ،

Tidak bertemunya seseorang dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa hidup tidaklah menghalanginya untuk berkumpul bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat kelak[1].
Seseorang pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata,

يَا رَسُولَ الله، كيف تقول فِي رَجُلٍ أحبَّ قَوْمًا ولَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ؟

“Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai sebuah kaum namun dia tidak bertemu dengan mereka?”, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ “Seseorang bersama dengan yang dicintainya”[2]. Karenanya barang siapa yang bisa mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kecintaan yang benar maka ia akan meraih apa yang dijanjikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ “Seseorang bersama dengan yang dicintainya”[3], dan kelak ia akan bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan barangsiapa yang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka jelas dia akan masuk kedalam surga. Wahai saudaraku…, kita harus bergembira dengan adanya kesempatan emas ini sebagaimana gembiranya para sahabat tatkala mengetahui kesempatan ini.



عن أنس رضي الله عنه أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم عن الساعة فقال متى الساعة (وفي رواية: فقام النبي صلى الله عليه وسلم إلى الصلاة فلما قضى صلاته قال أين السائل عن قيام الساعة فقال الرجل أنا يا رسول الله) قال وماذا أعددت لها قال لا شيء (وفي رواية: ما أعْددْتُ لها من كثِيْرِ صلاةٍ ولا صومٍ ولا صدقةٍ) إلا أني أحب الله ورسوله صلى الله عليه وسلم فقال أنت مع من أحببْتَ (وفي رِوَايةٍ: قال أنس: وَنَحنُ كذلك؟ قَال: نعم. فَفَرِحْنَا يَوْمَئِذٍ فَرْحًا شَدِيْدَا) قال أنس فما فرحنا بشيء فرحنا بقول النبي صلى الله عليه وسلم أنت مع من أحببت )وفي رواية: فما رأيت فرح المسلمون بعد الإسلام فرحهم بهذا) قال أنس فأنا أحب النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر وأرجو أن أكون معهم بِحُبِّيْ إياهم وإن لم أعمل بمثل أعمالهم

Dalam hadits Anas bin Malik disebutkan bahwasanya ada seorang arab badui[4] bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat seraya berkata, “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?” (dalam riwayat yang lain: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sholat, kemudian tatkala beliau selesai dari sholatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mana tadi orang yang bertanya tentang hari kiamat?”, orang itu menjawab, “Saya, ya Rasulullah!”)[5] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apakah yang engkau persiapkan untuk menemui hari kiamat?”, ia berkata, “Aku tidak menyiapkan apa-apa (dalam riwayat yang lain: “Aku tidak mempersiapkan diri untuk menemui hari kiamat dengan banyaknya sholat, puasa, dan sedekah”[6]) kecuali aku mencintai Allah dan RasulNya”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya engkau bersama dengan orang yang engkau cintai” (Dalam riwayat yang lain: Anas berkata, “Lalu kami berkata, “Apakah kami juga demikian?”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ya” . Anas berkata, “Maka kamipun pada hari itu sangat gembira”[7]) (Dalam riwayat lain, Anas berkata, “Dan aku tidak pernah melihat kaum muslimin sangat gembira lebih daripada kegembiraan mereka pada saat itu”[8]). Anas berkata, “Kami tidak pernah gembira karena sesuatu apapun sebagaimana kegembiraan kami karena mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Engkau bersama yang engkau cintai”. Anas berkata, “Aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar dan aku berharap aku (kelak dikumpulkan) bersama mereka meskipun aku tidak beramal sebagaimana amalan sholeh mereka”[9]

Namun yang menjadi pertanyaan bisakah kita membuktikan rasa cinta kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam??, ataukah pengakuan kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah pengakuan kosong belaka?!. Tentu setiap pengakuan membutuhkan bukti, jika setiap pengakuan langsung diterima mentah-mentah tanpa ada perlunya pembuktian maka siapapun bisa mengaku-ngaku. Kemudian bukti cinta tersebutpun harus merupakan bukti yang bisa diterima dan dipertanggungjawabkan, karena tidak semua bukti bisa diterima. Jika ternyata bukti pengakuan tersebut tidak bisa diterima maka cintanya akan bertepuk sebelah tangan, sebagaimana perkataan seorang penyair:

كُلٌ يَدَّعِي وَصْلاً بِلَيْلَى وَلَيْلَى لاَ تُقِرُّهُمْ بِذَاكَ

Semua orang mengaku-ngaku punya hubungan kasih dengan si Laila, namun Laila tidak mengakui mereka akan hal itu.

Betapa banyak orang yang mengaku cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak memiliki bukti, sebagaimana pelaku maksiat yang ditunggangi hawa nafsu mereka hingga tenggelam dalam lautan kemaksiatan.

Betapa banyak orang yang mengaku cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namun membawa bukti yang tidak bisa diterima sebagaimana para pelaku bid’ah yang mengungkapkan cinta mereka dengan melaksanakan bid’ah-bid’ah yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bukti cinta mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana halnya orang-orang syi’ah yang mengaku cinta kepada Husain dengan mengadakan bid’ah acara mengingat kematian Husain setiap tanggal 10 Muharram dengan memukul-mukul tubuh mereka dengan pedang dan rantai hingga tubuh mereka berlumuran darah, dan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya berakhir dengan kebinasaan. Hal ini jelas melanggar wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang seseorang meratapi mayit, dan melarang seseorang memukul pipinya atau merobek baju tatkala ditimpa musibah. Seandainya Husain hidup dan melihat perbuatan mereka niscaya ia akan mengingkari perbuatan mereka.

Ingatlah bahwa bukti cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah sembarang bukti, bagaimana tidak? karena buah dari bukti yang diterima adalah masuk surga bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak sebagaimana persangkaan orang-orang yang jahil yang menyangka bahwa bukti cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah cukup dengan merayakan hari kelahiran beliau, atau cukup dengan menandungkan untaian kalimat-kalimat yang indah berisi pujian-pujian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa mempraktekan sunnah-sunnah beliau dalam kehidupan keseharian. Lebih-lebih lagi kejahilan mereka mengantarkan mereka kepada sikap terlalu berlebihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga timbullah penyimpangan-penyimpangan yang hal ini telah diwanti-wanti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyangka bahwa semakin mereka bersikap berlebih-lebihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka semakin diterima bukti kecintaan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.



Kewajiban mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi dari mencintai diri sendiri

Allah berfirman

﴿قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ﴾ (التوبة:24)

“Katakanlah:"Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. 9:24)

Ayat ini jelas menunjukan kewajiban mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena Allah mencela orang yang lebih mencintai hartanya, keluarganya, dan anak-anaknya daripada kecintaannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengancamnya dengan firmanNya “maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya", kemudian di akhir ayat Allah menyatakan bahwa ia termasuk orang-orang yang fasik dan mengabarkan bahwa mereka termasuk orang-orang yang sesat dan tidak diberi petunjuk oleh Allah.[10]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga saya yang lebih dia cintai daripada orang tuanya, anak-anaknya, dan seluruh manusia”[11]

Berkata Abdullah bin Hisyam,”Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang memegang tangan Umar bin Al-Khottob, Umarpun berkata kepadanya: لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَّيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِي ”Sesungguhnya engkaulah yang paling aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata لاَ وَالَّّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ ”Tidak (cukup demikian) wahai Umar, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, hingga akulah yang lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri”. Umar lalu berkata, فَإِنَّهُ الآنَ وَاللهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفِسِي ”Sesungguhnya sekarang, demi Allah, engkaulah yang lebih aku cintai daripada diriku sendiri”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, الآنَ يَا عُمَرُ ”Sekarang (barulah sempurna) wahai Umar”[12]

Allah berfirman:

﴿النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ﴾ (الأحزاب: من الآية6)

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. 33:6)

Ibnul Qoyyim berkata, “Ini adalah dalil bahwa barangsiapa yang (tidak menjadikan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih utama daripada dirinya sendiri maka dia bukan termasuk orang-orang mukmin”[13] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda مَا مِن مُؤْمِنٍ إِلاَّ وَأَنَا أَولَى النَّاسِ بِهِ فِي الدُنيَا وَالأَخِرَةِ “Tidak seorang mukminpun kecuali aku adalah orang yang paling utama bagi dirinya di dunia dan di akhirat”[14] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda أَنَا أَوْلَى بِكُلِّ مُؤْمِنٍ مِنْ نَفْسِهِ “Saya lebih utama bagi setiap mukmin dari dirinya sendiri”[15]

Allah berfirman

﴿لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ﴾ (التوبة:128)

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min”. (QS. 9:128)

Berkata Syaikh As-Sa’di, “Allah menganugrahkan kenikmatan kepada para hambaNya dengan mengutus di tengah-tengah mereka seorang Nabi yang berasal dari jenis mereka. Merekapun mengetahui keadaan Nabi dan memungkinkan mereka untuk mencontohi Nabi dan tidak menolak untuk taat kepadanya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh sangat berusaha untuk menasehati umatnya, berusaha agar umatnya meraih kebaikan-kebaikan. Firman Allah ﴿عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ﴾ “berat terasa olehnya penderitaanmu”yaitu perkara apa saja yang menyusahkan dan memberatkan kalian terasa berat juga olehnya. Firman Allah حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ “sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu” maka Nabi menginginkan bagi kalian kebaikan dan dia berusaha sekuat mungkin agar segala kebaikan-kebaikan tersebut bisa sampai kepada kalian, dia sangat bersemangat dalam menunjukan kepada kalian jalan menuju keimanan , dan dia membenci kalian ditimpa kejelekan dan berusaha untuk menjauhkan kalian dari segala keburukan. Firman Allah بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ ﴾ ﴿ “amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min ”, yaitu sangat sayang dan belas kasih dengan umatnya, lebih daripada kasih sayang orang tua mereka terhadap mereka”[16]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

ثَلاَثَةٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهَنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَيُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga perkara jika terdapat pada diri seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; yaitu jika Allah dan RasulNya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah, dan dia benci untuk kembali pada kekufuran sebagaimana dia benci jika dilemparkan ke neraka”[17]

Ada dua perkara yang mendorong timbulnya kecintaan seseorang kepada selainnya[18].

Yang pertama kembali pada dzat yang dicintai, yaitu berupa sifat-sifat yang mulia dan terpuji yang terdapata pada dzat yang dicintai tersebut. Semakin banyak sifat yang terpuji pada dzat yang dicintai maka akan semakin besar kecintaan orang yang mencintai dzat tersebut. Orang yang murah senyum, berbudipekerti yang baik, serta memiliki kesabaran yang tinggi tentunya lebih kita cintai daripada orang yang hanya sabar namun tidak murah senyum. Maka jika kita memandang perkara yang pertama ini maka tidaklah ada manusia yang semestinya paling kita cintai kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beliaulah yang memiliki sifat-sifat yang sangat terpuji dan akhlaq yang sangat tinggi dan mulia. Namun yang menyedihkan begitu banyak kaum muslimin yang tidak merenungkan akhlak mulia beliau, banyak kaum muslimin yang berpaling dari membaca sunnah-sunnah beliau yang akhirnya hal ini menjadikan mereka buta dengan kepribadian Rasul mereka sehingga hilanglah atau berkurang rasa cinta mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang kedua kembali kepada kemanfaatan atau faedah yang sampai kepada seseorang disebabkan dzat yang dicintainya tersebut. Semakin banyak dan besar faedah yang didapatkannya disebabkan yang dicintainya maka akan semakin tinggi cintanya kepada dzat yang dia cintai tersebut. Maka jika kita memandang perkara yang kedua ini maka semestinya orang yang paling kita cintai adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena dengan sebab beliau maka kita telah memperoleh kemanfaatan yang sangat besar dan tiada bandingannya yaitu kenikmatan iman kepada Allah. Dengan iman yang benar maka Allah akan menyelamatkan kita dari kesengsaran yang abadi dan tidada penghunjungnya di neraka menunju kebahagiaan dan kenikmatan yang abadi yang tiada penghujungnya di surga. Maka kenikmatan mana lagi yang lebih dari ini???, namun siapakah diantara kita yang merenungkannya hingga menumbuhkan kecintaan yang lebih mendalam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam??

Renungkanlah bagaimana perjuangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendakwahkan dan menyebarkan agama Islam hingga sampai kepada kita. Celaan, cacian, ejekan, makian, semua beliau hadapi dengan sabar demi sampainya agama ini kepada kita, karena kasih sayangnya terhadap kita. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan orang gila, dijuluki penyihir, dilempar batu hingga berlumuran berdarah, tatkala sedang sujud diletakkan kotoran isi perut unta diatas pundak beliau, diasingkan oleh orang kampung beliau, bahkan dimusuhi oleh keluarganya sendiri, dimusuhi oleh paman-paman beliau[19], bahkan terusir dari tanah kelahiran beliau….namun semua ini tidaklah mematahkan beliau dalam menyampaikan agama ini kepada kita, semuanya karena kasih sayang beliau kepada kita umatnya, demi menyelamatkan kita dari kesengsaraan dan penderitaan yang abadi di neraka menuju kesenangan dan kebahagiaan yang abadi di surga.

Berkata Ibnu Hajar, “Jika seseorang memikirkan kemanfaatan yang dirasakannya disebabkan adanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mengeluarkannya dari kegelapan kekufuran menuju terangnya keimanan,-apakah baik secara langsung maupun tidak- maka dia akan mengetahui bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebab yang menjadikan dia hidup kekal abadi di kenikmatan yang abadi (yaitu di surga) dan dia akan mengetahui bahwa manfaat yang menimbulkan kecintaan lebih banyak bersumber dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada selainnya. Namun manusia bertingkat-tingkatan dalam hal ini sesuai dengan perenungan mereka dan lalainya mereka dari merenungkan hal ini. Oleh karena itu tidaklah diragukan bahwa para sahabat lebih sempurna memahami akan hal ini…”[20]

Kecintaan dan pengagungan para sahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Para sahabat telah meraih kemuliaan bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh karena itu mereka sangat mencintai dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada generasi sebelum mereka yang mencintai seseorang sebagaimana besarnya cinta mereka kepada Nabi dan demikian juga generasi sesudah mereka tidak ada yang bisa menyamai mereka.

Ali bin Abi Tholib pernah ditanya,”Bagaimanakah cinta kalian terhadap Rasulullah?”, beliau menjawab, كَانَ وَاللهِ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ أَمْوَالِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَمِنَ الْبَارِد عَلَى الظَّمأ “Demi Allah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih kami (Ali dan para sahabat yang lain-pen) cintai daripada harta kami, anak-anak kami, bapak kami, ibu kami, dan lebih kami cintai daripada air dingin yang kami minum tatkala sangat dahaga”[21]

Abu Sufyan –tatkala beliau masih seorang musyrik- berkata kepada Zaid bin Ad-Datsinah tatkala penduduk kota Mekah mengeluarkan dia dari tanah haram untuk membunuhnya dan dia dalam keadaan ditawan oleh mereka, kata Abu Sufyan أنشدك بالله يا زيد، أتحب أن محمدا الآن عندنا مكانك نضرب عنقه وإنك في أهلك؟ “Demi Allah aku bertanya kepadamu wahai Zaid, apakah engkau ingin Muhammad sekarang berada bersama kami menggantikan posisimu lalu kami penggal lehernya dan engkau (bebas) bersama keluargamu?”, Zaid berkata, والله ما أحب أن محمدا الآن في مكانه الذي هو فبه تصيبه شوكة تؤذيه وإني جالس في أهلي”Demi Allah, saya tidak suka Muhammad sekarang berada ditempatnya lalu dia tertusuk duri sehingga mengganggunya sedang saya tinggal duduk bersama keluarga saya”. Berkata Abu Sufyan, ما رأيت من الناس أحدا يحب أحدا كحب أصحاب محمد محمدا “Saya tidak pernah melihat seorangpun mencintai yang lainnya sebagaimana kecintaan para sahabat Muhmmad kepada Muhammad”[22]

Berkata Sa’ad bin Mu’adz kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala perang Badr, “Wahai Nabi Allah, apa tidak sebaiknya kami buatkan bagi engkau singgasana yang engkau duduk di atasnya dan kami mempersiapkan kendaraanmu kemudian kami menghadapi pasukan musuh?, jika Allah menjadikan kami jaya dan menang mengalahkan musuh kami maka itulah yang kami harapkan, namun jika kenyataannya lain maka engkau segera naik kendaraanmu dan bergabung dengan kaum kami yang ada di belakang kami. Sungguh telah tertinggal (tidak ikut perang) bersamamu kaum yang engkau lebih kami cintai daripada mereka, kalau seandainya mereka tahu bahwa engkau akan masuk dalam medan peperangan maka mereka tidak akan ketinggalan perang dan Allah akan membelamu dengan mereka, mereka akan memenolongmu dan akan berjihad bersamamu”. Maka Rasulullahpun memuji Sa’ad serta mendoakannya.[23]

Berkata Anas bin Malik, “Tatkala terjadi perang uhud penduduk kota Madinah guncang, mereka berkata, “Muhammad telah terbunuh”, hingga akhirnya timbullah keramaian di ujung kota Madinah. Lalu keluarlah sorang wanita dari kaum Ansor dan dia telah dikabarkan dengan terbunuhnya putranya, ayahnya, suaminya, serta saudara laki-lakinya (dalam perang uhud), dan saya tidak tahu siapa diantara mereka yang lebih dahulu sampai kabar kematiannya pada wanita tersebut. Tatkala dia melewati jenazaah salah seorang diantara mereka dia berkata,”Jenazah siapa ini?” mereka menjawab, “Ayahmu, saudara laki-lakimu, suamimu, putramu!”, dia berkata, “Apakah yang dilakukan oleh Rasulullah?”, mereka berkata, “Dia sedang berada didepan”, hingga wanita tersebutpun menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dia mengambil ujung baju Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak perduli (dengan apapun yang terjadi) yang penting engkau selamat dari kebinasaan”[24]. Dalam riwayat yang lain, wanita tersebut berkata, “Semua musibah yang tidak menimpamu ringan terasa”

Berkata Sa’ad bin Mu’adz,”Para sahabat telah menyerahkan jiwa-jiwa mereka dan harta-harta mereka dibawah keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, “Ini harta kami berada di hadapanmu, berilah keputusan sesukamu. Dan ini jiwa-jiwa kami berada di hadapanmu, jika Engkau menghendaki kami masuk dalam lautan maka kami akan memasukinya, kami berperang di hadapanmu, dari belakangmu, dari arah kananmu, dan dari arah kirimu”[25]

Anas bin An-Nadlr tatkala terjadi perang Uhud, tatkala perang telah selesai beliau ditemukan dalam keadaan jasad beliau terdapat delapan puluh lebih bekas pukulan, tikaman, dan bekas panah sehingga tidak seorangpun yang mengenalnya kecuali saudara wanitanya yang bernama Ar-Rubayyi’, dia mengenalnya karena ujung-ujung jari Anas. Tatkala itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam teleh mengutus Zaid bin Tsabit setelah selesai peperangan untuk mencari Anas. Maka ia mendapatkannya dalam keadaan sakaratul maut, nafas yang terakhir. Anas yang dalam keadaan sekaratpun membalas salam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian dia berkata, “Aku mencium bau surga, dan sampaikanlah kepada kaumku dari Golongan Ansor لاَ عُذْرَ لَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَنْ يُخْلَصَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ وَفِيْكُمْ شَفَرٌ يِطْرُفُ sesungguhnya tidak ada udzur (alasan) bagi kalian dihadapan Allah jika keburukan menimpa Rasulullah sedang diantara kalian masih ada mata yang bisa berkedip (masih ada yang hidup-pen)”, lalu matanya mengalirkan air mata.[26]

Sungguh tinggi rasa cinta dan pengagunggan para sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang paling menunujukan dan menjelaskan kebesaran cinta mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkataan Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqofi –yang ketika itu masih musyrik- ketika berunding dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu perjanjian Hudaibiyah dan melihat pengagungan para sahabat terhadap Nabi, dan tatkala ia kembali ke kaum Quraisy iapun berkata (kepada mereka), “Wahai kaum Quraisy, demi Allah, aku telah di utus kepada para raja, aku telah diutus kepada Kaisar, Kisro, dan Najasyi, demi Allah aku tidak pernah melihat seorang rajapun yang diagungkan oleh para sahabatnya (anak buahnya) sebagaimana pengagungan para sahabat Muhammad kepada Muhammad. Demi Allah, tidaklah ia membuang dahaknya kecuali jatuh di telapak tangan salah seorang dari para sahabatnya kemudian orang tersebut mengusapnya ke wajahnya dan kulit (tubuhnya), jika ia memerintahkan mereka maka mereka segera melaksanakannya, jika dia berwudlu maka mereka hampir saja saling berkelahi demi memperebutkan sisa wudlu beliau[27], jika ia berbicara maka merekapun merendahkan suara mereka, dan mereka tidak mampu mempertajam (melamakan) pandangan mereka kepadanya karena keagungan beliau”[28]

Dan para sahabat telah disifati tatkala duduk mendengarkan wejangan-wejangan Nabi dengan sifat yang sangat mengagumkan, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits. Diantaranya perkataan Abu Sa’id Al-Khudri وسكت الناس كأنّ على رؤوسهم الطير “Orang-orangpun terdiam seakan-akan ada burung (yang hinggap) di atas kepala-kepala mereka”[29]

Berkata ‘Amr bin Al-‘Ash, “Tidak ada seorangpun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah, dan tidak ada seorangpun yang lebih agung di kedua mataku daripada Rasulullah. Aku tidak mampu untuk memandangnya dengan penuh pandangan karena keagungannya, dan jika aku diminta untuk menjelaskan cirri-ciri Rasulullah maka aku tidak mampu karena aku tidak pernah memandanganya dengan pandangan yang penuh”[30]

Tatkala Abu Sufyan mengunjungi putrinya Ummu Habibah (istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di kota Madinah lalu memasuki rumah putrinya diapun hendak duduk di atas tikar (yang biasa diduduki oleh) Rasulullah, maka Ummu Habibahpun melipat tikar tersebut. Abu Sufyanpun berkata, “Wahai putriku, aku tidak tahu apakah engkau ingin agar aku tidak duduk di atas tikar ini (karena engkau membenci tikar ini) ataukah engkau tidak ingin tikar ini aku duduki (karena benci kepadaku)?”. Ummu Habibahpun menimpali, “Ini adalah tikarnya Rasulullah, dan engkau adalah orang musyrik yang najis, aku tidak mau engkau duduk di atas tikar milik Rasulullah”[31]

Diantara hal yang menunjukan begitu keras semangatnya para sahabat dalam memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi hal-hal yang bisa mengganggu beliau adalah perkataan Anas bin Malik, إنّ أبواب النبي كانت تُقرع بالأظافر “Pintu-pintu Nabi dahulu diketuk dengan kuku-kuku”[32]

Dan tatkala turun firman Allah

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ﴾ (الحجرات:2)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dam janganlah kamu berkata padanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari”. (QS. 49:2), berkata Ibnu Az-Zubair, “Dan Umar tidak pernah lagi meperdengarkan suaranya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ia berbicara kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan suara yang sangat pelan-pen) setelah turun ayat ini sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Umar apa yang dikatakan Umar kepada beliau.[33] Tsabit bin Qois suaranya keras, sehingga kalau dia berbicara (dengan yang lainnya atau berbicara dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dia mengangkat suaranya. Tatkala turun ayat ini, diapun duduk di rumahnya menundukkan kepalanya karena dia memandang bahwa dirinya termasuk penduduk neraka karena telah mengangkat suaranya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga terhapus amalannya dan dia termasuk penduduk neraka hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepadanya bahwa dia termasuk penduduk surga.[34]

bersambung ....

*******
Catatan Kaki:

[1] Dan disunnahkan bagi kita untuk barangan-angan bisa melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا نَاسٌ يَكُوْنُوْنَ بَعْدِي يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلٍِهِ ومَالِهِ

“Diantara orang-orang yang paling besar cintanya kepadaku adalah orang-orang yang datang sepeninggalku, salah seorang dari mereka berangan-angan kalau bisa melihat aku walaupun harus berkorban keluarga dan hartanya” (HR Muslim 4/2178 dari hadits Abu Hurairah)

Lihat juga HR Al-Bukhari no 3589

[2] HR Al-Bukhari no 6169, 6170, dalam riwayat At-Thirmidzi (4/596) dari hadits Shofwan bin ’Assal ia berkata:

جاء أعرابي جهوري الصوت قال يا محمد الرجل يحب القوم ولما يلحق بهم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم المرء مع من أحب

Datang seorang arab badui yang bersuara lantang, ia berkata, “Wahai Muhammad, seseorang mencintai suatu kaum dan ia tidak bertemu dengan mereka?”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Seseorang dikumpulkan kelak dengan yang ia cintai”

[3] HR Al-Bukhari no 6168, 6169, 6170

[4] Ibnu Hajar menyebutkan bahwa orang arab badui ini adalah orang arab badui yang buang air kecil di sudut mesjid sebagaimana dalam riwayat Ad-Daruqutni dari hadits Ibnu Mas’ud (Al-Fath 7/63)

جاء أعرابي إلى النبي صلى الله عليه وسلم شيخ كبير فقال يا محمد متى الساعة فقال وما أعددت لها قال لا والذي بعثك بالحق نبيا ما أعددت لها من كبير صلاة ولا صيام إلا أني أحب الله ورسوله قال فإنك مع من أحببت قال فذهب الشيخ فأخذ يبول في المسجد فمر عليه الناس فأقاموه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم دعوه عسى أن يكون من أهل الجنة فصبوا على بوله الماء

Datang seorang tua dari arab badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia berkata, “Wahai Muhammad, kapan hari kiamat?, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apakah yang kau persiapkan menanti kedatangan hari kiamat?”, ia berkata, “Demi Dzat Yang telah mengutus engkau dengan kebenaran sebagai Nabi, aku tidaklah menyiapkan sholat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan RasulNya”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya engkau bersama bersama dengan yang engkau cintai”. Orang tua itupun berpaling dan diapun buang air kecil di mesjid, lalu lewat sekelompok orang dan hendak menghentikannya buang air di mesji, Rasulullahpun berkata, “Biarkanlah dia, mungkin ia termasuk penduduk surga”. Lalu merekapun menuangkan air pada bekas kencingnya”.

Berkata Ad-Daroqutni:, “Al-Mu’allaa adalah perawi majhul” (HR Ad-Daruquthni 1/132).

Pernyataan Ibnu Hajar bahwa orang arab badui ini adalah orang arab badui yang kencing di mesjid perlu diteliti kembali, karena riwayat Daruquthni ini sangat lemah. Para ulama telah sepakat akan kelemahan rowi ini (Mu’alla bin ‘Urfaan Al-Asadi Al-Kufi Al-Maliki). Yahya bin Ma’in berkata, “Mu’alla bin ‘Urfaan adalah dukun di jalan menuju Mekah”. Imam An-Nasai berkata, “Mu’alla bin ‘Urfan matrukul hadits”. Imam Al-Bukhari berkata, “Mu’alla bin ‘Urfaan munkarul hadits”. Berkata Ibnu Hajar, “Ia adalah termasuk gulat syi’ah (syi’ah yang kerusakannya tingkat tinggi)” (Lihat Lisanul Muzan karya Ibnu Hajar 6/64)

[5] Ini adalah riwayat At-Thirmidzi 4/595 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani

[6] HR Al-Bukhari no 6171

[7] HR Al-Bukhari no 6167

[8] Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Al-Fath 10/681, Ini adalah riwayat At-Thirmidzi 4/595 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat juga Adabul Mufrod no 352

[9] HR Al-Bukhari no 3688 dan Muslim 4/2032. Namun yang sangat menyedihkan kita menyaksikan betapa banyak kaum muslimin terutama dari golongan permuda yang mereka sangat mencintai orang-orang kafir (terutama para artis), bahkan foto orang-orang kafir tersebut mereka pajang di kamar-kamar mereka, bahkan mereka meniru gaya berpakaian dan berbicara orang-orang kafir tersebut. Yang lebih sangat menyedihkan lagi, ternyata tingkat kecintaan mereka terhadap orang-orang kafir tersebut sudah sangat mendalam dan merasuk jiwa mereka, terbukti tatkala para artis tersebut datang ke negeri-negeri kaum muslimin maka para penggemar merekapun berbondong-bondong menyambut para idola mereka yang kafir, bahkan hingga timbul histeris tatkala menyaksikan para idola mereka itu, bahkan ada diantara mereka yang pingsan karen saking gembira dan histeris tatkala melihat langsung para idola mereka, bahkan ada yang sampai mati gara-gara berebutan dekat dengan para idola mereka yang kafir. Hingga demikiankah cinta mereka terhadap orang-orang kafir tersebut??, bagaimanakah nasib mereka kelak, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Seseorang (diukumpulkan diakhirat kelak) bersama yang ia cintai” ???!!!

[10] Lihat penjelasan Al-Qodhi ‘Iyadl dalam As-Syifa bi ta’rifi ahwalil Mushtofa 2/18

[11] HR Al-Bukhari no 15

[12] HR Al-Bukhari no 6632

[13] Badai’ At-Tafsir Al-Jami’ litafsir Ibnil Qoyyim 2/422

[14] HR Al-Bukhari no 4781

[15] HR Muslim no 867

[16] Taisir Al-Karim Ar-Rahman, tafsir surat 9 ayat 128

[17] HR Al-Bukhari no 16,21 dan Muslim no 43

[18] Faedah ini penulis dapatkan dari perkataan DR Muhammad Darroz ketika menjelaskan hadits ini (lihat Al-Mukhtar min kunuzis Sunnah hal 344,345)

[19] Ttatkala Nabi berdakwah kerumah-rumah penduduk kota Mekah Abu Lahab (paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengikutinya dari belakang kemudian berteriak kepada orang-orang, “Wahai manusia, janganlah kalian tertipu dengan orang ini (maksud Abu Lahab adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) sehingga kalian keluar dari agama kalian dan agama nenek moyang kalian” (As-Siroh An-Nabawiah As-Shohihah 1/193)

[20] Fathul Bari 1/83

[21] Syu’abul Iman, karya Imam Al-Baihaqi 2/133

[22] Al-Bidayah wa An-Nihayah, karya Ibnu Katsir 4/65

[23] Dibawakan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wa An-Nihayah 3/268

[24] Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Awshoth 8/244, dan dalam Majma’ Az-Zawaid karya Al-Haitsami 6/115 dan dia menyebutkan bahwa seluruh perawi nya tsiqoh kecuali seorang perawi dia tidak mengetahuinya. Lihat Al-Bidayah Wa An-Nihayah 4/47. Berkata Syaikh Akrom Al-Umari, “Dengan sanad yang baik, terdapat perowi yang bernama Abdul Wahid bin Abi ‘Aun Al-Madani, soduuq yukhti’" (As-Shiroh As-Shohihah 2/395)

[25] Ini adalah perkataan Sa’ad bin Mu’adz sbagaimana disebutkan oleh para ahli sejarah, lihat Siroh Ibni Hisyam 2/188, dan asal kisah ini adalah di shohih Muslim no 1779

[26] Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dengan isnad yang para perowinya tsiqoh sebagaimana di Al-Majma’. Lihat As-Siroh An-Nabawiyah fi dhoui masodiriha Al-Asliyah karya DR Mahdi Ahmad hal 387

[27] Dan hal ini merupakan kekhususan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tubuh beliau penuh dengan baraokah, rambut beliau, ludah beliau, ingus beliau, serta keringat beliau sebagaimana dijelaskan dalam banyak hadits. Dan ini tidak boleh diqiaskan kepada selain beliau, karena tidak seorang sahabatpun yang mencari barokah dengan mengusap tubuh Abu Bakar, atau Umar, atau para sahabat yang lain, padahal Abu Bakar dan Umar telah dijamin masuk surga dan tidak diragukan lagi keimanan mereka, namun tak seorangpun yang mencari barokah dengan tubuh mereka. Hal ini menunjukan bahwa ini merupakan kekhususan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian anggota tariqat-tariqat sufi yang mencari barokah dengan mengusapkan tangan mereka ke tubuh, atau pakaian guru-guru mereka. Insya Allah akan ada pembahasan khusus akan hal ini.

[28] HR Al-Bukhari no 2731,2732

[29] HR Al-Bukhari no 2842

[30] HR Muslim no 121

[31] Sebagaimana dibawakan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wa An-Nihayah 4/280 dan oleh Ibnu Hajar dalam Al-Ishobah 4/299,300

[32] Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab 2/201 no 1531, dan Al-Khotib Al-Bagdadi dalam Al-Jami’ Li Akhlaqir Rowi wa Adabis Sami’ 1/95

[33] HR Al-Bukhari no 4845

[34] HR Al-Bukhari no 4846


oleh: Ust Firanda Andirja
di www.firanda.com

Posted By Minang Sunnah9:53 PM

Senin, 17 Januari 2011

Wasiat Perpisahan

Filled under:

Diriwayatkan dari al-‘Irbâdh bin Sâriyah radhiallahu'anhu bahwa ia berkata, “Suatu hari Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang membekas pada jiwa, yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati menjadi takut, maka seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullâh! Seolah-olah ini adalah nasehat dari orang yang akan berpisah, maka apakah yang engkau wasiatkan kepada kami?’
Maka Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam bersabda,


"Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertakwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku, niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafâ Râsyidîn yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah, dan setiap bid‘ah itu adalah sesat."



Takhrij Hadist

Hadits ini shahîh, diriwayatkan oleh Imam-imam Ahlul Hadits, di antaranya adalah Imam Ahmad dalam Musnadnya 7/126-127, Imam Abu Dâwud no. 4607 dan ini lafazhnya, Imam at-Tirmidzi no. 2676, Imam Ibnu Mâjah no. 42, Imam ad-Dârimi 1/44, Imam Ibnu Hibbân dalam Shahîhnya no. 5, At-Ta’lîqâtul Hisân dan no. 102, al-Mawârid, Imam al-Hâkim 1/95-96, Imam Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 54-59, Imam al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 1/205, no. 102, Imam al-Baihaqi dalam Sunannya 10/114, Imam al-Lâlikâi dalam Syarah Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah 1/ 83, no. 81 dan lain-lain.

Hadits ini dishahîhkan oleh para Imam Ahlul Hadits. Imam at-Tirmidzi rahimahullah mengatakan, “Hadits ini hasan shahîh.” Imam al-Bazzâr rahimahullah mengatakan, “Hadits ini tsâbit shahîh.” Imam Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Hadits ini tsâbit.” Imam al-Hâkim rahimahullah mengatakan, “Hadits ini shahîh dan tidak ada cacatnya,” dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi rahimahullah. Hadits ini dishahîhkan juga oleh Imam al-‘Allâmah al-Muhaddits Muhammad Nâshiruddîn al-Albâni rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah no. 937 dan 2735 dan dalam Irwâ-ul Ghalîl 8/107-109, no. 2455


Disyariatkannya Memberikan Nasihat

Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam memberikan nasehat kepada para Sahabatnya, kemudian seorang Sahabat mengatakan, "Wahai Rasulullâh! Nasihat ini seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah, maka apakah yang engkau wasiatkan kepada kami?".

Ini menunjukkan bahwa Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam amat serius dalam memberikan nasehat tersebut dan tidak seserius itu pada nasehat yang lainnya. Oleh karena itu, para Sahabat paham bahwa nasehat tersebut adalah nasehat orang yang akan berpisah, karena orang yang akan berpisah dapat mempunyai pengaruh dalam perkataan dan perbuatan yang tidak bisa dikerjakan orang lain. Karenanya, Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam memerintahkan seseorang shalat seperti shalatnya orang yang akan berpisah, ia akan mengerjakannya sesempurna mungkin.

Agama adalah nasehat. Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wassalam bersabda yang artinya, “Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat. Mereka (para Sahabat) bertanya: ‘Untuk siapa, wahai Rasulullâh?’ Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalammenjawab: ‘Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya.”

Nasehat merupakan hak seorang Muslim atas Muslim yang lainnya. Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wassalam bersabda yang artinya, “Hak orang Muslim atas Muslim lainnya ada enam. Ditanyakan, “Apa saja keenam hak tersebut, wahai Rasulullâh?” Beliau menjawab, “Jika engkau bertemu dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya, jika ia mengundangmu maka penuhilahnya, jika ia meminta nasihat kepadamu maka nasihatilah dia, jika ia bersin kemudian memuji Allah maka doakan dia (dengan ucapan: yarhamukallâh), jika ia sakit maka jenguklah, dan jika ia meninggal dunia maka antarkan (jenazah)nya.”

Prinsip dalam memberikan nasehat ialah harus ikhlas semata-mata karena Allah Ta'ala dan mengikuti contoh Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam, bukan dengan membuka aib orang yang dinasehati. Sebab, orang yang aibnya dibuka tidak akan mau menerima nasehat. Begitu juga dengan menuduh orang lain. Orang yang dituduh, akan sulit baginya untuk menerima nasehat karena menuduh tidaklah sama dengan memberi nasehat. Sebaliknya juga orang yang diberikan nasehat jangan menuduh orang yang memberikan nasehat dengan tuduhan yang jelek.


Keutamaan Salafush Shalih

Perkataan al-‘Irbâdh bin Sâriyah radhiallahu'anhu,

“Lalu memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang membekas pada jiwa, yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati menjadi takut...”

Di dalamnya terdapat isyarat tentang baiknya keadaan para Sahabat, bersihnya jiwa-jiwa mereka, dan selamatnya hati-hati mereka. Mereka mengambil pelajaran dari sabda Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam, merasa takut tatkala mendengar firman Allah Ta'ala , dan ini merupakan tanda keimanan dan kebaikan. Menangis dan rasa takut hati ketika mendengar peringatan dari firman Allah Ta'ala dan sabda Rasul-Nya adalah dua sifat kaum Mukminin yang dipuji oleh Allah Ta'ala . Seperti firman Allah Ta'ala yang artinya,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut Nama Allah gemetar (takutlah) hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuat imannya dan hanya kepada Rabb mereka bertawakkal.”
(Qs al-Anfâl/8:2)

Sesungguhnya orang yang menangis karena takut kepada Allah Ta'ala , matanya itu tidak akan disentuh api neraka. Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wassalam bersabda, Ada dua mata yang tidak akan disentuh oleh api Neraka, mata yang menangis karena takut kepada Allah Ta'ala dan mata yang begadang untuk berjaga di jalan Allah Ta'ala.

Maksud dari dua mata yang begadang untuk berjaga di jalan Allah Ta'ala ialah ketika berjuang di jalan Allah Ta'ala melawan musuh, ia senantiasa berjaga-jaga di perbatasan karena khawatir kaum Muslimin diserang oleh musuh. Oleh karena itu, wajib mencintai para Sahabat radhiallahu'anhum, memuliakan mereka, memohonkan ampunan dan keridhaan Allah Ta'ala untuk mereka, dan mengikuti contoh teladan mereka. Mereka adalah pendahulu umat ini yang telah menyampaikan al-Qur‘ân dan Sunnah Nabi-Nya kepada kita.

Para Ulama menjelaskan bahwa siapapun tidak boleh mencela dan mencaci-maki para Sahabat radhiallahu'anhum karena baiknya hati mereka. ‘Abdullâh bin Mas’ûd radhiallahu'anhu mengatakan tentang para Sahabat Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam, Barangsiapa di antara kalian yang ingin mengambil teladan, hendaklah mengambil teladan dari para Sahabat Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam. Karena sesungguhnya mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah Ta'ala telah pilih untuk menemani Nabi-Nya dan untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya karena mereka berada di atas jalan yang lurus.

Para Salafush Shalih memiliki sekian banyak keutamaan, maka kewajiban kita adalah mencintai, menghormati dan mengikuti jejak mereka, serta memohonkan ampunan, rahmat, dan keridhaan Allah Ta'ala untuk mereka. Maka dianjurkan untuk mengucapkan radhiyallâhu ‘anhum ketika kita menyebut para Sahabat, sebagai realisasi dari firman Allah Ta'ala yang artinya,

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”
(Qs at-Taubah/9:100)


Tidak boleh ada seorang pun yang mencela dan menjelekkan para Sahabat. Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam bersabda, Janganlah kalian mencaci para Sahabatku! Demi Dzat Yang diriku berada di tangan-Nya, sungguh, jika seandainya salah seorang dari kalian berinfak sebesar Gunung Uhud berupa emas, maka belum mencapai nilai infak mereka meskipun (mereka infak hanya) satu mud (yaitu sepenuh dua telapak tangan) dan tidak juga separuhnya.

Karena itulah Imam Abu Zur’ah ar-Râzi rahimahullah (wafat th. 264 H) berkata, “Apabila engkau melihat seseorang mencela salah seorang dari Sahabat Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wassalam maka ketahuilah bahwa ia adalah zindiq (munafik). Karena sesungguhnya Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam itu benar, sesungguhnya al-Qur`ân itu benar, dan yang menyampaikan al-Qur`ân kepada kita adalah mereka, para Sahabat Rasulullâh. Dan orang-orang yang mencela itu hendak merusak persaksian kita demi membatalkan al-Qur`ân dan Sunnah. Maka celaan itu hanyalah pantas untuk mereka. Mereka adalah orang-orang zindiq.”

Kaum Muslimin dianjurkan untuk mendoakan para Sahabat dengan doa yang terdapat di dalam al-Qur‘ân yang artinya,

“Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu daripada kami, dan janganlah Engkau biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.”
(Qs al-Hasyr/59:10)


Bertakwalah Kepada Allah Ta'ala

Sabda Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam,

"Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah…"

Wasiat takwa adalah wasiat yang paling mulia, wasiat yang menjamin kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi orang yang berpegang teguh kepadanya. Dan wasiat takwa merupakan wasiat Allah Ta'ala kepada manusia generasi pertama dan akhir, sebagaimana firman Allah Ta'ala yang artinya,

“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang yang telah diberikan kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu agar bertakwa kepada Allah. Tetapi jika kamu ingkar, maka (ketahuilah) milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”
(Qs an-Nisâ’/4:31)


Takwa yang dimaksud menurut penjelasan para Ulama bukan sekedar melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, namun harus dirinci lagi. Perintah paling besar dalam syari’at adalah mentauhidkan Allahk dan larangan yang terbesar adalah menjauhkan syirik.

Thalq bin Habîb rahimahullah mengatakan, “Takwa ialah engkau melaksanakan ketaatan kepada Allah Ta'ala dengan cahaya dari Allah Ta'ala karena mengharap ganjaran dari Allah Ta'ala , dan engkau meninggalkan perbuatan maksiat kepada Allah Ta'ala dengan cahaya dari Allah Ta'ala karena takut terhadap adzab Allah Ta'ala .

Di antara pesan Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam kepada kita semua ialah agar selalu bertakwa dimana pun kita berada. Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam bersabda yang artinya, “Bertakwalah kepada Allah dimana pun engkau berada dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya ia akan menghapuskannya serta bergaullah bersama manusia dengan akhlak yang baik.


Mendengar Dan Taat Kepada Ulil Amri (Penguasa Kaum Muslimin)

Sabda Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wassalam,

"...Mendengar dan taat..."

Maksudnya, mendengar dan taat kepada ulil amri (penguasa) kaum Muslimin. Mendengar apabila mereka berbicara dan menaati apabila mereka memerintahkan sesuatu.

Dalam surat an-Nisâ ayat 59, Allah Ta'ala berwasiat kepada kaum Muslimin agar mereka menaati Allah Ta'ala , Rasul-Nya, dan ulil amri dari kalangan kaum Muslimin yang artinya,

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur`ân) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Qs an-Nisâ’/4:59)


Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam bersabda,

"Tidak boleh taat terhadap perintah yang di dalamnya terdapat maksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebajikan."

Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajib taat kepada pemimpin kaum Muslimin selama mereka tidak menyuruh berbuat maksiat, meskipun mereka berbuat zhalim. Karena menaati mereka termasuk dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala, sedangkan ketaatan kepada Allah Ta'ala adalah wajib.

Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wassalam bersabda,

"Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat kepada penguasa pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci, kecuali kalau ia disuruh untuk berbuat maksiat, jika ia disuruh untuk berbuat maksiyat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat."


Imam al-Qâdhi ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin Abil-‘Izz ad-Dimasyqi rahimahullah (yang terkenal dengan Ibnu Abil ‘Izz wafat th. 792 H) berkata, “Hukum menaati ulil amri adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan) meskipun mereka berbuat zhalim, karena keluar dari ketaatan kepada mereka akan menimbulkan kerusakan yang berlipat ganda dibanding dengan kezhaliman penguasa itu sendiri. Bahkan bersabar terhadap kezhaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan dapat melipat-gandakan pahala. Karena Allah Ta'ala tidak akan menguasakan mereka atas diri kita melainkan disebabkan kerusakan amal perbuatan kita juga. Ganjaran itu bergantung pada amal perbuatan. Maka hendaklah kita bersungguhsungguh memohon ampunan, bertaubat, dan memperbaiki amal perbuatan. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahankesalahan).” (Qs asy-Syûrâ/42:30)

Allah Ta'ala juga berfirman yang artinya, “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Qs al-An’âm/6:129)

Apabila rakyat ingin selamat dari kezhaliman pemimpin mereka, hendaklah mereka meninggalkan kezhaliman itu juga.”

Syaikh al-Albâni rahimahullah berkata, “Penjelasan di atas sebagai jalan selamat dari kezhaliman para penguasa yang ‘warna kulit mereka sama dengan kulit kita, berbicara sama dengan bahasa kita (bahasa Arab)’ karena itu agar umat Islam selamat:

1. Hendaklah kaum Muslimin bertaubat kepada Allah Ta'ala.
2. Hendaknya mereka memperbaiki ‘akidah mereka.
3. Hendaklah mereka mendidik diri dan keluarganya di atas Islam yang benar sebagai penerapan firman Allah Ta'ala yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah keadaan diri mereka sendiri.” (Qs ar-Ra’d/13:11)


Untuk menghindarkan diri dari kezhaliman penguasa bukan dengan cara mengikuti sangkaan sebagian orang yaitu dengan memberontak, mengangkat senjata ataupun dengan cara kudeta, karena yang demikian itu termasuk bid’ah dan menyalahi nash-nash syariat yang memerintahkan untuk merubah diri kita lebih dahulu. Karena itu harus ada perbaikan kaidah dalam pembinaan, dan pasti Allah Ta'ala menolong hamba-Nya. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Kuat, Maha Perkasa.” (Qs al-Hajj/22:40)

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta'ala dalam keputusan-Nya menjadikan para raja, pemimpin, dan pelindung umat manusia berada satu jenis dengan amal perbuatan mereka, bahkan amal perbuatan mereka seakan-akan tampak tercermin pada pemimpin dan penguasa mereka. Jika mereka lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka, dan jika mereka adil, maka akan adil pula penguasa mereka terhadap mereka, tetapi jika mereka zhalim, maka akan zhalim pula penguasa dan pemimpin mereka. Jika tampak tipu muslihat dan penipuan di tengah-tengah mereka, maka demikian pula yang terjadi pada pemimpin mereka. Dan jika menolak hak-hak Allah Ta'ala atas mereka dan enggan memenuhinya, maka para penguasa dan pemimpin mereka pun akan menolak hak-hak yang ada pada mereka dan kikir untuk menerapkannya pada mereka. Dan jika dalam muamalah mereka mengambil sesuatu yang bukan haknya dari orang-orang lemah, maka para penguasa pun akan mengambil hal-hal yang bukan haknya serta menimpakan berbagai beban dan tugas kepada mereka.

Setiap yang mereka keluarkan (yang mereka ambil) dari orang-orang lemah, maka akan dikeluarkan (diambil) pula oleh para penguasa itu dari diri mereka dengan kekuatan (paksaan). Dengan demikian amal perbuatan mereka tercermin pada amal perbuatan penguasa dan pemimpin mereka. Dan menurut hikmah Ilâhiyyah, tidaklah diangkat seorang pemimpin atas orang-orang jahat lagi berbuat keji, kecuali orang-orang yang sejenis dengan mereka. Ketika pada kurun-kurun pertama merupakan kurun yang paling baik, maka demikian itu pula para pemimpin mereka. Dan ketika mereka mulai tercemari, maka pemimpin mereka pun mulai tercemari pula.

Dengan demikian, hikmah Allah Ta'ala menolak jika kita di zaman ini dipimpin oleh orang-orang seperti Mu’awiyah dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, apalagi orang-orang seperti Abu Bakar dan ‘Umar, tetapi pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Dan pemimpin orang-orang sebelum kita pun sesuai dengan kondisi mereka. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntutan hikmah Allah Ta'ala .”

Pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abi Thâlib radhiallahu'anhu ada seseorang yang bertanya kepada beliau, “Kenapa pada zaman kamu ini banyak terjadi pertengkaran dan fitnah, sedangkan pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar tidak?” ‘Ali radhiallahu'anhu menjawab, “Karena pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar yang menjadi rakyatnya adalah aku dan Sahabat yang lainnya. Sedangkan pada zamanku yang menjadi rakyatnya adalah kalian.”

Oleh karena itu, untuk mengubah keadaan kaum Muslimin agar menjadi baik, Allah Ta'ala memerintahkan agar kita mengubah diri kita sendiri terlebih dulu, bukan mengubah penguasa yang ada. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (Qs ar-Ra’d/13:11)

Kita harus memperhatikan kewajiban mendengar dan taat kepada ulil amri. Bila tidak, maka akan terjadi kehinaan, kekacauan, pertumpahan darah, kaum Muslimin menjadi korban, dan lain sebagainya. Sedangkan darah kaum Muslimin itu lebih mulia dari pada Ka’bah yang mulia dan lebih berat di sisi Allah Ta'ala dari pada hancurnya dunia.

Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wassalam bersabda,

"Hancurnya dunia ini lebih ringan dosanya di sisi Allah dari pada terbunuhnya seorang Muslim."



Terjadinya Perpecahan Dan Perselisihan Di Tengah Kaum Muslimin

Sabda Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wassalam,

"Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak."

Sesungguhnya perpecahan dan perselisihan dalam Islam itu tercela. Allah Ta'ala berfirman yang artinya,

“Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat adzab yang berat."
(Qs Ali ‘Imrân/3:105)


Allah Ta'ala berfirman yang artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) atas Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.
(Qs al-An’âm/6:159)


Syaikh ‘Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Ayat ini menjelaskan bahwa agama Islam memerintahkan untuk berjama’ah dan bersatu serta melarang perpecahan dan perselisihan dalam prinsip agama, bahkan dalam setiap permasalahan agama, baik yang pokok maupun cabangnya.”

Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam bersabda,

"Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang Ahlul Kitab sebelum kalian telah berpecah-belah menjadi 72 golongan. Sesungguhnya umat Islam akan berpecah-belah menjadi 73 golongan, 72 golongan tempatnya di neraka dan hanya satu golongan di Surga, yaitu al-Jama’âh."

Dalam riwayat lain disebutkan:

"Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para Sahabatku berjalan di atasnya."



Jalan Selamat Dari Perpecahan Dan Perselisihan

Jalan selamat dari perpecahan dan perselisihan adalah dengan berpegang teguh kepada al-qur-an dan as-sunnah menurut pemahaman salafush shalih. Sabda Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam,

"Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafâur Râsyidin yang mendapat petunjuk."

Sabda beliau Salallahu 'Alaihi Wassalam di atas terdapat perintah untuk berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam dan Sunnah Khulafâur Râsyidin sepeninggal beliau. Sunnah adalah jalan yang dilalui, termasuk di dalamnya berpegang teguh kepada keyakinan-keyakinan, perkataan-perkataan, dan perbuatan perbuatan Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam dan para Khulafâur Râsyidin. Itulah Sunnah yang paripurna. Oleh karena itu, generasi Salaf dahulu tidak menamakan Sunnah, kecuali kepada apa saja yang mencakup ketiga aspek tersebut. Hal ini diriwayatkan dari al-Hasan, al-Auzâ’i, dan Fudhail bin ‘Iyâdh.

Keempat Khalifah tersebut disebut Râsyidîn karena mereka mengetahui kebenaran dan memutuskan segala perkara dengan kebenaran. Râsyîd adalah lawan kata dari ghâwi. Ghâwi ialah orang yang mengetahui kebenaran, namun mengamalkan kebalikannya. Sedangkan kata Mahdiyyîn maksudnya adalah Allah Ta'ala membimbing mereka kepada kebenaran dan tidak menyesatkan mereka darinya. Jadi, manusia terbagi menjadi tiga: râsyid, ghâwi, dan dhâll.

Râsyid ialah orang yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya. Dhâll ialah orang yang tidak mengetahui kebenaran secara total. Jadi, seluruh orang râsyid itu ialah orang yang mendapatkan petunjuk, dan orang yang diberi petunjuk dengan petunjuk paripurna ialah orang yang râsyid (mendapatkan petunjuk), karena petunjuk hanya sempurna dengan mengetahui kebenaran dan mengamalkannya.

Perintah Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam untuk mengikuti Sunnah beliau dan Sunnah Khulafâ Râsyidin setelah perintah mendengar dan taat kepada ulil amri adalah bukti bahwa Sunnah para Khulafâur Râsyidin harus diikuti seperti halnya mengikuti Sunnah Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam . Ini tidak berlaku bagi Sunnah para pemimpin selain Khulafâ Râsyidin.

Ini menunjukkan bahwa kita wajib berpegang kepada al-Qur‘ân dan Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih. Selain itu, kita diwajibkan mengikuti manhaj para Salafush Shalih karena Allah Ta'ala menyebutkan dalam al-Qur‘ân tentang wajibnya kita mengikuti mereka.

Allah Ta'ala berfirman yang artinya,

“Maka jika mereka beriman sebagaimana kamu telah beriman, sungguh, mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada
dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. dan Dialah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(Qs al-Baqarah/2:137)


Allah Ta'ala berfirman yang artinya,

“Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.
(Qs an-Nisâ’/4:115)


Kita berpegang dengan pemahaman Salaf, mengikuti jejak Salafus Shalih, dengan tujuan ingin selamat dunia akhirat dan ingin masuk Surga, bukan untuk mencari kedudukan, harta, dan ketenaran. Kita mengikuti jejak mereka supaya selamat di dunia dan di akhirat dan agar Allah Ta'ala memasukkan kita ke dalam Surga-Nya, bukan untuk memperoleh kesenangan dunia, harta, jabatan, maupun kekuasaan.

Kita wajib mengikuti jejak Salafush Shalih karena mereka adalah khairun nâs (sebaik-baik manusia), dan khairu hâdzhihil ummah (dan sebaik-baik umat ini).

Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam bersabda,

"Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tâbi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tâbi’ut
Tâbi’în)."


Mengenai berpegang kepada al-Qur‘ân dan Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih ini, Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam bukan hanya menyuruh berpegang saja. Tetapi menyuruh kita agar memegangnya dengan sangat kuat dan erat sehingga beliau mengungkapkannya melalui sabda beliau,

"Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian."


Sabda beliau merupakan kiasan tentang kuatnya berpegang teguh kepada Sunnah. Hal itu karena sudah begitu banyaknya fitnah dan syubhat yang ada. Kadang-kadang ada orang berpegang pada manhaj Salaf lalu keluar dari manhaj Salaf karena banyaknya fitnah, syubhat, dan syahwat. Fitnah terbagi menjadi dua: fitnah syahwat dan syubhat. Fitnah syubhat ialah fitnah yang terkait dengan pemahaman, aliran, kelompok, firqah, keyakinan, dan lainnya. Sedangkan fitnah syahwat ialah yang berkenaan dengan harta, wanita, jabatan, kedudukan, kekuasaan, dan lain sebagainya.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam telah menggabungkan Sunnah Sahabatnya dengan Sunnahnya, dan memerintahkan untuk mengikutinya seperti memerintahkan untuk mengikuti Sunnahnya, sampai-sampai beliau memerintahkan agar menggigitnya dengan gigi geraham. Dan ini meliputi apa yang mereka fatwakan dan apa yang mereka contohkan walaupun sebelumnya Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam tidak melakukannya.

Hal ini juga meliputi apa yang mereka fatwakan secara keseluruhan atau sebagian besar dari mereka atau sebagian mereka saja karena Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam mengaitkannya dengan apa yang disunnahkan (dicontohkan) oleh Khulafâ Râsyidin. Dan sudah dimaklumi, jika mereka mencontohkan hal itu pada saat yang bersamaan, maka bisa diketahui bahwa Sunnah tiap orang dari mereka (Sahabat) pada masa beliau Salallahu 'Alaihi Wassalam adalah termasuk Sunnah Khulafâur Râsyidin.”

Hadits ini sebagai pukulan keras yang menghujam di kepala para ahlul bid’ah yang menyelisihi manhaj Salaf, karena hal ini ditunjukkan oleh beberapa hal:

Pertama:
Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam menggabungkan Sunnah Khulafâur Râsyidin, yaitu pemahaman Salaf, dengan Sunnah beliau. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak bisa dipahami kecuali dengan manhaj Salaf.

Kedua:
Beliau Salallahu 'Alaihi Wassalam menjadikan Sunnah Khulafâur Râsyidin sebagai Sunnah beliau, beliau mengatakan, “Gigitlah ia dengan gigi geraham.” Dan tidak mengatakan, “Gigitlah keduanya dengan gigi geraham.” Dengan demikian jelaslah bahwa Sunnah Khulafâ`ur Râsyidin termasuk Sunnah beliau Salallahu 'Alaihi Wassalam.

Ketiga:
Beliau menghadapkan (menjadikan berlawanan) semua itu dengan peringatan terhadap bid’ah, maka hal ini menunjukkan setiap yang menyelisihi manhaj Salaf berarti ia terjerumus dalam bid’ah tanpa ia sadari.

Keempat:
Beliau menjadikan hal itu (manhaj Salaf) sebagai solusi dari perselisihan dan kebid’ahan, barangsiapa yang berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam dan Sunnah Khulafâ‘ur Râsyidin maka ia termasuk dalam golongan yang selamat kelak di hari Kiamat.

Kelima:
Beliau tidak menjadikan Sunnahnya dan Sunnah Khulafâ Râsyidin dalam perselisihan yang banyak itu. Hal ini menunjukkan bahwa semuanya itu berasal dari Allah Ta'ala , karena terjadinya perselisihan yang banyak tidak mungkin dari Allah Ta'ala, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya,

“Sekiranya (al-Qur`ân) itu bukan dari Allah, pasti mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.”
(Qs an-Nisâ’/4:82)


Dari poin-poin yang berkaitan ini maka jelaslah bahwa jalan keselamatan dari perselisihan dan perpecahan serta jalan untuk melindungi kehidupan dari kesesatan hawa nafsu dan rusaknya syubhat dan syahwat adalah dengan memahami Sunnah Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam dengan pemahaman mereka. Karena mereka telah mendapat bagian melimpah dari Sunnah tersebut, mereka berhasil menempati posisi terdepan dan memimpin masa, sehingga tidak menyisakan kesempatan bagi generasi setelahnya untuk menyusul dan menyamai mereka karena mereka berhenti di atas petunjuk, telah dicukupkan dengan ilmu, dan dengan ketajaman pandangan mereka melihat Sunnah Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam menjadi sesuatu yang paling agung di hati mereka, paling hebat dalam jiwa mereka.

Jika Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam mengajak mereka pada suatu perintah, secepatnya mereka segera memenuhinya baik beramai-ramai maupun sendiri-sendiri. Mereka segera membawa jiwa raganya untuk melaksanakan perintah tersebut tanpa perlu bertanya tentang dalil atau buktinya.

Oleh karena itu, mereka adalah orang yang paling berhak terhadap Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam dan Sunnahnya, baik dalam pemahaman, pengamalan, maupun dakwah. Dan yang wajib bagi orang setelah mereka adalah berpegang teguh kepada manhaj mereka, agar bisa bersambung dengan Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam dan agama Allah Ta'ala . Jika tidak, maka ia bagaikan pohon buruk yang tercabut dari dalam tanah dan ia tidak memiliki ketetapan.26

Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam mengabarkan tentang akan terjadinya perpecahan dan perselisihan pada umatnya, kemudian Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wassalam memberikan jalan keluar agar selamat dunia dan akhirat yaitu dengan mengikuti Sunnahnya dan Sunnah para Sahabat. Hal ini menunjukkan wajibnya mengikuti Sunnahnya (Sunnah Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam) dan Sunnah para Sahabatnya radhiallahu'anhum.



Jauhilah Perbuatan Bid’ah!

Sabda Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam,

"Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah."

Yang dimaksud di sini adalah perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam urusan agama, bukan dalam urusan dunia. Sebab, perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam urusan dunia ada yang bermanfaat dan itu merupakan kebaikan dan ada pula yang berbahaya dan itu merupakan keburukan. Sedangkan perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama adalah buruk. Allah Ta'ala berfirman yang artinya,

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
(Qs al-Mâ`idah/5:3)


Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam bersabda,

"Tidak tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka, kecuali telah dijelaskan semuanya kepada kalian."


Dalam hadits di atas disebutkan, “Setiap perkara yang baru adalah bid’ah” maka apakah yang dimaksud dengan bid’ah?


Definisi Bid’ah

Imam asy-Syâthibi rahimahullah (wafat th. 790 H) mengatakan,

"Bid’ah adalah cara baru dalam agama yang dibuat menyerupai syari’at dengan maksud untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta'ala."


Artinya, bid’ah adalah cara baru yang dibuat tanpa ada contoh dari syari’at. Sebab, bid’ah adalah sesuatu yang keluar dari apa yang telah ditetapkan dalam syari’at.

Ungkapan “menyerupai syari’at” sebagai penegasan bahwa sesuatu yang diada-adakan dalam agama itu pada hakekatnya tidak ada dalam syari’at, bahkan bertentangan dengan syari’at dari beberapa sisi, seperti mengharuskan cara dan bentuk tertentu yang tidak ada dalam syari’at. Juga mengharuskan ibadah-ibadah tertentu yang dalam syari’at tidak ada ketentuannya.

Ungkapan “untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta'ala“, adalah pelengkap makna bid’ah. Sebab, demikian itulah tujuan para pelaku bid’ah, yaitu menganjurkan untuk tekun beribadah, karena manusia diciptakan Allah Ta'ala hanya untuk beribadah kepada-Nya sebagaimana firman Allah Ta'ala yang artinya,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
(Qs adz-Dzâriyât/51:56)

Seakan-akan orang yang membuat bid’ah melihat bahwa maksud dalam membuat bid’ah adalah untuk beribadah sebagaimana maksud ayat tersebut. Dia merasa bahwa apa yang telah ditetapkan dalam syari’at tentang undang-undang dan hukum-hukum belum mencukupi sehingga dia berlebih-lebihan dan menambahkan serta mengulang-ulanginya.

Imam al-Hâfizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah (wafat th. 795 H) mengatakan, “Yang dimaksud dengan bid’ah adalah apa yang tidak memiliki dasar hukum dalam ajaran syari’at yang menunjukkan keabsahannya. Adapun yang memiliki dasar dalam syari’at yang menunjukkan kebenarannya, maka secara syari’at tidaklah dikatakan sebagai bid’ah, meskipun secara bahasa dikatakan bid’ah. Maka setiap orang yang membuat-buat sesuatu lalu menisbatkannya kepada ajaran agama, namun tidak memiliki landasan dari ajaran agama yang bisa dijadikan sandaran, berarti itu adalah kesesatan. Ajaran Islam tidak ada hubungannya dengan bid’ah semacam itu. Tak ada bedanya antara perkara yang berkaitan dengan keyakinan, amalan ataupun ucapan, lahir maupun bathin.

Terdapat beberapa riwayat dari sebagian Ulama Salaf yang menganggap baik sebagian perbuatan bid’ah, padahal yang dimaksud tidak lain adalah bid’ah secara bahasa, bukan menurut syari’at.

Contohnya adalah ucapan ‘Umar bin al-Khaththâb radhiallahu'anhu ketika beliau mengumpulkan kaum Muslimin untuk melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan (shalat Tarawih) dengan mengikuti satu imam di masjid. Ketika beliau radhiallahu'anhu keluar, dan melihat mereka shalat berjamaah. Maka, beliau radhiallahu'anhu berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah yang semacam ini.”

Tidak diragukan lagi bahwa setiap bid’ah dalam agama adalah sesat dan haram, berdasarkan sabda Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam yang artinya,

“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru. Karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Juga sabda beliau Salallahu 'Alaihi Wassalam yang artinya,

“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak".

Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa perkara baru yang dibuat-buat dalam agama ini adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat dan tertolak. Bid’ah dalam agama itu diharamkan. Namun tingkat keharamannya berbeda-beda tergantung jenis bid’ah itu sendiri.

Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam juga bersabda,

"Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak didasari atas perintah kami maka amalannya tertolak".

Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam sendiri yang mengatakan amalan bid’ah itu tertolak karena tidak terpenuhinya salah satu syarat dari dua syarat diterimanya ibadah, yaitu mutâba’ah (mengikuti contoh Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam).

Syarat diterimanya ibadah ada dua: pertama, niat ikhlas karena Allah Ta'ala dan kedua, sesuai dengan Sunnah; yakni sesuai dengan Kitab-Nya atau yang dijelaskan Rasul-Nya dan Sunnahnya.

Jika salah satunya tidak dipenuhi, maka amalnya tersebut tidak bernilai shalih dan tertolak, hal ini ditunjukkan dalam firman-Nya yang artinya :

"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya".
(Qs al-Kahfi/18:110)


Dalam ayat ini, Allah Ta'ala memerintahkan agar menjadikan amal itu bernilai shalih, yaitu sesuai dengan Sunnah Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam, kemudian memerintahkan agar orang yang mengerjakan amal shalih itu mengikhlaskan niatnya karena Allah Ta'ala semata, tidak menghendaki selain-Nya.

Al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Inilah dua landasan amalan yang diterima: Pertama, ikhlas karena Allah Ta'ala dan Kedua, sesuai dengan Sunnah Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam.”

Menjelaskan tentang bahaya bid’ah dan ahlul bid’ah kepada umat tidaklah termasuk memecah-belah persatuan kaum Muslimin, bahkan menjelaskan bahaya bid’ah dan membantah ahlul bid’ah termasuk dalam kategori jihad. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Orang yang membantah ahlul bid’ah adalah mujahid, sampai Yahya bin Yahya berkata, ‘Membela Sunnah Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam lebih utama daripada jihad (fî sabîlillâh).’”



Setiap Bid’ah Adalah Sesat

Sabda Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam,

"Dan setiap bid’ah adalah sesat"

Sabda beliau di atas termasuk dari jawâmi’ul kalim beliau di mana tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya, dan merupakan kaidah agung dalam prinsip-prinsip agama. Sabda beliau tersebut mirip dengan sabda beliau, Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.

Jadi, siapa saja yang mengada-adakan perkara-perkara baru dan menisbatkannya kepada agama padahal tidak memiliki landasan hukum di agama, maka itu merupakan kesesatan dan agama berlepas diri darinya, baik dalam masalah keyakinan, perbuatan, atau perkataan yang tampak maupun perkataan yang tersembunyi.

Imam Mâlik bin Anas radhiallahu'anhu mengatakan:

"Barangsiapa yang mengadakan suatu bid’ah dalam Islam yang ia pandang hal itu baik (bid’ah hasanah), maka sungguh dia telah menuduh Nabi Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassalam mengkhianati risalah agama ini. Karena sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu...” (Qs al-Mâ`idah/5:3) Maka, sesuatu yang pada hari itu (pada masa beliau masih hidup) bukanlah ajaran agama, maka hari ini pun sesuatu itu bukanlah ajaran agama."

Maksud dari kullu bid'ah adalah semua bid’ah. Tidak ada kata kullu bid'ah yang bermakna sebagian bid’ah. Apakah Sebagian sesat dan sebagian tidak??!!.

Apabila kita bawakan hadits yang lain, yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasâ‘i, dari Sahabat Jâbir radhiallahu'anhu:

"Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka."

Maka akankah mereka mengatakan bahwa ada kesesatan yang tempatnya di Surga?? Semua kesesatan tempatnya adalah Neraka. Kullu dhalâlah fin naar, artinya setiap kesesatan tempatnya di Neraka. Kullu bid’atin dhalâlah, artinya setiap bidah adalah sesat. Sama-sama menggunakan kata kullu. Ada sebagian orang yang memahami kata kullu dalam “kullu bid'atin dhalâlah" itu sebagian bid’ah, tetapi ketika mereka mengartikan “kullu dhalâlatin finnâr” tidak diartikan sebagian kesesatan tempatnya di Neraka, tetapi semua kesesatan tempatnya di Neraka. Inilah cara berfikir mereka yang kontradiksi.

Sabda Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam juga difahami Sahabat demikian, yaitu semua perbuatan bid’ah dalam agama adalah sesat. ‘Abdullâh bin Mas’ûd radhiallahu'anhu berkata,

"Hendaklah kalian mengikuti dan janganlah kalian berbuat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupi (dengan Islam ini), dan setiap bid’ah adalah sesat.

‘Abdullâh bin ‘Umar radhiallahu'anhu berkata,

"Setiap bid’ah itu sesat, meskipun manusia memandang baik."

Imam Abu Muhammad al-Hasan bin ‘Ali bin Khalaf al-Barbahâri rahimahullah (beliau adalah Imam Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah pada zamannya, wafat th. 329 H) berkata:

“Jauhilah setiap perkara bid’ah sekecil apa pun, karena bid’ah yang kecil lambat laun akan menjadi besar. Demikian pula kebid’ahan yang terjadi pada umat ini berasal dari perkara kecil dan remeh yang mirip kebenaran sehingga banyak orang terpedaya dan terkecoh, lalu mengikat hati mereka sehingga susah untuk keluar dari jeratannya dan akhirnya mendarah daging lalu diyakini sebagai agama. Tanpa disadari, pelan-pelan mereka menyelisihi jalan lurus dan keluar dari Islam.”

Imam Sufyân ats-Tsauri rahimahullah (wafat th. 161 H) berkata,

"Perbuatan bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada kemaksiatan. Pelaku kemaksiatan masih mungkin ia untuk bertaubat dari kemaksiatannya sedangkan pelaku kebid’ahan sulit untuk bertaubat dari kebid’ahannya."

Di antara contoh bid’ah yang dianggap baik oleh manusia antara lain:

1. Bid’ah Khawârij, yaitu memberontak kepada penguasa kaum Muslimin yang zhalim dan mengkafirkan pelaku dosa besar.
2. Bid’ah Syi’ah, yaitu meyakini bahwa mushaf kaum Muslimin adalah kurang dan yang benar adalah mushaf yang ada pada mereka yang disebut dengan mushaf Fathimah, nikah mut’ah (kawin kontrak), mengkafirkan para Sahabat, dan lainnya.
3. Bid’ah Jahmiyah, yaitu mengingkari sifat-sifat Allah Ta'ala, mengatakan bahwa al-Qur‘ân adalah makhluk, meyakini bahwa Allah Ta'ala ada di mana-mana, dan
lain-lain.
4. Bid’ah Murji’ah, yaitu mereka berpendapat bahwa amal tidak masuk dalam iman, iman tidak bertambah dan berkurang, dan lain-lain.
5. Bid’ah Mu’tazilah, yaitu mereka mengatakan bahwa pelaku dosa besar berada di satu kedudukan di antara dua kedudukan yakni tidak Muslim tidak juga kafir, dan lain-lain.
6. Bid’ah kaum Shufi dan para penyembah kubur, yaitu tawasul dengan kuburan dan orang shalih yang telah meninggal dunia, dzikir berjama’ah, dan lain-lain.
7. Merayakan maulid (hari kelahiran) Nabi Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassalam.
8. Merayakan Isrâ’ Mi’râj.
9. Merayakan tahun baru Hijriyyah.
10. Tahlilan dan mengirimkan pahala bacaan al-Qur‘ân kepada orang yang sudah mati.
11. Shalat Nishfu Sya’ban.
12. Dan bid’ah-bid’ah lainnya yang sangat banyak.



Setiap Kesesatan Tempatnya Di Neraka

Dalam riwayat an-Nasâ‘i dari Jâbir bin ‘Abdillâh radhiallahu'anhu, Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam bersabda,

"Dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka."

Yang harus diperhatikan mengenai hadits ini bahwa kita tidak boleh memastikan orang yang berbuat bid’ah dan maksiat itu tempatnya di Neraka. Kita tidak punya hak sama sekali. Sebagaimana kita juga tidak boleh memastikan orang yang berbuat ketaatan kepada Allah Ta'ala, tempatnya di Surga. Kecuali orang-orang yang telah ditentukan oleh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya Salallahu 'Alaihi Wassalam.

Sabda beliau di atas merupakan ancaman yang terdapat di dalam banyak hadits dan ayat al-Qur‘ân sebagaimana yang disebutkan oleh para Ulama. Artinya orang yang melakukan perbuatan bid’ah diancam masuk Neraka. Adapun memastikan dia masuk Neraka, maka tidak boleh dilakukan dan sangat berbahaya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Seseorang yang berilmu terkadang menyebutkan ancaman terhadap sesuatu yang dipandangnya sebagai perbuatan dosa, padahal dia mengetahui bahwa orang yang menakwilnya diampuni dan tidak terkena ancaman. Tetapi dia menyebutkan hal itu untuk menjelaskan bahwa perbuatan dosa mengakibatkan mendapatkan siksa. Dia hanya mengingatkan untuk menghalangi manusia dari perbuatan yang dipandangnya sebagai dosa.”

Beliau rahimahullah juga berkata, “Karena nash-nash ancaman bentuknya umum, maka kita tidak menyatakan dengannya kepada orang tertentu bahwa dia termasuk penghuni Neraka. Sebab memungkinkan tidak berlakunya hukum yang ditetapkan pada orang yang melakukannya karena adanya penghalang yang kuat seperti taubat, atau kebaikan-kebaikan yang menghapuskan keburukan, atau musibah-musibah yang menghapuskan dosa, atau syafa’at yang diterima, dan lain-lain.”

Maka sabda Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam, “Setiap kesesatan tempatnya di Neraka,” adalah sifat bagi amal yang dilakukan seseorang dan sifat bagi buah amal yang dilakukannya, jika tidak disusuli dengan taubat dan meninggalkannya.

Kemudian sabda beliau Salallahu 'Alaihi Wassalam, “...di Neraka.” Tidak mengharuskan kekal di dalam Neraka atau berada lama di dalamnya. Tetapi seseorang masuk Neraka sesuai maksiat yang dilakukannya, baik bentuknya bid’ah maupun selainnya.

Berdasarkan hal ini, berlaku hukum lain, yaitu menghalalkan sesuatu yang diharamkan agama. Barangsiapa menghalalkan suatu bid’ah atau selainnya dari perbuatan maksiat dengan menghalalkan dalam hatinya padahal dia mengetahui dan mengakui bahwa sesuatu yang dilakukan tidak memiliki dasar dalam Sunnah, bahkan dia mengetahui bahwa tindakannya itu merupakan bentuk “mengoreksi” syariat maka ketika itu ia berada di dalam Neraka karena dia kufur.

Imam ath-Thahawi rahimahullah dalam kitab ‘akidahnya (hlm. 316-disertai syarah Ibnu Abil ‘Izz) mengatakan, “Kita tidak mengkafirkan seorang pun dari Ahlul Kiblat (kaum Muslimin) karena perbuatan dosa selama ia tidak menghalalkannya.”

Dan tidak diragukan lagi bahwa bid’ah adalah dosa yang sangat jelas dan maksiat yang sangat nyata. Dan dalil-dalil yang mengecamnya dan memerintahkan untuk menjauhinya sangat banyak sekali.



Fawaa-Id (Pelajaran Dari Hadits Ini)

1. Disyari’atkan memberikan nasehat. Akan tetapi, hendaknya dilakukan pada tempatnya dan jangan terlalu sering agar tidak membosankan.
2. Nasehat atau wasiat perpisahan biasanya menyentuh hati.
3. Nasehat Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam semuanya bermanfaat dan menyentuh hati para Sahabat.
4. Boleh bagi seseorang untuk meminta nasehat dari orang alim (Ulama), dan dalam hal ini apabila ada sebabnya, yakni seseorang membutuhkan nasehat.
5. Wasiat yang paling baik adalah wasiat takwa kepada Allah Ta'ala .
6. Seseorang akan mencapai takwa kepada Allah Ta'ala apabila ia menuntut ilmu syar’i, mengamalkannya, dan mentauhidkan Allah Ta'ala dan menjauhkan syirik.
7. Takwa adalah melaksanakan perintah Allah Ta'ala dan menjauhkan larangan-Nya. Perintah yang paling besar adalah mentauhidkan Allah Ta'ala dan larangan yang terbesar adalah syirik.
8. Takwa mempunyai keutamaan yang sangat banyak.
9. Wajib mendengar dan taat kepada ulil amri (penguasa) dari kaum Muslimin dalam hal yang ma’ruf.
10. Tidak boleh taat kepada ulil amri dalam hal maksiat.
11. Perintah taat kepada ulil amri meskipun dia seorang hamba sahaya (budak), menunjukkan pentingnya taat kepada ulil amri.
12. Di antara mukjizat Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam , beliau mengabarkan akan terjadinya perpecahan dan perselisihan di tengah-tengah kaum Muslimin.
13. Jalan selamat dari perpecahan dan perselisihan adalah berpegang kepada al-Qur‘ân dan Sunnah Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam serta memahaminya sebagaimana yang difahami oleh para Sahabat radhiallahu'anhum .
14. Keutamaan Khulâfaur Râsyidin.
15. Keutamaan para Sahabat radhiallahu'anhum, karena mereka adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya.
16. Baiknya hati para Sahabat radhiallahu'anhum, karena mereka takut kepada Allah Ta'ala .
17. Wajib atas setiap Muslim mempelajari Sunnah Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam.
18. Kita wajib mengikuti Sunnah Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam dan Sunnah Khulafâ‘ur Râsyidin serta berpegang teguh dengan keduanya.
19. Kita wajib waspada dan hati-hati kepada setiap perkara yang baru yang tidak ada asalnya dari Nabi Salallahu 'Alaihi Wassalam.
20. Setiap perkara yang baru yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah.
21. Semua bid’ah adalah sesat, tidak ada bid’ah hasanah dalam Islam dan tidak ada juga pembagian bid’ah menjadi lima (hasanah, mubah, makruh, haram, dan wajib). Yang mengatakan semua bid’ah sesat adalah Rasulullâh Salallahu 'Alaihi Wassalam. Beliau adalah orang yang paling tahu tentang Islam, paling fasih berbahasa Arab, dan paling jujur.
22. Semua kesesatan tempatnya di Neraka.
23. Menjelaskan tentang bahaya bid’ah kepada umat tidak termasuk memecah belah kaum Muslimin, namun termasuk dalam kategori amar ma’ruf nahi munkar.
24. Tidak boleh memastikan para pelaku bid’ah dengan masuk Neraka karena kita tidak tahu akhir kehidupannya. Bisa jadi ia bertaubat dari perbuatan bid’ahnya tersebut.
25. Bid’ah merusak hati, akal, dan agama.


Wallâhu a’lam.

Oleh: Ustadz Tazid bin Abdul Qadir Jawas
(Majalah As-Sunnah Edisi 10/Thn. XIII/Muharram 1431H/Januari 2010M)
sumber http://majalah-assunnah.com

Posted By Minang Sunnah3:13 AM